
Setelah sampai, Liona langsung menuju kekamar Revan. Ia beberapa kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam. Dia pun berinisiatif membuka langsung pintunya. Tatapannya tertuju pada seseorang yang berada dibalik selimut, dengan sesekali bergerak seperti sedang menggigil. Liona mendekat, dan langsung menyentuh dahi Revan. Ia terlonjak saat merasakan dahi Revan terasa sangat panas.
Revan yang merasakan dahinyabdisentuh sontak membuka mata. " Sayang, kamu disini?" Lirih Revan.
" Kita kedokter yuk! Badan kamu panas banget." Ajak Liona duduk disisi ranjang.
" Nggak Na, nanti juga akan sembuh sendiri." Tolak Revan.
Liona menghela nafas , " Kamu sudah makan?" Tanya Liona dan mendapat gelengan kepala dari Revan.
" Lidahku rasanya pahit."
Tanpa banyak kata, Liona langsung berlari keluar dari kamar Revan. Membuat Revan menyeritkan dahinya. Tak berselang lama, Liona datang sembari membawa baskom dan handuk kecil. Dengan telaten Liona mengompres dahi Revan. " Tadi akau jemput Vivi, dan dia yang memberitahu aku." Ucap Liona setelah mengompres Revan.
" Sayang, apa yang kamu lakukan?" Tanya Revan saat melihat Liona membuka kancing kemejanya sendiri. Dan memperlihatkan tubuh atasnya yang hanya tertutup dibagian dada. Revan semakin bingung melihat Liona yang ikut masuk kedalam selimut.
" Buka baju dan celanamu!" Perintah Liona membuat Revan terkejut bukan main.
" Untuk apa? Bersabarlah sayang, aku masih sakit."
Liona melotot horor mendengar ucapan Revan. " Jangan berfikiran macam-macam. Ini adalah salah satu cara untuk menurunkan panas. Skin to skin." Jelas Liona.
Akhirnya Revan pun membuka baju dan celananya. Dan hanya menyisakan boxernya saja. " Apa ini perlu dibuka juga?" Tanya Revan menunjuk boxernya dengan senyuman mesum.
Pletak.
" Sakit sayang." Rengek Revan saat dahinya disentil oleh Liona. " Kamu tega sekali, aku kan masih sakit." Sambungnya masih mengusap-usap bekas sentilan Liona.
" Makanya jangan mesum! Cepat berbaring! " Titah Liona, lalu ikut berbaring disebelah Revan dan mendekapnya.
Awalnya Revan tak percaya dengan apa yang dilakukan Liona. Namun, lama-kelamaan ia menikmatinya. Bahkan ia menyembunyikan wajahnya dicerucuk Liona. Tubuh Revan menegang saat tiba-tiba Liona bergerak dan tak sengaja menyenggol adik kecilnya.
" Jangan salah faham adik kecil, mamih bukan menggodamu. Dia tak sengaja menyenggolmu, papih harap kamu tidak membuat papih bertambah sakit kepala." Gumam Revan dalam hati sembari mengelus-elus adik kecilnya yang terbungkus boxer.
" Sayang."
" Hem."
" Mereka gembul ya."
" Siapa?"
" Mereka berdua."
" Mereka siapa?"
Plak.
Liona reflek memukul tangan Revan, saat ia merasakan tangan Revan menyentuh dadanya yang masih tertutup kain.
" Sakit sayang." Rengek Revan meniup Punggung tangannya yang terasa panas.
" Makanya cepat tutup matamu. Agar panasnya cepat turun, dan jangan macam-macam!" Tegas Liona kembali mendekap tubuh Revan.
Revan terbangun setelah beberapa jam tertidur. Ia mendongak, menatap sang kekasih yang masih terlelap dengan memeluknya. "Cantik. " Gumam Revan menyentuh bagian wajah Liona.
Ia bergeser, mensejajarkan posisinya dengan Liona. Ditatapnya wajah cantik Liona. "Huh! Seandainya saja aku tak punya pekerjaan di Paris, mungkin kita akan menikah satu minggu lagi. Namun apalah dayaku, aku harus tetap melakukan pekerjaan itu." Ujar Revan mendesah pelan.
Liona menggeliat, ia membuka mata. Dan betapa terkejutnya ia melihat wajah sang kekasih yang kini tengah tersenyum padanya. " Kenapa kau bisa ada dikamarku?!" Ketus Liona menautkan kedua alisnya.
" Yakin ini kamarmu sayang?" Revan balik bertanya.
Liona mengedarkan pandangannya. Ia mebelalakkan matanya, ketika tau kamar yang ia tiduri sekarang bukanlah kamarnya. Ia menyingkap selimut, dan langsung berteriak menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. " Kok aku nggak pakai baju? Apa yang sudah kamu lakukan?!"
Revan menghela berat, ingin rasanya ia memukul kepala Liona agar ingatannya kembali." Apa kamu amnesia sayang? Kamu tidak ingat apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Revan gemas dengan kekasihnya itu.
Liona menautkan alisnya, ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Lalu ia menepuk dahinya dan tersenyum menatap Revan. " Hehehe, maaf aku lupa. Sekarang aku baru ingat, kalau tadi aku melakukan penurunan panas dengan skin to skin. " Ujar Liona cengengesan.
" Apa panasnya sudah turun?" Tanya Liona sembari menaruh telapak tangannya didahi Revan. " Ternyata sudah tak panas lagi." Gumam Liona.
Tanpa Liona tau, perbuatannya saat ini tengah menggoda jiwa kelakian Revan. Bagaiman tidak, jika posisi Liona saat ini membuat dadanya yang gembul itu terlihat bergerak-gerak walau masih terbungkus. " Apa kau sengaja menggodaku sayang? Tadi mungkin aku sedang kurang sehat, tapi sekarang aku sudah sangat sehat. Dan sudah bisa melahapmu sampai habis." Ujar Revan terus memperhatikan dada Liona dengan tatapan lapar.
Liona menunduk menatap Revan, dan mengikuti arah pandangan pria itu. Yakk, Liona langsung menarik selimut dan menutupi tubuh atasnya. " Dasar mesum!" Ketus Liona sambil mengambil kemejanya yang ia letakkan dimeja.
" Tidak usah malu-malu begitu sayang, aku sudah melihat dadamu yang montok dan gembul itu sejak tadi." Ujar Revan semakin memebuat Liona kesal.
" Bukannya berterima kasih, malah membuatku kesal!" Cibir Liona sembari melangkah kekamar mandi. " Karena khawatir akan kedaan Revan, aku sampai tak sadar apa yang telah kulakukan. Pasti aku terlihat seperti wanita murahan tadi." Gumamnya sembari memakai kembali kemejanya.
Revan menatap pintu kamar mandi yang terbuka. Dan memperlihatkan Liona keluar dari sana dengan wajah cemberut. Tak ada sepatah katapun yang diucapakan Liona. Dia melangkah keluar kamar, melewati Revan yang sedang bersandar dibahu ranjang.
Brakk.
Liona menutup pintu kamar dengan kasar. Membuat Revan yang berada didalam terlonjak. " Sabar, sabar." Ujar Revan mengelus-elus dadanya.
Liona menuruni tangga dan langsung menghampiri Vivi yang sedang menulis sesuatu dibuku." Lagi ngapain sayang?" Tanya Liona sembari duduk disebelah Vivi.
" Eh, mamih. Lagi bikin pr, gimana kedaaan papih? Apa sudah sembuh?" Tanya Vivi mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Liona.
" Papih sudah baikan kok, kamu nggak usah khawatir." Liona mencubit gemas pipi tembem Vivi.
" Tunggu disini dulu ya, mamih mau kedapur dulu." Ucap Liona dan mendapat anggukan dari Vivi. Ia melangkah kedapur dan memanggil salah seorang pelayan untuk memanggil Revan dan menyuruhnya makan. Jangan tanya kenapa bukan dirinya saja yang memanggil Revan. Karena Liona msih merasa malu dan kesal pada Revan.
Dikamar, Revan baru saja menyelesaikan mandinya. Tubuhnya terasa lebih segar, dan tentunya sudah sehat. " Ampuh sekali cara pengobatan mamih Ona. Tanpa menggunakan obat, hanya dengan pelukan twins gembulnya saja aku sudah langsing sembuh." Puji Revan sambil membayangkan twins gembul Liona yang tanpa penutup.
Tok.. Tok..
" Ais, siapa sih. Ganggu saja!" Kesal Revan karena khayalannya saat tengah menyentuh twins gembul terganggu.
" Ada apa?!" Teriak Revan tanpa membuka pintu.
" Nona Liona menyuruh anda untuk turun dan makan tuan."
" Iya, aku akan segera turun." Revan tersenyum sambil menyisir rambutnya. Ia tak mau terlihat berantakan didepan Liona. " Ternyata dia tak semarah itu padaku. Aku kira tadi dia sudah langsung pulang. Menggemaskan sekali kamu mamih Ona, pengen cepat-cepat aku ikat pakai ikatan pernikahan." Gumam Revan
Setelah selesi menyisir rambut, danerapikan pakaiannya. Revan pun segera turun kebawah untuk menemui Liona dan Vivi. Dan tentunya melakukan perintah calon istrinya untuk makan. Memang perutnya juga terasa lapar, karena ia belum makan apa-apa sejak pagi.