Liona Cassandra

Liona Cassandra
eps 9



Sudah tiga minggu sejak Liona menyuruh Dio untuk terus mengawasi Bagas. Dan selama itu Dio selalu mendapatkan sebuah bukti baru yang menyatakan kalu Bagas terlibat atas kasus pembunuhan Arya dan Leonard.


Hari ini Dio dan Galang akan menjalankan rencana pertama dari Liona, untuk menjebak Bagas. Mereka akan mengajak Bagas bertemu dengan Liona dan akan mengakui semua kejahatannya.


" Bagaimana Galang, apa sudah kau siapkan barangnya?" Tanya Dio lewat sambungan telpon.


" Sudah Tuan, sudah saya siapkan semunya. Tinggal kita saja yang menjalankan."


" Baik."Ucap Dio lalu mematikan sambungan telponnya.


" Semuanya sudah siap Nona, tinggal menjalankannya saja."Ucap Dio menatap Liona yang berdiri didekat jendela.


" Lakukan semuanya." Ucap Liona.


" Pa, hari ini aku akan menangkapnya pa. Aku akan menyiksanya tanpa ampun. Selama ini dia bahagia diatas penderitaan kita." Gumam Liona dalam hati.


" Jalankan dengan benar, saya tidak menerima sebuah kesalahan. Jika ada kesalahan, kalian yang akan saya hukum." Ucap Liona mengancam, lalu pergi meninggalkan Dio.


Liona melangkah keluar kantor, mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan. Ia terus menjalankan mobinya tanpa tahu dia akan kemana. Dia tidak menyangka jika om Bagas adik yang sangat Papanya sayangi tega melakukan itu.


Papa Arya sangat menyayangi adiknya, Liona masih ingat dulu ketika usaha yang dirintis Bagas bangkrut. Papa Arya lah yang selalu membantunya, memberinya dukungan penuh agar ia tak menyerah dengan mudah. Apalagi saat dia tertangkap pihak kepolisian karena mengonsumsi obat-obatan terlarang. Papa Arya juga yang memberinya jaminan agar bisa bebas.


Tapi semua kebaikan Papa Arya tidak ada gunanya, karena Bagas sudah dibutakan dengan keserakahan. Bahkan ia sampai tega menghabisi kakak dan keponakannya.


Arrghh.


" Saya tidak akan mengampuni kamu Bagas!" Teriak Liona memukul-mukul stir mobilnya. " Kamu harus membayar mahal semuanya," Geram Liona.


Tanpa Liona sadari, mobilnya berhenti tepat di sebuah taman kanak-kanak. Ia keluar dari mobil, memandang sekeliling dengan bingung.


" Ngapain Saya kesini?" Gumam Liona bertanya-tanya.


Onty...


Langakah Liona terhenti saat mendengar seorang anak kecil yang memanggilnya. Dan suara yang sangat Liona kenali, ia berbalik menatap anak kecil yang berlari kearahnya.


" Onty, Vivi kangen sama Onty.." Ucap Vivi riang memeluk kaki Liona.


Ya, anak kecil itu adalah Vivi. Vivi yang berjalan keluar kelas hendak mencari sopir yang mengantarnya. Tiba-tiba melihat seseorang yang sangat ia rindukan belakangan ini. Lalu ia berlari kearah orang itu.


Liona berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Vivi. Lalu memeluk Vivi, entah kenapa emosi dan rasa kesal Liona tiba-tiba hilang saat memeluk Vivi. Memberikannya rasa tenang, yang tidak ia dapatkan selama ini.


" Aunty juga kangen sama Vivi," Ucap Liona mengelus wajah Vivi. Lalu ia menggendongnya.


" Non Vivi, ayo kita pulang." Ucap sopir Vivi yang baru tiba.


" Enggak, Vivi mau pulang sama Onty aja." Ucap Vivi menolak sambil memeluk leher Liona.


" Tapi Non, pak Dono bisa dimarahin sama Tuan jika Non tidak mau pulang sama pak Dono." Ucap sopir.


Vivi menggelengkan kepalanya, dan semakin erat memeluk Liona. " Biar saya aja yang antar Vivi pulang Pak, " Ucap Liona. " Bapak tenang aja saya nggak akan apa-apain Vivi kok, kalau bapak nggak percaya nanti sampai rumah Bapak tanya aja sama satpan disana. Dia kenal kok sama saya," Liona memberi pengertian karena melihat wajah cemas pak Dono.


" Baik Nona,"


" Onty, Vivi tuh seneng banget dijemput sama Onty ." Ucap Vivi senang.


" Aunty juga senang bisa jemput Vivi," Ucap Liona tersenyum. Senyuman yang hanya orang tertentu yang bisa melihatnya.


" Onty entar mampir ya kerumah Vivi, bantuin Vivi ngerjain Pr ya Onty." Ucap Vivi diangguki oleh Liona.


Yeeey.


Liona sebenarnya masih ada pekerjaan, tapi ia tak tega menghilangkan senyuman di wajah Vivi dengan menolaknya. Liona merasa damai saat bersama Vivi, mungkin mengingatkan dia tentang masa kecilnya dulu.


" Onty mau nggak, jadi Mamihnya Vivi?" Tanya Vivi penuh harap.


" Memangnya Mamih Vivi kemana?" Liona balik bertanya.


" Vivi nggak punya Mamih Onty, Papih bilang Mamih udah jadi bintang dilangit." Jawan Vivi sendu.


Hati Liona terenyuh mendengar perkataan Vivi, ia masih kecil tapi sudah tidak punya Ibu. Liona mengusap lembut pipi Vivi." Nggak usah sedih gitu dong, kan udah ada Aunty disini. Aunty akan menyayangi Vivi dan selalu ada buat Vivi." Liona menghibur Vivi.


Mobil yang ditumpangi keduanya pun sampai, dan sesuai keinginan Vivi akhirnya Liona mampir kerumahnya. " Bi sari tolong buatin Onty baik minum ya," Ucap Vivi pada pelayannya.


" Baik Nona."


" Onty tunggu disini dulu ya Vivi mau ganti baju dulu." Ucap Vivi lalu berlari menaiki tangga.


Setelah selesai, Vivi meminta bantua Liona untuk membantunya mengerjakan Pr. Dan Liona dengan senag hati membantunya.


" Sepertinya Nona ini orang baik, aku berharap nona Vivi mendapatkan seorang Ibu sambung yang baik." Gumam bi Sari menyaksikan interaksi antara Vivi dan Liona.


*


*


Malam harinya disebuah club , Dio dan Galang menjalankan rencana mereka. Galang akan pura-pura mendekati Bagas dan memberikan sebuah minuman yang sudah ia campur dengan obat. Sedangkan Dio akan berjaga-jaga dari jauh.


" Dengar Galang, rencana ini harus berhasil jika tidak. Kita berdua yang akan mendapatkan hukuman dari Nona." Ucap Dio mengingatkan.


" Baik Tuan."


Galang memulai aksinya, ia mendekati Bagas yang sedang duduk sambil didampingi beberapa wanita penghibur. " Permisi Tuan boleh minta waktunya sebentar?" Tanya Galang


" Mengganggu saja," Gerutu Bagas lalu menyuruh semua wanita itu untuk pergi. " Ada apa?" Tanya Bagas.


Galang duduk disebelah Bagas, dan mulai berbincang-bincang mengenai masalah bisnis. Setelah dirasa Bagas mulai akrab dengannya, Galan memberikan minuman yang ia bawa tadi.


" Tuan, ini minuman untuk Anda. Saya membawakannya khusus," Ucap Galang


Tanpa rasa curiga, Bagas menerima minuman itu. Sebab ia merasakan tenggorokannya kering karena sejak tadi ia terus berbicara. Dan mereka berdua bersulang lalu meminumnya.


" Ternyata tak sesulit yang Aku bayangkan, " Gumam Galang dalam hati.