
Tanpa diketahui Liona, Dio telah menghubungi Revan untuk mengikuti Liona ketempat pertemuannya. Dio percaya kalau Revan bisa mwnjaga Liona.
Revan mengikuti mobil Liona hingga sampai disebuah hotel,Revan bertanya- tanya. Kenapa orang itu mengajak Luona bertemu dihotel? Revan terus memperhatikan Liona masuk kedalam hotel. Ia hendak mengikutinya, namun teringat perkataan Dio. Kalau dia hanya perlu mengawasi Liona dari jauh saja. Revan juga yakin kalau Liona bisa menjaga dirinya sendiri.
Sudah satu setengah jam lamannya Revan menunggu, tapi tak ada tanda-tanda Liona akan keluar dari hotel. Revan mulai khawatir pada Liona dan mulai berfikir yang tidak-tidak.
Terlebih lagi saat ponselnya tiba-tiba berdering, dan memperlihatkan nomor Liona disana. Revan sangat jelas mendengar Liona mengatakan tolong lalu sambungan ponselnya terputus. Ia mencoba kembali untuk menelpon Liona, namun ponsel Liona tak dapat dihubungi. Kekhawatiran Revan semakin besar, ia yakin kalau terjadi sesuatu pada Liona didalam.
Revan masuk kedalam hotel, dan meminta petugas hotel untuk memberi tahu dimana keberadaan Liona. Namun petugas disana tak mau memberitahukannya, dengan alasan kalau dihotel itu tak diizinkan memberitahu privasi pelanggannya.
Dengan sedikit berdebat dengan petugas hotel, akhirnya ia di antarkan ketempat Liona. Revan meyakinkan petugas hotel dengan mengatakan kalau Liona adalah istrinya, dan dia sedang dalam bahaya saat ini. Awalnya petugas itu tak percaya, namun saat Revan memperlihatkan foto kebersamaannya dengan Liona serta Vivi. Akhirnya ucapannya dipercaya.
Revan mencoba membuka pintu itu, namun sialnya pintu itu terkunci dari dalam. Namun keberuntungan sedang berpihak padanya, petigas yang mengantarnya ternyata membawa kunci cadangan kamar itu.
Brakk.
Revan membuka pintunya dengan kasar, pandangannya tertuju pada seorang pria dan wanita sedang diatas ranjang. Dan terlihat ai pria tengah memaksa si wanita. Revan mengepalkan tangannya kuat. " Brengsek!" Umpatnya.
Revan manarik pria itu dari atas tubuh Liona, ia memukulnya membabi buta, terlebih lagi orang itu adalah rivalnya. Revan tak memberikan Mario kesempatan untuk melawan. " Brengsek kau Mario! Apa yang sebenarnya kau inginkan!? Dulu Maya sekarang Liona!" Ucap Revan emosi, ia kembali mengahajar Mario tanpa ampun.
Sampai akhirnya Mario tak sadarkan diri, barulah Revan selesai menghajarnya. Ia langsung teringat pada Liona, Revan mendekati Liona yang dusuk diatas ranjang dengan wajah pucat pasi dan sebauh selimut yang menutup tubuhnya. " Kamu nggak pa-pa kan Liona?" Tanya Revan mengusap lembut wajah Liona.
Liona menggeleng," Ba-bawa aku pergi dari sini." Ucap Liona terbata.
Revan langsung membuka kemeja yang ia kenakan untuk diberikan pada Liona. Sebab ia melihat baju yang Liona pakai tadi telah tergeletak dilantai. Setelah membantu Liona memakai kemejanya, Revan langsung menggendong tubuh Liona untuk keluar dari hotel.
Selama perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar ddari bibir Liona. Ia diam seribu bahasa, Liona hanya menatap kosong jalanan didepannya. Mungkin ia masih syok dengan apa yang terjadi. Sampai mobil yang ia tumpangi bersama Revan, sampai dikediamannya. Liona menatap bangunan rumahnya, rumah yang begittu besar, tapi sangat sepi.
Liona menatap Revan yang sudah berdiri disebelahnya untuk membukakan pintu. " Aku ingin bertemu Vivi." Ucap Liona. " Tolong antar aku padanya." Imbuhnya.
Sedangkan Liona, ia hanya diam dan memperhatikan apa yang Revan lakukan padanya. Fikirannya terus teringat kejadian tadi, jika Revan tidak datang mungkin sekarang ia sudah kehilangan kehormatannya. Tapi ia juga bingung kenapa bisa kebetulan sekali Revan datang dan menyelamatkannya.
Revan mendudukkan Liona disisi ranjang Vivi. Karena hari sudah malam, jadi Vivi sudah tertidur. " Kamu tunggu disini dulu, akan aku ambilkan pakaian untuk kamu." Ucap Revan, lalu pergi meninggalkan Liona bersama Vivi.
Liona menatap Vivi yang sudah terlelap, ia merebahkan tubuhnya disebelah Vivi. " Entah kenapa Aunty selalu merasa tenang jika berada didekat kamu." Ucap Liona mengusap pelan kepala Vivi dan mengecupnya. Liona memeluk Vivi, menggunakan tangannya sebagai bantal Vivi. Dan Vivi sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan Liona. Tanpa sadar, lama kelamaan Liona mulai memejamkan matanya.
" Maaf lama, tadi ma-"
Revan baru kembali kekamar Vivi, dan melihat Liona sudah tertidur bersama Vivi dan saling berpelukan. Senyum Revan mengembang, ia mendekat ke sisi ranjang. Ia menarik selimut untuk menyelimuti keduanya.
Revan mengepalkan tangannya ketika melihat leher putih Liona yang terdapat tanda kebiruan. Ia menggertakan giginya, " Tidak akan aku ampuni kau Mario, dulu Maya ingin kau lecehkan. Sekarang Liona, sebenarnya apa yang kau inginkan Mario." Ucap Revan lalu mengbil tisu basah yang ada di meja belajar putrinya. Ia mengusap tanda kebiruan dileher Liona dengan tisu basah. Setelah selesai , ia mengecup leher Liona tepat diatas tanda itu.
" Aku berjanji akan menjaga kamu Ona, aku akan memberikan kamu cinta dan kasih sayang yang melimpah." Gumam Revan ikut berbaring di sebelah Liona.
*
*
Tengah malam Liona terbangun, ia merasakan sesuatu yang berat diatas perutnya. Ia menatap kearah perut. Alangkah terkejutnya dia saat melihat ada dua tangan yang melingkar di perutnya. Yang satu tangan ukuran kecil, dan satunya lagi ukuran besar. Ia hendak berteriak, namun segera diurungkannya. Ketika ingat dia sedang berada dimana sekarang. Liona menatap sisi kanan dan kirinya. Disisi kiri ada Vivi yang tertidur sambil memeluk Liona. Dan disisi kanan ada Revan yang tertidur sambil memeluk Liona juga.
Bahkan mereka tertidur dengan posisi yang sama. Sama-sama mililitkan kakinya dikaki Liona. Seolah mereka tidak membiarkan Liona kabur dari keduanya. Liona menatap Vivi, gadis kecil yang selalu bisa menenangkan hati Liona. Dengan berdekatan saja dengannya sudah membuat hati Liona begitu tenang. Entah ada ikatan apa diantara keduanya, Liona juga bingung akan hal itu.
Lalu Liona beralih menatap pria yang telah menolongnya. Seorang duda beranak satu, yang memiliki garis wajah tegas. Bahkan ia terlihat sangat tampan saat tertidur. Pria yang selalu memberiakan perhatian lebih pada Liona. Dan lambat laun, ia bisa membuat Liona merasa nyaman dan aman bersamanya. Liona tak mengerti rasa nyaman dan aman seperti seorang kakak atau seorang pria pada wanitanya, yang dapat ia rasakan dari Revan.
Tapi intinya ia merasa nyaman ketika Revan memberikan setiap perhatian pada Liona. Dan ia merasa aman ketika Revan selalu ada ketika Liona terancam akan bahaya. Seperti dua minggu lalu, ada seseorang yang ingin meracuni Liona dengan mencampur racun diminumam Liona. Tapi dengan ketelitian yang Revan miliki, akhirnya Liona tak jadi meminum minuman itu. Terlebih lagi saat beberapa jam lalu yang menimpanya, Revan selalu bisa menyelamatkannya.