Lovarchery

Lovarchery
DUA PULUH TIGA (Luka Dafira)



"Cuma tinggal dua bulan lagi kita akan menghadapi turnamen. Turnamen kali ini bakalan jadi turnamen terakhir buat saya yang membawa nama sekolah. Makanya, saya berharap banget bisa meraih juara pertama. Pialanya saya dedikasikan buat sekolah tentunya. Tapi sebelum itu, saya bakal milih partner."


Puji berdiri di bagian paling depan ruangan; menatap anggota klubnya yang berjumlah lebih dari 30 orang. Di antara 30 orang itu, ada seorang gadis mungil yang Puji harap bisa menjadi partnernya dalam turnamen nanti. Meski kemampuan panahannya masih belum meningkat, Puji harap dengan "rencana" yang akan diutarakannya sesaat lagi bisa membuat gadis itu bersemangat.


"Saya nggak bisa sembarangan milih partner. Makanya, saya bakalan adain seleksi ketat. Satu bulan sebelum turnamen, seleksi kita mulai," lanjut Puji sambil melipat kedua lengan di dada.


"Maksudnya, mau diadain pertandingan intern dulu, Kak?" Salah satu anggota laki-laki mengangkat tangan dan bertanya.


Puji mengangguk. "Ya. Buat nentuin siapa yang terbaik dan bisa ikut saya dalam turnamen."


"Siapa aja boleh ikut? Nggak harus dari kelas sebelas sama dua belas aja, kan, Kak?" Anggotanya yang lain ikut bertanya.


Sekali lagi Puji mengangguk. Kali ini lebih dalam. "Kelas sepuluh juga boleh ikut. Yang saya lihat bukan siapa junior ataupun senior, tapi kemampuannya memanah. Jadi, semuanya punya kesempatan yang sama."


Banyak dari anggotanya yang masih di kelas sepuluh diam-diam mengembangkan senyum karena keputusan yang Puji buat. Sebagian karena merasa percaya diri akan kemampuannya, sebagian lagi karena merasa keputusan yang dibuat Puji adalah keputusan yang adil.


"Masih ada banyak waktu buat latihan. Jadi saya harap di pertandingan intern nanti, kalian bisa menampilkan yang terbaik." Sambil mengatakan itu, Puji melirik gadis mungil di lurusannya. Dalam hatinya ia sangat berharap bahwa gadis mungil itu yang akan menemaninya di turnamen dua bulan lagi.


***


"Boleh gabung?" Ezra menghampiri meja Cinta dan Dafira. Tadinya Ezra sempat mengeluh karena semua tempat di kantin sudah terisi penuh, tapi melihat ada kursi kosong di meja gadis incarannya seketika membuatnya merasa beruntung.


Cinta menoleh sebentar, kemudian kembali melayangkan tatapannya pada Dafira sambil mengangguk.


Meski tak menjawab pertanyaannya, Ezra tahu kalau Cinta memperbolehkannya duduk di sampingnya. "Udah pesen makanan?" tanyanya lagi.


"Aku udah pesen nasi goreng. Ara juga," jawab Cinta sebelum meminum air mineralnya melalui sedotan.


Ezra mengangguk.


"Kamu sendiri nggak makan?" Cinta balas bertanya.


"Masih bingung mau pesen apa." Bohong. Ezra hanya tak ingin kembali mengangkat tubuhnya dan meninggalkan Cinta, meski untuk sekadar memesan makanan.


"Jadi ...." Dafira mulai ikut bicara. "Bakalan ada seleksi buat turnamen panahan?"


Ezra mengalihkan pandangannya. Topik pembicaraan Dafira kini lebih menarik perhatiannya. "Gitu, deh. Makanya harus latihan ekstra supaya bisa kepilih," jawabnya.


"Ooh." Dafira mengangguk-anggukkan kepala.


"Tapi kayaknya aku bisa nebak kenapa Kak Puji ngadain seleksi itu." Kalimat Ezra membuat gadis di sebelahnya sontak mengernyit kebingungan.


"Maksudnya?" tanya Cinta.


"Udah jelas, kan, Ta. Kak Puji pengin kamu yang jadi partnernya nanti. Tapi karena—sorry—kemampuan memanah kamu yang belum membaik, makanya Kak Puji sengaja bikin pertandingan intern. Maksudnya, sih, biar kamu makin semangat dan termotivasi," jelas Ezra diakhiri senyuman.


"Masa, sih?" Cinta tak percaya. "Kayaknya nggak gitu, deh. Kak Puji emang pengin nyari yang terbaik aja dari kita. Makanya dia adain seleksi itu," tambahnya.


"Oh, ya? Kalau gitu, kenapa dia ngeliatin kamu terus pas rapat tadi?"


Cinta mendengkus. "Yah, karena kebetulan aku ada di lurusannya."


"Oke," Ezra menyerah, "kalau emang cuma kebetulan, terus gimana pendapat kamu soal seleksi itu? Seenggaknya bikin kamu termotivasi, dong?"


Cinta mengangkat bahu. Tatapannya menunjukkan sikap tak acuh. Meski begitu, tak dapat dimungkiri bahwa semangat di dalam dirinya membeludak tatkala Puji menyampaikan berita tentang seleksi itu tadi pagi.


Sikap Cinta yang bak orang salah tingkah membuat Ezra tersenyum. Ia tahu kalau gadis mungil di sebelahnya tidak akan diam saja setelah mendengar keputusan ketua klubnya tadi. Cinta pasti akan berlatih lebih keras dan sungguh-sungguh agar dapat terpilih sebagai partner Puji dalam turnamen panahan yang akan diadakan dua bulan lagi.


"Aku mau mesen es jeruk. Pada mau nitip nggak?" tanya Cinta sambil beranjak.


Dafira yang sejak tadi diam saja hanya menggelengkan kepala. Segelas es teh manis dan pesanan nasi gorengnya yang belum datang sudah cukup baginya. 


"Aku temenin."


Ezra sudah siap-siap ikut beranjak, tapi Cinta segera mencegahnya. "Aku aja yang mesenin. Kamu mau apa?" tanya Cinta.


"Nggak apa-apa, Ta. Biar aku temenin," kata Ezra setengah memaksa.


"Nggak usah. Kamu di sini aja temenin Ara." Cinta bersikukuh.


Cinta mengangguk sebelum berlalu, dan berbaur dengan kerumunan orang-orang yang juga ingin memesan makanan. Ezra hanya bisa mendesah berat ketika tawarannya lagi-lagi ditolak oleh Cinta. Entah kenapa, sulit sekali rasanya memenangkan hati gadis mungil itu.


Dafira melirik Ezra yang kini menunjukkan wajah sedih. Meski hatinya juga terluka, Dafira merasa kasihan pada Ezra yang selalu ditolak oleh Cinta. Kelihatan sekali kalau Cinta sengaja menjaga jarak dengannya. Dafira tahu bukan hanya pada Ezra Cinta bersikap begitu, melainkan terhadap seluruh lelaki yang mencoba mendekatinya di sekolah. Mungkin, Cinta hanya belum ingin terlibat cukup dalam dengan lawan jenis. 


"Kenapa nggak ditembak aja?" Akhirnya Dafira memberanikan diri untuk bertanya. Ia sendiri gemas pada sikap Ezra yang tak kunjung mengambil langkah.


"Hah?" Ezra tersentak. Sedetik yang lalu ia masih memperhatikan Cinta, tapi sedetik kemudian ia harus beralih pada Dafira yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan mengejutkan. 


Dafira menghela napas panjang, kemudian kembali melontarkan pertanyaan yang sama. "Iya. Kenapa kamu nggak langsung nembak Cinta?"


Ezra mendengkuskan tawa canggung. Wajahnya tiba-tiba terasa panas. Udara di sekitar pun membuatnya kegerahan. "Aku, kan ... enggak ... eum—"


"Aku udah tahu, kok." Dafira tersenyum pahit. "Perhatian kamu ke Cinta, tuh, keliatan banget. Jadi nggak mungkin aku nggak sadar."


Tawa canggung Ezra seketika lenyap. Ezra malu karena perasaannya pada Cinta diketahui orang. Apalagi oleh sahabat Cinta sendiri. Namun di sisi lain, Ezra merasa lega. Jadi ia bisa menggunakan kesempatan ini untuk berkonsultasi dengan Dafira.


"Keliatan banget, ya?" Malu-malu Ezra bertanya.


Dafira mengangguk. Mungkin banyak orang yang tidak akan menyadarinya, tapi tidak dengan Dafira. Dafira tahu betul bagaimana perasaan Ezra pada Cinta, karena selama ini yang memperhatikan Ezra hanyalah dirinya.


"Apa Cinta juga tahu?" Diliriknya Dafira takut-takut.


"Bisa ya bisa juga enggak. Tapi kayaknya Cinta emang kurang peka."


"Kurang peka" sepertinya adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Cinta. padahal selama ini Ezra selalu mengejarnya secara terang-terangan. Ia juga tak pernah menyembunyikan perhatiannya yang selalu berlebihan. Kendati demikian, Cinta tak sedikit pun memberinya respons. Entah karena tidak tahu, atau memang sengaja karena Cinta betul-betul tidak tertarik pada Ezra.


"Makanya aku tanya ... kenapa nggak kamu tembak aja? Biar jelas, kan, gimana perasaannya ke kamu. Jadi kamu juga nggak penasaran."


Apa yang Dafira katakan memang berlawanan dengan yang dirasakannya sekarang. Tentu saja bukan hal mudah menyuruh lelaki yang disukainya untuk menyatakan cinta pada perempuan lain. Apalagi perempuan itu adalah sahabatnya sendiri. Namun, Dafira sudah cukup lelah melihat drama ini. Ia ingin semuanya jelas. Baik untuk Cinta, Ezra, juga dirinya.


Bukannya tidak mau menyatakan cinta, tapi setiap kali hendak melakukannya Ezra selalu merasa ini bukanlah waktu yang tepat. Dengan Cinta yang sangat sulit diajak bicara, sudah tentu Ezra tak akan pernah menemukan waktu yang pas. Bagaimana bisa Ezra menyatakan perasaannya jika setiap kali dia mendekati Cinta, Cinta selalu buru-buru pergi. Cinta seolah menghindar karena sudah tahu apa yang hendak Ezra bicarakan.


"Akunya kali yang terlalu pengecut. Takut ditolak langsung," ucap Ezra lirih.


"Kamu nggak akan tahu sebelum nyoba, 'kan? Atau kamu emang pengin terus begini? Tanpa kepastian?"


Ezra menatap Dafira, lalu tersenyum pahit. "Kalau aku ditolak, Cinta pasti ngejaga jarak. Aku sama dia nggak akan bisa deket lagi—walopun emang pada dasarnya gak pernah deket."


Dafira mengerti betul perasaan Ezra saat ini. Menyatakan perasaan lalu ditolak, hanya akan menciptakan suasana canggung bagi keduanya di kemudian hari. Keduanya akan merasa sakit, tapi yang lebih sakit sudah pasti yang ditolak. Sudah cintanya tidak diterima, ia harus mencari cara untuk menyembuhkan luka. Belum lagi mengatasi kecanggungan karena setiap hari masih harus bertemu muka. Lukanya pasti lebih nyeri berkali-kali lipat. 


"Kamu dukung aku sama Cinta?" Pertanyaan Ezra membuat dada Dafira serasa ditikam. Tidak berdarah, tapi sakitnya luar biasa. Siapa yang mengira bahwa cinta pertama Dafira akan melukainya sedalam ini. "Kalau kamu dukung aku sama Cinta ... mungkin aku bakal punya keberanian lebih buat nembak dia."


Dafira menurunkan kedua telapak tangannya ke bawah meja. Membuatnya saling meremas, hingga mengeluarkan keringat. Lalu sebelum menjawab, Dafira kembali menghela napas. Mengumpulkan keberanian penuh untuk mengatakan, "Udah pasti aku dukung, kok. Kalian ... cocok."


"Beneran?" Bola mata Ezra membulat, senyumnya merekah hebat, kegugupannya seketika sirna. Ia tak tahu bahwa keberadaan Dafira bisa membuatnya segembira sekarang. Ezra juga tak sangka kalau membicarakan perasaannya tentang Cinta pada Dafira adalah sebuah langkah yang tepat.


Dengan urat leher yang menegang, Dafira ikut mengembangkan senyuman dan mengangguk-anggukkan kepala. "Beneran lah!" jawabnya dengan hati terluka. "Kalau gitu, good luck!"


"Lho, mau ke mana?" Dafira yang seketika beranjak membuat Eza bertanya dengan raut wajah kebingungan. Seperti seekor anak kucing yang takut ditinggalkan induknya.


"Aku kasih kesempatan buat kalian ngobrol berdua." Dafira masih tersenyum.


"Pesenan kamu?"


"Bungkusin terus titip ke Cinta. Oke?"


Kalau begini caranya, ini bukan kesempatan tapi jebakan, pikir Ezra.


"Aku ke kelas duluan."


Dafira membalikkan tubuhnya. Kemudian mulai berjalan keluar dari hiruk pikuk kantin sekolah. Satu-satunya tempat yang ingin ditujunya sekarang adalah tempat di mana dirinya bisa sendirian. Satu-satunya tempat yang bisa membuatnya menyepi sekaligus menumpahkan air matanya.


***


Suka ceritanya? Tunjukkan apresiasimu dengan vote dan follow. Komen juga boleh.^^