Lovarchery

Lovarchery
SEBELAS (Kemarahan Azkia)



Di salah satu sofa ruang tamu Azkia sudah duduk tak sabar sambil melipat kedua lengan di dada. Suara mobil yang membuatnya bergegas beranjak dari kamar dan melangkah ke ruangan paling depan untuk memastikan siapa yang baru saja datang. Sedan hitam abangnya sudah hendak memasuki pelataran parkir minimalis rumahnya.


           


Azkia tahu kalau jarak dari rumah ke kampusnya cukup jauh. Akan tetapi, tidak sampai menghabiskan waktu selama hampir tiga jam hanya untuk melakukan perjalanan ke sana dan membelikan soto kesukaannya. Tidak, kecuali abangnya mangkir ke suatu tempat. Namun kaus oblong dan celana jogger selutut yang dipakai abangnya mematahkan prasangka Azkia. Dengan pakaian seperti itu abangnya bisa ke mana? Ke mal? Sudah pasti tidak mungkin. Atau, ke tempat fitness? Tidak. Hari ini Aksa tak ada jadwal. Azkia tahu itu.


           


Pintu utama dibuka. Aksa muncul dan sedikit terkesiap ketika mendapati adiknya yang diliputi wajah masam sedang duduk di salah satu sofa sambil bersedekap. Sangat mudah mengetahui bagaimana suasana hati adik perempuannya itu. Aksa juga sadar kalau dirinya sudah pergi terlalu lama. Dan itu, satu-satunya alasan mengapa Azkia memasang wajah mengerikan seperti sekarang.


"Jam makan siangnya udah lewat," ketus Azkia.


           


Aksa berdeham. Menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Jelas sekali bahwa Azkia sedang mengambek.


"Jadi, ke mana aja Abang barusan?"


"Hmm ...." Aksa gelagapan. Netranya berlari lincah; menghindari tatatapan tajam adiknya.


"Hmm ...." Azkia menirukan abangnya. "Kecantol cewek di jalan?"


           


Sekalinya marah Azkia memang menyeramkan. Bahkan Aksa yang notabene abangnya pun selalu kesulitan meredam amarahnya.


"Atau bukan cewek, tapi ... BOCAH?"


           


Sangat mudah mengartikan siapa bocah yang dimaksud Azkia. Kedekatan Aksa dan Cinta belakangan ini juga diketahui pasti oleh adiknya. Namun tak ingin terintimidasi, Aksa pun berjalan mendekati Azkia dengan sikap wajar. Sambil menaruh tangan di atas kepala Azkia, Aksa berkata, "Udah, jangan ngambek. Yang penting Abang, kan, udah beliin apa yang kamu mau."


           


Azkia menepis kasar tangan Aksa dari kepalanya. Beranjak, kemudian bergerak meninggalkan ruang tamu; Aksa mengikutinya.


"Aku nggak suka, ya, Abang deket lagi sama mereka." Azkia kembali buka suara. Tubuhnya mematung di depan pintu kamarnya yang dipajang hiasan dari kayu bertuliskan "KAMAR AZKIA".


"Az ...." Aksa meraih salah satu tangan adiknya.


           


Azkia yang tiba-tiba berbalik mengejutkan Aksa. 


"Aku nggak mau kejadian yang sama keulang lagi!" tegas Azkia dengan netra berkilat marah. "Dua tahun ini kita udah bisa hidup tenang. Aku nggak mau cuma gara-gara mereka ketenangan itu hilang! Kalau Abang masih juga berhubungan sama mereka, aku sendiri yang bakalan ngedatengin mereka dan minta supaya mereka nggak ganggu hidup kita lagi!"


"Yang waktu itu cuma kesalahpahaman, Az," bujuk Aksa.


"Kesalahpahaman apanya?!" Azkia menjerit. Tepisan kuat tangannya berhasil melepaskan cengkeraman Aksa. "Dari awal mereka, tuh, nggak percaya sama kita. Mereka cuma nganggep kita orang luar! Kalau nggak gitu, kesalahpahaman dan kejadian dua tahun lalu itu nggak bakalan pernah ada!" Azkia mendenguskan tawa sinis. Kemudian melanjutkan, "Dan yang lebih bikin aku sakit hati adalah, dia yang sama sekali nggak mikirin perasaan Abang. Udah cukup aku lihat Abang menderita. Aku nggak mau hati Abang sekali lagi hancur cuma gara-gara perempuan kayak dia!"


           


Kedua tangan Aksa melemas seiring dengan napasnya yang berembus tak berirama. Apa yang terjadi waktu itu memang menyakitinya. Bahkan, hampir tak bisa ia lupakan. Terkadang, ketika ia sedang berbaring di atas tempat tidurnya sambil memandangi langit-langit, ingatan akan dua tahun lalu itu kembali hadir. Seperti sebuah rekaman lama yang terus-menerus diputar ulang di dalam kepalanya. Perasaan dipenuhi luka dan kecewa saat itu pun begitu terasa sehingga berkali-kali menghujam jantungnya. Bohong, jika ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


           


Namun, Aksa yakin bahwa ingatan dan rasa nyeri yang menghantuinya sedikit demi sedikit akan sirna. Pergi seiring dengan berjalannya waktu. Lalu di saat semuanya benar-benar tak bersisa; tak lagi meninggalkan luka, Aksa akan baik-baik saja dan menganggap semuanya hanyalah sebatas kenangan buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Lain halnya jika Aksa terus menghindar. Kenangan buruk itu mungkin tak terlihat, tapi bukan berarti hilang begitu saja. Kenangan itu akan tetap tersimpan di sebuah tempat tersembunyi; menanti kesempatan agar bisa keluar dan kembali menghantui hari-harinya tanpa henti.


"Abang nggak berniat buat ngulangin hal yang sama," kata Aksa lirih. "Abang udah bener-bener move on, Az. Abang juga udah nggak pengin terus terjebak di masa lalu. Makanya, Abang mutusin buat nggak lari lagi. Kamu juga sadar, kan, kalau selama ini Abang, tuh, cuma lari tanpa nyelesain semuanya?"


           


Azkia tahu betul bahwa yang dilakukan abangnya selama ini hanyalah menghindar, tapi apa salahnya? Selama tidak melukai orang lain, dan selama ingin menjaga diri dari luka itu sendiri, tak ada salahnya jika abangnya menutup diri. Bukankah luka itu akan tetap pergi seiring berjalannya waktu meski tak melakukan apa pun?


           


Aksa meneruskan, "Kali ini Abang sendiri yang bakal nyiptain jarak, Az. Emang, Abang berniat memperbaiki keadaan dengan tetap berhubungan sama mereka. Tapi kali ini nggak akan sama kayak dulu. Abang udah yakin buat ngelepas impian Abang selama ini."


           


Azkia menatap langsung kedua bola mata abangnya. Ia bisa melihat keteguhan di sana. Abangnya benar-benar sudah tak ingin main-main lagi. Abangnya sungguh ingin melangkah maju. Meski dadanya masih bergejolak karena kejadian dua tahun lalu, Azkia tetap harus menghormati keputusan abangnya.


           


Azkia mendengkus pasrah. "Pokoknya udah aku ingetin, ya. Kalau ada apa-apa nanti, jangan bilang kalau aku nggak pernah ngingetin Abang."


           


Aksa tersenyum. Lega rasanya melihat adik satu-satunya menerima keputusan yang sudah ia buat.


"Satu lagi!" tegas Azkia. "Jangan minta aku buat beramah-tamah sama mereka."


"Oke," desah Aksa. "Toh, Abang juga nggak bisa maksa, 'kan?"


           


Azkia berdecak sebelum akhirnya benar-benar memasuki ruang pribadinya; meninggalkan abangnya yang begitu bodoh dan menyebalkan.


***