
Dua hari telah berlalu, dan kini Dio sudah kembali bekerja. Saat ini mereka berdua ada disebuah butik langganan Liona.
" Saya pilih yang ini saja," Ucap Liona menunjuk sebuah gaun yang sederhana tapi berkesan mewah.
" Baik Nona, " Ucap pelayan toko.
" Apa kamu akan menemani saya nanti malam Dio? " Tanya Liona menatap Dio yang setia mengekorinya.
" Jika Nona ingin ditemani, maka saya akan menemani Nona." Sahut Dio
" Kamu temani saya saja," Ucap Liona
"Baik Nona."
Liona diundang oleh rekan bisnisnya, menghadiri anniversary pernikahannya. Dengan tema berpasangan, jadi mau tak mau Liona harus mengajak Dio ikut bersamanya. Agar dia tidak jadi bahan gunjingan karena datang sendiri. Walaupun semua orang tau bahwa Dio adalah assistennya, tapi setidaknya dia memiliki pasangan.
Dio memakirkan mobilnya di sebuah hotel, karena memang acaranya diadakan di hotel. Dio membukakan pintu untuk Liona, dan mereka berjalan beriringan memasuki hotel.
Di ballroom hotel sudah nampak banyak orang yang datang, kedatangan Liona dan Dio kini menjadi pusat perhatian. Banyak orang yang berbisik-bisik membicarakan Liona dan Dio. Mengatakan kalau mereka memiliki hubungan khusus, karena mereka kemana-mana selalu bersama.
Tapi Liona tak memperdulikan ucapan orang, sekarang dia hanya ingin bertemu dengan pemilik acara. Mengucapkan selamat lalu pergi.
" Selamat atas Anniversary pernikahannya Tuan Alex, dan Nyonya." Ucap Liona menyalami Alex dan istrinya.
" Terima kasih Nona Liona, sudah menyempatkan waktunya untuk datang." Ucap Alex
Dio pun memberikan ucapan selamat pada keduanya, lalu Dio meninggalkan Liona yang sedang berbincang dengan koleganya yang lain. Karena dia mendapatkan panggilan alam.
Saat Dio sudah selesai dengan urusannya, dia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri didepan pintu. " Hai sahabat lama," Ucapnya
" Revan!" Pekik Dio, lalu keduanya berpelukan.
" Ternyata aku nggak salah lihat," Ucap Revan
Tadi saat Revan hendak mengambil minuman, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya. Revan menatap sekilas pria itu, yang pergi dengan terburu-buru. Dan orang itu sangat mirip dengan sahabat lamanya Dio. Jadi ia terus mengikiti pria itu.
" Apa kabar Van?" Tanya Dio. Kini keduanya duduk di tempat yang tersedia disana.
" Baik,"
" Udah lama banget kita nggak ketemu, katanya kamu udah nikah ya." Ucap Dio
" Iya, dan aku sudah memiliki anak." Ucap Revan meneguk minumannya.
" Wah, berarti istri kamu ada disini donh sekarang?" Tanya Dio
" Enggak, istri aku udah pergi untuk selamanya. Dia mempertaruhkan nyawanya demi bisa melahirkan keturunanku."Ucap Revan sendu mengingat bagaimana perjuangan sang istri.
" Sorry Van, gue nggak tau." Dio menepuk bahu Revan.
"Iya nggak pa pa, berarti kamu kesini sama kekasih kamu dong." Ucap Revan mengalihkan pembicaraan.
" Enggak, kamu masih ingat Leon kan?" Tanya Dio
" Masih."
" Aku kesini nemenin adiknya Leon," Ucap Dio
" Ohh, terus Leon apa kabar? " Tanya Revan.
Dio menggelengkan kepalanya, " Leon sudah meninggal," Lirih Dio sendu
" Apa! Bagaimana bisa?" Revan terkejut bukan main mendengar kabar meninggalnya salah satu sahabat lamanya.
" Jadi om Arya juga jadi korban?"
Dio menganggukkan kepalanya, Dio ingat betul bagaimana kejadiannya saat itu. Dia juga ikut, tapi dia berada dimobil yang berbeda bersama Liona. ia ingat bagaimana saat mobil yang ditumpangi Leon dan Om Arya ditembaki dan menyebabkan Om Arya tewas ditempat.
Sedangkan Leon saat itu masih bernapas dan sempat menitipkan Liona pada Dio agar menjaganya. Dan setelah mengucapkan keinginannya dia ikut menghembuskan napas terakhirnya.
Kejadian itu meninggalkan sebuah bukti, dan bukti itu mengarah pada Robert. Yang menyebabkan Robert di sekap sampai saat ini oleh Liona.
Drett drett
Ponsel Dio bergetar," Halo Nona, baik saya akan segera kesana."
" Sorry Van, aku harus pergi sekarang. Nona Liona sudah mencariku." Ucap Dio lalu pergi meninggalkan Revan
Revan menegak minumannya, lalu ia ingat akan ucapan Dio sebelum pergi. " Liona, apa Liona Cassandra pemilik CASSA group yang dimaksud oleh Dio." Gumam Revan.
Jika memang benar Liona adalah orang yang sama yang dimaksud oleh Dio. Maka akan semakin mudah ia untuk mendekati Liona. Karena sejak dari awal bertemu, Revan sudah tertarik oleh sosok Liona. Walaupun ia terlihat keras diluar, tapi Revan yakin jauh didalam hatinya dia adalah seorang wanita yang baik.
Dan mengingat Liona merupakan adik dari sahabatnya dulu, Leon dulu sering bercerita tentang adikknya pada Dio dan Revan. Adik yang sangat manja dan segala keinginannya harus didapatkan, tapi Leon sangat menyayangi adikknya.
" Liona Cassandra," Gumam Revan senyum-senyum sendiri membayang wajah cantik dan datar Liona.
" Pih,kok papih senyum-senyum gitu." Tanya Vivi membuyarkan lamunan Revan.
Revan mencium gemas pipi gembul putrinya, " Putri papih kok belum tidur." Tanya sambil terus mencium wajah putrinya.
Hahahaha.
" Papih geli," Ucap Vivi menjauhkan wajah Revan darinya.
" Vivi mau tidur sama papih," Ucap Vivi bergelayut manja pada Revan.
" Papih mau tanya sesuatu boleh?" Tanya Revan mengelis wajah cantik putri kecilnya.
" Boleh."
" Kalau Vivi punya mamih seneng gak?" tanya Revan
" Seneng, tapi mamihnya harus kayak Onty baik ya pih." Sahut Vivi
" Ok, Princessnya papih."
Karena sudah larut malam, akhirnya Revan mengajak Vivi untuk segera tidur.
*
*
Dikediaman Liona, Dio dihukum oleh Liona. Karena kejadian tadi di hotel, Dio mengatakan akan pergi sebentar. Tapi nyatanya Dio meninggalkan Liona satu jam lamanya.
" Saya sudah sangat lelah Nona," Ucap Dio ngos ngosan.
Dio dihukum push up dua ratus kali di tengah malam. Hanya karena masalah sepele nonanya sampai menghukumnya seperti itu. Memang sungguh kejam seorang Liona.
" Masih kurang lima puluh lagi, ayo cepat!" Ucap Liona tak memperdulikan wajah lelah Dio.
" Siapa suruh kamu menipu saya, jadinya dapat hukuman." Ucap Liona merasa ditipu oleh Dio.
Dio memutar bola matanya malas, dan melanjutkan push upnya. Daripada dia mendapatkan tambahan hukuman karena banyak mengeluh