Lovarchery

Lovarchery
LIMA (Minta dijodohin)



Cinta menjatuhkan dirinya di atas tempat duduk. Kondisi kelas saat ini masih setengah kosong. Cinta datang kepagian. Berangkat ke sekolah bersama Aksa adalah hal yang baru lagi dilakukannya. Sedikit mendebarkan, sekaligus menyenangkan. Dulu, waktu Cinta masih SMP, hampir setiap hari Aksa mengantarnya ke sekolah. Hal itu dilakukannya karena kebetulan jadwal berangkat ke sekolah Cinta sama seperti jadwalnya pergi ke kantor. Tentu saja tak ada alasan bagi Cinta untuk menolak. Bukankah berangkat ke sekolah tanpa mengeluarkan uang sepeser pun adalah hal yang menguntungkan?


           


Namun ada beberapa kejanggalan yang Cinta rasakan ketika Aksa mengantarnya pagi ini. Sikap Aksa ketika berpamitan pada mamanya terkesan canggung. Bibirnya tersenyum, tapi senyumnya terkesan berat. Hambar, pahit, dan tidak tulus. Kedua matanya pun seakan menolak bertatapan langsung dengan mamanya. Padahal, mamanya bersikap seperti biasa; ramah dan santun. Lalu mengapa Om Aksa-nya menunjukkan sikap berlainan? Mungkinkah waktu dua tahun yang menjadi penyebabnya?


           


Anehnya, waktu dua tahun itu seolah tak berarti apa-apa pada Cinta dan Aksa. Mereka bisa tetap akrab, meski sudah lama tak saling bersua. Entahlah. Cinta tak mengerti. Mungkin hal-hal seperti ini hanya bisa dipahami oleh orang dewasa layaknya Mama dan Om-Aksa-nya.


"Cintaaa!!"


           


Teriakan kencang memenuhi koridor; mengiringi langkah Dafira hingga masuk ke kelas. Gadis bertubuh jangkung dan berambut pendek itu langsung menghampiri Cinta dengan napas tersengal-sengal.


"Tadi ... itu ... siapa?" tanya Dafira terbata-bata. Ia benar-benar kehabisan napas. Berlari dari gerbang hingga naik ke lantai dua sudah cukup membuat napasnya ngos-ngosan. Kalau saja Dafira tadi tidak melihat sahabat baiknya turun dari mobil sedan berwarna hitam, ia tidak akan capek-capek berlari hanya untuk segera memuskan rasa penasarannya.


"Tenang dulu, Ra," ujar Cinta. "Tarik napas, buang napas." Cinta mempraktikkan gerakan inhale-exhale yang sering ditunjukkan para instruktur senam; Dafira mengikuti arahannya. "Oke, sekarang kamu mau ngomong apa?" tanyanya setelah napas Dafira sudah mulai teratur.


"Tadi kamu dianterin sama siapa?" Mata runcing seperti kucing milik Dafira menancap di wajah Cinta. "Aku tadi lihat kamu turun dari sedan item," imbuhnya.


           


Cinta yang dikenalnya selama ini selalu ke sekolah menggunakan angkutan umum. Kalaupun tidak, gadis itu akan diantar mamanya pakai motor matik jika dalam keadaan darurat; seperti bangun kesiangan misalnya. Makanya, Dafira begitu terkejut begitu mengetahui sahabatnya keluar dari mobil yang belum pernah dilihatnya sama sekali.


"Dianterin tetangga tadi," jawab Cinta.


"Tetangga?" Rasa penasaran Dafira semakin menguat. Cinta tak pernah bercerita ia punya tetangga yang bisa mengantarnya ke sekolah. Ah, jangan-jangan ..., Dafira mulai berandai-andai. "Cowok, ya, Ta?" tanyanya diiringi senyum merekah.


           


Cinta melenggut.


           


Dugaan Dafira tampaknya benar. Sudah pasti cowok. Bisa jadi cowok itu sedang melancarkan serangannya pada Cinta. Bersikap baik dengan mengantar Cinta ke sekolah karena tentu saja ada maunya.


"Jangan mikir yang enggak-enggak." Cinta menjitak pelan kepala sahabatnya. Sedikit banyak Cinta bisa menerka apa yang kini tengah Dafira pikirkan. Pasti yang tidak-tidak tentang tetangganya. "Tetanggaku, tuh, juniornya Mama waktu di SMA dulu," jelasnya. "Umurnya cuma beda dua tahun sama Mama. Orangnya nggak mungkin macem-macem. Aku sama dia udah kayak saudara," imbuhnya.


           


Pikiran Dafira mulai melayang; membayangkan bagaimana rupa tetangga Cinta yang katanya cuma berbeda 2 tahun dengan mamanya. Cowok itu ... bukan. Lebih pantas disebut pria kalau dilihat dari usianya. Jadi, pria itu pastilah om-om bertubuh pendek, berbadan bulat, berperut buncit, yang rambut di kepalanya sudah mulai menipis. Gambaran yang sering Dafira lihat di komik-komik. Pasti tidak ada menarik-menariknya, pikirnya.


"Kalau kamu ngebayangin Om Aksa kayak om-om di komik yang sering kamu baca, awas aja, ya, Ra!" Cinta mengancam. Tak ada seorang pun yang boleh menghancurkan image Om Aksa-nya, meskipun hanya di dalam kepala. Habisnya, pria seganteng itu masa iya mau dibuat lelucon.


           


Dafira senderut. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Cinta, tapi bukan berarti isi kepalanya pun harus ikut transparan di matanya, bukan?


"So, kayak apa tetangga kamu itu? Siapa namanya tadi? Aksa, ya?"


           


Cinta mengangguk. Kemudian mulai menjabarkan, "Om Aksa itu ganteng tahu. Badannya bagus. Udah gitu orangnya baik banget. Terus tiap kali dia senyum, aku bisa liat lesung pipinya. Kalau dia ketawa ... nyebelin, sih, emang. Tapi apa ya ... bikin tenang. Kadang aku suka mikir, cowok sesempurna itu, kok, nggak ada yang mau, ya? Tapi ... mungkin bukan nggak ada yang mau. Bisa jadi seleranya yang ketinggian. Dulu aku juga sempet mikir, kenapa Om Aksa nggak aku jodohin aja sama Mama. Tapi sebelum aku sempet ngambil tindakan, Om Aksa tiba-tiba kayak ngilang gitu aja. Sengaja ngehindar. Aku nggak tau alesannya apa. Tapi yang jelas, aku bersyukur bisa ketemu dan deket lagi sama dia."


           


Rasa suka Cinta pada Om Aksa-nya terpancar jelas melalui kedua bola matanya yang jernih. Setiap kali Cinta berucap, bibirnya tak henti-hentinya melengkung ke atas. Rona merah pun menyembul dari kedua belah pipinya. Seolah yang sedang dibicarakannya benar-benar ada di hadapannya.


           


Cinta yang Dafira kenal belum mengerti apa itu cinta—tak sesuai dengan namanya memang. Selama bersamanya, Dafira belum pernah melihat Cinta begitu menyukai seseorang. Dan lagi, Cinta sudah sering mengatakan belum tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Ini kali pertama bagi Dafira melihat Cinta membicarakan seseorang dengan sorot mata yang dipenuhi oleh cinta. Kekaguman Cinta terhadap Om Aksa-nya begitu kentara. Dafira jadi sedikit curiga.


"Kamu ... suka sama om-om itu?"


           


"Om Aksa itu udah kayak keluarga buat aku tahu," tegas Cinta sambil mengedikkan tubuhnya. "Aku yakin dia juga nganggep aku begitu," imbuhnya sambil memanyunkan bibir.


       


"Ooh ...." Dafira mengangguk-angguk layaknya burung murai yang sedang mencari perhatian. "Eh, bentar!" serunya tiba-tiba. "Kamu bilang dia belum nikah?"


"Ya ...?" Kening Cinta berkerut.


"Berapa umurnya, Ta?"


           


Aneh sekali melihat Dafira yang tiba-tiba tertarik pada Om Aksa-nya. Pasti sebuah ide tak masuk akal baru muncul dari dalam kepalanya, pikir Cinta.


"Tiga enam. Emang kenapa, sih?"


           


Senyum Dafira mengembang. Seperti dugaan Cinta barusan; sebuah ide brilian baru saja melintasi kepalanya. Ganteng, single, baik hati, dan sangat dikenal baik oleh sahabatnya. Kriteria idaman yang cocok dijadikan pendamping hidup. Jarang-jarang Dafira mendapatkan kandidat sesempurna ini.


"Ra, kamu nggak lagi mikir yang aneh-aneh, 'kan?" Seringai di wajah sahabatnya membuat Cinta ketakutan. Melihat wajah Dafira yang tiba-tiba cerah ceria, sudah dapat dipastikan kalau sahabatnya itu sedang merencanakan sesuatu.


"Jodohin dia sama Kak Aleta, dong, Ta!" Dafira memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah. "Kamu tahu sendiri, kan, kakak aku kayak gimana? Udah dua puluh delapan tahun masih belum ada juga yang nyangkut. Aku nggak mau dia jadi perawan tua."


           


Cinta melongo. Setelah kesadarannya kembali, Cinta mulai bertanya, "Kamu nggak serius, 'kan?"


"Serius, Ta. Pake banget! Ini kesempatan emas. Dua orang, sama-sama single, nggak ada salahnya buat saling kenalan, 'kan? Syukur-syukur kalau mereka emang beneran jodoh."


           


Cinta berdeham. Ketidakyakinan mulai menyerangnya. Apa yang dikemukakan Ara memang tidak salah. Memberi kesempatan bagi mereka yang memang sama-sama sedang mencari pasangan, mengapa tidak? Kendati demikian, Cinta tidak bisa sepenuhnya yakin. Memang, Cinta kenal Aksa. Bahkan, sedikit banyak, Cinta juga tahu tentang Aleta dari Ara. Namun, justru itu yang membuat Cinta merasa tak yakin. Sifat yang dimiliki keduanya sangatlah bertolak belakang. Cinta ragu, baik Aksa maupun Aleta bisa saling menyesuaikan diri dengan satu sama lain.   


"Sekali aja, Ta, aku pengin nunjukkin ke Kak Aleta apa itu cinta. Aku pengin dia bisa keluar dari cangkangnya dan menatap dunia luar. Aku pengin dia mulai berinteraksi lebih jauh dengan orang-orang. Terutama cowok. Kamu tahu, kan, gimana takutnya Kak Aleta sama cowok?" Cinta mengangguk samar. "Aku nggak bisa ngenalin dia ke sembarang orang. Apalagi lewat aplikasi-aplikasi media sosial. Kamu juga pasti tahu seberapa bahayanya itu. Makanya, mumpung ada cowok yang bener-bener kamu kenal dan kamu tahu pasti orangnya kayak gimana, aku pengin bikin ini jadi kesempatan besar buat Kak Aleta."


           


Cinta menggaruk pelipisnya. Tubuhnya yang sempat menegang, kini mengendur bersamaan dengan desahan berat napasnya. Cinta mengerti betul bagaimana perasaan sahabatnya. Memiliki kakak yang sangat introver, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Dafira. Mungkin, kali ini Cinta harus mencoba membantunya. Cocok atau tidak Aleta dengan Aksa itu urusan nanti.


"Oke, Ra," desah Cinta. "Aku coba bantu."


"Serius?!" Dafira meraih kedua tangan sahabatnya dengan wajah gembira.


"Iya," kata Cinta sambil tersenyum lembut.


"Yuhuu! Makasih banget, Ta! Kamu emang sahabatku yang paling cihuy!" Dafira memeluk erat sahabatnya.


           


Cinta terkekeh. "Jadul banget, sih, masih bilang cihuy," katanya tersenyum geli.  


"Pokoknya hari ini aku traktir kamu makan apaaa aja di kantin," kata Dafira sambil melepaskan pelukannya.


"Apa aja, nih? Yakin?" goda Cinta.


"Yakin, sih. Tapi ntar aku coba lihat dompet dulu." Dafira menyengih.


           


Cinta semakin tertawa. Sahabatnya yang satu ini memang ada-ada saja.


***