
Sudah dua hari sejak kedatangan Revan kekantor Liona untuk mengajaknya makan siang bersama. Dan kini Liona semakin merasa aneh dengan sikap Revan yang selalu memberinya perhatian lebih. Bahkan Revan tak segan-segan membawa nama Vivi untuk membujuk Liona. Dan Liona yang sangat menyayangi Vivi pun tidak tega menolak permintaannya.
Seperti sekarang, mereka bertiga sedang berada disebuah mall. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Dengan Vivi yang berada ditengah, sedangkan Liona dan Revan berada disamping kanan dan kiri Vivi.
" Pih, Vivi mau es krim!" Seru Vivi menunjuk stand es krim.
" Ok princess."
Revan pergi membeli es krim, sedang kan Vivi dan Liona duduk menunggu Revan.
Semakin hari Vivi semakin menempel saja pada Liona. Bahkan Vivi tak segan memperkenalkan Liona sebagai calon Mamihnya pada teman-temannya.
" Onty, sebentar lagi kan Vivi ulang tahun. Vivi mau minta hadiah dari onty boleh?" Tanya Vivi duduk di pangkuan Liona.
" Boleh dong sayang, memangnya Vivi mau minta hadiah apa dari aunty?"
" Ada deh, pokoknya nanti Vivi akan minta pada saat ulang tahun Vivi." Ucap Vivi tersenyum menatap Liona.
Liona mencium gemas pipi tembem Vivi, " Apapun untuk Vivi."
Revan datang dengan membawa tiga cup es krim. Ia memberikan satu pada Vivi dan satunya lagi pada Liona.
Liona menerima es krim yang dibelikan oleh Revan. Ia menatap es krim coklat ditangannya. Liona teringat saat- saat dimana dia dulu sering merengek minta dibelikan es krim coklat.
Jika orang tuanya tidak mau membelikan es krim untuknya, maka ia akan meminta pada kakaknya. Dan apapun keinginannya akan dituruti oleh sang kakak. Walaupun pada akhirnya ia dimarahi oleh kedua orang tuanya karena terlalu memanjakan adik perempuannya.
" Ona." Panggil Revan menepuk bahu Liona yang terlihat sedang melamun.
" Eh, iya. Kenapa?"
" Es krim kamu meleleh kalau terus diliatin gitu." Ujar Revan menatap es krim Liona yang hampir mencair.
Ya, Revan telah mengatur strategi untuk bisa membuat hati Liona luluh. Jika ia belum bisa menjadi orang yang spesial untuk Liona, Revan akan membuat Liona merasa nyaman terlebih dulu jika bersamanya. Seperti melakukan hal- hal kecil yang sering ia dapatkan dulu.
Sedikit banyaknya Revan tau tentang Liona yang dulu. Karena saat ia masih menetap di negara ini dan masih berkumpul dengan almarhum Leon, Leon sering menceritakan tentang hal-hal yang disukai dan tidak disukai adik kesayangannya.
Dan untuk panggilannya, Revan akan memanggil Liona dengan panggilan yang sama seperti saat Leon memanggilnya. Memberikannya kasih sayang dan perhatian yang pernah hilang dari hidupnya.
Setelah Vivi mendapatkan apa yang ia inginkan. Vivi mengajak Revan dan Liona untuk pulang. Pulang kerumah Vivi, karena Vivi mengatakan ingin belajar bersama onty baiknya.
Liona mengajari Vivi sesuai dengan keinginan gadis kecil itu. Liona bingung dengan dirinya sendiri, entah kenapa ia sangat menyayangi Vivi dan tak ingin dipisahkan dengan anak kecil itu. Liona merasa seperti ada ikatan diantara ia dan Vivi. Jika Liona sedang kesal atau emosi, dengan melihat wajah cantik Vivi dan memeluknya. Seketika kesal dan emosinya hilang begitu saja.
Tak terasa hari sudah semakin gelap, tapi Vivi masih tak mengijinkan Liona untuk pulang. Ia ingin Lion menemaninya tidur , dan membacakan dongwng untuknya.
" Vivi sayang, ini sudah malam loh. Biarin onty baik pulang dulu ya, besok Vivi kan masih bisa ketemu sama onty." Bujuk Revan mengelus kepala putrinya.
" Enggak mau." Tolak Vivi sambil memeluk erat leher Liona.
" Tapi say-"
Liona mendudukkan Vivi di ranjang , " Vivi mau dibacain dongeng apa?" Tanya Liona menghidupkan ponselnya hendak mencari sebuah dongeng.
" Hm, enggak deh onty . Vivi mau bobok sambil dipeluk aja sama onty," Ucap Vivi membenarkan posisi tidurnya.
Liona pun menuruti keinginan Vivi, untuk tidur sambil dipeluk olehnya. Ia menggunakan tangannya sebagai bantal untuk Vivi. Dan satu tangannya mengusap-usap kepala Vivi.
Revan yang sejak tadi berdiri di ambang pintu tersenyum. Ia sangat bahagia melihat Liona begitu menyayangi putrinya. Walaupun Liona kadang masih bersikap dingin padanya, tapi jika pada Vivi sikapnya akan begitu hangat dan penuh kasih sayang.
"Vivi, kamu itu bagaikan jembatan jodoh untuk papih. " Gumam Revan dalam hati, lalu pergi dari kamar Vivi.
Sudah tiga jam Revan berada di ruang tv, ia terus menatap pintu kamar putrinya. Tidak ada tanda-tanda pintu terbuka dan orang keluar dari sana.
Ia pun berniat untuk melihat kedalam kamar, dan saat ia membuka pintu dan pandangannya tertuju pada ranjang. Ia melihat pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Vivi dan Liona tidur saling berpelukan, terlihat wajah tenang dari keduanya . Revan menunduk mencium kening putrinya. Lalu pandangannya tertuju menatap wajah cantik Liona. Bahkan Liona terlihat seperti sedang tersenyum.
Revan tersenyum, lalu mencium lama kening Liona. Ia mengusap kepala wanitanya, setelah itu pandangannya teralihkan oleh bibir Liona yang terlihat menggoda dimata Revan.
" Bibir ini, bibir yang selalu mengeluarkan kata-kata dingin dan tegas." Gumam Revan pelan sembali mengusap bibir Liona.
Cup.
Revan mengecup bibir Liona, ia mencuri ciuman pada Liona yang sedang tertidur. Tapi jika Liona terbangun, Revan tidak akan bisa dapat mencium bibirnya. Ia pasti akan mendapat pukulan maut dari Liona.
Revan menyelimuti keduanya, dan segera keluar dari kamar Vivi.
*
*
Pagi harinya Liona terbangun ditempat asing, ia menatap kamar yang bernuansa pink. Dan ia yakin ini adalah kamar seoarang anak perempuan. Lalu tatapannya teralihkan oleh seseorang yang menggeliat di sebelahnya.
Lalu Liina tersenyum, sekarang ia ingat jika sedang berada dikamar Vivi, ia tertidur saat menemani Vivi tidur. " Pagi Vivi sayang." Ucap Liona saat melihat Vivi membuka matanya.
Vivi tersenyum dan menatap Liona yang juga tersenyum padanya. " Onty, Vivi pengen deh rasanya tiap hari kayak gini. Tidur bareng onty terus hal pertama yang Vivi lihat saat bangun itu, wajah cantiknya onty." Tutur Vivi sembari memeluk Liona.
" Kalau Vivi mau setiap pagi terbangun dengan melihat wajah cantik onty. Maka Vivi harus minta onty untuk jadi mamihnya Vivi." Ucap Revan melangkah memasuki kamar.
Liona menatap tajam Revan, tapi Revan seolah tak memperdulikan tatapan tajam Liona.
" Vivi sekarang kamu mandi ya, biar papih yang siapkan pakaiannya." Ucap Revan mengusap wajah putrinya.
" Oke papih!"
Setelah Vivi masuk kekamar mandi, Revan segera menyiapkan pakaian untuk Vivi. Ia melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri dengan telaten.
Liona terus memperhatikan apa yang dilakukan Revan. Dan ada rasa kagum di benaknya pada Revan. Ia bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Vivi.