
Mobil yang dikemudikan Dio memasuki area rumah. Mama Karin nampak bingung menatap semuanya. Ini memang alamat rumahnya, tapi apakah benar bangunan mewah didepannya ini adalah rumahnya yang dulu? Fikiran Mama Karin bertanya-tanya.
" Rumah siapa ini Dio?" Tanya Mama Karin menatap kagum rumah didepannya.
" Iya nyonya, ini adalah rumah anda yang dulu. Hanya saja sudah di renovasi dan didesain dengan gaya baru nyonya." Sahut Dio jujur.
" Apa kita sudah sampai?" Tanya Liona dengan suara parau khas orang baru bangun. Ia membenarkan posisinya sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
" Iya nona."
" Ayo Ma, kita turun." Ajak Liona, ia sudah lebih dulu turun dari mobil. Lalu diikuti sang Mama.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki rumah. Mama Karin tak henti-hentinya memuji rumah milik sang putri. Ya, Mama Karin mengklaim kalau rumah ini menjadi milik sang putri. Dulu rumahnya memang berlantai dua, namun sederhana. Tapi kini rumah itu telah disulap menjadi sebuah bangunan mewah oleh Liona. Entah sudah seberapa besar perjuangan putrinya, hingga bisa memiliki semua kemewahan ini.
Dorr..
" Selamat datang dirumah Oma!" Seru Vivi menyambut kedatangan Mama Karin. Ia berlari kerah Liona dan Mama Karin.
Liona dan Mama Karin saling pandang, mereka bingung kenapa Vivi bisa ada dirumahnya. " Vivi kok bisa ada disini?" Tanya Liona sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Vivi.
" Vivi datang kesini, karena tau Oma pulang hari ini. Dan Vivi kesini diantar Papih." Sahut Vivi menunjuk sang Papih yang sedang duduk disofa sambil bertelponan.
Liona mengangguk paham, kemudian ia mengajak Mama Karin dan Vivi masuk. Ia mengajak mereka duduk disofa tempat dimana Revan berada.
" Nak Revan sudah lama menunggu?" Tanya Mama Karin setelah melihat Revan sudah selesai dengan ponselnya.
" Nggak kok, aku dan Vivi juga baru sampai."
" Oh ya, Ona. Apa Tiger kamu pulangkan ke kebun binatang?" Tanya Mama Karin saat ia teringat peliharaan almarhum putranya.
" Nggak, Ona punya tempat khusus untuk Tiger." Sahut Liona santai sembari mengambil buah jeruk yang ada disana.
" Tempat khusus? Kamu jangan taruh Tiger sembarangan ya, bisa bahaya untuk orang lain!" Tegas Mama Karin.
" Tempatnya aman kok Ma, Mama tenang aja."
" Tiger itu harimau kan Oma? Tanya Vivi ikut dalam pembicaraan keduanya.
" Iya sayang,"
" Berarti Mamih pelihara harimau dong!" Ujar Vivi terkejut, sembari menjauh dari Liona.
Liona tersenyum jahil melihat tingkah Vivi." Iya, Mamih memang pelihara harimau. Harimau yang akan gigit kamu!" Ujar Liona, lalu ia mengejar Vivi yang sudah berlari.
" Sini kamu anak kecil, biar harimau Ona gigit kamu! Raw, raw." Ucap Liona sambil terus mengejar Vivi yang berlari kesana -kemari.
" Nggak mau! Papih tolong Vivi!" Teriak Vivi meminta bntuan dari sang Papih.
Revan hanya mentertawakan keduanya, tanpa ada niatan untuk membantu sang putri dari kejaran Liona.
" Uncle Dio tolong!" Vivi berlari kearah Dio yang baru tiba. Ia ingin meminta bantuan dari Dio, sebab sang Papih tak mau membantunya. Vivi bersembunyi dibelakang tubuh Dio.
" Jangan bersembunyi gadis kecil, ayo cepat kemari harimau Ona ingin segera menggigitmu." Ucap Liona melangkah mendekati Vivi yang bersembunyi dibelakang tubuh Dio. Saat Liona ingin memegang tangannya, Vivi sudah berlari kearah sofa mendekati Mama Karin. Liona langsung mengejar Vivi menuju sofa.
Kaki Liona tersandung ujung sofa, dan ia terjatuh tepat dipangkuan Revan. Bahkan posisi mereka sekarang sangat intim. Liona bisa merasakan hembusan nafas Revan dipipinya. Ia menoleh menatap manik teduh Revan, dan menyebabkan hidung keduanya saling bersentuhan.
Ekhem.
Mama Karin berdehem menyadarkan kedua insan tersebut. Sontak membuat keduanya mengalihkan pandangan mereka. Terlihat sangat jelas gelagat keduanya yang salah tingkah.
" Nyaman banget ya kamu Ona, duduk dipangkuan Revan." Ucap Mama Karin, langsung membuat Liona mendorong tubuh Revan dan berdiri.
" Apaan sih Ma!" Ketus Liona berusaha menyembunyikan rasa malunya. Ia tadi tak sadar jika sedang duduk dipangkuan Revan, bahkan tangannya tak bisa dikontrol. Tanpa sadar tangannya menyentuh dada Revan.
" Bilang aja kalau nyaman, gitu aja gengsi." Goda Mama Karin.
" Au ah, ayo Vi. Temenin Mamih kekamar." Ucap Liona memilih pergi dari sana bersama Vivi.
Mama Karin tertawa melihat kepergian Liona bersama Vivi. " Kamu lihat kan Revan, kelakuannya sama kayak Vivi waktu itu." Ucap Mama Karin mengingat pertemuan pertamanya dengan Vivi. Dan saat itu, Vivi juga merajuk karena malu. Seperti yang Liona lakukan sekarang.
" Iya tan."
" Oh iya, ngomong-mgomong. Kamu udah berapa lama jalin hubungan dengan Liona?" Tanya Mama Karin. " Kamu memang pria yang berhati tulus, kamu bisa merubah Liona dan bisa membuatnya kembali seperti dulu." Imbuhnya.
" Baru beberapa bulan terakhir tante, dan untuk perubahan Liona, itu murni dari dirinya sendiri. Aku hanya memberikan sedikit nasehat padanya, dan beruntungnya dia mendengarkan nasehat yang aku berikan dan mau berubah jadi lebih baik." Sahut Revan merendah.
" Pokoknya tante berterima kasih banyak sama kamu. Kalau bukan karena kamu juga, mungkin Liona masih belum bisa berubah. Dan mungkin juga tante masih berada dirumah sakit, karena terus memikirkan Liona." Tutur Mama Karin penuh syukur.
" Oh iya, tan. Aku harus pergi dulu, ada pertemuan dengan klienku. Aku titip Vivi dulu ya tan, nanti sore aku jemput." Ucap Revan sembari mencium punggung tangan Mama Karin.
" Iya kamu tenang aja, tante dan Liona kan jaga Vivi."
Setelah kepergian Revan, Mama Karin berjalan mengelilingi setiap sudut rumahnya. Mulai dari dapur, ruang tengah, ruang tv dan sampai ditempat ia berada kini. Ruangan yang bertuliskan Album My Family. Ia menatap sekeliling, terdapat begitu banyak foto kenangan keluarganya dulu. Foto kebersamaan saat keluarga kecilnya masih utuh. Bahkan disana juga terdapat foto saat dirinya masih berpacaran dengan Papa Arya. Entah darimana Liona mendapatkan foto itu.
Mama Karin mengambil salah satu foto, foto saat keluarga kecilnya berlibur. Sangat terlihat kebahagiaan dari keempatnya. Lalu ia beralih pada foto Liona yang cemberut. Saat itu ia merengek minta beli eskrim. Tapi tak diizinkan oleh Papa Arya, sebab Liona baru sehari sembuh dari sakit giginya.
Tak terasa sebulir air matanya menetes, ia sangat merindukan masa-masa kebersamaan mereka dulu. Mama karin memeluk foto itu sembari memejamkan matanya. Sampai ia dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
" Mama lagi ngapain?" Tanya Liona memeluk sang Mama dari belakang.
" Mama tadi cuma mau lihat-lihat doang, sampai Mama nemu tempat ini. Terus Mama penasaran, dan akhirnya masuk kesini." Ujar Mama Karin jujur.
" Udah, Mama nggak usah sedih gitu. Gimana kalau kita masak aja, aku kanget banget sama masakan buatan Mama." Ucap Liona bersemangat, mengalihkan atensi sang Mama.
Mereka berdua pun keluar, dan menuju dapur. Untuk memenuhi keinginan Liona, kali ini Mama Karin akan membuat makanan kesukaan sang putri. " Eh, Vivi mana?" Tanya Mama Karin yang tak melihat keberadaan Vivi disana.
" Tidur Ma."
Drett.. Drett..
Ponsel Liona berdering." Ma, aku angkat telpon dulu ya." Ucap Liona dan diangguki oleh Mama Karin.
Liona melangkah menjauh dari dapur, ia tak ingin Mamanya tau apa yang akan ia bicarakan nanti." Ada apa Galang?" Tanya Liona. saat panggilan tersambung.
" Baik, saya segera kesana!" Imbuhnya.