Lovarchery

Lovarchery
ENAM BELAS (Tidak rela)



Cinta lebih memilih menyepi. Ia sedang tak ingin meninggalkan kelas dan pergi ke kantin untuk sekadar menyantap makan siang. Tak nafsu. Tadi pagi saja Cinta hanya sarapan sepotong roti diolesi selai stroberi dan segelas susu. Biasanya, Cinta bisa menghabiskan empat potong roti sekaligus untuk sarapan. Namun hari ini, sepotong roti saja sudah membuat perutnya terasa penuh.


           


Tak tahu apa yang salah dengan dirinya. Cinta juga tak mengerti. Satu hal yang dia ingat, ketika Om Aksa-nya langsung menyetujui ide Cinta untuk berkenalan dengan Aleta. Semenjak itu, perasaan Cinta berubah menjadi tak keruan. Kegelisahan seolah mengepung hati dan pikirannya. Entah gelisah karena apa. Sempat Cinta berpikir, mungkin dirinya terlalu syok mengetahui Aksa ternyata punya minat yang sangat besar untuk berkenalan dengan seorang wanita. Ternyata Om Aksa-nya itu seorang pria normal yang juga ingin segera mendapat pendamping hidup. Itu wajar. Cinta juga tahu itu. Pria yang usianya sudah lebih dari sekadar matang sudah tentu ingin segera menikah dan membina rumah tangga. Oleh sebab itu, Aksa langsung menyatakan setuju untuk berkenalan dengan Aleta. Sampai-sampai ingin langsung bertemu Aleta di keesokan harinya.


           


Cinta paham. Sangat paham! Kendati demikian, kenapa mendadak Cinta merasa dadanya begitu sempit? Seolah terimpit oleh sesuatu hingga membuat dadanya terasa sesak. Apa yang sebenarnya Cinta inginkan? Masa iya sebenarnya ia tak ingin Aksa berkenalan dengan Aleta? Tapi kenapa? Apa alasannya? Ini aneh, pikirnya. Padahal waktu memikirkan kemungkinan Aksa akan menjadi pendamping hidup mamanya Cinta tak sesakit ini. Dadanya baik-baik saja. Kegelisahan itu tak mengunjunginya.


           


Ah! Cinta tahu sekarang. Pasti karena itu alasannya. Dulu dia merasa baik-baik saja pasti karena calon yang akan menjadi pendamping Aksa adalah mamanya. Cinta tak keberatan, justru sangat mendukung keras. Dua orang kesayangannya dijadikan satu oleh ikatan pernikahan, sudah pasti Cinta merasa sangat gembira. Lain halnya dengan Aleta, yang tak Cinta kenal betul dan tak terlalu dekat dengannya.   


           


Ya, pasti karena itu! seru Cinta dalam hati diiringi senyum lebar menghambur keluar.


           


Cinta sangat menyayangi mamanya. Karena itu, ia ingin mamanya mendapat pendamping hidup yang bisa dibilang sempurna. Dan Cinta rasa, kesempurnaan itu ada di diri Aksa. Cinta ingin Aksa menjadi bagian dari keluarganya. Mungkin karena alasan itulah yang membuat Cinta merasa sedih ketika Aksa memutuskan ingin memulai semuanya dari awal dengan seseorang yang bukan mamanya.


           


Cinta mendengkuskan napas lega. Tapi tak apa, pikirnya. Mungkin Mama dan Om Aksa-nya memang belum berjodoh. Lagi pula dengan siapa pun Aksa bersama nanti, Cinta yakin om-om berusia 36 tahun itu akan tetap dan selalu menjadi Om Aksa-nya. Setidaknya itu yang Cinta pikirkan sampai Dafira memasuki kelas dan menghampirinya.


"Aku punya ide bagus, Ta!" seru Dafira dengan bola mata berpijar. Cinta tak menjawab; membiarkan Dafira melanjutkan, "Sabtu habis kamu latihan, kita ajak Om Aksa sama Kak Aleta buat nonton, yuk! Film yang waktu itu nggak jadi kita tonton, Ta. Sekalian bikin mereka tambah deket gitu. Kalau jarang ketemunya, gimana hubungan mereka bisa lanjut? Gimana? Setuju, kan?"


           


Impitan di dada Cinta datang lagi. Kali ini seperti sebuah anak panah yang menusuk tepat di jantungnya. Bukan panah asmara yang bisa membuat orang jatuh cinta, melainkan panah yang dilancarkan saat perang untuk membuat lawannya terluka.


"Gimanaa?" Dafira menggoyang-goyangkan tangan Cinta yang berada di atas meja.


           


"Lho! Waktu kita nggak jadi nonton, kan, Sabtu juga. Itu Om Aksa bisa nganter kamu pulang. Berarti Sabtu dia nggak ada kegiatan, dong?"


           


Cinta meneguk ludah. Senyum pahit terpajang jelas di wajahnya. Kalau saja ada seseorang yang tiba-tiba memanggilnya, Cinta pasti sudah berlari untuk menghampiri orang itu; hanya untuk menghindarkannya dari Dafira.


"Yah, kita, kan, nggak pernah tahu dia selalu kosong apa enggak di hari Sabtu," kilah Cinta sambil perlahan menarik tangannya dari tangan Dafira.


"Tapi kamu bisa coba tanyain dulu, kan, Ta? Please!" Dafira semakin memohon. "Kalau aja kemaren mereka tukeran nomer, mungkin bisa langsung aku suruh Kak Aleta buat ngajakin Om Aksa. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kalaupun Kak Aleta punya nomernya, aku yakin dia nggak akan berani ngehubungin Om Aksa duluan. Padahal, nih, ya, aku tahu kalau Kak Aleta tertarik sama Om Aksa. Kemaren pas nyampe rumah, Kak Aleta nggak berenti-berenti senyum. Mukanya cerah ceria gitu. Pas aku tanya pendapatnya tentang Om Aksa, eh, dia malah nyengir terus tersipu-sipu. Geli, sih, liatnya. Tapi aku seneng. Itu artinya misi kita buat nyomblangin mereka nggak sia-sia."


           


Dafira tak tahu kalau hati sahabatnya semakin terasa nyeri. Setiap kata, setiap kalimat yang diucapkan Dafira, bagaikan sebilah pisau yang terus-menerus dihujamkan ke hatinya tanpa ampun. Andai Cinta punya keberanian untuk menghentikan percakapan menyakitkan ini.


           


Cinta menatap sahabatnya. Kemudian melengkungkan senyuman sewajar yang ia bisa. Meski hatinya menjerit, Cinta tetap berusaha untuk bersikap normal. Sekarang saja, ia mengangguk dan menyetujui ide yang baru saja dilontarkan sahabatnya.


"Nanti aku coba," kata Cinta dengan senyum getir.


           


Dafira merekahkan senyuman, meski itu menyakitkan bagi sahabatnya. Ia pun berulang kali mengucapkan terima kasih karena Cinta sudah bersedia membantunya.


"Aku tahu cuma kamu yang bisa aku andelin," ucap Dafira yang sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Cinta.


           


Cinta hanya bisa membalasnya dengan seulas senyum dipaksakan. Ia takut jika bicara, akan ada nada tak wajar yang bisa membuat sahabatnya curiga. Cinta tak ingin menghancurkan kegembiraan sahabatnya. Apalagi setelah ia menyetujui rencana perjodohan itu sejak awal. Kini, di hati kecil Cinta timbul sebuah rasa sesal: "Kenapa aku harus setuju waktu itu?".


***