Liona Cassandra

Liona Cassandra
bab 25



Dan benar saja, saat libur sekolah Vivi datang kekediaman Liona dan menginap disana. Ia sangat senang bisa bertemu lagi dengan Mamihnya itu. Bahkan saat ini keduanya tengah mengganggu Mama Karin yang sedang membuat kue.


" Oma! Mamih nakal, masa wajah aku dikasih tepung!" Adu Vivi menunjuk wajahnya yang berisi yepung katena ulah Liona.


" Balas dong Vi, jangan mau kalah!" Mama Karin mengadu keduanya.


" Jangan!" Teriak Liona saat Vivi mendekat kearahnya dengan tangan yang sudah penuh dengan tepung. " Mamih sudah mandi Vi!" Sambungnya memperingatkan.


" Vivi juga sudah mandi! Tapi Mamih tetap ngotorin wajah Vivi !" Sengit Vivi tak terima.


" No,Vivi." Liona memberi peringat sembari melangkah mundur. Karena Vivi melangkah maju mendekat padanya sambil mengangkat tangan bersiap hendak melempar tepung pada Liona.


" Aa..!" Vivi berlari mendekati Liona.


Liona yang merasa diserang pun berlari menjauh dari Vivi. Ia berlari kesana kemari sampai menabrak beberapa barang yang ada didapur.


Mama Karin yang menyaksikan itu mulai merasakan pusing. Tidak ada yang mau mengalah dari keduanya. Tapi ia berusaha untuk tak menghiraukannya dan tetap melanjutkan menata adonan kue dalam cetakan. Setelah memasukkan adonan kue kedalam cetakan, Mama Karin pun bersiap untuk memasukkannya kedalam oven.


Prang...


Loyang yang dipegang Mama Karin terjatuh kelantai, karena ia tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh Liona. Dan membuat adonan kue yang hendak ia masukkan kedalam oven jatuh tak beraturan.


" LIONA!" Bentak Mama Karin menatap nanar pada maha karyanya yang berceceran dilantai.


Liona langsung menutup kedua telinganya dengan tangan saat mendengar suara Mama Karin yang menggelegar didapur. Ia perlahan melangkah mundur, sekarang Liona merasa takut dengan kemarahan Mamanya.


" Sini kamu Ona!" Teriak Mama Karin saat melihat sang putri melangkah mundur.


Liona berlari keluar dari dapur. Ia tak mau terkena amukan Mamanya. Liona tak memperhatikan jalannya, ia terus menoleh kebelakang berharap sang Mama tak mengejarnya. Namun tiba-tiba...


Brugh.. Sret! Byur...


Liona tercebur kedalam kolam bersama Revan yang tengah memeluknya sekarang.


" Kamu nggak sabaran banget sih! Udah main ajak mandi bareng aja." Cibir Revan saat keduanya sudah berada dipinggir kolam.


" Siapa juga yang ngajak kamu buat mandi bareng! Tadi tuh aku nggak lihat jalan saat lari!" Sengit Liona tak terima.


" Masak sih ka-"


Ucapan Revan terpotong saat mendengar teriakan Mama Karin yang memanggil nama Liona.


" Van ayo!" Liona menarik tangan Revan dan mengajaknya berlari menuju tangga.


Revan hanya mengikuti kemana pun Liona menariknya. Sampai ia menyeritkan dahinya saat Liona mengajaknya masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.


" Huh, akhirnya sampai." Ujar Liona bersandar pada pintu sambil mengelus-elus dadanya.


" Nggak kayak gini caranya Ona, lebih baik kita bicara baik-baik sama tante Karin." Revan menasehati tanpa tau apa yang terjadi diantara Liona dan Mamanya. " Ayo buka pintunya, kita keluar." Sambung Revan.


" Nggak! Kalau aku keluar mama pasti akan marah besar sama aku!" Kekeh Liona melempar kuncinya asal.


" Tapi tante Karin akan lebih marah jika kita bersembunyi kayak gini."


" Nggak! Sekali tidak tetap tidak!"


Liona tak menghiraukan nasehat Revan. Ia memilih untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaian karena pakaiannya sekarang sudah basah.


 Revan hanya bisa pasrah dengan keputusan Liona yang tidak bisa ditawar. Namun sesaat ia sadar akan sesuatu. Ia memperhatikan tubuh Liona yang menjauh dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ia baru sadar jika pakaian yang dikenakan Liona tembus pandang. Bahkan memeperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas. Serta pakaian dalam yang Liona kenakan.


Revan mengegeleng-gelengkan kepala, otaknya sudah traveling membayangkan tubuh sexy Liona. Maklum saja karena ia sudah lama menduda dan tak pernah mendapatkan servis.


Beberapa saat kemudian Revan mulai merasakan dingin pada tubuhnya. Ia baru ingat jika pakaiannya basah karena ulah Liona tadi. Lalu ia memilih untuk membuka pakaiannya dan hanya menyisakan boxernya saja.


" Revan! Kamu ngapain?!" Pekik Liona saat keluar dari kamar mandi. Ia melihat Revan yang hanya menggunakan boxer saja dan memperlihatkan tubuh six packnya.


" Ona, aku bisa faham mungkin tante Karin belum siap kamu pergi darinya. Tapi nggak kayak gini caranya Ona. Aku nggak mau dianggap pria brengsek." Ujar Revan hati-hati sambil mengelus rambut Liona yang tergerai bebas.


Liona menyeritkan alisnya, ia tak faham arah pembicaraan Revan. " Brengsek gimana?" Tanyanya bingung.


Revan menghela nafas, " Kamu sadar nggak, apa kita lalukan sekarang dan kita ada dimana sekarang." Jelas Revan.


Liona menatap sekeliling, lalu beralih menatap Revan dari atas sampai bawah. Dan akhirnya ia faham maksud pembicaraan Revan. Ia segera menepis tangan Revan yang sedang memainkan rambutnya dan mendorong tubuhnya dengan kasar. " Dasar mesum!" Ketus Liona." Sekarang keluar dari kamarku!" Sambungnya mengusir Revan sembari menunjuk pintu yang tertutup.


Revan meringis sambil memegangi bokongnya yang menyentuh lantai. Lalu ia berdiri perlahan sambil berkacak pinggang didepan Liona. " Kamu bilang aku mesum? Kayaknya kamu salah deh. Kamu sendiri yang mesum." Ujarnya dengan memicingkan mata.


" Kamu yang mesum. Aku tadi ngehindarin amukan mama. Bukan mau iya-iya sama kamu!" Ketus Liona.


" Kalau mau sembunyi dari tante karin, ngapain ajak aku segala?"


" Reflek! Gak sadar."


" Ya udah, sekarang kamu bukain pintunya." Titah Revan melangkah menjauh dari Liona. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba merasakan pinggangnya kram dan nyeri.


" Kenapa berhenti?"


" Na, tolong aku." Lirih Revan sambil memegangi pinggangnya.


Liona mendekat dan berdiri disebelah Revan. " Kamu kenapa?"


" Na, pinggangku kram. Please bantu aku duduk."


Tanpa bertanya lagi, Liona langsung memapah Revan untuk duduk di ranjang. Ada rasa khawatir tersirat dihati Liona. Saat ia melihat ekspresi Revan seperti menahan sakit. " Apa yang harus aku bantu Van?"


" Pijat Na." Sahut Revan menahan rasa sakit dipinggangnya.


Liona langsung menyentuh pinggang Revan yang sejak tadi dipegang Revan. " Seperti ini?" Tanya Liona memberi pijatan kecil dipinggang Revan.


Liona terus memijat, sampai Revan sendiri yang menyuruhnya berhenti. " Makasih ya Na."


" Kamu yakin udah baikan? Memangnya tadi kamu kenapa? Kamu sakit apa?" Tanya Liona bertubi.


" Aku nggak pa-pa. Cuma ya gitu, kalau udara lagi dingin dan suhu disekitar tubuhku dingin. Pinggangku suka kram dan ngilu." Jawab Revan menjelaskan.


" Kok bisa?"


" Dulu pas aku dengar kabar Vivi sakit, aku kerumah sakit dengan bawa motor ugal-ugalan. Dan akhirnya mengalami kecelakaan dan pinggangku terbentur keras. Maka dari itu, aku nggak boleh berada di suhu udara rendah dan suhu tubuhku harus tetap hangat." Revan menjelaskan.


Liona mengangguk faham." Mungkin acnya terlalu dingin ya." Ucap Liona mengambil remot ac.


" Nggak Na, bukan karena ac. Aku minta tolong sama kamu, pinjamin aku pakaian kering."


" Astaga!" Pekik Liona menepuk jidatnya sendiri. " Maaf ya, gara-gara kecebur dikolam tadi, kamu jadi harus sakit. " Ujarnya penuh rasa bersalah.


" Nggak apa Na."


Liona langsung merombak isi lemarinya, ia berharap bisa menemukan pakaian almarhum sang kakak yang masih disimpannya." Akhirnya ketemu!" Serunya. Ia langsung memberikan pakaian itu pada Revan. " Mm, perlu aku bantu?" Tanya Liona pelan. Walaupun ia merasa malu bertanya seperti itu, tapi ia juga merasa bersalah. Karena dirinya, Revan jadi harus sakit.


Revan tersenyum jahil, tentu dia takkan menyiakan kesempatan ini." Iya boleh." Jawabnya lirih dengan sesekali meringis. Agar Liona semakin iba padanya.


Dengan jantung berdegup kencang, dan tangan yang bergemetaran. Liona membantu Revan memakai pakaiannya. Apalagi Revan berkesan seperti mencari kesempatan dalam kesempitan. Dengan memeluk pinggangnya dengan beralasan sebagai pegangan. Liona tak banyak protes, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.


*


*


( HADEUH, MODUSNYA PAK DUDA.)