
Setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, kini Liona merasa lebih baik. Bahkan ada sedikit perubahan dalam dirinya. Ia terlihat lebih sering tersenyum sekarang. Dan ia merasa fikirannya lebih tenang.
" Mamih!" Teriak Vivi berlari kearah Liona dan langsung memeluk kaki Liona. Setelah tau jika Liona ada dirumah sakit untuk menjaga Mamanya. Vivi bersikeras untuk pergi kerumah sakit menemui Liona.
" Kelihatannya kamu senang banget." Ucap Liona mensejajarkan tubuhnya dengan Vivi.
" Iya Mih, aku senang banget! Tadi disekolah Vivi dapat nilai A+." Ujar Vivi senang.
" Wah, selamat yang sayang. Nanti Mamih kasih hadiah buat kamu."
" Iya Mih, katanya Oma sakit ya Mih?" Tanya Vivi penasaran.
" Iya sayang, ayo kita masuk lihat Oma." Ajak Liona menggandeng tangan Vivi.
Liona menyuruh Vivi untuk duduk disisi ranjang Mama Karin. " Ma, kenalin ini Vivi. Anak Revan yang tadi nemenin aku." Ucap Liona memperkenalkan Vivi. Mama Karin tak menjawab, ia hanya memperhatikan Vivi dan Liona bergantian.
" Vi, kamu ajak Oma ngobrol ya." Titah Liona dan langsung diangguki Vivi. Liona berharap Vivi bisa membuat perubahan pada Mamanya, sama seperti perubahan pada dirinya. Lalu ia memilih pergi dari sana, dan menemui Revan. Pria yang akhir-akhir ini selalu ada saat ia kesusahan.
Vivi menyentuh tangan Mama karin, dan mencium punggung tangannya. " Hai Oma, kenalin aku Vivi. Oma cepat sembuh ya, biar nanti Vivi bisa main sama Oma." Ucap Vivi memeluk tubuh Mama Karin. " Vivi sayang sama Oma, Oma kok diam aja? Oma nggak senang ya Vivi datang. Ya udah deh, kalau Oma nggak senang Vivi pulang aja." Ujar Vivi dengan nada merajuk sembari membalikkan badannya dan turun dari ranjang.
Saat Vivi hendak melangkah, tangannya dicekal oleh Mama Karin. Sontak membuat Vivi berbalik dan menatap Mama Karin." Oma senang kok Vivi datang." Ucap Mama Karin sambil tersenyum.
Vivi kembali naik ke ranjang dan duduk ditempatnya tadi." Nah gitu dong Oma, jangan diam aja." Ucap Vivi senang. " Oh iya, Vivi punya permen buat Oma." Ujar Vivi mengeluarkan sebuah permen dari saku seragam sekolahnya.
" Terima kasih ya." Mama Karin menerima permen dari Vivi.
" Sstt, tapi Oma jangan kasih tau Papih ya. Soalnya Papih nggak ngijinin Vivi makan permen." Ucap Vivi berbisik dan diangguki Mama Karin.
" Oma tau nggak, tadi disekolah Vivi jatuh. Gara-gara didorong sama teman," Adu Vivi menunjukkan lututnya yang terluka.
" Sakit?" Tanya Mama Karin meniup luka di lutut Vivi.
"Enggak Oma, Vivi kan anak yang kuat. Anak yang cantik, pintar dan kesayangnnya Papih sama Mamih." Vivi memuji dirinya.
Mama karin tersenyum mendengar penuturan Vivi. Ia mengusap kepala Vivi, Mama Karin melihat Ona didalam diri Vivi. Ia berharap Ona akan cepat kembali menjadi seperti dulu. Gadis yang ceria dan penuh kasih sayang. Bukan seperti sekarang, cepat marah dan tak memiliki maaf. Ia sangat tak mengenali Ona yang sekarang, sama sekali bukan Ona yang ia besarkan dan ia didik.
*
*
" Iya." Ujar Revan tanpa menatap Liona, ia tetap Fokus menatap bunga yang bermekaran dihadapannya.
Liona merogroh saku celananya, lalu mengeluarkan sebatang rokok dan menghidupkannya. Saat Liona hendak menyesap rokoknya, sudah lebih dulu Revan merebut rokok itu." Kenapa diambil!" Ucap Liona tak terima.
Revan membuang rokok tersebut, lalu menatap Liona." Kalau ada sesuatu yang mengganjal dihati dan fikiran kamu, kamu bisa cerita sama aku. Bukan dengan menghancurkan hidupmu seperti tadi!" Tegas Revan
" Berubahlah Ona, mulailah hidup dengan baik. Ingat! Perjalanan kamu masih panjang, masih banyak yang belum kamu capai Ona. Aku yakin, jika Om Arya dan Leon pasti sedih melihat kamu seperti ini. Jangan mempersingkat hidupmu Ona," Revan memberi pengertian.
Liona menatap nanar bungkusan rokok yang ia pegang, lalu ia melemparnya kesembarang arah. " Ya, kamu benar masih banyak yang belum aku capai. Aku akan menuntaskan dendamku sekarang!" Ucap Liona menahan amarah, ia menyalah artikan kata belum tercapai.
Revan menghentikan langkah Liona." Bukan dengan dendam Ona, mulailah hidup tanpa dendam. Kamu pasti akan hidup dengan tenang jika kamu menghilangkan dendam dihati kamu. Lepas semua dendam Ona, biarkan tuhan saja yang membalas mereka." Ucap Revan memperjelas.
Liona menatap tajam Revan," Aku akan tetap membalaskan dendamku! Karena mereka, orang-orang yang aku sayangi pergi untuk selamanya. Dan jika aku menunggu tuhan untuk membalaskan dendamku, itu terlalu lama." Ujar Liona penuh amarah sambil terus melepaskan cekalan tangan Revan.
Revan semakin mempererat cekalan tangannya, ia menatap manik Liona dalam. " Aku akan membiarkan kamu membalaskan dendam kamu!" Ucap Revan dengan nada lebih tinggi, sembari melepaskan cekalan tangannya.
" Pergi! Pergilah Ona. Ikuti semua dendam dihati kamu, tanpa kamu tau dendam itulah yang akan menghancurkan hidup kamu. Semua orang yang ada disekitar kamu akan pergi dari kamu. Tante karin, Vivi, dan aku tentunya." Ucapan Revan berhasil menghentikan langkah Liona.
Liona berbalik, dan berjalan cepat kearah Revan. Liona mengcekram kerah kemeja yang Revan gunakan." Apa maksud kamu?! Jangan coba-coba manakuti saya!" Geram Liona
" Heh, aku nggak nakut- nakuti kamu Ona. Tapi memang itu kenyataannya. Kamu fikir dengan kamu menghancurkan mereka, Om Arya dan Leon akan senang disana? Enggak Ona, justru sebaliknya. Mereka sangat sedih melihat kamu seperti ini, mereka sedih melihat kamu yang tak bisa menjalani hidup kamu dengan benar. Apa kamu juga fikir, tante Karin akan bisa sembuh dengan melihat kamu jadi wanita yang penuh dendam? Jawabannya tidak Liona, tante Karin sebenarnya sedih. Kondisinya sering drop, karena dia terus memikirkan kamu. Dia ingin kamu berubah Ona, dia ingin kamu menjalani hidupkamu dengan baik dan bahagia. Jika kamu terus mengikuti dendam dihati kamu, sampai kapanpun kamu tidak akan menemukan kebahagiaan kamu." Tutur Revan panjang lebar.
Revan tahu penyebab Mama Karin sering sakit dari Dio. Dio tau semuanya, tapi ia tak memberitahu Liona. Karena semua akan percuma, bukannya menuruti, Liona pasti akan memberinya hukuman nanti. Maka dari itu, Dio memutuskan untuk memberitahu Revan. Apalagi jika mengingat kedekatan Revan dan Liona. Dio sangat berharap jika Revan bisa merubah Liona.
Kaki Liona lemas, ia sampai terduduk dikursi yang ia duduki tadi bersama Revan. Hati dan fikirannya mengatakan hal berbeda. Fikirannya mengatakan untuk tak mempercayai ucapan Revan dan mengabaikannya. Sedangkan hatika berkata untuk mempercayai ucapan Revan dan menurutinya.
" Apakah yang kamu ucapakan itu benar? Apa Papa dan kak Leon sedih melihatku? Apa Mama sakit karenaku?" Tanya Liona lirih.
Revan duduk disebelah Liona, merangkul bahunya. " Iya Ona, mereka sedih melihat kamu seperti ini." Sahut Revan meyakinkan.
" Mulailah berubah Ona, aku akan menemani kamu. Aku akan membimbing kamu untuk jadi pribadi yang lebih baik." Imbuhnya Revan.
" Apakah saya harus percaya sama kamu?"
" Harus! Kamu harus percaya sama aku. Tante Karin pasti akan kembali seperti dulu lagi, jika kamu kembali pada diri kamu yang dulu. Dia sebenarnya rindu dengan Ona yang ceria dan manja. Jadi kamu harus berubah." Sahut Revan kembali meyakinkan.
Liona luluh dengan kata-kata Revan, ia memeluk erat tubuh Revan. Liona menangis sejadi-jadinya, ia menumpahkan semua beban yang selama ini dipikulnya. Selama ini Liona fikir, setelah ia dapat membalaskan dendamnya. Ia akan dapat hidup dengan tenang, namun nyatanya tidak. Mama yang sangat ia sayangi, malah lebih sering jatuh sakit. Tapi mulai sekarang ia bertekat untuk berubah, mencoba menghilangkan dendam dalam dirinya. Seperti yang dikatakan Revan, agar hidupnya kembali bahagia seperti dulu. Walaupun bersama orang yang berbeda.