
Adik dan temannya yang bernama Cinta sudah berada di depan kantor Aleta. Mereka berdua sama-sama bersandar pada sebuah mobil sedan berwarna hitam yang bersih dan mengkilat. Sesaat, Aleta merasa ragu. Bahkan, ia hendak berbalik dan kembali memasuki kantornya. Namun suara Dafira yang meneriakkan namanya membuat Aleta menjengkit dan mau tak mau mengurungkan niatnya untuk kabur.
Setelah menarik napas panjang Aleta bergerak perlahan mendekati sedan hitam itu. Sebenarnya ia masih belum yakin bahwa cara ini akan berhasil. Berkenalan dengan pria tak akan lantas membuat ketakutannya menghilang begitu saja. Meskipun demikian, ada sedikit harapan di sudut hatinya yang terdalam. Harapan bahwa pria yang akan dikenalkan padanya ini bisa membuatnya berubah; menjadikannya wanita normal pada umumnya.
Dafira menghampiri kakaknya—cara tercepat ketimbang menunggu kakaknya yang berjalan dengan langkah kaki terbata-bata. Tanpa perlu diberi tahu pun Dafira tahu betul kalau kakaknya saat ini sedang merasakan kegugupan tingkat tinggi. Cara berjalannya yang sangat pelan, gestur tubuhnya yang kaku, kepalanya yang terus menunduk, dan kedua telapak tangannya yang saling meremas, semua itu menandakan bahwa kakaknya sangat jauh dari kata santai.
"Jangan kelihatan gugup gitu, dong, Kak. Biasa aja," ujar Dafira mengingatkan. Tangannya kini menggamit lengan Aleta.
"Nggak mungkin Kakak bisa bersikap biasa, Ra." Kegugupan Aleta membuat suaranya mengecil hingga nyaris tak terdengar.
"Om Aksa ini orangnya sopan, kok. Jadi Kakak nggak usah takut."
Sopan atau tidak hal itu tak lantas membuat Aleta merasa tenang. Selama orang itu adalah pria, Aleta akan tetap merasa panik, canggung, dan ketakutan seperti sekarang.
Tapi sebentar! Kenapa si pemilik sedan hitam itu tak kunjung keluar? Kenapa dia tidak menyambut Aleta seperti kedua gadis muda di hadapannya? Jangan-jangan, sebenarnya pria itu enggan untuk berkenalan dengannya? Jangan-jangan pula, dia terpaksa datang hari ini karena tak bisa menolak ide konyol adik perempuan dan sahabatnya?
"Masuk, Kak." Cinta membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Aleta.
"Eh? Ja-jangan saya. Kamu aja yang duduk di depan, deh," tampik Aleta cepat.
"Kalau Kakak nggak duduk di depan, semua ini bakalan percuma." Dafira mendorong paksa Aleta hingga mau tak mau memasuki bagian dalam mobil.
Begitu Dafira menutup pintu, di saat yang sama Aleta mulai berpikir, "Harusnya aku nolak ide bodoh Ara dari awal!"
Sebelum sedan ini benar-benar melaju, Aleta harus bisa keluar dan kabur. Ia tarik lagi ucapannya untuk menjadi wanita normal. Ia urungkan niatnya untuk mengubah diri. Ia tak ingin lagi menghadapi ketakutannya kalau perasaannya jadi tak keruan seperti ini. Aleta tak ingin jadi perawan tua, tapi dia belum siap menghadapi hal-hal semacam ini. Ia akan menunggu beberapa tahun lagi sampai dirinya benar-benar siap. Namun begitu tangannya hendak meraih pegangan pintu, suara tiba-tiba di sebelahnya mengejutkannya.
"Maaf, ya." Suara bas nan lembut menghentikan tangan Aleta. "Saya sengaja nggak keluar biar kamu nggak kaget. Takut tiba-tiba kamu langsung kabur pas lihat saya. Saya, kan, nakutin," kelakarnya.
Aleta menyembunyikan tangannya yang sudah setengah terulur. Aneh, pikirnya. Suara di sebelahnya sama sekali tak menakutinya, justru membuatnya merasa nyaman. Kendati demikian, Aleta masih belum bisa mengumpulkan keberanian untuk menatap secara langsung si pemilik suara.
"Sebenernya Cinta nyuruh saya buat pura-pura nggak tahu kalau kamu takut sama cowok. Tapi saya nggak mau perkenalan ini diawali kebohongan. Lagian, bukannya bagus kalau kamu tahu saya tahu kamu takut cowok? Jadi kamu nggak punya alesan buat nyembunyiin apa pun yang jadi ketakutan kamu dari saya."
Sedikit mengejutkan bagi Aleta, karena pria di sebelahnya bisa bicara seblak-blakan ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, Aleta tak mendengar sedikit pun nada cercaan ataupun hinaan yang terselip di setiap kalimat yang dilontarkannya.
"Kalau kamu ngerasa nggak nyaman, kita batalin aja perkenalan hari ini. Kita bisa cari hari lain yang lebih santai. Hari kerja emang bukan hari yang pas buat momen kayak gini, 'kan?"
Wanita yang diajaknya bicara masih saja terdiam dengan kepala tertunduk dalam. Tubuhnya yang semakin menempel ke pintu menandakan bahwa wanita itu sangat tak nyaman duduk bersebelahan dengannya. Sikap wanita itu seolah menunjukkan tak ingin menghirup udara yang sama dengannya. Meski begitu, Aksa tak ingin menyerah. Lagi pula, dia mengerti betul bagaimana rasanya tiba-tiba disuruh menghadapi ketakutan terbesar dalam hidup.
"Coba ngomong sekali lagi, Om. Kayaknya kuping Cinta bermasalah," celetuk Cinta yang tiba-tiba sudah berada di bagian belakang mobil bersama sahabatnya.
Aksa menoleh ke belakang. Tak mengira aktingnya akan langsung tepergok. Aksa menyengih, kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Enak aja nyalahin Cinta. Om sendiri yang pengin buru-buru kenalan. Dih!" rutuk Cinta dengan bibir mengerucut.
"Haha." Aksa terkekeh malu. "Ketahuan, deh."
"Ati-ati sama Om Aksa, Kak. Dia nyebelin. Udah gitu jail lagi," kata Cinta sambil sedikit memajukan kepalanya; melirik Aleta yang sedikit demi sedikit mengangkat kepala.
"Biar kamu nggak takut, saya duduk gini aja, deh." Aksa menempelkan sisi kanan tubuhnya ke pintu. "Tapi ... saya jadi susah nyetir," lanjutnya sambil menyengir. "Atau, kamu mau gantiin saya?"
Dafira mendengkuskan tawa. "Kak Aleta mana bisa nyetir, Om," katanya yang langsung mendapat dehaman keras dari wanita di depannya. "Setiap hari aja pulang dianterin sopir taksi."
"Ooh ...." Aksa mengangguk-angguk. "Jadi kalau sama sopir taksi nggak takut?" Malu-malu, Aleta menggelengkan kepala. "Padahal cowok juga, kan?" Aleta terlihat kebingungan sekarang. "Apa saya harus jadi sopir taksi dulu biar kamu nggak takut sama saya?" godanya yang seketika membuat barisan belakang mobilnya berseru heboh.
"Rayuannya mantap!" seru Dafira.
"Playboy kelas kakap dilawan," cibir Cinta sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hush! Bukan rayuan ini," kilah Aksa. "Tapi usaha," imbuhnya yang seketika membuat Aleta tersenyum malu. "Dan, jangan percaya sama apa yang dibilang dia." Ibu jarinya menunjuk ke belakang; pada Cinta. "Saya bukan playboy. Kalau playboy, kan, laku. Saya mah enggak."
Aleta mulai berani menoleh, meski hanya sedikit. Ia begitu penasaran, seperti apa wajah pria di sebelahnya. Seperti apa raut wajah pria itu ketika melontarkan kata-kata konyol yang secara mengejutkan bisa membuatnya tertawa.
"Akhirnya mau juga kamu lihat saya." Aksa tersenyum lega. Sementara wanita di sebelahnya kembali membuang muka. "Sekali lagi maaf, ya. Saya udah bikin kamu nggak nyaman. Cuma saya harap, kamu nggak kapok dan maklumin sikap saya yang kadang emang suka seenaknya—"
"Bukan kadang, tapi sering!" Cinta menyela.
"Berisik, Anak kecil!" tegur Aksa. Kemudian kembali memusatkan perhatiannya ke wanita di sebelahnya. "Dari tadi saya udah ngomong panjang lebar. Tapi saya lupa buat memperkenalkan diri," katanya sambil membuang napas kasar. "Saya Aksa. Tiga-puluh-enam tahun. Punya adik perempuan namanya Azkia. Udah nggak punya kedua orang tua. Saya tetangganya Cinta. Jadi kalau kamu perlu sesuatu dari saya nggak susah. Kamu bisa nyuruh adik kamu ngehubungin Cinta, terus Cinta langsung ngehubungin saya," jelasnya cukup panjang.
"Kenapa nggak langsung aja, sih?" Di belakang Aksa, Cinta bertanya.
"Baru pertama kenalan nggak enak kalau udah tukeran nomer. Lagian, saya takut bikin kakaknya Ara ngerasa nggak nyaman."
"Aleta." Aleta mengeluarkan suara. Sadar akan ia satu-satunya yang belum memperkenalkan diri. "... Itu nama saya."
Aksa tersenyum. "Oke, Aleta." Dadanya sedikit lega karena akhirnya wanita di sebelahnya berani mengeluarkan suara. "Udah mau magrib. Kita lanjut sambil jalan," katanya yang kemudian mulai menyalakan mesin mobil.
***