Liona Cassandra

Liona Cassandra
eps 19



Revan dan Liona berdiri didepan pintu ruangan Mama Karin. Pandangan mereka tertuju pada Vivi dan Mama Karin yang sedang bercanda. Bahkan sesekali Mama Karin dibuat tertawa dengan tingkah Vivi.


" Kamu lihat sendiri kan Na, bukan pembalasan dendam yang dapat menyembuhkan tante Karin. Tapi kasih sayang yang dapat membuatnya kembali sehat." Ucap Revan menoleh pada Liona yang ada di sebelahnya.


" Iya, kamu benar Van."


Liona melangkah masuk dan langsung berhambur memeluk Mama Karin. Ia kembali menangis dalam pelukan Mamanya. " Maafin Ona Ma, Ona belum bisa buat Mama bahagia." Ucap Liona disela tangisnya.


Mama Karin bingung dengan perlakuan Liona, ia menatap Revan yang berdiri tak jauh darinya. Mama Karin menautkan kedua alisnya seolah bertanya " Kenapa?". Revan hanya menanggapi dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mama Karin tentu paham dengan apa yang dimaksud Revan. Ia membalas pelukan Liona dan mengusap punggung putrinya yang bergetar karena menangis.


" Mama udah Maafin kamu Ona, seorang Mama pasti akan selalu memaafkan kesalahan anak-anaknya. Dan akan membimbingnya menjadi orang yang lebih baik lagi." Tutur Mama Karin.


" O-Ona sayang Mama." Ucap Liona sesegukan.


" Hua, Mamih!" Vivi ikut menangis dan ikut memeluk Mama Karin.


" Eh," Revan bingung menatap putrinya yang ikut-ikutan menangis. " Vivi sama Papih dulu ya." Ujar Revan hendak menyentuh tangan Vivi, namun ditepis oleh Vivi.


" Enggak mau! Hua, Mamih..." Tolak Vivi semakin mengencangkan tangisnya.


Liona melepas pelukannya dengan Mama Karin, lalu beralih memeluk Vivi dan mendudukkannya dipangkuannya. " Vivi kenapa nangis?" Tanya Liona sembari menghapus air mata Vivi.


" Vivi nangis karena tadi Mamih sana Oma nangis," Sahut Vivi tanpa melepas pelukannya dari Liona.


" Mamih sama Oma tadi nangis karena bahagia sayang." Liona memberi pengertian sembari mengelus kepala Vivi.


Vivi melepas pelukannya, dan ia turun dari pangkuan Liona. Ia berdiri dihadapan Liona sambil berkacak pinggang." Oh, berarti tadi Vivi salah paham?!" Tanya Vivi dengan nada kesal, serta wajahnya yang ditekuk.


" Iya sayang."


" Mamih salah dalam mengekspresikan sesuatu, kalau lagi bahagia itu tertawa bukan nangis!" Ucap Vivi menyalahkan Liona dengan nada kesal untuk menyembunyikan rasa malunya.


Liona melihat jelas semburat merah dipipi Vivi, ia tahu jika saat ini Vivi tengah malu. Namun ia menyembunyikannya dengan menyalahkan dirinya. " Iya, iya. Mamih salah, maafin Mamih ya." Ujar Liona berusaha menahan tawanya, lalu berjongkok didepan Vivi.


" Oh iya, tadi kan Mamih janji mau kasih Vivi hadiah. Vivi mau hadiah apa dari Mamih?" Liona membujuk Vivi agar tak merajuk lagi.


" Vivi nggak mau hadiah!" Ketus Vivi memalingkan wajahnya kesamping.


Liona jadi ingat, dulu saat dirinya kecil juga sama seperti Vivi. Jika sedang malu, ia akan menyalahkan orang lain. Dan akan merajuk karena hal sepele.


Liona menghela nafas, " Kok Vivi bicaranya gitu sih? Kalau Vivi nggak mau hadiah, terus Vivi maunya apa?" Tanya Liona masih berusaha membujuk Vivi.


" Nggak mau apa-apa!" Sahut Vivi masih dengan nada ketusnya.


" Ya udah deh, kalau Vivi nggak mau apa-apa. Lebih baik Mamih pergi aja, buat apa Mamih disini kalau Vivi merajuk sama Mamih." Ujar Liona dengan nada sedih dan beranjak dari tempatnya.


" Tunggu! " Vivi menghentikan langkah Liona. " Vivi nggak mau Mamih pergi," Imbuhnya lirih.


" Mamih disini kamu merajuk, giliran Mamih mau pergi kamu larang. Apa sih maunya Vivi?" Tanya Liona pura-pura kesal.


Vivi melangkah mendekat kearah Liona, lalu ia memeluk kaki Liona. " Maaf, Vivi nggak mau Mamih pergi. Vivi baru sebentar merasakan kasih sayang Mamih. Vivi janji nggak akan merajuk lagi." Lirih Vivi sambil menangis.


Liona tersenyum, lalu ia berjongkok. Menangkup kedua pipi Vivi, dan mencium keningnya. " Janji nggak akan merajuk lagi?" Tanya Liona menunjukkan kelingkingnya.


*


*


Sudah satu bulan drama yang Vivi lakukan berakhir. Kini berlanjut dengan rengekan Mama Karin yang ingin berziarah kemakam Papa Arya dan Leon. Bukan Liona tak mau mengantar sang Mama. Namun ia takut jika mental Mamanya masih belum cukup kuat.


Ia takut Sang Mama akan histeris lagi, Liona tak mau Mama Karin kembali mengalami depresi. Setelah kemarin ia divonis sembuh meski belum sepenuhnya. Mama Karin bisa histeris lagi, jika ada sesuatu yang ia fikirkan secara berlebihan.


" Pokoknya sebelum pulang kerumah, Mama mau kemakam Papa sama Leon dulu!" Kekeh Mama Karin.


Hari ini Mama Karin sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun ia masih harus rutin melakukan terapi psikis.


" Mama yakin, diri Mama udah bisa nerima kenyataan ini?" Tanya Liona untuk kesekian kalinya.


" Kamu itu kalau dikasih tau ngeyel banget! Sudah berapa kali Mama bilang, kalau Mama udah yakinin diri Mama!" Sahut Mama Karin dengan kesal.


Liona menghela nafas panjang," Ya udah, sebelum pulang Ona akan antar Mama kesana." Ujar Liona mengalah. Ia tak mau membuat sang Mama berfikir yang tidak -tidak, jika ia tak mau mengantarnya.


Akhirnya mobil yang ditumpangi Liona dan Mama Karin sampai diarea pemakaman. Dengan diantar oleh sang assisten Dio. Sebelum masuk, Liona kembali bertanya dengan sang Mama. Hingga membuat sang Mama geram dengannya.


" Ayo Ona, kamu mau Mama tersesat disini. " Ajak Mama Karin saat ia melihat Liona hanya diam saja. Mama Karin memang tidak tahu dimana letak makam suami dan anaknya. Sebab saat hari pemakaman psikis Mama Karin sedang tidak baik-baik saja, dan harus mendapatkan perawatan khusus.


" Iya!" Liona berjalan medahului Mamanya dengan sesekali menghentak-hentakkan kakinya ketanah. Dan jangan lupakan wajahnya yang ditekuk. Jika orang lain melihatnya, mereka pasti tidak akan mengenali jika itu adalah Liona Cassandra pemilik CASSA GROUP.


Dio yang sejak tadi menyaksikannya, hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan nonanya. Wanita yang biasanya terlihat garang, kini berubah jadi kucing penurut saat bersama sang Mama. Tapi disisi lain ia merasa sangat bahagia, karena nonanya sudah berubah. Walaupun masih agak suka marah-marah. Tapi itu wajar, karena tidak ada orang yang akan berubah secepat membalikkan telapak tangan. Semuanya butuh proses, apalagi mengingat bagaimana sifat Liona sebelumnya. Ia harus bisa merubah kebiasaan buruknya dengan kebiasaan barunya.


" Kita sudah sampai Ma," Ujar Liona sembari menghentikan langkahnya tepat didepan makam sang Papa dan kakaknya.


Mama Karin langsung berjongkok diantara makam tersebut. Ia memeluk nisannya bergantian. " Pa, kak. Maafin Mama baru bisa datang kesini." Ucap Mama Karin dengan bergetar. " Selama ini Mama terlalu sibuk dengan diri Mama yang belum bisa menerima kenyataan." Imbuhnya dengan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi.


Liona mengusap punggung sang Mama yang bergetar, ia berusaha untuk tak mengeluarkan tangisnya. Ia harus kuat disaat sang Mama sedang rapuh seperti ini. " Udah Ma, Papa sama kak Leon udah tenang disana." Liona menenangkan Mama Karin yang masih menangis.


Sudah dua jam lamanya Liona menemani Mama Karin berada di pemakam. Sampai akhirnya sang Mama memutuskan untuk mengajaknya pulang.


" Pa, kak. Lain kali Mama akan datang kesini lagi. Sekarang Mama sama Ona pulang dulu." Ujar Mama Karin sembari memeluk nisan suami dan anaknya bergantian.


Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari area makam. Menuju kesebuah mobil mewah yang terparkir dengan seorang pria yang berdiri disamping mobil. " Sudah selesai Nyonya?" Tanya Dio melihat sang Nyonya dan Nonanya datang.


" Sudah."


Dio membukakan pintu untuk Mama Karin, dan untuk Liona, dia sudah membuka pintunya sendiri. " Kita langsung kerumah atau mau mampir ketempat lain dulu?" Tanya Dio saat sudah menjalankan mobilnya.


" Langsung pulang saja Dio, saya capek mau istirahat." Sahut Liona sambil menggerakkan kepalanya.


" Kamu bisa capek juga, Mama Kira kamu nggak ada capeknya. " Ucap Mama Karin mengejek Liona.


" Ish Mama, Ona lagi capek. Nggak mau debat sama Mama!" Ujar Liona kesal, sembari menjatuhkan kepalanya dipangkuan sang Mama.


Mama karin tersenyum melihat putrinya, ia mengelus kepala Liona dengan sayang. Dan tak berselang lama sudah terdengar suara dengkuran halus dari Liona.