Lovarchery

Lovarchery
EPILOG



Empat tahun berlalu, dan Cinta berhasil berdiri di lapangan terbuka, dengan teriakan mereka yang mengelu-elukan namanya, serta harap agar dirinya bisa berhasil meraih medali emas sekaligus mengharumkan nama bangsa.


Panah terakhir telah Cinta lesatkan. Panah penuh harap sekaligus merupakan penentuan itu telah berhasil Cinta tancapkan di poin tertinggi. Poin bernilai 10 yang menjadi penentu negara mana yang akan membawa emas di cabor panahan kali ini. Sorak-sorai di sekitarnya membuat Cinta merasa lega juga bangga. Dukungan dari semua orang telah berhasil membawanya pada kemenangan.


Akhirnya Cinta telah berhasil membuktikan pada semuanya—terutama mamanya, bahwa dirinya bisa menjadi atlet panahan dan diakui dunia. Semua itu berkat kerja keras dan latihannya yang tanpa henti. Juga, di luar itu, ada satu hal yang membuat Cinta bisa bertahan sampai di sini. Perasaannya pada seseorang yang selama empat tahun ini dijaganya-lah yang berhasil membawa Cinta sampai ke titik sekarang.


Cinta memutar tubuhnya; mencari sosoknya. Ia tahu pria itu pasti datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya di mana Cinta ikut serta dalam turnamen nasional. Namun, kali ini sosok itu menghilang. Di deretan bangku penonton yang sudah Cinta tandai, hanya terlihat keluarga dan rekan-rekannya saja: Mama Safira, Mama Hanasta, Bima, Ezra, Dafira, dan teman-temannya yang lain. Namun, dia tak ada.


Segera, Cinta menyingkir dari kerumunan di sekitarnya. Ia berlari keluar lapangan. Mencari prianya yang selama ini dicintainya. Tak cukup lama berlari, Cinta menemukan sosoknya. Tubuh yang tinggi tegap itu berada di lurusannya sekarang. Cinta pun meneriakkan namanya hingga sosok itu berbalik dan menatapnya.


"Mau lari lagi?" tanya Cinta dengan raut wajah kesal. "Cinta udah berhasil ngalahin beberapa negara buat dapetin medali emas. Sekarang, Om Aksa udah nggak bisa ngelak lagi. Cinta udah ngebuktiin kalau perasaan Cinta bisa bawa Cinta jadi atlet panahan. Dan yang lebih penting lagi, perasaan Cinta ke Om sampe detik ini nggak pernah berubah," jelasnya serius.


Pria itu, Aksa Sayudha, perlahan menghampiri gadis—yang tetap—mungil di hadapannya. Sambil tersenyum ia berkata, "Terus, kamu mau saya gimana? Harus saya ingetin kalau sekarang umur saya udah empat puluh tahun?"


Cinta senderut. Bibirnya mengerucut. "Nggak usah diingetin juga Cinta inget sendiri. Pokoknya, hari ini Cinta mau nagih janji. Mulai sekarang, Om Aksa udah nggak boleh lagi nolak Cinta. Itu perjanjiannya."


Aksa terkekeh. "Terus?"


"Yaa ... Om harus nerima Cinta. Cinta sayang Om. Cinta cinta banget sama Om. Dan perasaan itu nggak pernah berubah sejak empat tahun lalu," jelas Cinta.


Cinta mendadak tersipu malu. Perkataan Aksa ada benarnya. Kalau mereka menjalin hubungan seperti layaknya lelaki dan perempuan, akan aneh sekali jika Cinta masih memanggilnya dengan sebutan "Om".


"Apa Cinta harus manggil Om ... Mas?"


Aksa menghamburkan tawa. "Nggak banget, dan nggak cocok."


"Terus, Cinta harus manggil apa?" Cinta semakin merengek. Sifat kekanak-kanakannya memang selalu muncul tiap kali Aksa menggodanya.


Aksa mendekatkan bibirnya ke telinga Cinta lalu berbisik, "Sayang?"


Senyum Cinta sontak merekah. Dilingkarkan kedua lengannya ke leher Aksa, lalu diciumnya pipi Aksa cukup lama. "Panggilannya malu-maluin, sih. Tapi nggak apa-apa, deh," kelakarnya.


Diangkatnya tubuh Cinta ke udara, lalu didekatkan wajahnya ke wajah Cinta dengan penuh gembira. Kali ini Aksa tak bisa berkata "tidak". Baik dirinya juga Cinta sudah menunggu terlalu lama. Keduanya sudah cukup menahan diri. Sekaranglah saatnya bagi mereka untuk meninggalkan masa lalu dan melangkah maju. Tak perlu lagi peduli akan orang sekitar. Sekarang, mereka hanya ingin memikirkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang hanya akan tercipta ketika mereka benar-benar bersama seperti sekarang.


\~Selesai\~