Liona Cassandra

Liona Cassandra
bab 29



" Kemana aja kok lama banget?" Tanya Liona saat Revan masuk kedalam mobil.


" Mau aku kemana aja kamu nggak akan perduli juga. " Sahut Revan tanpa melirik Liona, ia fokus melajukan mobilnya.


" Kok ngomongnya gitu."


" Kan kenyataannya memang gitu, tadi aja kamu ninggalin aku ditoko buah. Itu sudah pertanda kalau kamu nggak perduli sama aku."


Liona menghela nafas pelan," Ya, aku memang nggak perduli sama kamu. Tapi aku takut kalau nanti pas aku pulang dia nanya dimana papihnya saat aku pulang nggak sama kamu." Ujar Liona santai.


Revan yang tadinya ingin memancing Liona, kini malah dia yang terpancing dengan omongannya sendiri. Ia mulai tersulut emosi, hingga tanpa sadar melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


" Revan stop!" Teriak Liona sambil berpegangan erat pada sealbeth. " Revan, aku nggak mau mati sekarang! Aku belum nikah!" Teriak Liona lgi karena teriakan ia sebelumnya tak digubris Revan. Namun Revan masih tak menghiraukan teriakannya.


" Tuhan tolong selamatkan aku, aku tidak mau mati muda. Buatlah calon suamiku ini menghentikan mobilnya. Jangan buat Vivi jadi anak yatim piatu. Dan jangan jadikan aku janda sebelum menikah." Ucap Liona merapalkan doa sembari memejamkan kedua matanya.


Revan yang mendengar itu langsung merasa bersalah. Ia terlalu mengikuti emosinya. " Kenapa aku jadi seperti abg labil begini. Eh, tapi apa tadi janda sebelum menikah? Berarti aku dong yang mati. Nggak, aku nggak rela Liona jadi milik orang lain! " Gumamnya dalam hati. Lalu ia menepikan mobilnya disebuah jalanan yang menurutnya aman.


Liona membuka matanya saat merasakan mobil berhenti dan seseorang mengecup pipinya. Ia membuka mata, hal pertama ia lihat adalah wajah sang kekasih yang menampilkan senyum manisnya. Tanpa banyak kata, Liona langsung berhambur memeluk Revan. " Jangan seperti itu lagi, aku takut. Aku minta maaf untuk yang ditoko tadi." Lirih Liona dengan air mata yang sudah mengalir.


Hati Revan berdenyut melihat wanita yang ia cintai menangis karena ulahnya. Ia mengelus rambut panjang Liona dan memberikan kecupan dikeningnya. " Maaf sayang, ini salahku. Aku saja yang terlalu baperan tadi, dan seharusnya aku nggak ngelakuin ini sama kamu. Maafkan aku sayang." Ucap Revan penuh rasa bersalah.


Liona melepas pelukannya, make up yang ia gunakan sudah luntur karena terus menangis. " Wa-walupun dulu aku suka bawa mobil dengan kecepatan tinggi, itu aku lakukan karena aku belum menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Da-dan sekarang aku takut, takut nggak bisa bersama kalian lagi." Tutur Liona sesegukan dan kembali meneteskan air matanya.


Revan sangat menyesal telah membuat Liona jadi sperti ini. Ia menghapus air mata Liona yang membasahi pipi." Sekali lagi aku minta maaf sayang." Lirih Revan tulus.


" Janji nggak akan kayak gitu lagi ya."


" Iya aku janji. Dan jika aku melanggarnya, kamu boleh menghukumku." Ujar Revan yakin, lalu mengecup kedua mata Liona bergantian.


Lama keduanya berada didalam mobil. Hingga matahari sudah tak menampakkan dirinya lagi." Sayang, kamu jadi mau kerumah sakit?" Tanya Revan dengan terus mengelus kepala Liona yang memeluknya sejak tadi.


" Jadi, tapi tunggu sebentar lagi. Aku masih nyaman." Jawabnya masih tetap memeluk tubuh Revan, bahkan ia sudah menyandarkan kepalanya didada bidang Revan.


" Sayang."


" Hem."


" Nikah yuk!"


" Kapan?"


" Besok."


Auws.


Revan meringis saat mendapat cubitan maut diperutnya. " Sakit." Rengek Revan.


" Makanya kalau bicara itu difikir dulu. Kamu kira pernikahan itu mainan apa. Semuanya perlu persiapan, dan lagi pula kamu juga belum minta restu ke papa, kak Leon dan kakek."Tegas Liona menceramahi. Sudah tak ada lagi kesedihan diwajahnya. Ia sudah kembali dalam good mood.


" Maksud aku kan baik, biar kamu bisa mendapatkan kenyaman pelukanku setiap hari."


" Iya, tapi nggak harus besik juga nikahnya."


" Terus kapan dong?"


" Dapatkan restu kakek dulu, baru kita tentukan tanggalnya." Ujar Liona dan langsung mendapatkan pelukan erat dari Revan. " Van. Aku susah nafas." Ucapnya lagi.


Revan langsung melepas pelukannya, tadi ia refleks karena bahagia. " Maaf sayang." Ucapnya lalu mengecup bibir Liona sekilas.


" Ihh, main nyosor aja deh!" Kesal Liona." Ayo kita cepat kerumah sakit, katanya biar cepat dapat restu."


Tanpa fikir panjang Revan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak berselang lama, keduanya pun sampai diarea rumah sakit. Karena memang mereka tadi berada tak jauh dari rumah sakit.


" Silahkan turun tuan putri." Ujar Revan membuka pintu untuk Liona.


" Terima kasih."


Revan menggandeng tangan Liona, ia merasakan telapak tangan kekasihnya itu agak dingin." Apa kamu gugup?" Tanyanya dan mendapat anggukan dari Liona.


Liona menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum tulus pada Revan. " Terima kasih, dan sepertinya setelah hari ini aku akan selalu bergantung padamu." Ujar Liona mengusap pipi Revan yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


" Itulah gunanya aku sayang, selalu menjadi gantungan yang kuat untuk kamu."


Setelah Liona tak merasakan gugup lagi, mereka pun memutuskan masuk. Dan langsung menuju ruang rawat kakek Rafi. Liona sudah tau dimana ruang rawat sang kakek tanpa harus bertanya dulu. Karena kerjaan asisten setianya yang selalu bisa memberikan informasi secara detail.


Tok.. Tok..


Revan mengetuk pintu, dan nampaklah seorang pria paruh baya yang membukanya. Dan terlihat jelas dari pakaian yang ia kenakan kalau dia adalah seorang sopir. " Bisa kami bertemu dengan kakek Rafi." Tanya Revan sopan.


Pria itu memperhatikan Revan dan Liona bergantian. Lalu akhirnya ia mengizinkan keduanya untuk masuk.


" Selamat malam kek, apa kabar?" Sapa Liona mencium punggung tangan sang kakek dan diikuti oleh Revan.


" Apa kau kesini ingin mengejekku?" Tanya kakek Rafi memalingkan wajahnya kesamping.


" Tidak ada seorang cucu yang akan mengejek kakeknya saat sedang kesulitan. Justru sebaliknya, mereka akan membantunya." Ujar Liona tulus, tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya.


" Untuk apa kau datang kesini?" Tanya kakek Rafi sinis.


" Aku akan merawat kakek hingga sembuh. Dan kakek akan tinggal dirumahku dan mama."


" Tidak perlu. Aku tidak punya apapun lagi yang bisa kuberikan padamu."


" Kakek masih punya satu hal yang bisa diberikan padaku."


" Apa?"


" Kasih sayang kakek untuk cucunya."


Deg.


Kakek Rafi terenyuh dengan kata-kata Liona. Ia menangis, dirinya memang seorang kakek yang bodoh. Menyia-nyiakan cucu sebaik Liona, dan memilih memelihara ular berbisa. Selarang ia merasa tak pantas untuk mendapat perhatian dari Liona. Setelah apa yang telah ia lakukan. Dia lebih percaya anak dan memantunya yang tak tau diri itu jika Liona bukanlah cucu kandungnya.


Namun ia baru tau yang sebenarnya setelah mendengar sendiri dari mulut sang anak. Kalau Liona adalah cucu kandungnya. Mereka membodohi kakek Rafi selama ini, agar bisa mengalihkan seluruh aset warisan dari kakek Rafi.


" Aku tak layak menjadi kakekmu nak." Lirih kakek Rafi disela tangisnya.


" Enggak, kakek adalah kakek terbaik. Selama ini kakek hanya dijadikan boneka oleh mereka. Kakek tak tau apa-apa, kakek hanya diperbudak." Ucap Liona memeluk tubuh sang kakek.


" Maafkan kakekmu ini Liona." Ujar kakek Rafi melepas pelukannya.


" Tanpa kakek meminta maafpun, aku sudah memafkannya. Karena kakek memang tak bersalah." Ucap Liona tulus.


" Apa sudah selesai acara maaf-maafannya?" Tanya Revan yang sejak tadi hanya diam dan sepwrtinya tak dianggap kehadirannya oleh sepasang kakek dan cucu itu.


Kake Rafi melirik Revan dan Liona bergantian. Seolah bertanya siapa itu.


" Perkenalkan kek, ini Revan. Calon suamiku." Ucap Liona tanpa ragu.


" Iya kek, tujuanku datang kesini selain menjengukmu, aku juga ingin meminta restumu agar bisa segera meminang cucu cantikmu ini." Ujar Revan menatap Liona yang terlihat malu-malu didepan kakeknya.


" Wah, ternyata cucu kakek sudah besar sekarang. Dan akan menjadi milik orang lain. Kakek akan merestui apapun yang terbaik untuk cucu cantik kakek ini." Ucap Kakek Rafi sembari mengenggam tangan Revan dan Liona lalu menyatukannya." Kakek merestui kalian." Imbuhnya dan membuat dua insan yang akan segera menikah itu memeluknya.


" Kakek tak mau membuat kesalahan yang sama lagi Ona. Cukup sekali kakek melakukannya padamu dan mamamu. Kakek sangat menyesal." Gumam kakek Rafi dalam hati.


*


*


*


CIE CIE YANG SUDAH DAPAT RESTU NIH YE..


LANGSUNG GASKEUN...