Lovarchery

Lovarchery
DUA PULUH DUA (Tak ada celah)



Aksa melambaikan tangannya sambil tersenyum. Namun alih-alih membalas senyumannya, wanita di depan sana malah semakin menundukkan kepala. Kedua kakinya yang ramping dan putih bersih itu menuju ke tempatnya dengan takut-takut. Padahal, wanita itu sendiri yang mengajak Aksa untuk bertemu sehabis bekerja. Lantas, kenapa sekarang menunjukkan sikap enggan?


"Maaf, saya datangnya kesorean banget, ya? Soalnya ada beberapa hal yang harus dikerjain dulu tadi," ujar Aksa setelah wanita itu berada di hadapannya. Tidak benar-benar di hadapannya, karena wanita itu menjaga jarak setidaknya tiga langkah dari tempat Aksa berdiri.


Wanita itu menggeleng samar. Ingin mengucapkan "tidak apa-apa" sebagai jawaban, tapi mulutnya malah terkunci rapat. Alhasil, ia hanya bisa terdiam sambil menunggu apa yang akan dikatakan Aksa selanjutnya.


"Hm ... jadi enaknya kita ke mana sekarang?" tanya Aksa. Wanita itu seperti tersentak setiap kali Aksa membuka suara. Padahal Aksa bicara dengan suara rendah, bahkan bisa dibilang lembut. Tak ada sedikit pun nada bicaranya yang bisa membuat orang terkejut.


Aksa tersenyum. Agak sulit memang menghadapi wanita pendiam, pemalu, dan pasif seperti Aleta Pratista. Namun, bukan berarti Aksa tak bisa menghadapinya. Ia hanya perlu sedikit bersabar hingga Aleta bisa bersikap lebih tenang ketika bersamanya.


"Masuk dulu, deh." Aksa membukakan pintu mobilnya untuk Aleta.


Aleta masih tak mampu bersuara, tapi ia segera menuruti apa kata Aksa; memasuki sedan hitam itu dan duduk di kursi penumpang bagian depan.


Sebenarnya, Aksa sedikit terkejut ketika mendapat pesan dari Aleta tadi malam. Pesan yang berisikan Aleta ingin bertemu dengannya hari ini. Untuk wanita sependiam dan sepemalu Aleta, agak mustahil memiliki keberanian hingga berinisiatif untuk menghubunginya. Apalagi sampai mengajaknya bertemu seperti sekarang. Tapi lain halnya jika ....


Sedan hitam itu sudah melaju, meski belum tahu akan diarahkan ke mana. Setidaknya, Aksa bisa menyisi dulu dari lingkungan kantor tempat Aleta bekerja. Risi rasanya terus-menerus diperhatikan orang-orang sekitar. Rasa percaya diri Aksa akan penampilannya memang cukup tinggi, tapi bukan berarti ia suka menjadi pusat perhatian.


"Biar saya tebak," kata Aksa tiba-tiba. Bibirnya tersenyum, tapi netranya tetap menatap lurus ke depan. "Yang nge-chat saya kemarin bukan kamu, kan?" Wanita di sebelahnya sontak terkejut. "Ara, ya?"


Aleta seketika merasa bersalah. Semalam, yang memaksanya untuk menghubungi Aksa memang adiknya. Dafira bilang, kalau ia harus bisa bergerak cepat. Daripada menunggu, sebaiknya menciptakan peluang lebih dulu. Meski begitu, Aleta tak bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Dafira. Jari jemarinya mendadak lemas begitu hendak mengetikkan beberapa kalimat untuk dikirimnya pada Aksa. Akhirnya, Dafira-lah yang mengambil alih. Adik perempuannya itu mengambil ponsel pintar Aleta, lalu menggantikannya mengirim pesan pada Aksa.


Aksa terkekeh. "Saya enggak marah, kok. Saya cuma seneng main tebak-tebakan aja," kelakarnya. "Eh, tapi ... kamu nggak terpaksa, kan, bareng saya hari ini?"


Aleta yang sempat tertunduk, kini kembali mengangkat wajah dan menatap pria di sebelahnya. Sambil menggelengkan kepala, dengan suara rendah ia berkata, "Sa-saya nggak terpaksa, kok."


Aksa tersenyum lega. Ternyata butuh waktu lebih dari sepuluh menit untuk membuat wanita di sebelahnya bicara.


"Hm ...." Aksa berpikir sejenak. "Saya lagi mikir, gimana caranya bikin kamu nggak risi sama saya. Karena kamu takut cowok, apa saya harus dandan kayak cewek dulu biar kamu nggak takut? Atau ... saya harus pake rok?"


Aleta tersenyum malu. Ia suka caranya Aksa melontarkan lelucon. Konyol, tapi tak dapat dimungkiri bisa membuatnya tertawa dan merasa nyaman.


"Nah, kan, diem lagi," celetuk Aksa sambil menunjuk wanita di sebelahnya.


Aleta menggigit bibir. Ia bingung harus memberi respons seperti apa. Sebelumnya, ia tak pernah sedekat ini dengan pria. Oleh sebab itu, Aleta tak tahu bagaimana baiknya dirinya bersikap.


"Santai aja. Saya bukan orang yang nggak sabaran, kok. Saya tunggu kamu sampe bener-bener ngerasa nyaman."


Menerima perlakuan selembut ini sudah pasti membuat hati Aleta berbunga. Aleta ingin bisa dengan jujur menyampaikan perasaannya. Akan tetapi, lidahnya masih terlalu kelu. Ia masih terlalu malu. Aleta tahu bahwa sejak awal hatinya sudah tercuri oleh Aksa. Namun, Aleta tak yakin bisa atau tidak balas mencuri hati Aksa untuknya. Bagaimana caranya saja Aleta sama sekali tak punya gambaran.


"Sekolahnya Cinta," gumam Aksa sambil menatap gedung sekolah yang cukup besar dengan pintu gerbang bercat merah di depan sana. "Jam segini udah pada pulang kali, ya?"


Aleta menatap jam tangannya; 17.40 tertera jelas di atas sana. Di jam-jam seperti ini tentu saja adiknya sudah pulang. Lain halnya jika memang sedang ada kegiatan klub.


"Mudah-mudahan aja udah pulang. Jangan sampe jalan sendirian lagi kayak waktu itu." Aksa masih bicara pada dirinya sendiri dengan tatapan menerawang. Ia tak menyadari bahwa wanita di sebelahnya mulai memperhatikan.


"Eum ...." Aleta mulai bersuara. "Mas Aksa ... udah lama tetanggaan sama Cinta?"


Aksa seketika menoleh. Cukup terkejut karena wanita di sebelahnya mulai memberanikan diri untuk bertanya. Namun cara Aleta memanggilnya membuat Aksa sontak tertawa. "Mas?" katanya.


Aleta kembali menggigit bibir. "Sa-saya nggak tahu harus manggil apa," ucapnya malu-malu.


"Hahaha. Saya bukan orang Jawa, sih. Tapi nggak apa-apa, deh, dipanggil 'mas'. Daripada dipanggil 'abang', ntar ketuker sama Azkia lagi." Aksa lanjut tertawa.


Meski Aksa hanya menyebut nama Azkia satu kali, Aleta masih bisa mengingat dengan jelas kalau Aksa menyebut nama itu sebagai adik perempuannya di hari pertama mereka berkenalan.


"Saya tetanggaan sama Cinta udah lumayan lah. Saya juga sering nemenin dia latihan panahan. Jadi, yah, kita memang udah deket banget," jelas Aksa menjawab pertanyaan Aleta yang sempat tertunda karena dirinya terlalu banyak tertawa.


Aleta mengangguk-angguk. "Udah kayak om sama keponakan beneran, ya?"


"Saya denger dari Ara kalau Mas Aksa temen sekolah mamanya Cinta?" Meski sudah cukup lancar berbicara, suara Aleta masih terlalu kecil untuk sampai ke telinga Aksa. Untung saja pria di sebelahnya memiliki pendengaran yang cukup tajam.


"Mamanya senior saya waktu SMA. Kebetulan satu kampus juga."


Aleta tersenyum canggung. "Pantesan deket."


Aksa berdeham. "Mau nyoba makan ramen yang di situ?" Aksa menunjuk sebuah gerobak kecil berhiaskan lampion dengan spanduk bertuliskan "Ramen" berwarna merah yang ada di dekat trotoar, yang tak jauh dari pandangannya. "Tempat duduknya terbuka, sih. Tapi ramennya enak banget, lho. Kadang-kadang saya sama Cinta juga makan di situ."


Ramen adalah salah satu makanan favorit Aleta, meski tak pernah makan di tempat dan selalu dibawa pulang. Satu-satunya yang menjadi alasan adalah, karena takut berdekatan dengan pria. Jadi, Aleta pikir lebih aman jika menikmatinya di rumah sekaligus bersantai.


"Nggak mau, ya?" Aksa bertanya lagi.


Aleta segera menggelengkan kepala. "Boleh," jawabnya.


"Oke."


Aksa menghentikan mobilnya di dekat gerobak ramen tersebut. Sebelum keluar ia kembali menatap Aleta dan bertanya, "Bener nggak apa-apa makan di sini? Cowok semua, lho."


Di sekitar gerobak ramen itu ada lima buah meja yang bisa diduduki empat orang sekaligus. Dua meja sudah terisi penuh, dan semuanya dihuni oleh laki-laki.


Aleta melirik tempat makan ramen itu takut-takut. Wajahnya seketika meringis setelah melihat banyaknya pria yang mengisi tempat makan itu. Namun, ia mencoba menguatkan diri. Ditariknya napas panjang, kemudian diembuskannya ke udara secara perlahan. Lalu Aleta kembali menatap Aksa seraya berkata, "Itung-itung latihan."


Aksa tersenyum. "Oke. Kamu tenang aja. Kan, ada saya."


Malu-malu, Aleta memperlihatkan senyum tipis disertai rona merah di wajahnya. Mungkin Aksa tak akan pernah tahu betapa bahagianya Aleta mendengar kalimat itu.


***


Asap rokok yang tercium dari meja depan membuat Aleta terbatuk-batuk. Aleta juga mengibas-ngibaskan tangannya agar bisa menghalau asap rokok tersebut. Melihat hal itu, sontak membuat Aksa merasa tidak enak. Aksa seharusnya bisa mencari tempat yang lebih baik, yang tentunya jauh dari asap rokok dan debu jalanan. Seketika, Aksa pun merasa telah salah memilih tempat.


"Mau pindah? Ramennya pasti lagi dibikin, sih. Tapi bisa kita bungkus, kok," kata Aksa menawarkan. Ia tak tega melihat wanita di hadapannya begitu kepayahan mengusir asap rokok.


Aleta menggeleng samar. "Nggak apa-apa. Saya masih bisa tahan." Jujur saja, Aleta sangat lemah terhadap asap rokok. Kalau terlalu lama berada di lingkungan tak sehat seperti ini, matanya bisa berubah menjadi merah dan berair. Belum lagi dadanya yang akan terasa sesak. Kendati demikian, Aleta tak ingin mengacaukan suasana. Ia juga tak ingin merepotkan Aksa dengan membawanya ke tempat lain. Apalagi hari sudah menjelang petang.


Sebuah ingatan sederhana menyelusup ke dalam kepala Aksa, hingga membuat seulas senyum tampak di wajahnya. Aleta yang bisa melihat perubahan wajah itu lantas bertanya, "Kenapa, Mas?"


"Hah? Oh!" Aksa tersentak, seolah diingatkan kembali bahwa ada seorang wanita yang tak boleh ditinggalkannya. Meski hanya untuk sebentar dan untuk sekadar melamun. "Enggak. Saya cuma lagi keinget sesuatu."


Aleta mengernyit. Ia penasaran ingatan seperti apa yang membuat pria di hadapannya itu tiba-tiba tersenyum. Namun sepertinya, Aksa tak berniat memberitahunya. Meski begitu, Aleta tetap ingin tahu. Maka, Aleta pun kembali bertanya, "Tentang?"


Aksa kembali tersenyum, meski senyumnya kali ini sedikit hambar. Ada sedikit perasaan tidak nyaman ketika Aleta seolah memaksanya untuk bicara. Apalagi mengenai isi di dalam kepalanya. Namun, Aksa tak ingin membuat suasana menjadi tidak nyaman. Oleh karena itu, meskipun dengan sedikit berat hati, Aksa pun menjawab, "Saya sama Cinta juga sering ngalamin kejadian kayak gini."


"Cinta ...?" Menyesal rasanya sudah bertanya, rutuk Aleta. "Maksudnya?"


"Eum ... yah, keganggu sama asap rokok pengunjung lain," jawab Aksa sambil menunjuk ke sekeliling. Kini netranya kembali menerawang; memutar ulang adegan di mana ia dan Cinta sama-sama makan di tempatnya sekarang. "Dia benci asap rokok," sambungnya. "Dan setiap kali ada yang ngerokok di deketnya, dia pasti langsung kesel." Aksa mendenguskan tawa, lalu kembali melanjutkan, "Nggak cuma itu. Kadang, dia juga langsung ngedatangin si perokok dan ngasih teguran. Sampe akhirnya si perokok bener-bener matiin rokoknya. Dia emang nggak kenal takut."


Senyum dan tatapan lembut saling bergantian mengisi wajah Aksa di setiap kali dirinya membicarakan Cinta. Cara Aksa membicarakan gadis berusia 18 tahun itu sangatlah tak biasa. Seolah orang yang dibicarakannya tengah hadir dan berdiri di hadapannya. Aksa seolah larut dalam ingatannya sendiri. Ia lupa akan sekitar; lupa akan wanita yang kini duduk di hadapannya sambil meremas dada. Namun berkat itu, Aleta menyadari sesuatu. Dirinya tidak akan pernah bisa mencuri hati Aksa. Sampai kapan pun Aleta tidak akan pernah melihat pantulan dirinya di netra Aksa. Perkenalan ini akan menjadi sia-sia, karena sejatinya arus cinta yang dibawa Aksa memang benar bukan untuknya.


"Cinta beruntung, ya." Senyum pahit mengiringi kalimat yang Aleta ucapkan. Pria di hadapannya seketika berhenti bicara dan mulai memperhatikannya. "Ada Mas Aksa yang sayang banget sama Cinta." Netra Aksa yang perlahan membeliak seolah menegaskan bahwa dirinya sendiri pun baru menyadari betapa besar rasa sayangnya pada gadis mungil berusia 18 tahun itu.


Aksa berdeham. Netranya menghindari Aleta. Kemudian dengan gugup ia berkata, "Yah, soalnya udah kayak keponakan sendiri, sih."


Hati Aleta sangat perih. Ditambah, harus menyembunyikannya di balik senyum pahit yang terus-menerus ia coba kembangkan. Bahkan dia sendiri saja belum menyadarinya, pikir Aleta getir. Bodohnya, Aleta malah membantu Aksa untuk "membuka mata". Namun tak mengapa. Mau sekeras apa pun berusaha, Aleta tidak bisa mengisi hati seseorang yang sejatinya sudah terisi penuh. Tak ada celah sedikit pun untuknya. Oleh sebab itu, Aleta putuskan untuk berhenti. Sebelum terlambat—meskipun sebenarnya sudah, Aleta putuskan untuk mengakhiri semua ini.


***