Liona Cassandra

Liona Cassandra
bab 21



Liona mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menembus jalanan ditengah hutan menuju tempat markasnya berada. Sstelah mendapat dari Galang, ia langsung bergegas pergi. Sesampainya disana, Liona memakirkan mobilnya sembarang. Ia langsung keluar dari mobil, dan melihat orang-orang tengah berkelahi. Liona menembus orang-orang tersebut, dan jika ada yang menghalanginya atau mencegatnya, ia akan langsung melumpuhkan orang itu.


Mengingat Liona memang ahli dalam beladiri. Dan sesampainya didalam, ia melihat Galang dan Dio tengah berkelahi dengan beberapa orang.


" Nona awas!!" Teriak Dio saat melihat ada orang yang akan memukul Liona dari belakang.


Liona langsung dengan cepat berbalik dan melawan orang itu. Setelah membuat orang itu tumbang, ia langsung berlari menuju ruang bawah tanah.


" Sia*lan!!" Geram Liona saat melihat tak ada siapapun disana. Dan pintu selnya juga terbuka, dengan kedaan gembok yang sudah dirusak.


Ia lalu kembali berlari ketempat Galang dan Dio. Saat sampai, ia melihat orangnya semakin bertambah. Galang dan Dio terlihat kewalahan mengatasi mereka. Liona membantu keduanya, dan setelah itu, merereka bertiga keluar. Untuk melihat keadaan disana.


Jumblah musuh yang datang semakin banyak, dan anak buah Galang kurang dari jumblah musuh yang menyerang. " Dio, Galang! Kalian bantu mereka, aku akan segera kembali!" Titah Liona, lalu ia berlari menuju ke belakang markas.


Liona berdiri disebuah pintu besi besar. " TIGER!!" Teriak Liona


Aauu.....


Ia mendapat sahutan dari dalam, Liona langsung membuka pintu itu. Dan terlihat harimau itu telah berdiri siap untukmenyerang. Dan juga terlihat jelas api kemarahan dimata hewan buas tersebut.


" Bantu aku Tiger." Ucap Liona lalu melangkah pergi dari sana dengan diikuti oleh Tiger.


Rrgghhhh..


Geram Tiger siap untuk menyerang. Setelah sampai ia langsung menyerang para musuh. Dengan menggigit, melempar bahkan mencabiknya dengan kuku. Apakah Tiger bisa mengenali antara kawan dan lawan? Tentu saja jawabannya Ya. Karena Liona telah mengajarkan pada semua anak buah Galang untuk memberi makan Tiger bergantian setiap harinya. Agar dia menganggap mereka sebagai kawannya dan mengingat mereka dari aroma tubuhnya. Dan itu juga menjadi antisipasi Liona disaat seperti ini. Agar tak menyulitkan Liona memberi Tiger penjelasan.


Semua orang tercengang dengan kehadiran hewan buas tersebut. Bahkan sampai membuat semua yang ada disana bergidik ngeri melihat bagaimana cara hewan itu menghabisi musuhnya.


Aauu.....


Tiger kembali mengaum saat ia sudah berhasil menghabisi beberapa musuhnya. Bahkan ada diantara mereka bagian tubuhnya sampai terlepas. Dan Tiger semakin buas saja menghabisi mereka.


" Woi! Ayo pergi!" Ucap salah satu dari mereka mengajak temannya yang lain. Saat ia melihat Tiger yang semakin buas. Mereka semua pun akhirnya pergi.


Krek.


Arrgh...


Liona berhasil menahan salah satu dari mereka. Ia sampai menggkilir tangannya. " Katakan siapa Tuanmu?" Tanya Liona dengan aura membunuh.


" Sa- saya tidak tahu."


" Tiger! Dia bilang tidak tahu, habisi dia! " Titah Liona mendorong orang itu mendekat pada Tiger.


" Jangan! Sa-saya mohon jangan, saya akan beri tahu, tapi jangan bunuh saya." Ujar pria itu memohon.


Liona mengangkat tangannya, mengisyaratkan pada Tiger untuk menjauh. Lalu ia berjongkok didepan pria tersebut." Katakan!" Tegas Liona.


" Tu-tuan Mario."


" Mario!" Geram Liona hingga ia sampai mencekik leher pria dihadapannya itu. Sampai membuat pria itu kehilangan nyawanya.


" Kubur semua mayat!" Perintah Liona.


" Baik Nona."


Liona melangkah menuju kebelakang markas dengan diikuti Tiger. Ia akan kembali mengurung Tiger didalam kandangnya. " Terima kasih atas bantuan hari ini Tiger." Ucap Liona setelah Tiger masuk kedalam kandang.


Aauu...


Tiger mengaum seolah paham dengan apa yang diucapkan Liona.


Setelah mengurung Tiger, Liona kembali menemui Galang dan Dio. Ia menatap mereka secara bergantian. Ada beberapa luka diwajah keduanya. " Wajah kalian sudah jadi buruk rupa." Ejek Liona sembari berjalan menuju kulkas untuk mengambil es.


Dio dan Galang hanya saling pandang, dan saling meraba wajah masing-masing. " Apakah seburuk itu?" Batin keduanya bertanya-tanya.


Liona mencengkram erat stir mobilnya, saat ini ia tengah emosi dan menerutuki kebodohannya. Karena begitu bahagianya dengan kesembuhan sang Mama, ia sampai lupa memiliki urusan dengan Mario. Urusan karena Mario hampir melecehannya waktu itu.


Dret.. Dret..


Ponsel Liona berdering, ia mengatur nafasnya agar bisa mengontor emosinya." Halo, baik. Aku pulang sekarang." Ucap Liona lalu segera memutus sambungan telponnya.


*


*


Liona menghembuskan nafasnya panjang sebelum memasuki rumah. Lalu ia melangkah masuk, dilihatnya Mama Karin, Revan dan Vivi tengah duduk di sofa.


" Mamih!" Seru Vivi melihat kedatangan Liona. " Mamih dari mana aja, Vivi cari-cari dari tadi. Untung Papih datang, jadi Vivi suruh Papih buat telpon Mamih." Imbuh Vivi .


Liona mndekati Vivi, lalu mengusap kepalanya." Maaf ya, tadi Mamih ada urusan mendadak."


" Ada urusan apa Ona?" Tanya Mama karin. " Pergi nggak pamit, Mama sampai keliling rumah nyari kamu. Tau gak!" Imbuh Mama Karin mengomel.


" Iya maaf Ma, tadi ada urusan kerjaan" Sahut Liona berbohong. Ia tak mau sang Mama sampai tau semuanya, bisa-bisa Mamanya akan kembali sakit.


" Ya udah, Mama mau kedapur dulu ambil kue." Ujar Mama Karin lalu pergi kedapur.


" Apa ada masalah Ona?" Tanya Revan.


" Ada yang mau aku tanya sama kamu. Ayo ikut aku." Ajak Liona dan berlalu meninggalkan Revan.


" Vivi, kamu disini dulu ya. Papih sama Mamih ada urusan sebentar." Ucap Revan memberi pengertian.


" Oke Papih."


Revan pun bergegas mengikuti Liona, ia sangat penasaran dengan apa yang ingin Liona tanyakan padanya.


" Duduk." Perintah Liona saat Revan datang.


" Ada apa Ona?" Tanya Revan menatap Liona yang ada disebelahnya.


" Kau ingat dengan Mario?" Liona balik bertanya.


" Iya, apa di mengganggumu lagi." Sahut Revan menebak.


" Ya, di menyerang markasku. Bahkan membawa kabur dua tahananku."


" Ohh."


Liona menyeritkan dahinya melihat reaksi Revan. " Kenapa hanya oh, kenapa kau tidak marah seperti waktu itu? Saat dimana Mario ingin melecehkanku."


Revan menatap Liona, dilihatnya manik liona yang seperti menahan emosi. " Jika dia mengganggumu aku akan sangat marah, tapi kali ini dia tidak mengganggumu." Ucap Revan santai.


" Apanya yang tidak mengganggu! Dia menyerang markasku dan membebaskan mereka." Ujar Liona menahan amarah.


" Biarkan saja Ona, biarkan mereka bebas."


" Tak semudah itu Revan! " Geram Liona berdiri dari duduknya.


Revan menarik tangan Liona, hingga Liona terduduk dipangkuannya. " Katanya mau berubah, buat apa masih menahan mereka jika kamu akan berubah." Ia mengelus wajah cantik Liona. " Dengar Ona, Aku akan selalu ada disisimu. Jika mereka kembali berani mengusik kamu, aku yang akan memberinya pelajaran." Imbuh Revan.


Revan tau semua yang terjadi pada Liona, dan apa yang Liona lakukan selama ini. Selain informasi dari Dio, sebenarnya Revan diam-diam menyelidiki tentang kehidupan Liona.


" Tapi mereka harus membayar mahal atas perbuatannya."


" Kamu sayang kan, kakek kamu?" Tanya Revan dan diangguki oleh Liona. " Kalau kamu sayang, biarkan Bagas bebas. Aku dengar kakek Rafi sedang tidak sehat sekarang, karena memikirkan Bagas yang tiba-tiba menghilang. Dan untuk Robert, aku rasa dia sudah terlalu lama kamu kurung. Jadi berikan dia menghirup udara bebas sebelum tuhan menghukumnya." Imbuh Revan memberi penjelasan.


Bagaikan sapi yang dicucuk hidungnya, Liona hanya menurut dengan ucapan Revan tanpa ada bantahan apapun. Entah apa yang Revan gunakan sehingga membuat Liona luluh dengan kata-katanya.