Liona Cassandra

Liona Cassandra
eps 11



Setelah sampai dikediamannya, Liona tidak langsung kembali kekamarnya. Ia masuk keruang kerjanya sambil membawa sebotol wine ditangannya.


Liona duduk dikursi kerjanya, menghidupkan sebatang rokok lalu menyesapnya. Satu tangannya terulur membuka laci , dan mengambil sebuah foto. Didalam foto terdapat sebuah keluarga yang terlihat bahagia. Semua orang yang ada difoto itu tersenyum dan saling merangkul satu sama lain. Liona mengusap foto itu , tersenyum sinis.


Brakk.


Liona membanting foto itu , dan bingkainya hancur menjadi beberapa bagian. Ia mengambil kertas fotonya dan merobeknya. " Palsu, semuanya palsu !" Teriak Liona, dengan tangan masih sibuk merobek kertas foto.


Liona membuang kertas foto yang ia robek kesembarang arah. Lalu melangkah menuju balkon dan berdiri disana sambil menyesap rokoknya. Ia menatap langit yang terlihat mendung yang disertakan suara gemuruh. Sama seperti keadaan hatinya saat ini.


Setelah menghabiskan sebatang rokok, Liona kembali duduk di kursi kerjanya. Menuangkan wine kedalam gelas, lalu menegaknya. " Aku akan membalas semuanya Pa,Kak. Aku akan menyiksa mereka tanpa ampun ." Ucap Liona penuh amarah. Tangannya menggenggam erat gelas winenya. Tatapannya lurus kedepan, dengan mata yang sudah memerah menahan amarah.


Prangg.


Liona membanting gelas yang digenggamnya tadi. Ia keluar dari ruang kerjanya, melangkah menuju kamarnya.


Brakkk.


Liona menutup pintu dengan kasar, melempar ponselnya keranjang. Dan masuk kekamar mandi, ia melepas semua pakaiannya dan berdiri dibawah shower. Menguyur tubuhnya dengan air dingin agar bisa membuat kepalanya kembali dingin .


Selang beberapa menit Liona keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Dia terlihat lebih segar dari saat datang tadi. Liona naik keatas ranjang dan mengistirahatkan tubuhnya. Karena besok jadwalnya sangat padat.


*


*


Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Liona tampak lebih tenang dari biasanya. Karena sejak sebelum ia mengangkap orang yang membantu Robert untuk melenyapkan Papa dan Kakaknya, ia terlihat sangat gusar cepat marah.


" Ada berita terbaru Dio?" Ucap Liona duduk di sebuah kursi.


Liona dan Dio saat ini ada disebuah kafe, mereka ada pertemuan dengan kliennya.


" Nyonya sarah dan Tuan Rafi sedang gencar mencarinya Nona." Sahut Dio.


Ya, yang Liona tanya tentang berita terbaru merupakan berita tentang pencarian Bagas. Tidak ada yang tau jika bagas telah menjadi tahanan Liona. Karena Galang dan Dio bekerja tanpa meninggalkan jejak. Bahkan mereka meretas cctv yang ada di club itu.


" Bagaimana dengan anaknya yang tidak berguna itu?" Tanya Liona datar.


" Dia sepertinya dia tidak perduli Nona, kemarin saja saya menyuruh orang untuk menyelidiki siapa saja orang yang mencari keberadaan tuan bagas , tapi dia tidak termasuk dalam daftar. Dan bahkan sampai saat ini dia masih sering pergi ke club." Sahut Dio menjelaskan.


Sesaat setelah itu, klien Liona telah tiba. Dan mereka mulai membahas tentang proyek yang akan mereka jalani. Dan setelah selesai dengan pembahasannya, Liona hendak bergegas ke kantor.


Drett.. Drett.


"Halo, baik saya dan nona Liona segera kesana!" Ucap Dio menerima telpon dengan panik.


" Ada apa Dio," Tanya Liona melihat Dio seperti orang panik saat menerima telpon.


" Nyonya Karin memberontak dan mencoba untuk bunuh diri." Sahut Dio.


" Apa?! Cepat kerumah sakit Dio!" Titah Liona ikut panik.


Dio melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dan untungnya jalan yang ia lewati tidak terlalu ramai.


" Lebih cepat Dio!" Bentak Liona. Ia terus merapalkan doa dalam hatinya. Berharap tidak terjadi apa-apa dengan Mamanya.


Hanya menempuh waktu beberapa menit, akhirnya mobil yang keduanya kendarai sampai di rumah sakit. Liona turun dari mobil dengan tergesa dan berlari masuk memastikan keadaan sang Mama.


Brakk.


" Saya tidak tau kenapa Nona, tiba-tiba saja nyonya Karin seperti ini." Sahut Suster.


Prangg.


Mama Karin melempar benda yang ada disekitarnya. " Pergi kalian semua!" Teriak mama Karin.


Liona tak mendengarkan ucapan Mamanya, ia terus berjalan mendekat sambil terus menghindar dari barang yang Mamanya lempar. Dan dua orang suster lainnya mencoba menenangkan mama Karin.


" Pergi kalian biar saya saja." Ucap Liona.


" Tapi Nona-"


" SAYA BILANG PERGI!" Bentak Liona


Kedua suster itupun pergi meninggalkan Liona dan mama Karin. Liona terus melangkah mendekat tapi mama Karin terus menghindari Liona. " Pergi kamu!" Teriak mama Karin. Tapi Liona tak menghiraukannya.


Bughh.


Sebuah vas mendarat mulus di kening Liona, karena ia tadi lengah. Liona mendesis memegang keningnya yang terasa berdenyut. Tapi ia melupakan rasa sakitnya dan kembali mendekati mama Karin.


" Pergi kamu! Atau saya akan membunuh diri saya sendiri." Ucap mama Karin mengancam dan memegang sebuah gunting kecil dan mengarahkannya kepergelangan tangannya sendiri.


" Jangan! Jangan Ma, please." Liona memohon. " Taruh gunting itu ya Ma, Papa dan kak Leon nggak suka lihat Mama kayak gini. Mereka pasti sedih, Mama taruh ya guntingnya." Liona membujuk.


Arrghh.


Mama Karin berteriak , dan melempar guntingnya asal. Lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. " Mereka, mereka masih hidup kan?" Tanya mama Karin.


Liona tak menjawab, ia memeluk mama Karin. Tapi baru beberapa saat ia terdorong dan terduduk dilantai.


" JAWAB! " Bentak mama Karin. " Mereka masih hidup kan?" Tanyanya lagi.


Liona menganggukkan kepalanya, ia terpaksa berbohong. " Iya Ma, mereka masih hidup." Ucap Liona memeluk sang Mama dan mengusap-usap punggungnya.


" Mereka masih hidup Ma, hidup dalam hati kita." Batin Liona.


Setelah mama Karin terasa tenang, Liona mengajaknya untuk tidur diranjang. Dan Liona menemaninya, mengusap kepala mama Karin dan mengecup kemingnya. " Ma, hati Ona sakit lihat Mama kayak gini. Apa yang harus Ona lakuin Ma, biar Mama kembali seperti dulu." Gumam Liona dalam hati.


Jam sepuluh malam Liona baru memutuskan untuk pulang kerumahnya. Ia mengendarai mobil sendiri, karena Dio sudah ia suruh pulang lebih dulu. Liona mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak fokus. Pikirannya terus memikirkan bagaimana cara untuk membuat mama Karin kembali seperti dulu.


Sampai mobilnya berhenti disebuah gerbang, tapi gerbang itu tidak ada yang membukanya. Liona turun dari mobil, " Kok nggak ada yang buka gerbangnya sih." Gerutu Liona turun dari mobil.


" Loh, ini kan bukan rumahku." Ucap Liona bingung menatap sekeliling.


" Permisi," Ucap seseorang menghampiri Liona. " Eh, Nona. Ada apa malam-malam kemari?" Tanya pak Toto.


" Enggak ada apa-apa pak, cuma kebetulan lewat aja pak." Sahut Liona berbohong sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan pak Toto mengangguk paham.


" Kalau gitu saya pulang dulu pak, besok saya kesini lagi." Ucap Liona lalu masuk kedalam mobil meninggalkan pak Toto yang masih berdiri ditempatnya.


" Ada apa dengan Nona itu?" Gumam pak Toto bertanya-tanya. Menatap mobil Liona yang semakin jauh.