Lovarchery

Lovarchery
DUA PULUH ENAM (Kebenaran yang terungkap)



"Mau latihan?" Begitu membuka pintu kamar Cinta dan mendapati putri semata wayangnya sedang mematut diri di depan cermin, sontak membuat Safira bertanya dengan kedua alis mengerut.


Cinta beralih dari cermin ke mamanya, kemudian tersenyum. "Mau ke suatu tempat," jawabnya penuh rahasia.


"Suatu tempat? Mama nggak boleh tahu?" Safira melemparkan tatapan nakal.


Cinta mendenguskan tawa. "Boleh, kok. Cinta cuma mau ke rumah lama. Mau mastiin sesuatu," jawabnya kini dengan wajah muram.


"Rumah lama? Kamu yakin? Bukannya kamu udah nggak mau ke sana? Atau, mau Mama temenin?"


Safira khawatir. Selama ini Cinta begitu bersikeras menghindar dari segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah itu. Namun sekarang, apa yang membuatnya ingin pergi ke sana? Apa yang harus dipastikannya?


Dibawa kedua kakinya menuju jendela. Sambil memandang ke luar sana Cinta mulai berkata, "Belakangan ini Cinta nggak bisa fokus latihan karena Bima. Bima sempet dateng ke sekolah Cinta. Dia pengin Cinta pulang, tapi udah pasti Cinta nggak mau. Cinta udah mutusin buat nggak balik lagi ke rumah itu. Apalagi setelah semua yang dilakuin dia sama Cinta. Cinta nggak bisa maafin dia, Ma." Cinta membalik tubuhnya dan menatap Safira di lurusannya. "Tapi ada satu hal yang ganggu pikiran Cinta. Bima bilang, kalau dia hidupnya jadi nggak keruan karena Cinta tinggal. Nggak nafsu makan dan suka ngurung diri. Sebenernya Cinta nggak percaya. Cinta juga nggak peduli. Tapi, Cinta juga nggak bisa bohong kalau sebenernya Cinta sedikit khawatir. Cinta ke sana sekarang cuma buat mastiin apa yang dibilang Bima itu bener apa enggak."


Safira melangkah masuk; mendekati gadisnya yang berwajah murung. Safira tahu meski dia yang Cinta maksud itu bukan ibu kandung Cinta, Cinta sangat mencintainya. Kalau tidak, Cinta tidak akan begitu terluka seperti empat tahun lalu saat dia menyuruhnya untuk meninggalkan rumah. Safira rasa inilah saatnya bagi mereka bertemu muka. Menyelesaikan segala sesuatu yang sejatinya belum selesai. Duduk dan saling bicara untuk menyelesaikan sebuah kesalahpahaman. Selama ini Safira tahu semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Apa alasan dia mendepak Cinta dari rumahnya. Namun ia lebih memilih diam. Safira percaya akan ada waktu yang tepat bagi keduanya untuk saling terbuka.


"Apa keputusan Cinta tepat, Ma?"


Safira tersenyum. Kemudian mengusap lembut pipi gadisnya seraya berkata, "Tentu. Kamu harus nyari tahu sendiri kebenarannya. Apa pun yang terjadi, Mama selalu ada di sini. Kamu selalu punya tempat buat pulang."


Senyum terulas di wajah Cinta yang sedikit pucat. "Makasih, Ma."


Safira mengangguk. "Jadi, pergi sama siapa?" tanyanya.


"Om Aksa," jawab Cinta.


"Aksa?"


Cinta mengangguk.


"Kenapa harus Aksa?"


Cinta mengangkat bahu. "Mungkin, karena sama Om Aksa Cinta bisa ngerasa tenang. Seenggaknya Cinta bisa pulang dengan selamat setelah balik dari rumah itu. Nggak pake ongkos juga, 'kan?" Cinta mulai mengeluarkan lelucon.


Safira menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Tega banget, sih."


"Bukan tega, Ma. Cuma memanfaatkan fasilitas yang ada."


"Dasar!" Safira mengetuk kepala Cinta sebelum akhirnya melangkah ke luar kamar.


Senyum Cinta perlahan lenyap. Tatapannya kembali ke luar jendela. Kenapa harus dengan Aksa? Jawabannya adalah, karena Cinta pun ingin mengakhiri segala sesuatu yang berhubungan dengan pria itu. Sebelum Cinta menemui Aksa di rumahnya kemarin dan memintanya untuk menemaninya hari ini, Cinta sudah memutuskan untuk menghentikan perasaannya terhadap om-om berusia 36 tahun itu. Menyatakan cinta, lalu ditolak. Setelah itu, Cinta yakin akan lebih mudah menghapus perasaan cintanya terhadap Aksa.


***


Sebuah rumah mewah berpagar tinggi yang dijaga beberapa petugas keamanan kini berada di hadapan Aksa. Ia tak mengira kalau Cinta berasal dari rumah sebesar ini. Ia juga tak mengira kalau papanya Cinta adalah orang yang sangat kaya raya. Sedikit banyak Aksa sudah tahu ceritanya dari Cinta. Bahwa ternyata Cinta hanyalah anak yang tak pernah diinginkan di rumah ini. Bahwa sebelum bertemu Safira, Cinta memiliki seorang ibu yang ternyata hanyalah ibu tiri. Seorang ibu yang namanya tercatat di akta lahirnya sebagai ibu kandung, yang ternyata tidak benar sama sekali.


Hubungan Cinta dan ibu tirinya sebelum Papa meninggal sebenarnya baik-baik saja. Bahkan, ibu tirinya tak pernah sekali pun menunjukkan sikap pilih kasih di antara Cinta dan adiknya—yang sejatinya anak kandungnya. Oleh sebab itu, Cinta sangat terkejut begitu mengetahui bahwa dirinya hanyalah anak tiri. Bahwa dirinya hanyalah anak dari seorang wanita yang tak pernah direstui menjalin hubungan dengan papanya.


"Mau saya temenin?" tanya Aksa.


Cinta menggelengkan kepala kemudian tersenyum. "Om Aksa nggak keberatan, kan, nunggu di mobil? Cinta nggak akan lama, kok. Cinta cuma pengin tahu gimana keadaan dia sekarang," ucapnya.


"Mau lama juga nggak apa-apa. Asal pulangnya kamu traktir saya makan enak," goda Aksa sambil memperlihatkan lesung pipinya.


Cinta berdecak. "Om yang harusnya nraktir Cinta tahu. Masa Cinta."


Aksa terkekeh. "Ya udah sana. Santai aja ngobrolnya. Anggep aja saya nggak ada. Paling saya ke minimarket bentar buat beli kopi."


"Jangan ngerokok, ya! Awas, lho! Cinta nggak mau nyium bau rokok di mobil," tegur Cinta sambil cemberut.


"Enggak." Aksa menepuk puncak kepala Cinta. "Lagian, kan, saya udah berhenti."


Cinta mengangguk malu. Ia pun menarik napas panjang sebelum kembali menatap pria di sebelahnya sambil tersenyum. "Cinta masuk dulu, ya, Om."


"Iya."


Begitu keluar dari mobil sontak jantung Cinta berdegup semakin kencang. Ia tak pernah mengira bahwa akan ada saat dirinya kembali menginjakkan kaki di rumah ini. Ia juga tak mengira bahwa sedikitnya ada perasaan rindu yang menyelimuti, tatkala Cinta menatap semua hal kecil yang sama sekali tak berubah dari rumah ini.


***


"Non Cinta!"


Seorang wanita paruh baya seketika menghampiri Cinta yang baru saja memasuki bagian depan rumah. Meski sudah empat tahun berlalu, Cinta tidak akan pernah lupa pada wanita yang menjabat sebagai asisten rumah tangganya itu. Mbok Uni, hampir seisi rumah memanggilnya begitu. Sebenarnya nama lengkapnya adalah Yunita Lestari. Akan tetapi karena "Yunita" dianggap terlalu panjang untuk dijadikan panggilan, maka semua orang sepakat memanggilnya Mbok Uni. Kenapa tidak Yuni? Entahlah. Cinta juga tidak mengerti. Namun Cinta rasa, "Uni" adalah panggilan yang cukup unik.


"Mbok Uni!" seru Cinta sambil memeluk erat mboknya. "Gimana kabarnya?"


"Saya, sih, baik-baik saja, Non. Non yang bagaimana kabarnya?" Air mata sedikit keluar ketika Mbok Uni menatap majikan kecilnya yang sekarang sudah menjadi seorang gadis dewasa. Ia sangat rindu pada majikan kecilnya yang sudah lama tak pulang. Ia rindu saat-saat Cinta dan Bima selalu berebut es jeruk dari tangannya.


"Cinta baik juga, kok, Mbok," jawab Cinta penuh haru.


"Sebentar, Mbok ambilin minum dulu sekalian manggilin Den Bima," kata Mbok Uni sebelum kembali ke dalam.


Foto keluarga berukuran besar masih terpajang di salah satu dinding ruang tamu. Foto yang menampilkan Papa, Bima dan Cinta yang masih anak-anak, serta dia yang selalu memulas wajah dengan riasan sederhana yang tampak natural. Senyumnya sangat lembut—meski tak selembut mamanya, juga sangat menenangkan. Dulu, setiap kali Cinta melihat senyum itu, Cinta selalu merasa iri. Ia iri karena senyumnya tak sama seperti dia. Bentuk wajahnya juga berbeda. Saat itu Cinta selalu bertanya-tanya, kenapa hanya dirinya yang tidak mirip dengan ibunya? Kenapa juga hanya Cinta yang tak disematkan nama belakangnya seperti halnya Bima? Akhirnya setelah keluar dari rumah ini Cinta tahu semuanya. Cinta tahu jawaban atas semua pertanyaannya.


"Kak Cinta!" seru Bima yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Cinta. "Akhirnya!" Bima benar-benar lega karena akhirnya Cinta mau kembali ke rumah. "Kok, nggak bawa apa-apa? kopernya mana?" tanyanya polos. Melihat Cinta yang hanya membawa tas kecil yang diselempangkan di bahu, sudah tentu membuat Bima penasaran. Bukankah kakaknya kembali untuk tinggal lagi bersamanya di rumah ini?


Cinta hanya tersenyum pahit. Tak tega rasanya memberi tahu Bima bahwa hari ini ia hanya sekadar mampir untuk melihat situasi.


"Kamar Kak Cinta sengaja nggak diubah sama Mama, lho. Masih sama kayak dulu. Mau ke kamar sekarang? Capek, kan? Atau mau makan dulu? Udah makan belum?" Bima masih mencerocos.


"Kok, gitu? Emang Kakak nggak akan tinggal lagi di sini?" Wajah Bima berubah sendu.


Cinta mengusap lengan Bima yang mulai berbentuk. "Aku udah punya kehidupan sendiri, Bim. Jadi nggak mungkin aku tinggalin gitu aja," jelasnya selembut mungkin; berharap adiknya mau mengerti dan tak terlalu sakit hati.


"Nggak bisa dipertimbangin lagi?" Bima menatap kakaknya dengan tatapan memelas.


Cinta mendesah, kemudian menggeleng pelan.


Suara langkah kaki yang kian lama kian mendekat membuat Cinta dan Bima mengalihkan perhatian. Langkah itu berhenti tak jauh dari tempat Cinta berdiri. Seorang wanita yang tampak kuyu dan sangat kurus, ditambah tanpa riasan sedikit pun berdiri di sana. Kedua netranya menatap Cinta tak percaya. Kedua telapak tangannya menutupi mulut, seolah sedang menahan agar tak ada jeritan yang keluar dari sana. Air matanya sontak menggenang. Meski ia coba tahan, air mata itu tetap saja keluar. Emosi yang selama beberapa tahun ini ia coba sembunyikan kini tertumpah sudah.


Anak gadisnya telah kembali. Anak yang terpaksa ia buang itu kini berada di hadapannya dengan begitu berani. Ia tahu apa yang telah dilakukannya dulu bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dimaafkan. Bahkan, pantas dimaafkan saja tidak. Namun ia tak bisa membohongi diri, bahwa hatinya begitu lega bisa melihatnya kembali. Meski sejatinya tak ada darahnya yang mengalir di tubuh Cinta Nayara Kalandra, ia tak pernah sekali pun menganggap Cinta sebagai anak tiri. Cinta adalah anak gadisnya. Anak sulung di rumah ini. Anak yang seharusnya tak ia biarkan pergi empat tahun lalu. Anak yang seharusnya ia dekap sampai dengan saat ini.


Cinta tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa Hanasta El Brijaya akan menjadi tak seterurus ini. Ibu tiri yang dikenalnya bukanlah seorang wanita yang akan mengabaikan penampilannya begitu saja. Hanasta bukanlah wanita yang bisa—meski sederhana—tanpa riasan. Ibu tirinya itu tak pernah memperlihatkan sosoknya yang tak berdaya seperti sekarang. Ternyata Bima memang tidak mengada-ada. Monster itu kini telah berubah menjadi sosok lemah yang sepertinya sudah tak memiliki pegangan. Monster yang sudah tak lagi menakutkan, tapi justru menyedihkan.


Hanasta menghampiri Cinta dan merengkuhnya erat. Air matanya sudah tak lagi dapat dibendung. Sambil sesenggukkan, ia menciumi puncak kepala Cinta. Dengan suaranya yang parau, ia terus-menerus mengucap kata maaf. Batinnya perih mengingat empat tahun lalu sudah meninggalkan Cinta begitu saja. Namun saat itu ia tak memiliki pilihan. Satu-satunya jalan terbaik agar Cinta masih bisa hidup dengan selamat hanyalah dengan mengembalikannya pada ibu kandungnya. Pada Safira, yang sejatinya tak pernah Hanasta ketahui seperti apa orangnya. Namun setelah mengenal cukup baik, Hanasta yakin bahwa hanya Safira-lah yang bisa menyelamatkan Cinta.


"Maaf, Cinta. Maafkan Mama. Maaf."


Luka yang tertanam di hati Cinta selama empat tahun terakhir ini seketika mengering. Air mata ibu tirinya membuat luka itu tak lagi terasa sakit. Rasa sakit itu kini berganti menjadi rindu ketika Cinta masih menjadi bagian dari rumah ini. Di rumah besar ini, tak pernah satu hari pun Cinta lewati tanpa tawa; tanpa kebahagiaan; tanpa kehangatan keluarga. Semua yang Cinta butuhkan ada di rumah ini. Cinta tak pernah kekurangan kasih sayang. Cinta tak pernah sekali pun merasa tidak bahagia. Sampai akhirnya ibu tirinya mengusir Cinta. Dengan alasan Cinta bukan anak kandungnya, ibu tirinya membuang Cinta begitu saja.


Cinta melepaskan pelukan Hanasta. Cinta bingung sekarang. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Ingin hati langsung menyerang ibu tirinya dan memintainya berbagai penjelasan. Namun dengan sikap Hanasta sekarang, Cinta tak tahu lagi harus menghadapinya dengan cara seperti apa.


Hanasta menatap anak gadisnya yang berwajah penuh kebingungan. Ia tahu sikapnya sekarang sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya empat tahun lalu. Namun andai Cinta tahu bahwa waktu itu Hanasta melakukannya karena memiliki alasan yang sangat kuat.


"Kita ngobrol sambil duduk." Bima angkat bicara. Menatap kedua wanita yang sama-sama berdiri canggung di hadapannya membuatnya merasa tak nyaman.


Bima memang tak pernah tahu ada apa di antara ibu dan kakaknya, tapi Bima bisa mengira bahwa sesuatu memang terjadi di antara keduanya. Selama ini Bima hanya tahu kalau kakaknya tak lagi tinggal bersamanya di rumah besar ini. Bima tak pernah tahu kalau Cinta ternyata bukan anak dari ibunya. Bima juga tidak tahu kalau ternyata ibunyalah yang menyuruh Cinta pergi. Setiap kali Bima bertanya, Hanasta hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Atau, tersenyum pahit dengan tatapan menyedihkan. Tak pernah ada sedikit pun penjelasan yang keluar dari mulutnya. Namun kini, ia harus tahu kebenarannya. Ia harus tahu apa yang selama ini disembunyikan ibunya. Maka dari itu, Bima tak akan bergeser sedikit pun dari tempatnya. Ia akan turut menyaksikan. Hingga semua rahasia yang menyelimuti dirinya selama empat tahun ini lenyap.


Mbok Uni datang dan menyajikan tiga gelas es jeruk dan beberapa makanan ringan di atas meja. Setelah itu, ia berlalu begitu saja. Seolah tahu bahwa ada hal penting yang hendak ketiga majikannya bicarakan.


"Gimana keadaan kamu?" Hanasta bertanya pada Cinta. Bibirnya tersenyum lembut dan matanya yang sayu menatapnya penuh rindu.


"Baik," jawab Cinta singkat. Sebisa mungkin Cinta menghindari kontak mata dengan Hanasta. Hanasta boleh saja menunjukkan sikap lembut sekarang, tapi bukan berarti Cinta bisa dengan mudah memercayainya. Biar bagaimanapun, kenyataan bahwa Hanasta telah membuangnya empat tahun lalu tidak bisa terhapus begitu saja.


"Kamu pasti benci banget sama Mama, ya?" Cinta tak menjawab. "Selama kamu bisa hidup dengan baik-baik saja, Mama nggak keberatan kamu benci."


Cinta menoleh. Menatap Hanasta penuh tanya. Apa maksudnya itu? Apa maksud dari perkataannya yang membingungkan itu?


Hanasta membuang napas berat. Netranya menerawang sekarang. Pikirannya kembali ke saat dirinya tiba-tiba didatangi oleh Asmarini ... mertuanya.


"Sudah saatnya kita melepas anak itu," ucap Asmarini yang kontan membuat Hanasta mengernyit. Apa maksudnya melepas? Anak mana yang ia maksud? "Biar bagaimanapun, dia bukan anakmu. Meski darah Kalandra mengalir di tubuhnya, saya tetap tak bisa mengakuinya sebagai cucu. Dia bukan bagian dari keluarga ini."


"Bu, Cinta anak Mas Raihan. Dan saya juga sudah menganggapnya sebagai anak saya sendiri. Saya menyayanginya seperti halnya saya menyayangi Bima. Saya tidak mungkin melepaskannya," jelas Hanasta.


Asmarini mendelik. "Cucu saya hanya satu. Penerus Kalandra pun hanya satu. Bima El Kalandra akan menjadi pengganti Raihan. Dia satu-satunya cucu yang saya akui. Saya tidak mau darah 'orang asing' mengotori nama keluarga ini. Kamu sendiri yang putuskan. Membiarkan dia pergi, atau saya yang akan mengirimnya ke panti asuhan."


Tepat setelah satu tahun Raihan Kalandra pergi meninggalkan keluarganya, Hanasta harus kembali menghadapi ujian yang sangat berat. Keputusan Asmarini adalah mutlak. Tidak bisa ditentang. Kalaupun dilawan, yang akan rugi hanyalah diri sendiri. Kekuasaannya tak terbatas, dan Hanasta sadar bahwa ia tak akan pernah bisa menang melawannya.


Hanasta tak ingin anak gadisnya berakhir di panti asuhan. Namun ia juga tak bisa mempertahankannya di sisinya. Maka satu-satunya cara agar bisa menyelamatkan Cinta adalah, dengan mengembalikannya pada ibu kandungnya. Meski tidak rela, Hanasta tahu bahwa hanya itulah satu-satunya jalan.


Saat itu, Hanasta mulai mencari keberadaan Safira Nayara. Tidak terlalu sulit, karena Safira sendiri tidak benar-benar menyembunyikan diri dari dunia luar. Lalu setelah meyakinkan diri, Hanasta pun mulai menemui Safira. Menjelaskan bahwa dirinya adalah istri dari Raihan Kalandra. Hal itu sudah tentu menimbulkan kecanggungan bagi keduanya. Namun Hanasta tak memiliki pilihan. Ia hanya bisa berharap bahwa Safira adalah wanita baik-baik yang tak akan menolak anak kandungnya sendiri.


"Jadi, Cinta sengaja dibuang karena Nenek?" Setelah Hanasta menceritakan garis besarnya Cinta pun bertanya. Ingin memastikan kebenaran yang baru saja tertangkap kedua telinganya.


Hanasta memandangi anak gadisnya teduh. Sorot matanya menampakkan penyesalan yang teramat sangat mendalam. Tak sekali pun ia pernah berpikir untuk menjauhkan Cinta darinya. Namun, apa yang diperintahkan Asmarini harus benar-benar diturutinya.


"Mama nggak bisa lihat kamu hidup di panti asuhan. Kalaupun Mama harus berpisah sama kamu, kamu harus bisa hidup di tempat yang layak. Tempat di mana ada seseorang yang benar-benar sayang sama kamu. Dan Mama pikir, ibu kandung kamulah satu-satunya orang itu," jelas Hanasta. "Waktu itu Mama sengaja bersikap jahat supaya kamu benci sama Mama. Benci sama rumah ini dan semua yang ada di dalamnya. Harapan Mama cuma satu, kamu nggak lagi muncul di hadapan Nenek. Karena kalau sampai Nenek tahu kamu masih berkeliaran di sini, Mama nggak tahu apa yang bakal dilakuin dia selanjutnya."


Tubuh Cinta melemas. Kenyataan ini benar-benar telah menguras tenaga dan pikirannya. Kenapa neneknya setega itu padanya? Kenapa harus sebenci itu pada Cinta yang sebenarnya tak pernah berbuat apa-apa hingga membuat malu nama keluarga? Apa hanya karena ibu kandungnya yang berasal dari keluarga biasa? Apa karena darah Safira mengalir di tubuhnya?


Kenapa pula neneknya harus membenci Safira? Bukankah Safira sudah rela melepaskan Papa dan anaknya? Bukankah Safira juga tak pernah meminta apa pun pada keluarga Kalandra? Bukankah sejatinya Safira juga tak pernah mempermalukan nama keluarga besar Kalandra? Kalau menjadi seorang Kalandra akan setersiksa ini, Cinta lebih memilih untuk melepas nama itu. Cinta akan hidup hanya dengan nama belakang dari ibu kandungnya saja. Dengan begitu, hidupnya pasti akan lebih tenteram.


Di sisi Cinta, Bima hanya bisa mematung. Meski memiliki ayah yang sama, mereka lahir dari rahim yang berbeda. Mereka tidak lahir dari wanita yang sama. Begitu mengejutkan pula ketika mengetahui Cinta pergi karena diusir oleh ibunya sendiri. Bima tak mengira bahwa inilah rahasia besar yang selama ini ditutup-tutupi oleh ibunya.


"Mama ... nggak pernah berharap kamu kembali lagi ke rumah ini. Walaupun Mama rindu, Mama nggak bisa bawa kamu untuk tinggal lagi di rumah ini. Nenek kamu bisa ngelakuin apa pun supaya kamu pergi. Dan apa yang bakal dia lakuin, sudah pasti lebih parah dari yang Mama lakuin empat tahun lalu."


Setelah mendengar semuanya, mustahil bagi Cinta untuk kembali ke rumah ini. Mustahil baginya untuk hidup di bawah naungan nama Kalandra. Mustahil pula baginya untuk meninggalkan Safira. Satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang hanyalah ibu kandungnya. Dan lagi, untuk berhadapan dengan neneknya yang sekejam binatang buas, Cinta yakin tak akan bisa menang. Lebih baik hidup seperti sekarang. Meski kekayaan tak melimpah ruah, Cinta bisa mengecap kebahagian dengan keluarga kecilnya.


Tiba-tiba saja Cinta teringat akan sesuatu. Menurut cerita yang Cinta dengar dari Hanasta, Hanasta dan Safira memiliki hubungan yang sangat dekat. Keberadaan Cinta membuat keduanya seperti sahabat baik. Itu artinya mereka berdua masih menjalin kontak sampai sekarang, bukan? Kalau begitu ....


"Satu lagi!" Cinta masih ingin bertanya. "Busur panah yang Cinta terima dari Mama Safira ...."


Hanasta tersenyum. "Itu memang punya kamu. Mama nggak mungkin ngasihin ke orang lain, 'kan? Mama sengaja nitipin ke Safira biar kamu bisa pake lagi. Biar kamu bisa fokus latihan sama barang kepunyaan kamu sendiri. Apalagi itu barang kesayangan kamu, 'kan? Barang yang kamu terima dari Papa."


Benar dugaan Cinta. Busur panah itu bukan sekadar mirip, tapi memang miliknya. Cinta tak mungkin lupa pada benda yang baginya paling berharga. Meski Cinta berhenti mempertanyakannya pada Safira, jauh di dasar hatinya Cinta tahu bahwa busur panah itu adalah busur panah yang sama seperti yang diberikan Papa padanya.


"Boleh Mama minta sesuatu dari kamu?"


Cinta kembali menoleh; menatap wajah ibu tirinya yang kini mulai berseri.


"Jangan menyerah pada panahan. Baik Mama maupun Papa benar-benar ingin kamu menjadi atlet panahan. Kami ingin kamu berhasil meraih cita-citamu selama ini. Dulu Papa selalu bilang, 'Jangan biarkan Cinta sepertiku. Jangan sampai anak itu melepas impiannya demi sesuatu yang sebenarnya tak ingin dijalaninya. Biarkan dia menjalani hidup sesuai dengan yang diinginkannya.' Cita-cita kamu bukan milik kamu sendiri, tapi milik kita semua," ujar Hanasta.


"Milik Bima juga. Aku juga pengin Kak Cinta jadi atlet panahan." Bima ikut tersenyum di sisi Cinta.


Cinta tersenyum lega. Kemudian berkata, "Cinta nggak mungkin menyerah. Panahan ... satu-satunya yang Cinta punya."


***