Liona Cassandra

Liona Cassandra
eps 10



Setelah beberapa menit, Bagas mulai merasakan ngantuk dan akhirnya tak sadarkan diri.


Galang tersenyum senang, karena rencananya berhasil. Dio yang melihat itu melangkah mendekati Galang. Mereka berdua menggotong tubuh Bagas dibawa keluar dari club. Memasukkannya kedalam mobil, lalu membawanya ke markas.


 Di markas Liona sudah menunggu kedatangan Galang dan Dio. Liona menyesap rokoknya, sambil membolak balikkan alat yang akan ia gunakan pada Bagas." Adik yang Papa sayangi, Om yang kak Leon hormati. Dia adalah seorang musuh dalam selimut, tapi dia akan segera mendapat ganjarannya." Ucap Liona dingin.


Tak berselang lama mobil yang dikendarai Dio dan Galang sampai dimarkas. Mereka membawa Bagas masuk kedalam dan mengikatnya disebuah kursi.


*


*


Ditempat lain, Revan mengumpulkan semua pelayan yang ada dirumahnya. Mengintrogasi mereka tentang orang yang mengantar pulang putrinya tadi siang. Karena Vivi merengek ingin Onty baiknya yang menjadi Mamihnya.


" Nona itu terlihat begitu menyayangi non Vivi Tuan." Ucap bi Sari.


" Apa saja yang dia lakukan bersama Vivi?" Tanya Revan.


" Nona itu membantu non Vivi mengerjakan Pr, lalu menemani non Vivi bermain." Sahut bi Sari.


" Apakah dia sering menemui Vivi disekolahnya?"


" Tidak Tuan, hanya tadi siang saja." Sahut pak Dono.


" Baik, kalian boleh pergi sekarang." Ucap Revan.


Revan sangat penasaran dengan sosok wanita yang sudah merebut hati putri kecilnya. Pasalnya Vivi sangat sulit dekat dengan orang baru. " Aku harus mencari tau siapa dia," Gumam Revan.


Revan melangkah memasuki kamar putrinya, terlihat putri kecilnya sudah tidur. Ia mendekat kearah ranjang Vivi, menatap wajah cantik putrinya. Wajah yang sangat mirip dengan wajah mendiang istrinya dulu.


Revan mengelus rambut Vivi, dan mengecup keningnya. " Papih akan selalu lakukan yang terbaik untuk kamu princess." Ucap Revan lalu ia pergi dari kamar Vivi.


Saat Revan hendak membuka handle pintu kamarnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, dan ia mengurungkan niatnya masuk kedalam kamar. Dan melangkah menuju ruang kerjanya, " Kenapa baru kepikiran sekarang." Gumam Revan sambil terus berjalan.


Sesampainya diruang kerjanya , Revan langsung membuka laptop dan menghubungkannya pada cctv yang ada dirumahnya.


Senyum Revan mengembang ." I got you , kalau jodoh pasti tidak akan kemana." Ucap Revan sembari menutup laptopnya.


*


*


Kembali kemarkas, Bagas tersadar. Ia berada disebuah ruangan dengan pencahayaan minim . Serta keadaan tubuhnya diikat disebuah kursi. Ia menatap sekeliling, dan penglihatannya menangkap sesosok orang berada tak jauh darinya. Dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang itu. Tapi ia yakin kalau itu adalah seorang perempuan.


" Dimana saya, berani-beraninya Anda menyekap saya!" Ucap Bagas memberontak.


" Cepat lepaskan saya! Kalau tidak saya akan-"


" Anda akan apa om Bagas," Ucap Liona dingin. Melangkah mendekat kearah Bagas.


" Liona," Lirih Bagas.


" Kenapa, Anda terkejut melihat saya ada disini?" Tanya Liona. " Atau Anda merasa takut melihat saya ada disini."


Liona terus berjalan mendekat , dan ditangannya ia memegang sebuah pisau kecil. Mengarahkannya tepat dileher Bagas.


Liona tertawa sinis, " Anda masih bertanya apa yang saya lakukan. Ohh, atau mungkin Anda lupa dengan suatu hal. Kalau begitu akan saya ingatkan, Anda telah membunuh Kakak dan Keponakan Anda sendiri." Jelas Liona penuh dendam.


Bagas terkejut mendengar penuturan Liona, akhirnya ada yang menegtahui tentang kejahatannya. Dan lebih tepatnya lagi, anak dan adik dari orang-orang telah ia lenyapkan.


Liona menempelkan pisau itu di leher Bagas, dan menggoresnya tipis. " Anda harus membayar mahal semuanya Om," Ucap Liona menekankan pada kata Om.


Sshh.


Bagas mendesis saat merasakan lehernya teiris, " Ka-kamu salah faham Liona, itu semua bohong. Om tidak mungkin melakukan itu." Ucap Bagas mengelak.


" Bohong kata Anda, tapi kenapa semua bukti mengarah pada Anda?" Tanya Liona sinis.


" Dengar Nak-"


" Jangan panggil saya Nak!" Bentak Liona." Saya tidak sudi dipanggil Nak oleh mulut busuk Anda itu," Tegas Liona.


" Lima tahun, selama lima tahun Anda bahagia diatas penderitaan Mama saya dan saya. Tapi tidak untuk kedepannya," Ucap Liona dingin.


" Jangan Liona, jangan lakukan ini pada Om." Bagas memohon. Ia tahu betul bagaimana karakter Liona, jika dia sudah mengatakan sesuatu maka tidak bisa dibantah. Dan dia tidak akan mengampuni orang yang telah menganggu keluarganya.


" Kenapa jangan Om, dulu Anda membunuh Papa dan Kakak saya tanpa rasa kasihan."


" Siapa bilang Om tidak kasihan, maafkan Om Liona. Saat itu Om khilaf, pikiran Om tidak bisa berpikir jernih." Ucap Bagas memelas.


" Semua karena Anda!" Teriak Liona. " Karena Anda Papa dan Kakak saya meninggal dan karena Anda juga Mama saya mengalami depresi !" Ucap Liona menggebu- gebu.


Liona mencekik leher Bagas , sampai membuat wajah Bagas memerah. " Saya tidak akan pernah mengampuni Anda Bagas. Anda harus menderita, bahkan lebih menderita dari yang saya dan Mama saya rasakan." Ucap Liona penuh kebencian.


Uhuk..uhuk..


Bagas terbatuk saat Liona sudah melepas cengkramannya. " Tolong ampuni Om Liona , bagaiman nanti dengan kakek kamu. Dia pasti akan semakin membenci kamu jika tahu kamu telah memperlakukan Om seperti ini." Ucap Bagas menggunakan kakek Rafi sebagai tameng.


" Anda tidak perlu khawatir, saya memang sudah lama dibenci oleh kakek Rafi dan saya sudah kebal dengan semuanya. Sebaiknya Anda fikirkan bagaimana nasib Anda setelah ini." Tegas Liona.


" Tapi Lio-"


Jleb.


Argghhh.


Bagas berteriak saat pisau kecil yang dibawa Liona tertancap di punggung tangannya. Hingga tembus ditelapak tangannya.


" Nikmatilah rasa sakit yang akan kau dapatkan setiap harinya," Ucap Liona lalu melangkah menjauh.


Langkah Liona terhenti saat Dio dan Galang keluar dari tempat persembunyian mereka. Ya, sejak tadi Dio dan Galang ada ditempat itu juga, tapi mereka disuruh bersembunyi dan menonton saja.


" Kurung dia di ruang bawah tanah , buat dia merasakan sakit disetiap harinya. " Ucap Liona datar dan berlalu pergi.


Bagas yang mendengar itu hanya bisa pasrah, ia berpikir tidak akan ada yang tau tentang kejahatannya. Karena sudah lima tahun lamanya ia hidup bebas tanpa ada yang mengungkit kasus itu. Tapi sekarang , dia harus menerima setiap hukuman yang Liona berikan.


" Setelah aku bebas dari sini , kau akan hacur Liona." Batin Bagas benci pada Liona. Ia menatap nanar pada tanganya yang bersimbah darah.