
Berkali-kali Aleta mendesah hebat. Berkali-kali pula ia menatap pantulan dirinya di cermin; sekadar memastikan bahwa wajahnya tak terlalu memalukan untuk pertemuan hari ini. Lingkaran hitam yang menghiasi kedua matanya cukup jelas terlihat. Kalau saja hari ini Aleta tahu akan datang pesan "semacam itu", ia tidak akan tidur terlalu larut untuk menyelesaikan novel seri kedua favoritnya yang baru keluar minggu lalu.
Aleta kembali membaca pesan di ponsel pintarnya yang datang beberapa jam lalu.
[Nanti sore jangan dulu pulang. Aku, Cinta, sama Om Aksa bakal ngejemput Kakak. Nggak usah kaget. Soalnya aku juga sama kagetnya kayak Kakak. Aku nggak nyangka kalau Om Aksa bakalan langsung bergerak cepat. Cinta bilang, sih, dia baru bilang soal Kakak ke Om Aksa kemaren. Eh, nggak tahunya Om Aksa-nya oke dan pengin langsung kenalan sama Kakak sore ini.]
Sebuah pesan dari adik perempuannya yang seketika membuat hari-hari di kantornya berasa tak menentu. Kacau!
"Haah ...." Aleta mendesah lagi.
"Duh, berat, berat!" ejek Viola ketika menghampiri meja Aleta dan mendengarnya menghela napas panjang.
"Laa ...." Aleta menegakkan tubuhnya.
"Kenapa, Neng? Lagi ada masalah?" tanya Viola sambil menempatkan diri di kursi depan teman sekantornya.
Aleta menggeleng. Satu-satunya teman yang benar-benar bisa diajaknya bicara hanyalah Viola, tapi Aleta enggan menceritakan tentangnya yang hendak dijodohkan dengan tetangga teman adik perempuannya.
"Terus kenapa, dong?" Viola semakin menyelidik. "Digangguin lagi sama si Ari?"
Aleta menggeleng lagi. Ari si playboy itu memang sudah jarang mengganggunya. Mungkin, karena sudah punya gandengan baru.
Viola berdecak kesal. Dia penasaran dengan teman berwajah kalut di hadapannya. "Kalau kamu nggak mau cerita, aku panggilin si Ojan, nih," ancamnya.
"Jangan, jangan!" cegah Aleta ketakutan. Mengerikan membayangkan pria berkepala pelontos itu duduk di hadapannya sambil memandanginya dengan tatapan nakal alias mesum. "Iya, deh, aku cerita," katanya pasrah.
Sangat mudah bagi Viola untuk mengancam Aleta si fobia pria. "Jadi, kenapa?" Viola melipat kedua lengannya di dada.
Sebelah alis Viola terangkat seketika. "Tetangga ... adiknya ... temen—"
"Tetangga temennya adik aku, La," koreksi Aleta. "Jadi, adik aku punya temen. Nah, temennya itu punya tetangga. Tetangganya itu yang mau ngajakin aku kenalan nanti sore."
"O-ke .... Terus?"
"Yah, aku nggak yakin. Kamu tahu sendiri, kan, aku takut cowok. Aku belum siap." Suara Aleta mengecil di akhir kalimat.
Viola memandang serius teman sekaligus sahabatnya. "Terus kapan kamu siapnya? Besok? Minggu depan? Bulan depan? Atau setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Terus aja bilang nggak siap. Kamu nggak akan bisa berubah kalau terus diem di tempat. Harus ada usaha supaya kamu bisa ngatasin ketakutan kamu itu."
"Iya, sih. Tapi—"
"Ta. Aku anak udah dua. Si Merry yang umurnya di bawah kamu empat tahun, bulan depan udah mau nikah. Itu anak baru yang namanya Nuke, udah punya tunangan. Kamu nggak kepengin apa kayak mereka? Nggak iri lihat kita udah pada punya pasangan?"
Aleta merengut. Tentu saja ia iri. Tentu saja ia ingin seperti mereka, juga Viola yang sudah memiliki dua orang anak. Akan tetapi, membayangkan dekat dengan pria saja membuat Aleta bergidik ketakutan. Apalagi jika benar-benar dekat secara nyata?!
"Nggak kebayang kuatirnya adik kamu ngeliat kakaknya kayak begini. Udah pasti bukan adik kamu doang. Tapi bapak sama ibu kamu juga pasti sama kuatirnya." Viola memegang tangan sahabatnya di atas meja. "Ta, bukan orang lain yang bisa ngubah seseorang. Tapi diri sendiri. Aku tahu bukannya kamu nggak mau berubah. Justru dari semua orang yang ada, aku yakin kalau kamu sendirilah yang paling kepengin berubah. Tapi kalau cuma bermodalkan kepengin, sih, nggak cukup, Ta. Kamu harus tetep usaha. Dan satu-satunya jalan yang bisa kamu pake buat nunjukin usaha kamu, kamu nyoba buka hati. Kamu nyoba nyingkirin rasa takut kamu dengan kenalan sama cowok. Jangan terus berlindung di 'balik pintu'."
Aleta semakin menunduk. Semua yang dikatakan Viola benar. Sangat benar! Selama ini dia masih berada di tempat yang sama, karena dia sendiri yang terlalu takut melangkah maju. Aleta sendiri yang terlalu takut mencoba hal baru. Aleta terus membiarkan dirinya "terlindungi", tanpa mau tahu ada kebahagiaan yang menantinya di luar sana. Sekarang, kalau dia memilih untuk pulang dengan menggunakan taksi seperti biasa—sesuai rencananya semula, tak akan pernah ada yang berubah dalam diri maupun kehidupannya. Aleta akan terus terjebak, terjebak, dan terjebak. Hingga akhirnya menyesal, karena dirinya semakin tenggelam dalam kesendirian dan harus puas dengan kisah-kisah fiksi dari novel cinta yang sering dibacanya.
"Yah, kalau kamu masih nggak mau nyoba berubah, aku nggak bakalan segan-segan buat nyuruh si Ojan ngedeketin kamu," ancam Viola sambil beranjak.
"La!" protes Aleta. Dikenalkan dengan pria mana saja tidak masalah, yang penting bisa mengubah Aleta dan menyelamatkannya dari rasa takut berlebihan terhadap pria. Satu lagi! Pria mana saja, yang penting bukan si Ojan orangnya.
***