
Pagi hari Liona terbagun oleh tetiakan sang mama. Dan ia langsung mendapat ceramah panjang kali lebar dari mama Karin.
" Sekarang jawab jujur. Apa kamu yang mengonsumsi rokok dan minuman haram ini!" Bentak mama Karin menunjuk satu kotak penuh minuman beralkohol dan rokok.
Liona menggeleng tanpa berani menatap mama Karin. Ia senantiasa menundukkan kepalanya takut.
" Heh, jika bukan punya kamu. Lalu punya siapa? Dan kenapa bisa ada diruang kerja kamu?" Tanya mama Karin sinis. Ia sudah geram dengan anaknya itu. Sejak tadi ia mengulang pertanyaan yang sama, Liona hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
" Kalau lagi diajak bicara, Lihat mama Ona!" Bentak mama Karin dengan nada yang lebih tinggi. Dan membuat Liona terjengkat dan sontak mengangkat kepalanya.
" Ma-maaf ma." Lirih Liona sesegukan. Ini pertama kalinya Liona melihat sang marah seperti ini. Ia sungguh takut, bukan takut akan mendapat hukuman dari mamanya. Tapi takut jika mama Karin akan kembali depresi.
" Apa kamu masih mengonsumsi ini?"
" Nggak ma. Semenjak mama pulang, Ona sudah nggak mengonsumsi itu lagi."
" Mama ngerti mungkin kamu selama ini stres. Kamu nggak bisa berbagi beban kamu dengan orang lain. Mama akan memakluminya, tapi jika setelah ini kamu masih mengonsumsinya, nggak akan ada kata maaf." Tegas mama Karin dan berlalu pergi meninggalkan Liona diruang kerjanya.
Liona mendesah pelan melihat kepergian mamanya. Ia terduduk dilantai, dan tangisnya pun pecah. Ia menerutuki kebodohannya, karena bisa lupa membuang barang-barang itu. " Bodoh, bodoh, bodoh!" Liona memukul-mukul kepalanya. " Aku harap mama nggak akan terlalu memikirkannya." Lirihnya penuh harap.
Lama Liona menangis, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali kekamarnya setelah menyuruh pelayan untuk membuang barang-barang tersebut. Ia duduk disisi ranjang sambil meemgangi ponselnya. Ia bingung akan menghubungi Revan atau tidak.
Karena Revan telah mengatakan padanya, jika dirinya sedang ada masalah dan butuh tempat curhat, maka hubungi saja dia. Apalagi mereka sekarang sudah menjadi pasangan kekasih.
Baru saja Liona hendak menekan nomor Revan, sudah lebih dulu Revan menghibunginya. Ia mengatur nafasnya sebelum mengangkat panggilan Revan.
" Halo."
" Pagi sayang, mau aku jemput?"
" Nggak perlu aku akan kekantor bersama Dio. Tapi nanti siang tolong temui aku dikantor, ada yang mau aku katakan.
" Siap mamih Ona sayang."
Liona pun mengakhiri panggilannya. Dan segera bergegas mandi, karena pagi ini ia ada meeting. Setelah siap, Liona turun kebawah untuk sarapan pagi. Disana sudah ada mama Karin dan Dio.
" Pagi ma, Dio." Sapa Liona sembari duduk ditempatnya.
" Pagi nona."
" Ona, kamu masih punya hutang sama mama." Ujar mama Karin membuat Liona menghentikan pergerakannya.
" Hutang apa ma?"
" Kamu berjanji akan mengantar mama menemui kakek Rafi lusa. Tapi ini sudah empat hari lamanya kamu masih belum mengantar mama."
Liona menepuk jidatnya, " Maaf ma. Aku lupa, aku janji besok ma. Nggak akan lupa."
" Oke."
*
*
Dikantor CASSA GROUP Liona nampak serius mengerjakan pekerjaannya. Sampai ia tak sadar akan kedatangan seseorang.
" Mamih Ona serius banget." Bisik Revan tepat ditelinga Liona sambil memeluknya dari belakang.
Liona yang terkejut dan sontak hendak menyerang Revan. Namun dengan cepat Revan menahan pergerakannya. " Aku kira kamu siapa tadi." Ujar Liona sembari menoleh melihat wajah kekasihnya dari samping.
" Makan siang yuk. Aku sudah bawa makanannya." Ajak Revan melepas pelukannya dan melangkah menuju sofa. Keduanya pun menikmati makanan mereka dengan tenang.
" Revan, nanti sore kamu sibuk?" Tanya Liona setelah keduanya menyelesaikan makan siang.
" Nggak, kenapa?"
" Bisa antar aku kerumah sakit un-"
Plak.
Liona memukul tangan Revan yang masih bertengger didahinya." Dengerin dulu aku mau bicara apa!" Ketus Liona.
" Maaf, silahkan dilanjut ceritanya." Ujar Revan cengengesan.
Liona menghela nafas pelan. " Nanti sore aku mau kerumah sakit jenguk kakek Rafi. Menurut informasi yang Dio dapat, dia sedang sakit. Dan kondisinya juga memprihatinkan sekarang, tidak ada yang perduli padanya. Dan seluruh asetnya juga sudah dialihkan oleh Bagas dan istrinya. Sudah diberi susu malah dibalas air tuba." Geram Liona mengepalkan kedua tangannya.
Revan menyentih kedua tangan Liona dan menciumnya bergantian. " Jangan terbawa emosi dulu. Aku akan menemanimu nanti untuk bertemu kakek Rafi. Dan sekalian aku akan meminta restu." Ucap Revan mengalihkan pembicaraan.
" Dasar kamu ya, nggak sabaran banget." Cibir Liona mendorong pelan tubuh Revan.
" Memang, aku sudah lama sendiri dan sekarang aku sudah lelah hidup sendiri." Tutur Revan lesu.
" Aku harap karena kamu sudah lama sendiri, itu nggak karatan ya gara-gara lama nggak diganti oli. " Ujar Liona keceplosan sambil menatap kearah pangkal paha Revan.
Revan ikut melirik pangkal pahanya, lalu muncul ide jahil di otaknya. " Sayang, kalau kamu nggak mau dia cepat karatan. Makanya kasih servis tipis-tipis." Ujarnya menyentuh tangan Liona dan mengarahkannya kepangkal pahanya.
Liona tejengkat ketika tangannya merasakan sesuatu yang sudah mengeras dibalik celana Revan. " Kamu apa-apaan sih!" Ketus Liona menarik kasar tangannya.
" Kenalan dulu sebelum kamu dan dia saling dipertemukan. Dan saling membutuhkan satu sama lain." Ujar Revan sembari menaik turunkan kedua alisnya menggoda Liona.
Liona melototkan kedua matanya. "Kamu mesum banget! Aku nggak kebayang nanti gimana kalau nikah sama kamu."
"Kalau nggak mesum, nggak akan ada Vivi. Dan setelah kita menikah nanti, aku akan buat kamu menjerit nikmat karena kemesumanku ini."
Deg.
Jantung Liona terpompa cepat saat tiba-tiba Revan mengungkung tubuhnya. Ia hendak mendorong, namun tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Revan.
" Jangan macam-macam Revan."
" Aku nggak macam-macam, cuma satu macam sayang." Ucap Revan lalu mencium bibir merah Liona.
Nafas Liona tak beraturan, bahkan dadanya sampai naik turun. Tubuhnya menegang seperti tersengat listrik. Ia tak membalas ciuman Revan, karena ia memang tak ahli dalam bidang ini.
Revan melepas pangutannya setelah mereka berdua sama-sama kehabisan nafas. Ia mengusap bibir Liona yang basah akibat ulahnya. " Rasanya masih sama seperti yang dulu." Ujarnya.
Liona tak merespon apa-apa. Tubuhnya terasa kaku dan bibirnya terasa kelu. Ia masih tak percaya jika Revan tadi telah menciumnya.
" Sepertinya kamu minta dicium lagi ya sayang?" Tanya Revan melihat Liona yang hanya terdiam saja. Dan ia hendak kembali mencium Liona namun...
Ekhem.
Suara deheman menyadarkan keduanya, dan sontak membuat Liona mendorong kasar tubuh Revan hingga terjengkang kelantai. Lalu ia berdiri dan merapikan pakainanya yang terlihat kusut.
" Aw, belum juga menikah sudah melakukan kdrt." Gerutu Revan masih terduduk dilantai.
" Maaf nona, saya mengganggu. Tapi anda sudah ditunggu oleh klien kita." Ujar Dio menundukkan kepalanya, pura-pura tak melihat apa yang terjadi.
Awalnya sebelum masuk Dio hendak mengetuk pintu dulu. Namun saat melihat pintu ruangan Liona tak tertutup rapat, jadi ia berinisiatif untuk langsung masuk saja. Dan tepat saat ia masuk, Revan hendak mencium Liona. Jadi ia sengaja berdehem untuk membubarkan keduanya.
" Kamu tidak mengganggu Dio, saya akan temui dia sekarang." Ujar Liona berlalu pergi dari ruangannya. Jangan tanya bagaimana keadaan Liona sekarang. Ia merasa sangat malu pada asistennya itu, karena sudah kepergok berbuat mesum. " Rasanya aku ingin mengubur diriku saja. Aku tidak sanggup lagi jika harus bertemu lagi dengan Dio." Gumamnya sambil terus melanjutkan langkahnya.
Diruangan Liona, Revan baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia terus menggerutu karena adik kecilnya tak bisa diajak kompromi. Cuma hanya sekedar berciuman saja dengan Liona, miliknya sudah menegang. Padahal banya wanita yang dengan suka rela menyerahkan tubuh padanya bahkan sampai telanjang didepannya, miliknya tidak merespon apa-apa. Tapi berbeda dengan Liona.
" Apa yang kau lakukan didalam, kenapa lama sekali?" Tanya Dio setengah pura-pura tidak tau dengan nada mengejek.
" Dasar asisten sialan kau!" Geram Revan." Sudah tau masih bertanya!" Sambungnya dengan ketus.
" Sabarlah sebentar, nanti akan ada masanya." Ujar Dio tersenyum mengejek sembari menepuk bahu Revan. Lalu pergi meninggalkan Revan untuk menyusul Liona.
" Awas saja kau Dio. Jika nanti aku sudah menikah dengan Liona, aku akan menghukummu." Gerutunya.
Ya, jika nanti ia menikah dengan Liona, berarti Dio otomatis menjadi bawahannya juga. Dan ia akan membalaskan kekesalannya nanti pada Dio. Jika sekarang ia melakukannya, bisa-bisa singa betinanya akan marah besar karena sudah berani menghukum asisten setianya itu.