
Napas Cinta tertahan. Bola matanya membelalak. Kedua tangannya seketika berasa kaku. Terkejut akan anak panahnya yang sudah berada di sekitar papan target. Bukan lagi di cincin berpoin terendah, melainkan benar-benar di luar area yang tak bernilai sama sekali. Lagi-lagi konsentrasinya buyar sesaat sebelum dirinya melesatkan anak panah. Bahkan lebih parah. Cinta sama sekali tidak ingat kapan anak panah itu terlepas dari busurnya.
Cinta mundur. Menempati bangku panjang yang terletak beberapa meter di belakangnya. Rasa sesal dan kecewa berkali-kali keluar dari setiap desahan napasnya. *****, rutuknya pada diri sendiri. Padahal sudah jauh-jauh Aksa membawanya ke tempat latihan kenalannya, tetapi Cinta malah tidak bisa menggunakannya dengan baik. Kepalanya selalu saja terisi oleh berbagai macam hal yang tak ada hubungannya dengan panahan sama sekali.
Dilayangkan tatapan Cinta ke mereka yang masih asyik berlatih. Ada tiga tempat terisi, dan satu tempat yang kosong karena ditinggalkan oleh dirinya sendiri. Cinta merasa iri. Ada saatnya Cinta seperti mereka; memusatkan konsentrasi penuh dan menancapkan anak panah di papan target bernilai tinggi. Saat-saat di mana Cinta merasa bangga akan kemampuan memanahnya sendiri. Namun entah ke mana saat-saat itu pergi. Meninggalkannya hingga merasa terpuruk seperti ini.
Ingatan tiga bulan lalu merasuki Cinta. Tepat sebelum dirinya benar-benar kehilangan konsentrasi seperti sekarang. Cinta kira hari itu tak akan pernah datang. Namun ternyata perkiraannya itu salah. Hari yang dirahasiakan Tuhan—ketika Cinta dapat kembali bertemu muka dengan adik tercintanya, ternyata benar-benar ada.
——————————————————————
Sosok Bima El Kalandra dengan seragam putih-birunya berhasil membuat langkah Cinta terhenti. Meski Bima yang terakhir kali dilihatnya masih berseragam putih-merah, Cinta tak akan salah mengenali orang. Cinta tak mungkin tak mengenali adiknya sendiri.
Cinta ingin kabur, tapi tak ada jalan lain untuk pergi dari sekolahnya selain harus melewati pintu gerbang di depan sana; tempat sosok Bima terlihat sedang mondar-mandir sambil menunjukkan wajah muram. Cinta bisa saja menunggu sampai Bima benar-benar pergi. Namun jika begitu, Cinta harus siap akan kedatangan Bima pada keesokan harinya. Cinta tahu bahwa Bima tidak akan berhenti sampai benar-benar berhasil menemuinya.
Cinta memberanikan diri untuk kembali melangkah. Tak peduli jika kedua kakinya gemetaran hingga terasa lemas. Cinta juga tak henti-hentinya menghela napas panjang. Seolah yang ada di depan sana adalah satu-satunya hal yang tak ingin ia temui seumur hidupnya. Cinta tak membenci Bima—karena memang tak ada alasan untuk merasa demikian, hanya saja Cinta belum siap untuk kembali berhadapan dengan salah satu bagian dari masa lalunya.
Bima menoleh. Senyumnya mengembang. Kakak tercintanya kini tengah berjalan menghampirinya. Bima mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, kemudian melambai-lambaikannya dengan penuh semangat. Meski orang yang ditujunya sama sekali tak memberi balasan. Tersenyum saja tidak. Namun baginya tak mengapa, asal bisa kembali bertemu dengan kakaknya yang sudah cukup lama menghilang.
"Ngapain kamu di sini?" ketus Cinta sambil membuang muka. Tak perlu repot-repot bertanya bagaimana Bima bisa tahu Cinta bersekolah di sini, karena sudah pasti sangat mudah bagi Bima dan "keluarga besar"-nya untuk mencari tahu segala macam informasi.
"Aku pengin ketemu sama Kakak," aku Bima; senyumnya sudah lenyap.
Sekali lagi Cinta menghela napas panjang. "Nggak enak ngobrol di sini," katanya sembari memandu Bima ke sebuah kedai mi yang berada di seberang sekolah.
Jujur, Cinta tak ingin bersikap sesinis ini pada Bima. Biar bagaimanapun, Bima adalah adiknya. Terlepas dari siapa yang "berada" di belakangnya.
Bima memesan dua gelas es jeruk. Satu untuknya dan satu lagi untuk kakaknya. Tawarannya pada Cinta untuk memesan mi ditolak dengan alasan "tidak lapar". Bima sengaja memesan es jeruk untuk membangkitkan memori tentangnya dan sang kakak yang dulu sering kali berebut untuk mendapatkan minuman tersebut. Sayang, sepertinya Cinta sedang tidak ingin bernostalgia.
"Jadi, ada perlu apa kamu sampe jauh-jauh ke sini?" Cinta tak ingin menunggu lebih lama. Meski dirinya terpana melihat adiknya yang sekarang sudah hampir beranjak dewasa, Cinta tak bisa secara terang-terangan menunjukkan perasaannya. Cinta tak ingin Bima tahu bahwa sebenarnya bukan hanya dia yang merasa kehilangan.
"Pulang, Kak," Bima merengek sambil meraih tangan Cinta yang tersimpan di atas meja. Digenggamnya erat tangan itu. "Aku nggak tahu ada apa sebenernya. Aku juga nggak bakalan nanya. Yang penting Kakak mau pulang sama aku."
Kepolosan masih tampak di netra Bima. Sama seperti dulu. Seperti saat Cinta dan Bima saling berebut hanya untuk mendapatkan satu-dua gelas es jeruk. Bola mata yang membulat setiap kali Bima merengek pun masih belum berubah. Semua itu benar-benar membuat Cinta merasa rindu. Ingin sekali rasanya kembali merasakan damai yang selalu menyelimuti rumah besar itu. Namun semuanya sudah berubah. Hanya tinggal kenangan.
Cinta menarik tangannya. "Udah nggak ada lagi tempat buat aku di sana, Bim. Kamu emang nggak tahu apa-apa—dan mungkin emang lebih baik begitu, tapi semua yang ada di sana ... bukan punya aku." Cinta membuang napas kasar lalu melanjutkan, "Mending kamu pulang sekarang. Orang rumah pasti kuatir kalau kamu nggak langsung pulang dan malah keluyuran kayak gini."
"Kak," Bima masih memohon. "Bukan cuma aku yang butuh Kakak, tapi Mama juga. Semenjak Kakak pergi, Mama kayak kehilangan semangat. Mama juga jarang banget senyum. Makan aja makin hari makin sedikit. Mama jadi lebih sering ngurung diri. Satu-satunya yang gak pernah lupa Mama lakuin adalah bersihin foto keluarga. Foto di mana kita berempat masih berdiri lengkap, Kak," lirihnya.
Mana mungkin Cinta percaya. Setelah apa yang dilakukan wanita itu terhadapnya? Bima pasti mengarang cerita. Hanya untuk membuatnya kembali menginjakkan kaki di sana. Berhadapan lagi dengan wanita itu tidak akan pernah ada dalam kamus hidupnya. Wanita itu ... monster itu! Dia sangat pintar membohongi semua orang. Bahkan, anak dari darah dagingnya sendiri pun sanggup dia dustai. Lantas, bagaimana Cinta masih bisa percaya?
"Maaf, Bim. Aku nggak bisa." Cinta menolak keras.
"Kak," Bima semakin memelas. Kedua alis matanya turun, tatapannya semakin memilu. Tak ada satu pun hal yang sangat diinginkan Bima selain bisa kembali membawa kakaknya pulang ke rumah. Memang, keluarganya tak akan pernah kembali lengkap meskipun Cinta kembali ke sana. Kenyataan bahwa papanya sudah tiada tidak dapat diubah meski berjuta kali Bima memohon pada Tuhan. Kendati demikian, Bima merasa bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja selama mereka menjalani kehidupan bersama-sama; dirinya, sang kakak, juga mamanya. Bima percaya bahwa kehangatan di rumah besarnya akan tetap bisa dipertahankan selama keluarganya tidak terpecah belah.
"Apa yang harus aku lakuin supaya Kakak mau balik lagi ke rumah?" Bima sudah mulai putus asa. Keputusan Cinta untuk tidak ikut bersamanya begitu terpancar dari kedua bola matanya. Akan sulit mengubah apa yang sudah diputuskan kakaknya. Karena itu, Bima mencoba untuk menawar.
Cinta mendengkus lelah. "Nggak ada, Bim." Keputusannya sudah tak dapat diganggu gugat. "Sampe kapan pun aku nggak bakalan balik lagi ke sana," tegasnya tanpa ada keraguan sedikit pun. "Nggak ada orang—mungkin selain kamu—yang ngarepin aku tinggal lagi di rumah itu."
"Kakak nggak liat sendiri! Jadi Kakak nggak tahu rumah itu butuh Kakak atau enggak. Selama ini Kakak cuma mikir menurut sudut pandang Kakak sendiri. Kakak nggak tahu kenyataan yang sebenernya, tuh, kayak gimana. Kalau Kakak ke sana satu kali aja, Kakak bakal tahu kalau semua yang aku omongin ini bukan cuma omong kosong," jelas Bima tak sabar. Ia mulai lelah menghadapi kakaknya yang keras kepala. Memang, Bima sudah hapal betul tabiat kakaknya seperti apa—dan dia pikir akan mudah menghadapinya. Akan tetapi setelah berhadapan langsung dengan kakaknya, barulah Bima tahu seberapa menyebalkan kakaknya jika diajak bicara. Bebal!
Cinta membisu. Di sudut hatinya yang terdalam ia juga ingin percaya pada Bima. Ia ingin percaya bahwa semua yang dikatakan Bima tentang monster itu bukanlah bualan semata. Bahwa setelah bertahun-tahun, akhirnya monster itu sadar dan merasa kehilangan dirinya. Mungkin sebenarnya Cinta juga ingin sesekali pulang. Kembali bercengkerama dengan wanita itu seperti dahulu kala. Namun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Lain halnya jika wanita itu sendiri yang memintanya untuk pulang. Mungkin hatinya yang sempat membeku akan kembali mencair setelah sekian lama.
Bima menarik napas cukup dalam, kemudian membuangnya ke udara perlahan. Ia lanjut berkata, "Aku nggak akan maksa. Toh, kayaknya Kakak juga emang nggak bisa dipaksa. Tapi aku harap, walaupun cuma sekali, Kakak balik ke rumah. Lihat keadaan di sana kayak apa. Setelah itu, kalau Kakak rasa tetep nggak nyaman Kakak boleh pergi. Aku juga nggak bakalan ganggu Kakak lagi. Anggep aja ini permintaan terakhir aku buat Kakak. Itu pun kalau Kakak masih nganggep aku adik."
—————————————————————
Cinta menjengkit. Rasa dingin di salah satu pipinya mengagetkannya. Begitu menoleh, Aksa sudah berdiri di sisinya sambil tersenyum. Om-om 36 tahun itu duduk di sebelahnya sambil menyerahkan sebotol minuman berperisa anggur. Namun sebelum Cinta benar-benar mengambilnya, Aksa kembali menarik botol minuman tersebut. Cinta memandanginya bingung.
"Yakin mau ini? Nggak mau yang ini aja?" Aksa menunjukkan sekotak susu cokelat di tangannya yang lain.
"Ih!" Cinta meringis enggan.
Aksa terkekeh. "Ini buat saya, kok." Kemudian ia menusukkan sedotan ke kotak susu cokelat tersebut, lalu meminumnya dengan nikmat. "Nih!" Kali ini ia benar-benar memberikan botol minuman berperisa anggur itu pada Cinta.
Cinta tak lantas meminum minumannya. Ia hanya memandanginya sambil memutar-mutar botol itu di tangannya. Pikirannya masih kalut. Pertemuan dengan Bima beberapa waktu lalu masih terus berputar-putar di dalam kepalanya.
"Kadang saya penasaran," Aksa mengambil alih busur panah Cinta dari tangannya, "apa, sih, yang bikin kamu tertarik banget sama panahan? Kamu pernah bilang awalnya ter-influence dari papa kamu. Tapi kayaknya alesan itu nggak cukup kuat buat bikin kamu bener-bener gigih dan terpuruk kayak sekarang. Satu-satunya alesan yang pas, yah, karena kamu emang suka banget sama panahan. Sampe bener-bener kepengin jadi atlet panahan profesional segala," tuturnya.
Aksa bangkit; mencoba menirukan gaya Cinta ketika memanah dengan menggunakan busur panah yang kini berada di tangannya.
"Saya suka lihat postur tubuh kamu pas lagi siap-siap buat nembakin anak panah. Apa ya ... kelihatan optimis, percaya diri, plus emang seger aja di mata saya. Pemandangan yang nggak biasa. Saya beneran nggak ngerti apa-apa tentang panahan. Tapi setelah lihat kamu manah, dan setiap kali kamu berhasil nancepin anak panahnya di tengah-tengah, nggak tau kenapa saya juga ikutan lega. Kayak lagi ada segudang masalah, terus masalah itu bisa diselesain dengan mudah. Semudah kamu nancepin anak panah."
Busur panah di tangannya membuat Aksa bingung. Aksa tak tahu bagaimana cara memegangnya dengan benar. Padahal sepertinya sangat mudah bagi Cinta. Namun hal itu tak berlaku baginya, yang sebelumnya tak pernah memegang busur panah sama sekali.
"Dan setelah sekian lama saya nggak lihat kamu latihan saya sadar satu hal. Ada sesuatu yang baru di latihan kamu yang sekarang. Sesuatu yang dulu nggak pernah saya lihat."
Kalimat yang diucapkan Aksa kali ini berhasil membuat kening Cinta mengerut. Apa sesuatu yang baru itu? Baikkah? Burukkah?
Aksa berbalik; menatap gadis di belakangnya yang sejak tadi menundukkan kepala. "Mau tahu apa itu?" Pertanyaannya membuat gadis itu mendongak dan balas menatapnya penuh tanya. "Tegang, tertekan, dan wajah yang muram. Ketiga hal itu yang baru saya lihat di latihan kamu yang sekarang."
Pernyataan pria di hadapannya menusuk tepat di ulu hati Cinta.
Aksa mendesah. Memanah sepertinya tidak akan bisa menjadi bagian dari hidupnya. Karena itu, dia memutuskan untuk menyerah. Dikembalikan lagi busur panah itu ke tangan Cinta. Kemudian, ia kembali duduk di sebelah gadis itu sambil melayangkan tatapan ke depan sana.
"Saya nggak berhak kecewa. Lagian, mau kecewa juga saya, kan, nggak ngerti apa-apa. Tapi saya cuma berharap bisa lihat lagi permainan kamu kayak waktu dulu. Permainan yang asyik; yang selalu bisa bikin kamu senyum; yang selalu bikin kamu puas diakhir permainan. Dan pastinya, yang enggak setegang sekarang."
Cinta kembali menundukkan kepala. Ia malu pada Aksa. Malu pada dirinya sendiri. Malu pada panahan. Malu pada semua orang yang senantiasa mendukungnya meraih cita-cita. Memang, Cinta belum gagal. Bahkan sejatinya ia belum mulai. Ia tak boleh menyerah secepat ini. Namun, bagaimana caranya mengembalikan kepercayadiriannya yang sempat pergi? Bagaimana caranya menghalau semua pikiran-pikiran mengganggu yang membuatnya kesulitan berkonsentrasi?
"Beneran nggak mau cerita sama saya ada apa?" Aksa menyikut Cinta. "Justru karena saya udah tua, siapa tahu bisa ngasih kamu masukan," imbuhnya yang berhasil membuat Cinta tersenyum.
Tak ada alasan bagi Cinta untuk menutup-nutupi semuanya dari Aksa. Lagi pula, sedikit banyak Aksa sudah tahu tentang kondisinya. Bukankah Aksa juga yang pertama kali "menemukannya" sebelum Mama? Bukankah sejak awal Aksa tak pernah ragu mengulurkan tangannya untuk Cinta? Kendati demikian, Cinta ragu untuk memberi tahu Aksa tentang pertemuannya dengan Bima. Bukan karena tak percaya, tapi karena Cinta merasa takut. Cinta takut yang keluar dari mulut Aksa adalah sebuah saran yang enggan—atau ragu—dilakukannya.
Aksa memiringkan posisinya agar bisa berhadapan dengan Cinta. Kemudian ia kembali berkata, "Oke. Saya nggak perlu tahu sebenernya ada apa. Saya juga nggak mau maksa dan bikin kamu ngerasa nggak enak. Saya cuma mau bilang, kalau yang kamu pikirin sekarang membutuhkan jawaban atau keputusan, semua jawaban atau keputusan itu tetep ada di tangan kamu. Apa pun keputusan atau jawaban kamu, cuma kamu yang berhak nentuin. Dan siapa pun harus nerima apa yang udah kamu putusin."
Inilah yang sangat Cinta sukai dari Om Aksa-nya: tak suka memaksa dan sangat sabar menghadapinya. Kedua setelah Mama, atau ... malah kesatu sebelum mamanya.
"Satu lagi." Aksa masih ingin menambahkan. "Masalah ada untuk dipecahkan, bukan sekadar dipikirkan. Kalau terus-terusan mikirin masalah tanpa berniat nyelesainnya, nggak akan pernah ada jalan keluar. Hasilnya, yah, kayak kamu sekarang. Konsentrasi kamu buntu. Terpuruk dan putus asa. Yang kasihan akhirnya siapa coba?" Cinta hanya menatap Aksa tanpa memberi jawaban apa-apa. "Pertama, kamu. Kedua, panahan yang kamu cintain itu. Saya bisa bilang kalau bukan cuma kamu yang nunggu permainan bagus itu balik lagi. Tapi, panahan sendiri juga nunggu kamu sampe bisa nunjukin lagi permainan yang bagus kayak dulu. Saya tahu kalau kamu nggak mau ngecewain panahan."
Air mata Cinta berlinang. Namun kali ini bukan karena luka ataupun merasa terpuruk. Melainkan, karena merasa terharu akan semua yang diucapkan oleh Aksa. Om Aksa-nya itu memang selalu tahu apa yang Cinta butuhkan, dan apa yang ingin ia dengar. Mungkin Aksa tak pernah tahu, sudah banyak kalimat dari mulutnya yang meluncur dan menyelamatkan Cinta. Sama seperti pertama kali mereka bertemu; di saat Cinta ragu untuk memasuki rumah beratap biru waktu itu.
***