
" Ona ayo cepat!" Teriak mama Karin dari ujung tangga bawah. Ia sudah sangat kesal dengan putrinya itu. Katanya sebentar, tapi sudah satu jam lamanya ia menunggu.
" Iya ma, sabar sebentar kenapa? Kalau mama marah-marah terus, nanti bisa darah tinggi." Ujar Liona menuruni tangga sambil memasang jam ditangannya.
" Iya. Kalau mama sampai punya penyakit darah tinggi, berarti kamu penyebabnya!" Kesal mama Karin.
" Lah, kok aku sih ma."
" Tadi bilangnya cuma sebentar, tapi sudah satu jam lamanya mama nunggu."
" Hehehe, maaf ma. Ada panggilan alam tadi, jadinya agak lama." Ucap Liona cengengesan.
" Ya udah, ayo cepetan berangkatnya. Kasihan kakek kamu nggak ada yang nemenin." Titah mama Karin, lalu melangkah keluar mendahului Liona.
Ya, Liona telah memberitahu mama Karin kalau kakek Rafi berada dirumah sakit. Bahkan saat ini dia tengah sendirian, karena Bagas dan istrinya tak mau mengurus dan zudah pergi meninggalkan kakek Rafi. Dan Liona juga mengatakan kalau seluruh harta kakek Rafi telah dialihkan oleh Bagas. Mama Karin tak habis fikir dengan adik suaminya itu. Padahal dia adalah anak yang sangat disayangi oleh kakek Rafi. Apapun permintaannya pasti akan dituruti. Tapi malah seperti itu balasan yang dia berikan pada kakek Rafi.
" Ma, aku nggak bisa temenin mama ya. Aku cuma antar mama aja. Soalnya aku ada meeting penting dua jam lagi." Ujar Liona sembari tetap fokus menyetir.
" Iya, katanya kamu sudah dapat restu dari kakek. Terus kapan nikahnya?"
" Mama ngusir aku?" Liona balik bertanya dengan sewot.
" Buka gitu maksudnya Na, kamu nggak kasihan sama Vivi. Dia butuh sosok seorang ibu, dan kemarin dia cerita sama mama. Katanya kalau Revan sibuk kerja, dia merasa kesepian. Nggak ada diajak main, terus nggak ada yang bantuin dia bikin pr. Lagi pula, kamu kan juga udah cocok sama Revan. Mau nunggu apalagi?" Tutur mama Karin.
" Aku sih siap-siap aja ma, kapan Revan ngajak aku. Katanya di mau urus kerjaannya yang di Paris dulu. Dan setelah dia dari Paris, baru kita akan melangsungkan pernikahan. Biar bisa tenang tanpa ada gangguan pekerjaan." Ujar Liona sesekali melirik mamanya.
Mama Karin mengangguk faham, ia juga tau kalau Revan adalah orang yang sibuk. " Mama cuma ngingetin aja, kasihan Vivi kalau kamu dan Revan terlalau lama nikahnya. Mama ngak mau kalau dia merasa diberi harapan palsu." Jelasnya.
Mereka terus mengobrol disepanjang perjalanan. Hingga mobil yang dikendarai Liona sampai diarea rumah sakit. " Kamu mau langsung kekantor Ona?" Tanya mama Karin saat membuka sealbeth.
" Aku mau masuk dulu, aku mau lihat bagaimana keadaan kakek dulu."
" Ya udah ayo kita masuk." Ajak mama Karin yang melihat Liona masih terdiam didalam mobil dan mengotak-atik ponselnya.
" Mama duluan saja, entar Ona nyusul."
" Oke." Mama Karin pun keluar dari mobil, dan melangkah masuk kedalam rumah sakit sambil menenteng paper bag yang berisi makanan sehat untuk kakek Rafi.
" Halo Galang." Liona melakukan panggilan telepon dengan Galang.
" Iya nona ada apa?"
" Tolong jaga kakek saya yang sedang dirawat dirumah sakit. Bawa tiga sampai empat orang saja."
" Baik nona, anda kirimkan saja alamat rumah sakit dan nomor berapa ruangannya."
" Oke." Liona menghakhiri panggilan teleponnya. Lalu ia segera mengirim pesan pada Galang. Dan setelah itu, ia keluar dari mobil dan ikut masuk menyusul mama Karin.
Bukan tanpa alasan Liona menyuruh Galang berjaga dirumah sakit. Ia takut jika samapai Bagas datang dan menyakiti kakeknya, karena tau kalau hubungan Liona dan kakek Rafi sudah membaik. Dan ia juga yakin kalau saat ini Bagas tengah merencanakan sesuatu untuk membalas apa yang pernah Liona lakukan padanya. Jadi ia harus tetap siaga, dan jangan sampai membuat orang- orang disekitarnya menjadi korban.
Apalagi Bagas sekarang tak sendiri, ada Robert dan anaknya yaitu Mario. Pria bajingan yang hendak memperkosa Liona. Walaupun Mario mengatakan kalau ia tak perduli pada Robert, tapi Liona yakin Mario juga akan ikut membalas perbuatan Liona, karena saat itu Liona menolaknya. Terlebih lagi Revan yang datang membantunya. Biarpun Revan sudah mengatakan kalau Mario sudaha jadi urusannya, dan tak akan berani mengganggu Liona lagi. Namun tetap saja ia harus tetap siaga.
" Selamat pagi kakek." Sapa Liona langsung berhambur memeluk kakeknya.
" Pagi juga Ona." Ujar kakek Rafi sambil mengelus kepala cucunya.
" Kapan kakek akan diizinkan pulang?"
" Entah, kakek juga tak tau."
" Kalau mau cepat pulang, papa harus semangat untuk sembuh. Dan makan makanan sehat." Mama Karin ikut serta dalam pembicaraan keduanya.
" Iya Rin, papa juga sudah bosan berada disini." Keluh kakek Rafi lesu.
" Kek, ma. Maaf aku harus kekantor sekarang. Dio mengabariku kalu meetingnya dimajukan." Ujar Liona masih berbalas pesan dengan sang asisten.
" Ya udah, hati-hati bawa mobilnya." Mama Karin mengingatkan.
Liona pun mengecup punggung tangan mama dan kakeknya bergantian. " Mungkin nanti sore aku akan kesini lagi kek, bersama anakku. Aku akan perkenalkan kakek padanya." Ujar Liona sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu.
" Bukan anak kandung Ona pa, tapi anaknya Revan. Yang otomatis nanti akan jadi anaknya juga." Jawab mama Karin memberi penjelasan. Kakek Rafi hanya menganggukkan kepalanya.
Tok.. Tok..
Suara pintu diketuk. " Siapa ya pa?" Tanya mama Karin pada kakek Rafi.
" Nggak tau, kamu buka aja dulu."
Mama Karin membuka pintu, dan terkejut melihat lima orang pria tengah berdiri dihadapannya. Yang empat bertubuh besar, dan yang satu bertubuh sedang. " Kalian siapa?" Tanyanya.
" Perkenalkan nama saya Galang nyonya. Saya di utus nona Liona untuk berjaga disekitaran anda dan kakeknya. Dan mereka anak buah saya." Ujar Galang sembari melirik keempat anak buuahnya.
" Apa yang akan kalian lakukan sekarang?"
" Kami akan berjaga diluar ruangan nyonya, dan jika nyonya dan tuan besar perlu bantuan, panggil saja saya." Jawab Galang ramah.
" Baik, lanjutkan pekerjaan kalian dengan benar. Jangan sampai membuat kucing imut menjadi singa betina yang menyeramkan." Setelah mengatakan itu, maam Karin kembali masuk kedalam ruangan.
" Siapa Rin, kok nggak diizinkan masuk?"
" Penjaga pa."
" Penjaga? Penjaga siapa? " Tanya kakek Rafi bingung.
" Liona menuruh orang untuk berjaga diluar ruang rawat papa. Entah untuk apa dia melakukannya. Seperti orang yang punya banyak musuh saja." Sahut mama Karin mengedikkan kedua bahunya.
" Dia gadis yang baik, bahkan sampai menyuruh orang untuk menjagaku. Aku menyesal telah menyiakannya." Batin kakek Rafi sendu.
Setelah menyelesaikan meetingnya, Liona berniat untuk menjemput Vivi disekolahnya. Ia ingin memberikan kejutan pada calon anaknya itu. Dan lagipula pekerjaannya dikantor tak banyak, dan masih bisa dihandle oleh Dio.
Liona melajukan mobilnya menuju taman kanak-kanak tempat Vivi bersekolah. Semyuman manis terus terukir indah dibibirnya. Saat sampai sudah ada banyak orang tua yang tengah menunggu anak mereka.
Liona memakirkan mobil mewahnya, dan tentunya sekarang ia tengah menarik perhatian para orang tua disana. Liona keluar dari dalam mobil dengan tersenyum ramah pada orang- orang disana. Sudah tak ada lagi sikap dingin dan datar yang ia pancarkan. Hanya ada sikap hangat dan sedikit galak jika emosinya dipancing.
Orang-orang disana menatap kagum pada Liona. Mereka mengira kalau Liona adalah salah satu donatur atau pemilik taman kanak-kanak tersebut. Namun dugaan mereka salah, saat tiba-tiba anak seorang anak perempuan yang berlari padanya.
" Mamih!" Teriak Vivi berlari pada Liona dan merentangkan kedua tangnnya minta dipeluk.
Liona faham, ia berjongkok dan langsung menangkap tubuh mungil Vivi dalam dekapannya.
" Ya ampun. Jadi dia istrinya pak Revan, berarti sudah tak ada harapan lagi."
" Iya, aku kira pak Revan masih jadi hot duda."
" Yah, pupus sudah harapanku."
Ujar para ibu-ibu disana dengan lesu. Perkataan mereka tentu dapat didengar oleh Liona. Dan membuat Liona menyunggingkan senyumnya. " Dan akulah pemenangnya." Batin Liona senang, sesekali melitik para ibu-ibu yang tiba-tiba menatap tak suka padanya.
" Capek sayang?" Tanya Liona menyusap keringat didahi Vivi.
" Iya Mih, tadi Vivi habis olahraga."
" Ayo kita pulang." Ajak Liona sembari membuka pintu untuk Vivi.
" Mih." Panggil Vivi saat Liona mulai melajukan mobilnya.
" Iya sayang."
" Mamih udah tau kalau papih sakit?"
" Papih sakit? Sakit apa?"
" Demam mungkin, karena tadi pagi pas Vivi raba dahinya papih terasa agak panas. Dan Vivi sebenarnya mau nemenin papih aja dirumah, tapi papih nggak ngizinin." Ujar Vivi lesu.
" Papih itu nggah mau kamu jadi anak yang pemalas sayang. Dia mau kamu jadi anak yang rajin sekolahnya." Liona memberi pengertian sambi mengusap kepala Vivi dengan tangan kirinya.
" Revan kok nggak bilang kalau sakit?" Batin Liona. Dengan tetap fokus menyetir, ia ingin segera sampai dan memeriksa keadaan calon suaminya.