Lovarchery

Lovarchery
DUA PULUH TUJUH (Pengakuan)



Waktu sudah hampir petang, dan Cinta belum mengatakan apa pun pada Aksa. Ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pembicaraannya dengan Hanasta dan Bima. Setelah itu, meskipun langsung menemui Aksa dan pergi ke gerobak ramen—tempat mereka biasa makan, Cinta belum juga menemukan waktu yang pas untuk menyatakan cintanya. Jantung yang berdegup kencang, bibir yang terasa kaku, dan lidah yang terasa kelu, membuat Cinta sulit untuk berkata. Kegugupan menguasai hingga sulit membuatnya mengontrol diri.


Sampai sedan hitam itu berhenti di depan rumahnya pun Cinta masih belum bisa juga mengungkapkan perasaannya. Bukankah ia sudah bertekad untuk mengakhiri semuanya hari ini? Bukankah ia juga sudah berniat untuk menghentikan perasaannya pada Aksa? Lalu apa lagi yang harus ia tunggu? Tak ada waktu lagi hingga ia harus benar-benar keluar dari sedan hitam itu.


"Kenapa?" Aksa bertanya. Melihat gadis mungil di sebelahnya tiba-tiba membeku membuatnya terheran-heran. "Sabuknya macet?" Aksa pun melepaskan sabuk yang membelit tubuhnya agar bisa sedikit mendekati Cinta; mengecek kalau-kalau sabuk pengaman yang terpasang di tubuh gadis itu macet dan tak bisa dilepas. Namun, ternyata sabuknya baik-baik saja. Bisa dilepas dengan mudah.


"Om," panggil Cinta dengan suara bergetar.


Aksa mendongak; membuat wajahnya dan wajah Cinta hanya berjarak beberapa senti saja.


Sebelum menyatakan cinta, ada hal yang ingin Cinta pastikan terlebih dulu. "Om sama Kak Aleta ...."


Seketika Aksa mendesah. "Saya sama Aleta udah selesai sebelum mulai," katanya.


"Kenapa?"


Aksa menggelengkan kepala.


"Dafira marah sama Cinta, Om. Cinta nggak ngerti kenapa. Tapi dari sikapnya, Dafira seolah nuduh Cinta yang jadi penyebab utamanya," jelas Cinta.


Tatapan yang sempat Aksa buang, kini kembali pada gadis mungil di hadapannya. "Saya nggak bisa sama Aleta. Aleta tahu itu, makanya dia mutusin buat nggak ketemu lagi sama saya," jelasnya lirih.


"Tapi kenapa, Om? Om nggak suka sama Kak Aleta?"


"Aleta yang nyadarin saya kalau saya nggak bisa sama dia."


"Cinta nggak ngerti."


"Ada banyak hal yang nggak bisa kamu ngerti, Ta." Aksa menjauhkan diri. Ia tak sanggup berlama-lama berdekatan dengan gadis di sebelahnya. Ia takut tak bisa menahan diri.


Cinta menggeser tubuhnya. Kemudian menghadapi Aksa dengan penuh keberanian, "Tapi ada satu hal yang Cinta ngerti dan baru Cinta sadarin belakangan ini," ucapnya sambil menarik lengan kemeja Aksa.


Aksa memandanginya teduh. Menatap kedua manik hitam kecokelatan yang kini tertuju langsung padanya. Manik itu begitu jernih, begitu suci, hingga Aksa takut suatu saat nanti akan mengotorinya dengan tangannya sendiri.


"Om, Cinta tahu seharusnya Cinta nggak begini. Tapi—"


"Ta, udah malem. Mending kamu cepet masuk rumah, terus istirahat. Besok harus sekolah, 'kan?" Aksa mengelak. Ia berusaha untuk menghindar, tapi gadis di sebelahnya begitu bebal.


Cinta tersenyum getir. Sikap yang ditunjukkan Aksa sekarang adalah sikap penolakan. Cinta tahu itu. Aksa pasti sudah mengira dirinya akan berucap apa. Namun karena merasa tidak enak dan tak tahu harus bagaimana menolak, Aksa lebih memilih untuk menghindar; mengalihkan pembicaraan.


Sambil melepaskan cengkeramannya di lengan kemeja Aksa, Cinta berucap, "Cinta emang anak kecil, Om. Nggak seharusnya Cinta bersikap begini. Maaf." Tangannya sudah meraih pegangan pintu, tapi sebelum benar-benar keluar dari mobil, Cinta kembali berkata, "Cinta ... sayang Om Aksa. Bukan sayang karena tetangga, kerabat, atau sayang keponakan kepada omnya. Tapi Cinta sayang Om Aksa sebagai perempuan. Cinta cuma kepengin bilang itu. Cinta tahu Om Aksa nggak mungkin lihat Cinta sebagai perempuan. Makanya, Cinta putusin buat bilang dan ngakhirin semuanya."


Cinta kembali berbalik dan menatap Om Aksa-nya. "Makasih buat semua—"


"Om?"


Aksa menyelipkan jari jemarinya di antara pipi dan rambut Cinta yang terurai. Pandangannya masih terfokus pada satu titik. Bibir mungil Cinta yang kemerahan akibat pelembab bibir. Aksa ingin meraihnya; menjadikannya miliknya; menjadikannya satu dengan bibirnya. Namun begitu hendak mendekatkan bibirnya ke bibir Cinta, sebuah dentuman keras terdengar dari bagian depan mobilnya. Baik Aksa dan Cinta sama-sama menoleh ke asal suara. Keduanya sama-sama tersentak. Apalagi setelah mendapati sosok Safira yang kini berada di depan mobil sambil menatap keduanya dengan tatapan berang.


***


Safira membuka paksa pintu mobil Aksa. Ditariknya Cinta dari dalam sana. Melihat anak gadis semata wayangnya hendak disentuh oleh Aksa membuat ubun-ubunnya memanas. Dadanya juga seolah terbakar. Apa yang hendak Aksa lakukan pada Cinta benar-benar membuat emosinya meluap. Tak ada satu pun lelaki yang boleh menyentuh gadisnya seperti itu. Apalagi oleh pria dewasa seperti Aksa.


"Ma, denger dulu penjelasan Cinta!" Cinta merengek; meronta; berharap agar mamanya tidak langsung kalap.


Buru-buru Aksa keluar dari sedan hitamnya dan mengikuti langkah geram Safira yang tengah menyeret Cinta ke dalam rumah. "Ra, dengar dulu penjelasan saya," pintanya. Selama kenal dengan Safira, Aksa memang tak pernah memanggil wanita itu dengan embel-embel "kak". Safira pun mengerti dan menerimanya. Namun kali ini, Safira merasa muak ketika Aksa menyebut namanya.


Dilepaskannya tangan Cinta, kemudian dengan tatapan penuh amarah Safira menyuruh Cinta untuk masuk ke dalam rumah.


"Ma, dengerin Cinta dulu!" Cinta masih memohon.


"Mama bilang masuk!" teriak Safira sambil mendorong tubuh gadisnya dengan kasar. Setelah menutup pintu, ia pun bersiap menghadapi Aksa.


"Saya harus jelasin semuanya," kata Aksa masih mencoba bersikap tenang.


"Jelasin apa?! Jelasin kalau beberapa detik lalu kamu mencoba mencium anak saya?!" berangnya dengan kedua bola mata memelotot. "Seharusnya saya nggak percaya sama kamu. Gosip itu ternyata emang bener. Kamu emang punya kelainan seksual! Kamu suka sama gadis yang usianya jauh di bawah kamu! Ternyata apa yang dibilang tetangga waktu itu bener." Safira menarik napas panjang. Kemudian melanjutkan, "Kamu bohong waktu bilang suka sama saya. Kamu bilang begitu buat nutupin diri kamu yang nggak normal! Harusnya saya tahu."


"Dua tahun lalu waktu saya bilang suka sama kamu, itu sungguh-sungguh! Selama ini saya nggak bilang apa pun karena saya pengecut. Saya nggak berani buat ngutarain isi hati saya ke kamu."


"Oh, ya?! Lalu apa maksud kamu mau nyium Cinta tadi? Kamu mainin anak saya? Kamu mau bikin Cinta rusak? Kamu mau balas dendam sama saya?"


"Denger," kata Aksa pasrah. "Saya nggak pernah punya niatan buat balas dendam. Saya juga nggak pernah bermaksud buat ngerusak Cinta. Saya nggak sejahat itu!"


"Terus apa? Kamu mau bilang kalau kamu suka sama Cinta? Sama gadis yang umurnya masih delapan belas tahun? Sama perempuan yang lebih pantes kamu jadiin anak?"


Aksa membuang napas kasar. Dirinya bukan seorang pedofil, tapi dirinya juga tak bisa memungkiri bahwa telah jatuh hati pada Cinta. 


"Jangan deketin Cinta lagi!" Safira memberi peringatan keras lewat telunjuknya yang kini terarah ke wajah Aksa. "Jangan pernah mikir buat bisa deketin anak saya lagi. Dia masih muda. Jalannya masih panjang. Dia punya cita-cita yang harus dikejar!"


"Tapi saya—"


"Kalau kamu bener-bener mikirin Cinta, harusnya kamu juga tahu apa yang terbaik buat dia." Perkataan Safira sontak menutup mulut Aksa. "Saya nggak mau benci sama kamu lebih dari ini. Biar gimanapun, kamu udah banyak bantu saya. Jadi saya mohon, jangan pernah lagi ngedeketin keluarga saya, terutama Cinta."


Safira berbalik masuk ke rumah. Meninggalkan Aksa yang masih termenung dengan raut wajah penuh penyesalan. Kalau saja tadi ia bisa menahan diri; kalau saja ia membiarkan Cinta pergi; kalau saja perasaan ini bisa ia tarik kembali, semuanya tak akan berakhir seperti ini. Hubungannya baik dengan Safira maupun Cinta yang berangsur-angsur membaik, tidak akan kembali serumit ini. Apa yang terjadi hari ini tidak ada bedanya dengan peristiwa dua tahun lalu, yang Aksa pikir tak akan pernah terulang lagi.


***