
Brakk.
Pintu kamar Liona terbuka dengan kasar. Liona yang terkejut, sontak mendorong tubuh Revan. Namun ia lupa jika Revan saat ini tengah memeluk pinggangnya. Dan akhirnya ia dan Revan terjatuh keranjang dengan posisi Liona menindih tubuh Revan.
" Apa yang kalian lakukan?!" Bentak mama Karin. Ia sangat syok melihat anaknya tengah menindih tubuh pria yang belum sah untuknya.
Saat mengejar Liona, tak sengaja mama Karin melihat Liona masuk kedalam kamarnya bersama Revan. Dengan melihat itu fikirannya jadi membayangkan kalau anaknya tengah berbuat mesum didalam kamar. Dia sudah mengetuk pintu dan memanggil-manggil keduanya beberapa kali. Namun tidak ada jawaban dari dalam, dan pintunya juga dikunci dari dalam.
Mama Karin mulai resah, dan akhirnya ia memutuskan untuk meminta kunci cadangan pada pelayan. Dan untungnya ia mendapatkan kunci itu. Ia pun segera membuka pintu kamar Liona dengan kasar. Dugaannya sejak tadi benar, jika Liona dan Revan sedang melakukan perbuatan mesum. Terbukti jelas dengan keduanya yang berada diatas ranjang dengan Liona berasa diatas tubuh Revan.
Liona gelagapan, ia hendak berdiri dari tubuh Revan, namun sialnya rambutnya malah tersangkut di kancing kemeja Revan. Karena tergesa-gesa dan panik, bukannya rambutnya terlepas malah semakin menyangkut.
" Tante, ini bukan seperti yang tante fikir." Revan membuka suara dengan tangan yang masih sibuk membantu Liona.
" Ish, kenapa nggak mau lepas sih!" Kesal Liona. Masih terus berusaha melepas rambutnya dari kancing kemeja Revan.
" Pokoknya kalian harus segera menikah! Satu minggu lagi kalian akan menikah!" Tegas mama Karin mengambil keputusan, lalu pergi meninggalkan keduanya.
" Ma! Mama salah faham!" Teriak Liona saat melihat kepergian sang mama. " Susah banget sih!" Kesal Liona frustasi.
" Dipotong aja ya rambutnya?" Revan memberi saran.
" Nggak!"
" Tapi kalau nggak dipotong, nggak akan bisa lepas. Coba kamu lihat, sudah sangat tersangkut." Revan memberi pengertian. Ia ingin segera menemui mama Karin untuk menjelaskan kronologinya. Ia tak mau dicap bajingan karena berani masuk kedalam kamar seorang gadis.
" Nggak! Aku susah payah buat panjanginnya."
Revan mengacak rambutnya frustasi. Ia bingung apa yang harus dilakukan sekarang.
" Susah banget!" Liona frustasi bahkan hendak menangis.
Sreet.
" Aw!" Pekik Liona saat telah menarik rambutnya dengan kasar. Ia pun bergegas keluar untuk mencari mamanya.
" Disuruh potong nggak mau. Tapi malah ditarik sampai rontok." Ujar Revan melihat sisa rambut Liona yang masih tersangkut di kancing kemejanya. Ia pun keluar menyusul Liona.
" Sudah selesai kegiatannya?" Tanya mama Karin sinis. Melihat kedatangan Liona dan disusul oleh Revan.
" Ini nggak seperti yang mama fikirkan. Tadi itu cuma salah faham." Liona memberi penjelasan sembari duduk disebelah mamanya. Liona hendak menyentuh tangan mamanya, namun ditepis secara kasar oleh sang mama.
" Maaf sebelumnya tante, aky sudah berani masuk kedalam kamar anak tante. Tapi sumpah aku tidak melakukan apapun dengan Liona. Tadi hanya salah faham, pakaian aku basah dan Liona membantu aku dengan memberikan pakaian milik Leon." Revan ikut memberi penjelasan secara rinci.
" Kenapa pakaian kamu bisa basah? Dan kenapa hanya sebatas memberikan pakaian saja kalian harus saling tindih?" Tanga mama Karin masih dengan nada tak bersahabat.
" Itu tadi karena Liona dan aku nggak sengaja jatuh kekolam. Dan untuk soal saling tindih, tadi Liona saat berjalan tiba-tiba tetsandung dan aku berinisiatif menolongnya, tapi aku ikutan oleng lalu akhirnya kita berdua terjatuh diranjang dengan posisi Liona berada diatas tubuhku." Jawab Revan setengah berbohong. Karena untuk jawaban jatuh dikolam itu memang benar dan untuk sisanya hanya alasan saja.
Liona menyeritkan alisnya mendengar penuturan Revan. " Kok jadi aku yang kesandung? Bukannya dia tadi yang sakit pinggang." Batin Liona.
" Apapun alasannya, kalian harus tetap segera menikah!" Tegas mama Karin tak mau dibantah. " Mama nggak mau kalau sampai cucu mama jadi sebelum kalian sah." Imbuhnya lalu pergi meninggalkan keduanya yang masih tak mengerti maksud mama Karin.
Mama Karin tak mau kejadian yang dulu ia alami terjadi pada anaknya juga. Dulu ia hamil Leon sebelum menikah dengan papa Arya. Karena rasa penasarannya akan bagaimana rasanya bercinta.
" Cucu?" Beo Liona
" Iya Ona, tante karin nggak kalau adiknya Vivi jadi sebelum kita menikah." Bisik Revan tepat ditelinga Liona.
Plak.
Liona refleks menampar Revan. " Kamu pasti senang kan?!" Tanya Liona menggebu sembari menunjuk wajah Revan.
Revan mengelus pipinya yang terasa panas akibat tamparan Liona yang lumayang keras. " Belum juga menikah, kamu sudah kdrt." Keluh Revan." Tentu aku senang, karena itu artinya tante karin telah merestui kita." Sambungnya santai.
Liona semakin geram dengan ucapan Revan." Iya kamu senang, tapi aku nggak mau menikah sama kamu! Tegas Liona.
Deg.
" Apakah itu jawaban Ona? Kamu menolak aku?"
" Iya aku menolak kamu. Aku nggak mau menikah sama kamu!"
Liona tak faham maksud pembicaraan Revan. Hingga satu detik, dua detik, tiga detik. Dan....
Grep.
Liona memeluk tubuh Revan dari belakang. " Bukan itu maksud aku, aku nggak mau kalian pergi dari hidupku." Lirih Liona.
Revan berbalik, ia menagkup wajah Liona yang sudah basah dengan air mata. " Jadi kamu sudah menerima cintaku?" Tanya Revan dan langsung mendapat anggukan cepat dari Liona.
" Jangan pergi." Ujar Liona sembari memeluk erat tubuh Revan.
Revan tersenyum senang, lalu ia melirik pada seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari mereka, dan menunjukkan satu jempolnya. Mama Karin balas menunjukkan dua jempolnya pada Revan.
" Na, kita duduk yuk. Kaki aku rasanya agak pegal. " Ajak Revan diangguki Liona.
" Tapi gendong." Rengek Liona merentangkan kedua tangannya pada Revan.
Revan pun mengikuti keinginan calon istrinya itu. Ya, calon istri. Karena Liona sudah setuju untuk menikah dengan Revan. Ia mendudukkan tubuh Liona disofa. Mereka pun duduk berdampingan , dengan Liona yang terus bersandar dibahu Revan.
" Van."
" Iya kenapa?"
" kenapa tadi kamu berbohong sama mama, bukannya kamu bilang kalau pinggangmu sakit tapi malah aku yang dibilang tersandung."
" Kapan aku sakit pinggang?"
" Tadi dikamar kamu kan bilang pinggang kamu sakit."
" Ohh, itu. Akting, biar kamu iba sama aku."
Auws
Revan meringis saat lengannya tiba-tiba dicubit keras oleh Liona.
" Jadi kamu bohongin aku!" Kesal Liona sudah berdiri dihadapan Revan sambil berkacak pinggang.
" Maaf Ona."
" Dasar mesum! Cari kesempatan dalam kesempitan rupanya." Liona memukul Revan membabi buta tak begitu keras.
" Ampun... Ampun.. Sakit Ona!" Ujar Liona kewalahan dengan pukulan Liona.
" Makanya jangan bohongin aku. Aku paling nggak suka dibohongin!" Tegas Liona setelah merasa puas memukul Revan. Lalu ia kembali duduk disebelah Revan.
" Sayang sakit." Rengek Revan menyandarkan kepalanya dibahu Liona.
" Apaan sih lebay banget!" Ketus Liona mendorong kepala Revan agar menjauh dari lehernya. " Nikmati saja sakitnya, hitung-hitung peringatan untuk selanjutnya. Agar kamu nggak bohongin aku lagi." Sambung Liona lalu pergi meninggalkan Revan.
Ekhem.
" Ada yang lagi bahagia nih." Mama Karin mendekati Revan yang duduk disofa.
" Makasih ya tan, untuk bantuannya."
" Sebenarnya tadi itu bukan bantuan dari tante. Memang perlakuan murni dari seorang ibu yang nggak ingin anaknya dirusak lebih dulu."
" Aku kan nggak rusak Liona tante, tadi cuma akting aja mumpung Liona tiba-tiba ngajak aku masuk kedalam kamarnya."
" Awalnya memang tante kira kalian lagi berbuat mesum. Karena tante belum sempat baca pesan dari kamu, untuk memergoki kalian dikamar."
Revan mengangguk faham, tadi ia kira mama Karin tak percaya padanya. Memang saat Liona masuk kedalam kamar mandi, Revan berusaha untuk mencari kunci kamar yang Liona lempar asal. Namun ia tak dapat menemukannya, alhasil dia menelpon mama Karin untuk bisa membantu membuka pintu. Ia sudah menghubungi sebanyak tiga kali, namun tak ada jawaban dari mama Karin. Jadi Revan berinisiatif untuk mengirim pesan, dan saat ia tengah mengetik, tiba-tiba tersirat ide untuk mengerjai Liona.
Dipesan itu, Revan menyuruh mama Karin memergokinya bersama Liona. Dan menuduh mereka melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Lalu menyuruh mereka untuk segera menikah. Revan ingin tau bagaimana reaksi Liona, karena ia sudah sangat tak sabar menunggu Liona mengatakan kalau dia juga mencintai Revan.
Dan jika Liona menolak, dan tak bisa menikah dengannya. Revan akan melakukan Rencana keduanya, yaitu pura-pura akan pergi bersama Vivi dari kehidupan Liona.
" Tapi aku minta maaf tante, kesannya aku kayak maksa Ona banget." Ujar Revan merasa tak enak.
" Nggak apa Van. Tante tau sebenarnya Liona itu juga cinta sama kamu. Cuma ya gitu, gengsinya terlalu besar dan terlalu banyak pertimbangan. Ya, orang kayak Ona sekali-kali harus dikerjai biar cepat sadarnya." Tutur mama Karin dengan tekekeh pelan mengingat sifat putrinya. Jika ia yang jadi Liona, mungkin ia dan Revan sudah menikah sekarang. Karena ia tak akan menyia-nyiakan pria sebaik Revan.