
"Berlatih setiap hari juga tidak baik. Kamu tetap harus memiliki istirahat yang cukup. Hindari kelelahan karena akan mudah memengaruhi akurasi dan daya saat memanah. Jangan sampai performamu menurun karena kurang beristirahat."
Terkadang Cinta lupa akan nasihat papanya. Cinta sadar bahwa dirinya terlalu memaksakan diri untuk terus berlatih. Hingga lupa bahwa istirahat pun sejatinya adalah proses latihan. Setelah bermain seharian kemarin hingga pulang ke rumah lewat waktu magrib, seharusnya Cinta lebih memilih untuk berdiam diri di rumah. Mengistirahatkan diri dan menunda latihannya hari ini.
Tak apa, pikirnya. Ia akan minta izin ke Kak Puji untuk tak ikut latihan sepulang sekolah besok. Mengambil satu hari libur tak masalah, bukan? Apalagi Cinta adalah salah satu anggota klub yang jarang meminta izin tidak ikut latihan.
Tak jauh dari tempat Cinta berdiri, Aksa dan Bagas—si pemilik tempat—mengawasi sambil sedikit berbincang santai. Keduanya begitu asyik memperhatikan gadis berusia 18 tahun yang sejak tadi tak henti-hentinya mencoba menancapkan anak panah ke poin tertinggi.
"Konsentrasinya memang parah, tapi gerakannya bener-bener halus. Dari pertama kamu bawa dia ke sini, aku percaya dia bisa jadi atlet pro. Yah, walaupun akhirnya kemampuannya malah menurun," tutur Bagas.
Aksa masih melayangkan tatapannya ke gadis mungil di depan sana. "Dia cuma lagi ada masalah. Kalau konsentrasinya udah balik, aku yakin permainannya pasti bakal lebih hebat dari gadis seusianya," sahut Aksa sambil mengulas senyum.
Bagas menatap pria di sebelahnya sambil sedikit mengernyit. "O ... ke ...."
"Kenapa?" Aksa beralih memandang Bagas yang juga menatapnya dengan tatapan aneh. Sedikit mencurigakan kalau bisa dibilang.
Bagas mendenguskan tawa, kemudian menggelengkan kepala. "Kamu nggak berubah," komentarnya.
"Maksudnya?"
"Yah, kayak bapak yang terlalu ngebangga-banggain anaknya," sahut Bagas sambil menggaruk pelipisnya.
Aksa terkekeh. "Emang muka aku keliatan kayak bapak-bapak gitu?"
Bagas memukul pelan bahu sahabatnya. "Harusnya! Cuma karena kamu belum nikah aja jadinya nggak terlalu kelihatan. Plus! Sering nge-gym bikin badan kamu masih tetep bagus. Nggak kayak aku," katanya sambil menunjukkan perutnya yang mulai buncit.
Kekehan Aksa berubah menjadi gelak tawa. "Jadi, mending aku nikah terus kayak kamu, atau ... ngejomlo aja biar badan tetep bagus kayak sekarang?"
Pandangan Aksa yang sudah kembali ke Cinta dan permainannya otomatis beralih pada Bagas. Keningnya berkerut sekarang. Bagas ingin memperkenalkan Cinta pada keponakannya? Untuk apa?
"Cowok?" tanya Aksa sambil melipat kedua lengan di dada.
Bagas mengangguk. "Cowok dan seumuran."
Sebelah alis Aksa kini terangkat. "Buat?"
"Buat ngajarin keponakan panahan."
Kerutan di kening Aksa semakin dalam. "Kenapa harus Cinta?"
Bagas terkekeh. Kemudian berdecak sebelum menjawab, "Soalnya, gerakan Cinta memanah udah bisa dibilang sangat bagus."
"Tunggu, tunggu! Kenapa dia nggak diajarin sama kamu? Kamu, kan, lebih pro."
Bagas berdeham. Berkali-kali ia menahan tawanya agar tak menyembur keluar. Namun pria di sebelahnya benar-benar membuatnya tak tahan. "Sa! Belajar sama yang seumuran itu lebih cepet. Nggak akan ada canggung. Bagusnya lagi mereka bisa saling kenal dan temenan, 'kan? Jadi, kenapa enggak?"
"Hm ...." Aksa mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas lengan dengan tidak sabar. Ia juga menelan ludah. Di sudut hatinya yang terdalam ada sebuah perasaan tak rela, dan sepertinya Bagas menyadarinya.
Bagas sudah tak bisa lagi menahan tawa. Maka ia pun tergelak, terbahak hingga membuat sahabatnya menatapnya penuh tanya. Kemudian setelah berhasil menguasai tawanya, Bagas kembali berkata, "Kamu, tuh, udah kayak bapaknya sendiri. Posesif. Over protective. Takut, ya, kalau anak gadisnya diambil orang?"
Aksa tertohok. Ia kembali menelan ludah, kali ini dengan susah payah. Apa yang dikatakan Bagas mengejutkan sekaligus menyadarkannya hingga tak bisa berkata-kata. Dilihatnya kembali gadis mungil yang masih asyik berlatih di depan sana. Kedua lengannya seketika mengendur; jatuh secara perlahan di kedua sisi tubuhnya. Perasaan yang Aksa rasakan sekarang begitu rumit. Kompleks. Namun, Aksa sadar betul bahwa perasaan ini bukanlah perasaan yang dimiliki ayah terhadap anak gadisnya. Bukan pula perasaan om kepada keponakannya. Melainkan ....
***