
Tok.. Tok..
" Masuk!"
" Maaf nona, ada seorang wanita paruh baya yang ingin bertemu dengan anda. Kami sudah melarangnya, namun wanita itu tetap memaksa. Bahkan saat ini dia tengah membuat keributan dibawah." Ucap salah satu karyawan.
" Baik saya kesana sekarang." Ujar Liona lalu melangkah mendahului karyawan tersebut. Ia sangat penasaran dengan sosok wanita yang katanya sangat ingin bertemu dengannya.
" Hei! Lepasin saya. Kalau sampai Liona tau saya diperlakukan seperti ini, saya yakin kalian akan diberikan hukuman!" Ucap wanita tersebut saat tangannya ditarik paksa oleh keamanan disana.
" Lepaskan Mama saya!" Bentak Liona, dan seketika membuat tempat yang tadinya ramai kini menjadi sunyi.
" Lihat kan. Saya sudah katakan izinkan saya bertemu dengan Liona. Jika kalian tidak mau dihukum olehnya." Ujar Mama Karin dengan nada mengejek.
" Mama ngapain kesini?"
" Mama bawain kamu makan siang." Sahut Mama Karin sembari melirik paper bag yang ia tenteng. " Oh iya, Mama tadi masaknya banyak. Dan Mama bawa aja untuk karyawan kamu. Udah Ona, nggak usah marah-marah kasihan mereka. Lagian mereka juga nggak tau kalau Mama adalah Mamanya kamu." Sambung Mama Karin mengelus lengan Liona. Ia melihat semburat amarah dipancaran matanya.
" Iya Ma."
" Kamu tolong bagikan makanan yang didalam box itu. Upah karena kalian sudah memperlakukan saya kurang baik tadi." Titah Mama Karin menunjuk box yang ada dilobby kantor.
" Baik nyonya."
Semua orang yang ada disana tercengang mendengar penuturan Mama Karin. Mereka kira akan diberikan hukuman lembur oleh nona Liona. Tapi justru sebaliknya, malah diberikan bonus makan siang oleh Mamanya. " Sepertinya nona Liona sangat patuh pada Mamanya ya." Ucap seorang karyawan.
" Iya."
" Semoga dengan kehadiran nyonya, kita nggak akan mendapat hukuman lagi karena masalah kecil. Dan nona bisa lebih bisa memaklumi."
Liona mengajak sang Maam keruangannya. Dan mengajaknya duduk disofa. " Mama kok nggak bilang-bilang sih kalau mau kesini?"
" Mama mau ngasih kamu kejutan." Sahut Mama Karin tanpa menatap Liona, karena ia sedang sibuk menelisik ruangan Liona. " Nggak dirumah, nggak dikantor. Semuanya monoton. Hidup kamu kurang warna Ona," Cerewet Mama Karin.
" Udah deh Ma, nggak usah bahas warna dulu. Ona udah lapar ini." Rengek Liona sembari mengusap perut ratanya.
" Oke oke."
Liona dan Mama Karin menikmati makan siang bersama. Terutama Liona, ia sangat bersyukur bisa berkumpul kembali dengan Mamanya. Ia tak menyangka jika sang Mama bisa sembuh kembali setelah lima tahun depresi.
*
*
Mama karin menemani Liona hingga ia menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya pekerjaan Liona tak banyak, namun semuanya menjadi banyak setelah kedatangan sang Mama. Ia harus menuruti keinginan Mamanya. Liona merubah nuansa ruangan kerjanya karena perintah Mama Karin. Yang semula serba berwarna gelap, kini berubah jadi berwarna terang. Seperti warna kesukaannya dulu.
Bahkan kini Liona diajak kebutik langganan Mamanya dulu, untuk membeli pakaian untuknya. Agar tak hanya warna hitam dan putih saja seperti seorang pesulap. Kata Mama Karin.
" Nah ini bagus buat kamu!" Seru Mama Karin mengambil sebuah gaun yang menurutnya cocok untuk sang putri.
Liona tak banyak protes, ia hanya menuruti keinginan Mamanya. Walaupun kakinya sudah terasa pegal, tapi ia tetap mengikuti kemanapun Mamanya melangkah. Karena mereka sudah dua jam lamanya berada didalam butik. " Mama nggak capek? Kita duduk dulu yuk!" Ajak Liona, namun ditolak Mama Karin. Karena ia belum merasa lelah.
Wajar saja jika Mama Karin tak merasa lelah, justru ia merasa sangat senang. Karena biasanya ia akan shopping kebutik setiap satu minggu sekali. Namun kini ia sudah lima tahun lebih tak pernah datang kebutik lagi. Jadi hari ini ia akan memuaskan dirinya untuk bershopping.
" Iya gak pa-pa."
Setelah mendapat persetujuan dari Mamanya, Liona melangkah keluar dari butik. Ia menuju toilet khusus wanita. Selang beberapa menit akhirnya ia keluar dari toilet. Dan segera kembali kebutik tempat Mamanya berada saat ini.
Namun langkahnya terhenti saat netranya menangkap sesosok orang yang sangat ia kenali. " Itu kan Revan, sama siapa dia?" Batin Liona. Ia melangkah mendekat kearahnya untuk menguping pembicaraan. Entah sejak kapan Liona menjadi seorang yang kepo. Mungkin semenjak ia merasakan yang namanya cemburu.
" Aku kangen banget sama kamu Van." Ujar perempuan itu sambil merangkul manja Revan.
" Maaf Yuni, tapi aku nggak perduli antara kamu kangen apa nggak sama aku." Ucap Revan datar sembari melepas rangkulan Yuni.
" Oke. Aku minta maaf soal yang ditaman pas aku ninggalin Vivi. Aku beneran nggak sengaja, waktu itu aku lagi dapat telpon penting. Dan pas aku kembali, Vivi udah nggak ada ditempatnya." Yuni menjelaskan.
" Tapi tetap kamu sudah lalai dalam menjaga Vivi. Seharusnya kamu faham, aku bukan cuma cari seorang istri, tapi juga seorang ibu untuk Vivi."
Liona semakin menajamkan pendengarannya. Hingga tanpa sadar ia menyenggol benda pecah belah dan membuatnya jatuh kelantai. Tentu karena suara benda terjatuh, semua orang kini tengah menatapnya. Dan salah seorang pelayan toko tersebut menghampirinya. "Maaf saya tidak sengaja. Tapi kamu tenang saja saya akan ganti rugi." Ucap Liona sebelum pelayan itu membuka suara.
" Baik, anda langsung saja kepemilik tokonya." Ujar pelayan tersebut dengan menunjuk seseorang yang kini tengah ia kuping pembicaraannya.
Liona terkejut mendengar penuturan pelayan tersebut. Tapi demi tak menjatuhkan harga dirinya, ia pun menghampiri Revan. " Sorry Van, tadi aku nggak sengaja ngejatuhin vas yang ada disana." Ucap Liona to the point sambil menahan amarah. Ia tak faham dengan dirinya sendiri, kenapa dengan melihat perempuan lain yang kini sedang memeluk lengan Revan membuat ia menjadi marah.
" Oh, jadi kamu yang buat keributan tadi disana? Tapi vas itu sangat mahal Ona, dan aku yakin kamu tidak akan bisa membayarnya."
Liona mengepalkan kedua tangannya, karena ia diremehkan tidak bisa membayar vas yang sudah ia jatuhkan." Memangnya berapa harga vas itu?! Tentu tidak akan lebih mahal kan dari harga tokonya. Jangankan membayar ganti rugi vas itu, membeli tokonya pun saya sangat mampu!" Tegas Liona dengan sombong.
Revan tersenyum smirk melihat kespmbongan Liona. Ia berdiri dan mendekat kearah Liona dan menarik tangannya diajak masuk kedalam toko. Revan mengajak Liona masuk kedalam sebuah ruangan dan menguncinya. Ia mendotong tubuh Liona hingga terbentur dinding.
" Apa yang kamu lakukan Revan!" Bentak Liona.
" Kamu bilang akan membayar kerugiannya kan?" Tanya Revan dan diangguki Liona. " Jadi bayarlah sekarang." Sambungnya sembari mendekatkan wajahnya kewajah Liona.
" Baik aku akan membayarnya sekarang. Tinggal kamu sebutkan nominalnya saja!" Ucap Liona angkuh sambil mengambil ponselnya disaku jas yang ia kenakan.
Saat Liona hendak menghidupkan ponselnya, sudah lebih dulu Revan merebutnya dan melemparnya asal. " Apa yang ka-"
Sstt..
Revan menaruh jari telunjuknya dibibir Liona. " Jangan keras-keras Ona. Ruangan ini tidak kedap suara, orang yang ada diluar bisa mendengar dengan jelas apa yang kamu ucapkan disini." Bisik Revan tepat ditelinga Liona.
Perlakuan Revan seketika membuat tubuh Liona meremang. Nafasnya naik turun tak beraturan. " Apa maumu?" Lirih Liona ketika manik keduanya bertemu.
Revan tak menjawab pertanyaan Liona. Dia lebih memilih mengelus wajah cantik Liona. Dan menikmati pemandangan indah didepannya. Apalagi Liona tak memberikan perlawanan padanya. Dan hal itu membuatnya senang karena tak perlu bersusah payah menahan pergerakannya.
Diluar ruangan tepatnya didalam toko, Yuni tengah memaksa untuk masuk kedalam ruang tempat Revan dan Liona saat ini berada. " Cepat buka pintunya!" Bentak Yuni
" Maaf nona, tapi kami tidak bisa membiarkan anda masuk. Ini adalah perintah dari tuan Revan." Ucap pelayan toko tersebut jujur. Karena tadi sebelum masuk kedalam ruangan, Revan memberikan isyarat agar tidak ada yang mengganggunya.
Arrgghh..
Teriak Yuni frustasi," Apa yang sebenarnya mereka lakukan didalam? Dan siapa sebenarnya wanita itu?" Batin Yuni penuh amarah.