Lovarchery

Lovarchery
LIMA BELAS (Ide konyol)



Hiruk pikuk mereka yang saling berebut minta dilayani lebih dulu, semua meja yang sudah terisi penuh, serta suara riuh rendah dari mereka yang tengah berbincang dengan begitu asyiknya, semua itu tak ada hubungannya dengan seorang pemuda yang tengah menikmati kesendiriannya di salah satu sudut kantin. Dengan ditemani segelas es teh manis Ezra melambungkan lamunannya; ke hari di mana ia mengantar pulang Dafira.


—————————————————————


"Makasih udah nganterin aku pulang," kata Dafira malu-malu. Helm di kedua tangannya ia serahkan pada Ezra dengan gugup.


"Sama-sama." Ezra tersenyum. Diambilnya helm itu, kemudian digantungkannya di bagian bawah motornya.


"Kalau gitu, aku masuk dulu."


Sebelum Dafira benar-benar melangkah masuk, Ezra segera mencekal tangan gadis itu. Kedua pasang mata mereka bertemu. Namun Dafira membuang tatapannya lebih dulu. Sementara itu, Ezra dan segala kebingungannya masih mematung. Ia ragu untuk mengutarakan kegalauannya pada Dafira atau tidak.


"Ke-kenapa, Zra?" Dafira menarik tangannya yang masih dipegang oleh Ezra. Ia tak mau Ezra merasakan sensasi dingin dan gemetar yang berasal dari tangan itu.


"Hmm ...." Ezra meletakkan tangannya di belakang leher. Pertanda kegugupan mulai melanda. "Aku cuma penasaran sama yang sering nganterin Cinta akhir-akhir ini," akunya setelah menghela napas panjang.


Ezra penasaran, pada sosok di balik kemudi sedan hitam yang sering mengantar Cinta ke sekolah. Terlebih lagi, sedan hitam itu lagi-lagi datang dan membawa gadis pujaannya pergi seperti tadi. Padahal waktu Ezra menawarkan untuk pulang bersama, Cinta langsung menolak dan mengatakan sedang ingin sendiri.


"Ooh ...." Mulut Dafira membulat. "Yang pake mobil item, kan?" Ezra mengangguk layu. "Dia tetangganya Cinta. Sering nawarin berangkat bareng gitu."


"Tetangga? Sedeket itu sampe hampir tiap hari nganterin Cinta ke sekolah?" Ezra mengangkat sebelah alis matanya.


Dafira tersenyum. Ia mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Ezra pasti mengira yang bukan-bukan tentang Om Aksa-nya Cinta. Wajar. Lagi pula, bukan hanya Ezra yang salah mengira. Awalnya Dafira pun merasakan hal yang sama. Ia curiga pada si pemilik sedan hitam yang belakangan ini selalu terlihat bersama sahabatnya.


"Kamu yakin dia cuma tetangga Cinta? Bukan ... pacar? Atau mungkin ... gebetan Cinta?" Ezra ketakutan. Ezra mulai berpikir, kalau mungkin alasan Cinta selama ini selalu menampik kebaikannya karena Cinta sudah punya tambatan hati sendiri.


Jantung Dafira berdenyut nyeri. Lelaki di hadapannya ini memang tak punya hati. Tak bisa disalahkan memang. Toh, Ezra tak tahu bagaimana perasaan Dafira terhadapnya. Ditambah lagi, Dafira memang tak pernah berniat mengutarakannya. Percuma, pikirnya. Dafira tahu Ezra suka Cinta, jadi tak mungkin ada kesempatan baginya. Lagi pula, Dafira tak ingin hubungannya dengan Ezra—yang sekarang bisa dibilang cukup ada kemajuan—berubah hanya karena pernyataan cintanya. 


Dafira membuang napas panjang. Kemudian mulai menjawab, "Dia cuma tetangga, Zra. Rumahnya deketan banget. Jadi, yah, wajar kalau sering bareng. Dan, Cinta nggak mungkin suka sama dia. Perbedaan umurnya, tuh, jauh banget. Cinta juga pernah bilang, kalau umurnya cuma beda dua tahun sama mamanya. Jadi dia, tuh, udah kayak om Cinta sendiri."


Seketika Ezra merasa malu. Kecurigaannya ternyata sangatlah tak beralasan. Seharusnya sebelum mencurigai yang bukan-bukan, Ezra mencari tahu terlebih dulu tentang orang itu. Untungnya orang pertama yang Ezra ajak berkonsultasi bukan Cinta, melainkan Dafira. Kalau tidak, ia bisa benar-benar kehilangan muka.


—————————————————————


Apa Ezra harus pindah ke kompleks yang sama dengan Cinta? Ide konyol! Mana mungkin orang tuanya mau repot-repot pindah rumah hanya karena anak satu-satunya terkena demam jatuh cinta.


Sosok Dafira terlihat. Kedua netranya mengedar ke segala arah. Mungkin, sedang mencari tempat yang kosong untuk duduk. Sayang, semua tempat masih terisi penuh. Ezra tak mengerti. Padahal siswa-siswi sekolahnya begitu banyak, tapi kenapa tempat duduk di kantin ini sangat sedikit? Untuk menampung setengahnya saja rasanya tidak mungkin.


Merasa kasihan, Ezra pun berdiri dan meneriakkan nama Dafira. Ia juga melambaikan tangannya agar gadis itu menghampirinya. Dafira terlihat sedikit ragu, tapi tak lama kemudian ia berjalan mendekati mejanya.


"Udah nggak ada tempat yang kosong," ujar Ezra begitu Dafira sampai di mejanya.


"Iya. Semua tempat udah penuh." Dafira tersenyum canggung.


"Duduk di sini aja."


"Eh? Temen-temen kamu?"


"Mereka udah pada duluan ke kelas. Lagi nggak pada mau makan di kantin."


"Oooh ...."


"Eum ... Cinta-nya mana?"


Lagi! Aliran listrik seolah menembus dada Dafira hingga ke jantungnya. Sakit sekali. "Di kelas. Katanya lagi nggak nafsu makan," jawabnya seraya mencoba menyembunyikan air muka kecewa.


"Eh! Duduk, duduk!"


Dafira menurut. Ada sedikit rasa sesal di hati Dafira karena telah menerima ajakan Ezra untuk duduk bersama.


Ezra mungkin tak tahu dan tak akan pernah tahu bahwa setiap kali nama Cinta keluar dari mulutnya, luka di hati Dafira yang mulai muncul ketika menyadari perasaannya terhadap Ezra, kian lama kian menganga. Keberadaan Ezra di sisinya bagaikan obat sekaligus racun bagi Dafira; di satu sisi menyembuhkan kesendiriannya, tapi di sisi lain mematikan karena yang selalu dibicarakan Ezra hanya seputar tentang Cinta, sahabatnya.


***