
Di sana, di sofa panjang berwarna ungu, di hadapan layar televisi yang tidak menyala, seorang wanita berusia 38 tahun duduk bersandar dengan kepala terangkat; menerawang. Pikiran dan hatinya tengah dikuasai oleh dilema. Ini mengenai anak gadis semata wayangnya, Cinta Nayara Kalandra. Tidak. Tidak ada apa-apa dengan anaknya. Safira tak memiliki masalah apa pun dengan gadis kesayangannya. Hanya saja selama beberapa tahun hidup bersamanya, Safira baru sadar bahwa dirinya sangat memanjakan Cinta. Tak pernah sekali pun Safira meninggikan suara. Tak pernah juga membentak hingga membuat gadisnya merasa tak nyaman. Memang, tak ada alasan baginya untuk bersikap demikian. Namun, Safira merasa bahwa sebagai seorang ibu ia kurang tegas.
Lihatlah jam berapa sekarang! Sudah hampir setengah tujuh lewat, dan gadisnya masih belum juga pulang. Padahal ini hari Sabtu, dan kegiatan Cinta di hari Sabtu hanyalah berlatih panahan. Kalaupun ada kegiatan di luar itu, Cinta tak pernah pulang seterlambat ini. Kalau saja Cinta memberi tahu dulu akan pulang terlambat, mungkin Safira tak akan secemas sekarang. Katakanlah gadisnya itu lupa memberitahunya, tapi setidaknya dia bisa menghubungi Safira melalui ponselnya, bukan?
Bukan berarti sejak tadi Safira hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun. Ia sudah mencoba menghubungi gadisnya, tapi setiap panggilan teleponnya tak juga Cinta jawab. Sebelumnya Cinta tak pernah seperti ini. Ia selalu siaga setiap kali Safira meneleponnya. Lalu apa yang membuat kali ini berbeda? Sesibuk apa gadis itu hingga tak bisa menjawab teleponnya? Apa yang sedang dilakukannya? Di mana dia sekarang?
Dilema. Hanya itu yang dirasakan Safira sekarang. Ia bingung antara langsung memarahi gadisnya begitu pulang nanti, atau ia harus menunjukkan sikap lembut seperti biasa; seperti tak terjadi apa-apa. Namun jika begitu, Cinta tak akan mengerti dan tak akan pernah tahu betapa Safira mengkhawatirkannya. Gadisnya itu akan selalu merasa diri bebas; bisa berbuat sesuka hati. Lalu bagaimana jika pilihan pertama yang Safira ambil? Memarahi atau menegur gadisnya? Gadisnya pasti langsung merasa tak enak. Cinta pasti langsung merasa tak nyaman. Setelah itu, akan mulai timbul kecanggungan di antara keduanya. Yang lebih parahnya lagi, Cinta akan mulai menarik diri. Cinta tak bisa lagi berekspresi bebas di hadapan Safira seperti biasa. Safira tak mau itu terjadi. Ia tak ingin rumah minimalisnya ini menjadi tempat yang tidak nyaman bagi mereka berdua untuk bernaung.
Empat tahun sudah Safira menjalani hidupnya bersama gadis kesayangannya. Safira tak ingin empat tahun yang mereka lewati tanpa hambatan, berubah hanya karena satu hari ... hari ini. Tidak! Safira tak akan menghancurkan semua yang telah ia lewati bersama Cinta hanya karena tak bisa mengontrol amarahnya. Safira tak ingin Cinta pergi. Ia tak ingin kehilangan Cinta lagi. Seperti 16 tahun yang lalu.
—————————————————————
Wanita berusia 23 tahun itu diserang kegugupan yang teramat sangat, yang belum pernah dirasakannya selama ini. Ia duduk di sebuah sofa mewah, di ruang tamu yang lebih menyerupai aula sambil menggendong anak perempuannya yang masih berusia 2 tahun. Beruntung anak perempuannya itu tengah lelap tertidur. Kalau tidak, Safira harus mengawasinya lebih ekstra karena anak perempuannya itu sudah bisa berjalan lincah ke sana kemari. Ya, wanita yang tengah duduk dan ditemani kecemasan itu adalah Safira Nayara.
Sebelum menginjakkan kakinya di rumah mewah bak istana ini, Safira sedang asyik memandikan anak perempuannya di rumah kecil yang hanya terdapat satu kamar tidur dan satu ruang tamu merangkap ruang keluarga. Kamar mandinya pun sangat sempit dan tidak ada bak mandi. Hanya ada satu ember untuk menampung air. Jadi begitu ada seorang tamu berpakaian rapi, lengkap dengan setelan jas dan dasi, kemudian membawanya ke rumah ini, Safira sontak terkejut. Mungkin ukuran rumahnya masih kalah dengan ruang tamu yang tengah ditempatinya sekarang.
Seorang wanita berusia 48 tahunan muncul dari bagian terdalam rumah. Penampilannya sangat berkelas. Belum lagi cara berjalannya yang begitu anggun. Rambut hitam berhiaskan abu-abunya disasak cukup tinggi, memperlihatkan lehernya yang jenjang meski sudah sedikit keriput. Netranya mendelik tajam. Namun meski enggan, wanita itu pun akhirnya menempatkan diri di sofa yang tak jauh dari tempat duduk Safira.
Wanita itu berdeham. Satu dehaman saja sudah cukup membuat nyali Safira menciut. Bahkan jika ada guntur yang menggelegar di luar sana, tak akan bisa mengalahkan dehaman ringan yang dikeluarkan oleh mulutnya.
Safira Nayara. Wanita itu tidak akan pernah lupa pada nama wanita yang telah merenggut satu-satunya anak kesayangannya, sekaligus satu-satunya pewaris tahta dari kekayaan suaminya. Jujur saja, kalau bukan karena sebuah kepentingan, ia tak akan sudi duduk di satu ruangan yang sama dengan wanita di hadapannya.
"Harusnya kamu sudah bisa menebak siapa saya. Atau, saya tetap harus memperkenalkan diri?" Wanita itu bertanya dengan angkuh. Dagunya masih terangkat dan tatapan matanya masih mendelik tajam. Sementara wanita di hadapannya hanya bisa tertunduk sambil mempererat gendongannya.
"Asmarini Hasta Kalandra. Itu nama saya. Kalandra saya ambil dari nama suami saya. Dan seharusnya, kamu sudah bisa menebak siapa saya setelah mendengar nama Kalandra. Nama belakang yang juga tertera di nama suami kamu." Asmarini sengaja menekankan kata "suami" dengan maksud memberi tahu Safira bahwa ia benci sebutan itu.
Safira semakin tak bisa mengangkat wajahnya. Apalagi setelah tahu dirinya tengah berhadapan dengan siapa. Ia sudah tahu sejak lama bahwa Raihan Kalandra—suaminya—adalah anak dari keluarga kaya raya. Ia juga tahu bahwa banyak yang telah dikorbankan suaminya demi dapat hidup bersamanya. Sebenarnya Safira sudah mengira bahwa hari-hari seperti ini akan datang. Namun, ia tak menyangka bahwa hari di mana ia akan dipanggil oleh keluaga suaminya akan datang setelah dua tahun pernikahannya.
"Saya tidak akan berbasa-basi. Karena saya juga tidak punya banyak waktu. Apalagi hanya untuk mengurusi hal-hal semacam ini." Asmarini mencebik. Kedua lengannya sudah ia lipat di dada. Kedua kakinya saling bertumpu, menunjukkan siapa yang tengah berkuasa di istana ini. "Saya ingin memberi penawaran yang sangat menarik. Yang tentu saja menguntungkan kedua belah pihak. Jadi tak ada satu pun dari kita yang merasa dirugikan," lanjutnya. Netranya menangkap netra Safira yang mulai berani menatapnya, meski hanya sebentar.
"Saya ingin kamu mengembalikan Raihan. Dia tidak bisa hidup di tempat kecil seperti rumah sewaan kalian selama ini. Yah, walaupun sedikit mengejutkan karena dia bisa bertahan selama dua tahun di sana. Tapi! Sekarang sudah saatnya Raihan kembali ke rumah ini. Dia tak bisa 'bermain rumah-rumahan' denganmu terlalu lama. Raihan punya kewajiban yang harus diselesaikan. Dan, hanya dia yang bisa menyelesaikannya. Saya harap kamu mau berhenti mengekangnya—"
"Saya tidak pernah mengekang Raihan," sela Safira dengan suara bergetar.
Asmarini kembali memainkan manik hitam kecokelatannya dengan sinis. Ia paling tidak suka disela ketika berbicara. Apalagi oleh orang yang derajatnya jauh di bawah kakinya.
"Oh, ya! Kamu tak pernah mengekangnya. Raihan bersamamu karena cinta, bukan begitu?" Wanita di hadapannya kembali menundukkan kepala. "Dia rela melepaskan segalanya demi bisa hidup bersamamu. Segalanya akan baik-baik saja jika kalian tetap bersama. Itu, kan, yang kalian pikirkan?" Safira masih membisu; apa yang dikatakan Asmarini ia sepakati dalam hati.
Ruang tamu ini dilengkapi beberapa pendingin ruangan yang sama-sama menyala, tapi Safira merasa udara di sekitarnya begitu panas. Ia bahkan tak henti-hentinya mengecek keringat di wajahnya bercucuran atau tidak. Tentu saja tidak, karena sejatinya yang panas bukanlah di luar melainkan di dalam hatinya sendiri.
Safira tak mengerti apa maksud Asmarini menanyakan hal itu. Suaminya, Raihan dan pekerjaannya tentu baik-baik saja. Tak pernah ada halangan. Karena itu, mereka bisa membayar rumah sewaannya tepat waktu. Raihan juga masih bisa mengajaknya makan malam enak di luar. Meski bukan restoran mewah seperti awal-awal mereka berkenalan.
"Sepertinya kamu memang tidak tahu, ya, kalau Raihan sudah lama tak bekerja di perusahaan itu?" Ucapan Asmarini kini berhasil membuat wajah Safira terangkat penuh. Sorot matanya seolah menegaskan bahwa ia sama sekali tak mengerti apa yang Asmarini bicarakan. Kekagetan tergambar jelas di wajah Safira sekarang. "Kamu pikir setelah dia memutuskan untuk hidup bersamamu kami tidak akan melakukan sesuatu, begitu? Kamu salah. Kami tidak akan membiarkan kalian begitu saja. Dan langkah pertama yang kami lakukan adalah, memutus semua akses kerja sama Raihan dengan perusahaan mana pun. Jadi, dia tidak bisa bekerja di perusahaan milik teman, kerabat, kenalan, atau siapa pun. Ya! Kami bisa dengan mudah mengatur hidupnya. Meski dari jauh."
Safira ingin mengeluarkan semua kata makian yang ia punya, tapi ia tak ingin membangunkan putri kecilnya yang masih tertidur dengan tenang di pangkuannya. Maka, Safira tetap membiarkan mulutnya terkunci rapat-rapat.
"Saya tahu Raihan sangat mencintai kamu. Tapi, apa kamu cukup mencintai Raihan seperti dia mencintai kamu? Apa kamu bisa melihat Raihan—yang biasa hidup enak—harus banting tulang hanya untuk menafkahi kamu dan anak kecilmu itu? Kamu akan berubah pikiran jika melihat apa yang sebenarnya dia kerjakan sekarang."
Asmarini tak mengada-ada. Meskipun terkesan membiarkan anak lelaki satu-satunya menggelandang di jalanan, ia dan suaminya tak pernah lepas tangan. Mereka selalu memantau gerak-gerik Raihan dan keluarga kecilnya dari jauh. Batin Asmarini sangat perih begitu mengetahui anaknya harus bekerja serabutan ke sana-sini hanya untuk sesuap nasi dan membayar sewa rumah kecil yang baginya tak layak huni itu. Raihan yang harusnya hanya duduk manis di kursi besar dengan jabatan tertinggi di salah satu perusahaan milik suaminya, kini harus menjadi seorang kuli bangunan yang upahnya tak seberapa.
Bukannya tidak kasihan, tapi Asmarini dan suaminya melakukan itu agar Raihan sadar bahwa tanpa keluarganya dia bukanlah siapa-siapa. Raihan juga harus paham seberapa besar pengaruh nama belakang yang disandangnya. Sebagai seorang "Kalandra" seharusnya Raihan bisa mengesampingkan perasaan pribadi demi kemaslahatan banyak orang. Raihan juga harus mengerti bahwa tak ada "Kalandra" lain selain dirinya yang bisa menggantikan posisi suaminya sebagai pengusaha sukses se-Indonesia.
"Ah, ya! Dan perlu saya ingatkan kalau pernikahan kalian hanya sah menurut agama. Sebagai orang yang cukup berpendidikan—meskipun kuliahmu tidak selesai, seharusnya kamu bisa mengerti apa maksud perkataan saya."
Safira tahu pernikahannya tidak diakui oleh negara. Hanya menurut agama saja tidak cukup kuat untuk membina rumah tangga. Sebelum menerima Raihan sebagai suaminya, Safira sudah tahu bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menikah dengan cara normal. Raihan pun sudah menjelaskan semuanya. Biar bagaimanapun, nama "Kalandra" yang melekat erat di tubuhnya tidak akan bisa hilang. Mau mencatatkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama saja Raihan tidak mampu. Pengaruh keluarganyalah yang menghalanginya. Jadi mau tak mau, mereka harus sudah cukup puas dengan menikah tanpa diakui oleh negara tercinta.
"Dulu, mungkin kalian pikir akan baik-baik saja meski tak menikah secara resmi. Tapi sekarang, setelah memiliki anak, kalian tak berpikir risiko dari apa yang telah kalian lakukan? Sudah mengurus akta lahir anak kalian? Memangnya bisa keluar dengan menikah tanpa tercatat di KUA? Mau mengeluarkannya tanpa dibubuhi nama suami? Yang berarti, anak itu lahir tanpa diketahui ayahnya siapa?"
Safira mulai berpikir keras. Sebelumnya ia tak pernah berpikir sampai ke sana. Ia lupa atau mungkin memang tidak tahu kalau anak yang lahir dengan "nikah siri" tidak bisa mendapatkan akta kelahiran. Kalaupun bisa, seperti yang dikatakan Asmarini barusan: "Tanpa dibubuhi nama suami."
"Tidak kasihan pada anak kalian? Tanpa akta kelahiran anak kalian akan sulit mendapat pelayanan pendidikan, kesehatan, maupun bantuan dari pemerintah."
Asmarini sangat percaya diri dengan pertemuan ini. Ia tahu meskipun wanita di hadapannya tak lulus kuliah, wanita itu punya otak yang cerdas. Wanita itu tidak mungkin diam saja setelah mengetahui masa depan kelam yang tengah menunggu putri kecilnya di beberapa tahun mendatang.
"Ini penawarannya." Asmarini menautkan jari jemari kedua tangannya. Pandangannya lurus ke depan; ke wanita berwajah kalut di hadapannya. "Tinggalkan Raihan, dan saya akan memasukkan anak perempuanmu itu ke daftar keluarga Kalandra," lanjutnya yang otomatis membuat kedua netra Safira membeliak. "Biar bagaimanapun saya neneknya, bukan?"
Asmarini lebih memilih kalimat "saya neneknya" dan bukan "dia cucu saya". Safira bisa dengan jelas mengartikan bahwa wanita angkuh di hadapannya sama sekali tidak mengakui putri kecilnya sebagai cucu.
"Raihan sudah punya calon istri. Wanita dari kalangan terpandang yang tentu saja 'sekelas' dengannya. Namanya Hanasta El Brijaya. Wanita yang sampai sekarang sangat sabar menanti Raihan pulang. Setelah mereka menikah, anak perempuanmu itu akan masuk ke Kartu Keluarganya. Lalu, dia bisa memiliki akta lahir dan hidup dengan sangat berkecukupan. Nama Kalandra akan tetap melekat erat di nama belakanganya. Penawaran yang sangat menguntungkan, bukan?"
Tangan Safira mendadak lemas. Bukan hanya tangan, melainkan lutut dan semua tulang di tubuhnya pun terasa lunglai. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan wanita angkuh di depannya; yang masih bisa tersenyum sambil melayangkan tatapan tajam terhadapnya. Mana mungkin Safira bisa melepaskan putri kecilnya begitu saja; menyerahkannya pada wanita yang tidak dikenalnya; wanita yang sudah pasti tidak bisa mencintai putrinya seperti dirinya.
"Kalau dirasa belum cukup, jangan khawatir! Saya juga akan memberimu bagian yang sangat besar supaya kamu bisa kembali melanjutkan hidup. Kalau perlu, setiap bulannya saya akan mengirimimu sejumlah uang yang bisa kamu gunakan untuk apa saja. Yah, anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga Raihan selama dua tahun ini."
Harga diri Safira terkoyak. Ia menyesal dengan setiap langkah yang ia gunakan untuk sampai ke tempatnya sekarang. Kalau tahu akan begini jadinya, Safira akan menolak keras untuk ikut tamu bersetelan rapi itu ke sini. Ia akan lebih memilih untuk kabur dan mencari tempat persembunyian baru untuk ditinggali bersama putri kecilnya. Namun jika seperti itu, Safira tidak akan pernah tahu dan sadar bahwa putri kecilnya tak akan pernah memiliki harapan juga masa depan.
***