
Hampir saja Cinta melonjak karena kaget. Sensasi dingin yang menyentuh pipinya membuatnya mau tak mau tersadar dari lamunan panjangnya. Aksa menunjukkan sebotol minuman dingin berperisa jeruk yang baru ia beli dari minimarket di seberang mobilnya. Cinta menerima minuman itu dan langsung menenggak seperempatnya.
Aksa memang sengaja menghentikan mobilnya. Selain untuk membelikan Cinta minuman—juga sebotol kopi dingin berukuran kecil untuknya, juga untuk membuat Cinta merasa lebih tenang. Cinta memang tak mengatakan apa pun. Setiap kali Aksa bicara dan melontarkan lelucon, Cinta pun tertawa seperti biasa. Namun bukan berarti Aksa tidak menyadarinya. Ada sesuatu yang tengah dipikirkan gadis di sebelahnya. Sesuatu yang telah berhasil membuat Cinta tak bisa tertawa lepas.
"Udah agak baikan?" tanya Aksa setelah Cinta menghela napas panjang.
Cinta mengangguk samar. Mau menutup-nutupi dari Aksa pun percuma. Aksa sudah cukup baik mengenalnya, jadi mustahil bagi Cinta untuk menyangkal apa yang kini tengah dirasakannya.
"Mau cerita sama saya?" Aksa menunjukkan senyum menenangkan.
Meski hanya dengan senyum pahit, Cinta membalas senyum lembut yang dilontarkan pria di sebelahnya.
“Kamu tambah jelek, lho, kalau murung gitu," ucap Aksa. "Cemberut kamu aja masih lebih bagus daripada muka kamu sekarang," imbuhnya.
"Oom ...," protes Cinta tak bertenaga.
"Kenapa, sih? Nggak bisa cerita sama saya? Karena saya udah tua, gitu?"
Cinta terkekeh. Pelan, tapi cukup membuat Aksa merasa lega. Setidaknya Aksa telah berhasil membuat gadis itu kembali tertawa.
Aksa membenamkan punggungnya ke sandaran kursi lebih dalam. Tatapannya ia buang ke depan. Kemudian ia kembali berkata, "Saya suka kamu cemberut, apalagi gara-gara saya. Tapi saya nggak suka kamu murung. Jelek tahu!"
"Om!" Cinta memukul pelan bahu Aksa; Aksa cekikikan.
Cinta menurunkan tangannya, kemudian menirukan posisi Aksa—membenamkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tatapan menerawang ke depan.
"Cinta ngerasa payah, Om," ucap Cinta lirih. "Cinta suka banget panahan, tapi permainan Cinta malah semakin parah. Bukannya meningkat, malah turun drastis. Cinta nggak tahu harus gimana lagi."
Cinta melirik Aksa, tapi pria di sebelahnya tak memberikan respons apa-apa. Mungkin Aksa sengaja diam agar Cinta bisa mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Akhir-akhir ini Cinta nggak bisa konsentrasi. Tadi aja habis kena tegur sama ketua klub. Sampe dia nanya kalau passion Cinta, tuh, beneran ada di panahan apa enggak. Berasa nggak dipercaya kalau Cinta, tuh, beneran suka banget sama panahan."
Padahal di luar langit sedang cerah, tapi Aksa malah merasa mendung tengah melingkupi ruang sekitarnya. Kesedihan Cinta bisa dirasakan jelas olehnya. Luka yang Cinta dapat dari kata-kata ketua klubnya pun bisa dilihatnya secara nyata. Bukan sebentar Aksa mengenal Cinta, bukan pula cukup lama untuk tahu perasaannya seperti apa. Namun mengapa setiap kali gadis di sebelahnya terluka, Aksa seperti merasakan hal yang sama? Perih.
Aksa memalingkan wajahnya ke sisi kiri; memperhatikan kepala Cinta yang tertunduk, tapi tanpa bisa menyembunyikan sudut matanya yang mulai basah. Kemudian ia bertanya, "Kamu berniat menyerah?"
"Jawabannya 'enggak', 'kan?" Aksa menghapus air mata Cinta yang mulai keluar. "Kalau gitu, jangan putus asa. Berlatih terus selagi kamu bisa, lalu beristirahatlah di saat kamu mulai merasa lelah. Saya tahu kamu nggak akan bisa ngelepas panahan," tuturnya diakhiri senyum lembut.
Dada Cinta seketika menghangat. Kedua telapak tangan besar yang kini berada di pipinya terasa menyejukkan. Senyuman lembut yang dilontarkan Aksa terasa menenangkan. Semua kata-kata yang diucapkannya secara mengejutkan berubah menjadi sebuah penyemangat. Baru kali ini Cinta merasa sedekat ini dengan Om Aksa-nya. Baru kali ini pula Cinta merasa ingin berlama-lama memandangi dirinya di kedua netra Aksa yang berwarna hitam kecokelatan; sama seperti netranya.
"Makanya, jangan murung terus!" Aksa memijit hidung Cinta cukup keras hingga membuatnya mengaduh kesakitan. "Kamu boleh cemberut karena saya jailin, tapi nggak boleh murung kayak gini. Apalagi kalau lagi sama saya," tambahnya.
"Ish, Om!"
Cinta menarik sisa-sisa lendir yang hampir keluar dari kedua lubang hidungnya. Ia juga menghapus air matanya yang sempat jatuh dan mengotori wajahnya. Dadanya mulai terasa lega sekarang; tak sesesak tadi. Perkataan Aksa ada benarnya. Terus berlatih selagi bisa, dan istirahat jika sudah mulai merasa lelah. Asalkan tidak menyerah, dirinya pasti bisa menemukan jalan keluar.
Aksa menarik diri, kembali membenamkan punggungnya ke sandaran kursi. Juga kembali melayangkan tatapannya ke depan. Lalu setelah berpikir sejenak Aksa bertanya, "Mau saya temenin lagi latihan?"
Bahu Cinta menjengkit. Kaget sekaligus senang mendapat tawaran menggoda dari Aksa. Dulu, berlatih panahan ditemani Aksa rasanya menyenangkan. Meski om-om itu tak melakukan apa pun selain memperhatikannya dari jauh. Namun entah kenapa, keberadaan Aksa selalu membuat Cinta merasa tenang. Konsentrasinya pun seolah terpusat.
"Nggak mau?" Aksa melirik Cinta yang masih terdiam.
"Ya ... mau lah, Om." Jantung Cinta berdegup kencang. Ada gugup yang terselip di antara jawabannya.
Aksa tersenyum. "Kalau mau, kita bisa latihan tiap hari Minggu. Eh! Jadwal kamu kosong nggak, tuh?"
"Kosong, kok. Cinta nggak pernah latihan di hari Minggu." Degup kencang di jantungnya Cinta abaikan. "Tapi ...."
"Hm? Tapi apa?"
"Latihannya outdoor, ya, Om," pinta Cinta. "Target Cinta sekarang di tiga puluh meter," imbuhnya ditemani semburat malu.
"Oke," Aksa sepakat. Temannya—si pendiri salah satu komunitas panahan—juga memiliki lapangan outdoor sebagai tempat berlatih.
Senyum Cinta mengembang. Mendapat dukungan dari seseorang itu ternyata benar-benar melegakan. Bukti bahwa ada yang berharap agar cita-citamu tercapai.
"Ah, satu lagi!" seru Aksa. "Kamu harus minta izin dulu sama mama kamu."
Dahi Cinta mengerut, tapi segera tak ia hiraukan dengan sebuah anggukan mantap. Biar bagaimanapun, Cinta memang harus mendapat izin dari mamanya. Semoga saja mamanya mau mencabut larangan Cinta berlatih di hari Minggu.
***