Liona Cassandra

Liona Cassandra
bab 32



Sesuai yang diucapakan Liona tadi pagi pada sang kakek. Bahwa ia akan datang bersama Vivi, dan kini ketiganya sedang dalam perjalanan kerumah sakit. Sebenarnya Liona hanya mengajak Vivi, namun papihnya memaksa ingin ikut. Mau tak mau Liona pun mengajak Revan dengan perasaan dongkol. Karena ia tak mau mendengar rengekan dari Revan terus menerus.


 Pria dewasa yang berstatus duda anak satu merengek? Sungguh membuat siapapun yang melihatnya akan berfikir, kalau Revan hanya luarnya saja yang tua. Namun didalamnya sama seperti anak kecil. Begitulah kira-kira.


" Bagaimana keadaan kakek sekarang?" Tanya Liona berjalan masuk mendekati brankar kakeknya.


" Kakek sudah baikan, kakek sudah bosan berada disini." Jawab kakek Rafi mengeluh.


" Kata dokter, dia akan memeriksa keadaan kakek sebentar lagi. Dan jika kondisi kakek sudah dinyatakan baik, maka besik sudah boleh pulang." Jelas Liona.


" Hai kakek!" Sapa Vivi berdiri disebelah Liona.


" Hai juga cucu buyut."


Vivi naik keatas brankar kakek Rafi dengan dibantu Liona. Dan dia duduk disana dan berbincang dengan kakek Rafi.


Sedangkan Liona duduk disofa bersama mama Karin. Dan Revan masih berasda di parkiran, karena ia sedang mendapat telpon dari asistennya mengenai keberangkatannya keParis.


" Wajah kamu kok ditekuk gitu Ona?" Tanya mama Karin memperhatikan wajah sang putri.


" Aku lagi kesel ma."


" Kesel sama siapa?"


" Siapa lagi kalau bukan calon mantu mama!" Ketus Liona menghentak-hentakkan kakinya dilantai.


" Memangnya apa yang dia perbuat sampai buat kamu kesel gitu?"


" Jadi gini, aku tuh memang sudah kesel sama dia sejak dari rumahnya. Dan keselku jadi bertambah saat dia tiba-tiba bilang kalau akan berangkat keParis besok." Jelas Liona dengan lesu.


" Aduh-aduh, kasihannya yang mau ditinggal pergi." Ejek mama Karin mencubit pipi anaknya.


" Ck, mama ih!" Liona berdecak kesal. Bukannyaendapat semangat, malah ejekan yang ia dapat dari mamanya.


Revan masuk keruang rawat kakek Rafi, dan langsung ikut duduk disofa bersama Liona.


" Maaf ya Na, sebenarnya keberangkatan aku masih satu minggu lagi. Tapi karena sesuatu hal penting, jadinya dimajuin keberangkatan aku jadi besok." Revan memberi pengertian sebari mengusap kepala Liona.


" Berapa lama kamu dosana?" Tanya Liona sambil mendekat pada Revan dan memeluknya. Ia tak perduli jika jadi tontonan keluarganya disana. Ia sekarang hanya ingin bermanja dengan kekasihnya dulu sebelum pergi.


" Tiga atau empat minggu." Jawab Revan mengelus kepala Liona yang bersandar didadanya. Ia sangat suka jika Liona sedang dalam mode manja seperti ini padanya.


" Ish, lama banget!" Protes Liona membuat Revan tersenyum senang. Itu artinya, Liona tak bisa berada jauh terlalu lama darinya.


" Dasar! Belum juga menikah sudah seperti ini. Bagaiman kalau menikah nanti, pasti Revan nggak akan diizinkan keluar rumah olehnya." Cibir mama Karin baru keluar dari kamar mandi.


" Mama sih, nggak tau gimana rasanya!" Ketus Liona. " Ikut!" Rengeknya naik kepangkuan Revan dan duduk disana.


" Ona turun! Nggak tau tempat banget!" Bentak mama Karin, namun tak digubris sama sekali oleh putrinya.


Ia hendak mendekati Liona, namun tangannya ditahan oleh sang mertua." Biarkan saja Karin, lebih baik kamu temani papa dan Vivi jalan-jalan ditaman. Papa suntuk disini terus." Ucap kakek Rafi dan diangguki mama Karin


Mama Karin pun segera mengajak mertua dan cucunya keluar. Ia rasanya tak sanggup jika melihat kelakuan anaknya lagi.


" Gimana kalau kita nikahnya sekarang saja." Ajak Revan membuat Liona turun dari pangkuannya dan berdiri dihadapannya sambil berkacak pinggang.


" Kamu kira nikah itu hanya sebatas kata sah saja hah!" Ketus Liona dalam mode galaknya.


" Baru juga tadi jadi kucing imut, sekarang sudah jadi singa betina." Gumam Revan, namun masih dapat didengar oleh Liona.


" Kamu bicara apa tadi?"


" Aku bilang kamu cantik sayang."


" Bohong!"


" Nggak kok." Revan menarik tangan Liona, dan membuatnya kembali terduduk dipangkuannya.


" Gimana kalau nanti kamu bertrmu dengan wanita yang pintar menggoda disana? Dan kamu tergoda dengannya? Lalu gimana nabis aku, kamu pasti akan ninggalin aku." Liona bermonolog sendiri.


" Sadar mesum!"


" Sudahlah, jangan fikirkan sesuatu yang tidak akan terjadi." Ujar Revan mengelus pipi sang kekasih.


Sore menjelang malam, ketiganya pulang. Dan mama Karin menginap dirumah sakit. " Vi, mulai besok kamu tinggal dirumah mamaih ya." Ujar Revan.


" Papih jadi besok berangkatnya?"


" Iya sayang."


" Oke Vivi akan tinggal sama mamih. Vivi juga kangen pengen bobok sambil dipeluk sama mamih."


" Papih juga kangen." Ucap Revan dan langsung mendapat tatapan tajam dari Liona. " Tapi papih minta maaf ya, ulang tahun kamu nanti papih nggak ada." Sambung Revan memberi pengertian.


" Iya nggak pa-pa pih, kan udah ada mamih." Ucap Vivi senang.


" Kayaknya nanti kalau papih sama mamih udah nikah, kamu cuma akan sayang sama mamih aja. Papih nggak akan disayang lagi sama Vivi." Ujar Revan pura-pura sedih.


" Nggak kok, Vivi tetap jadi papih terbaik." Ucap Vivi yang faham akan kecemburuan papihnya. Ia memeluk Revan dari belakang.


" Vi, jangan kayak gitu. Papih lagi nyetir." Liona memperingati.


" Iya mih."


*


*


Liona mengantar Revan sampai bandara, ia hanya mengantarnya sendiri. Karena Vivi bersekolah, dan Dio menjemput kakek Rafi dari rumah sakit.


" Aku berangkat ya sayang." Ucap Revan mengecup singkat dahi Liona.


" Bisa tunda satu jam lagi nggak." Tawar Liona, ia masih enggan untuk melepas pelukannya.


" Nggak bisa sayang, cuma tiga minggu kok. Setelah itu, kita akan bertemu dan melangsungkan pernikahan." Revan memberi pengertian.


" Ya udah, kamu hati-hati. Jaga mata dan hati." Liona memeperingatkan sembari melepas pelukannya.


" Baik mamih Ona sayang. Aku pergi ya." Ujar Revan mengusap singkat kepala Liona, lalu pergi.


Liona menatap kepergian Revan dengan mata berkaca-kaca. " Kenapa aku jadi mewek gini, padahal Revan kan pergi buat kerja, bukan mau perang." Ucap Liona bermonolog sendiri.


Brukk.


Saat Liona berbalik, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya. " Maaf nona, aku tak sengaja." Ucapnya.


Liona menatap anak kecil itu, dan.." Arnav!" Pekik Liona memperhatikan Arnav dari atas sampai bawah.


" Eh, nona cantik."


" Panggil aunty Liona saja Arnav."


" Oke, aunty Liona. Sedang apa kau disini?" Tanya Arnav.


" Aku mengantar uncle Revan, dia pergi keParis."


" Ohh." Arnav mengangguk faham. " Aku pergi dulu ya aunty, bye." Arnav pergi meninggalkan Liona saat mendengar seseorang memanggilnya.


Liona geleng-geleng kepala melihat kepergian Arnav, " Ada-ada saja." Gumamnya.


Liona memasuki mobil mewahnya, ia melajukannya keluar dari area bandara. " Halo Dio, apa kakek sudah dirumah?" Tanya Liona saat panggilan tersambung.


" Sudah nona,"


" Baik, aku akan segera pulang. Kau tunggu aku dirumah, kita berangkat kenator bersama."


" Baik nona."