Liona Cassandra

Liona Cassandra
eps 6



Liona mengendarai mobilnya sendiri, menuju perusahaan. setelah sampai, Liona memmasuki area perkantoran. Dia berjalan lurus tanpa memperdulikan orang-orang yang memberikannya hormat.


" Sombong sekali dia!" Cibir salah satu karyawan.


" Hei kamu! " Tegur salah satu karyawan lainnya. " Jangan bicara sembarangan, kalau sampai Nona Liona tau. Kamu pasti akan langsung dipecat ," Ucapnya memperingati.


Liona duduk dikursi kebesarannya, membuka laptop dan memeriksa beberapa file. ia terus berkutat dengan pekerjaannya, bahkan sampai melewatkan jam makan siang.


" Astaga!" Pekik Liona. " Kenapa bisa lupa sih!" Gerutu Liona. Ia langsung menyambar jasnya, dan melangkah pergi.


Liona baru teringat jika dia ada pertemuan siang ini, biasanya ada Dio yang selalu mengingatkannya. Karena terlalu sibuk memeriksa file ia sampai melupakan semuanya.


Liona melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan untungnya jalanan siang ini tidak terlalu ramai. Sesampainya di kafe, Liona langsung mencari keberadaan kliennya.


Dan tatapannya tertuju pada sosok pria yang duduk di meja yang ada dipojokan.


" Maaf saya terlambat," Ucap Liona duduk di hadapan pria itu.


Pria itu mendongak, menatap seseorang yang duduk dihadapannya. Orang yang sejak tadi ia tunggu.


" Anda terlambat tiga puluh menit Nona," Ucap pria itu memperhatikan Liona. " Tapi tak apa," Ujarnya Lagi.


" Perkenalkan saya Liona, Liona Cassandra. Pemilik CASSA GROUP . " Ucap Liona datar mengulurkan tangannya.


" Revan Adrian," Ucap Revan menerima uluran tangan Liona.


" Baik, Kita langsung mulai saja Tuan Revan." Ucap Liona datar.


Liona dan Revan mulai membahas pekerjaannya, tampak keseriusan dari keduanya. Sampai, keduanya terhenti saat mendengar sesuatu.


Kriyukk.


Keduanya saling pandang. " Apa anda belum makan siang Nona?" Tanya Revan.


Ia yakin jika suara itu berasal dari perut Liona.


" Belum," Sahut Liona datar menyembunyikan rasa malunya.


Revan tersenyum menatap Liona , lalu melambaikan tangannya pada pelayan. Dan memesan makanan untuk Liona.


" Kenapa harus berbunyi sih! Buat malu saja." Batin Liona menggerutu.


Karena untuk pertama kalinya seorang Liona merasa malu pada seseorang, bahkan lebih tepatnya adalah kliennya.


" Permisi Tuan, Nona. Ini pesanannya," Ucap pelayan datang membawa nampan berisi makanan.


" Sebaiknya anda makan dulu, setelah itu baru dilanjut pembahasannya." Ujar Revan


" Baik, maaf mengganggu waktunya."


Liona melahap makanannya dengan tergesa,karena ia memang merasa sangat lapar sejak tadi. Tapi ia harus tetap bersikap profesional.


Revan terus memperhatikan Liona, " Menarik." Batin Revan.


" Tolong jaga sikap anda Tuan Revan," Ucap Liona datar.


Liona merasa risih sejak tadi di perhatikan oleh Revan. Sejak ia mulai makan sampai selesai, Revan terus memperhatikannya dan sesekali tersenyum.


" Maaf Nona, mari kita lanjut pembahasannya." Ujar Revan menyembunyikan kegugupannya karena kepergok terus menatap Liona.


*


*


Liona memarkirkan mobilnya di garasi, hari ini dia merasa sangat lelah. Biasanya dia akan dibantu oleh asistennya Dio, tapi kini ia harus mengerjakan semuanya sendiri.


" Memang salah aku memberikan Dio cuti!" Gerutu Liona menyesali keputusannya.


Malam harinya, Liona duduk dibalkon kamar. Memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.


Liona menatap bintang- bintang dilangit, yang berkelap-kelip indah. " Ona yakin, Papa sama Kakak jadi salah satu diantara ribuan bintang dilangit." Gumam Liona tersenyum.


" Ona kangen Pa, Kak. " Lirih Liona sendu.


" Doakan Ona Pa, Kak. Agar Ona bisa membuat Mama kembali seperti dulu." Lirihnya penuh harap.


" Tapi Ona tidak akan membiarkan orang yang membuat keluarga kita hancur hidup dengan tenang!" Ucap Liona penuh dendam. " Ona juga akan terus mencari orang- orang lainnya."


Liona tau, jika Robert tidak melakukan semuanya sendiri. Tapi Liona masih belum mengetahui siapa itu, ia juga sudah menekan Robert agar buka mulut. Tapi dia tetap memilih bungkam dan menerima siksaan.


*


*


Ditempat lain, disebuah rumah mewah nampak seorang pria yang sedang memangku putri kecilnya dan sesekali bercanda.


" Pokoknya Vivi nggak mau pergi sama tante Yuni lagi." Ucap Vivi cemberut, mengingat kejadian waktu itu.


" Iya , Papih janji. Tapi maafin Papih ya," Ucap Revan mengelus rambut putrinya.


Ya , Vivi adalah anak dari Revan. Rekan bisnis Liona, Revan merupakan duda anak satu. Istrinya meninggal saat melahirkan Vivi.


Yuni dan Revan bersahabat sejak istri Revan masih hidup. Dan setelah istri Revan meninggal, Yuni secara terang-terangan mengatakan kalau dia mencintai Revan.


Tapi Revan tidak menanggapinya, ia tidak ingin gegabah dalam memilih pasangan hidupnya. Karena ia tak sendiri, ada putri kecilnya yang juga membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Dia harus benar-benar memilih wanita yang tidak hanya menerimanya saja, tapi juga putrinya.


" Iya, kali ini Vivi maafin Papih. Tapi kalau lain kali enggak." Ucap Vivi menatap Revan


" Memangnya Onty yang Vivi ceriatin itu gimana sih orangnya?" Tanya Revan


" Onty itu orangnya cantik, baik. Bukan cuma baik tapi baik banget." Sahut Vivi senang.


Revan hanya manggut-manggut mendengar penjelasan anaknya.Walaupun dia sangat penasaran dengan sosok wanita yang telah menolong putrinya.