
Tanpa Liona dan pak Toto sadari, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan keduanya. Mulai dari mobil Liona berhenti tepat didepan gerbang rumahnya.
" Ada apa nona Liona datang malam-malam?" Gumam Revan bertanya-tanya.
Setelah melihat kepergian Liona , Revan segera menghubungi pak Toto. " Ada apa Nona itu datang pak Toto?" Tanya Revan disebrang telpon.
" Katanya cuma kebetulan lewat Tuan."
" Hm, baiklah." Revan memutuskan sambungan telponnya. Setelah menelpon pak Toto, Revan kembali menelpon seseorang.
" Bisa kita bertemu?" Tanya Revan
" Besok di kafe xxx." Sahut orang disebrang telpon.
Revan menarih ponselnya di nakas, lalu merebahkan tubuhnya diranjang. " Semoga ini awal yang baik." Gumam Revan lalu memejamkan matanya.
*
*
" Pagi princess papih." Ucap Revan membangunkan Vivi. " Ayo bangun sayang , kamu harus pergi sekolah." Ucap Revan mencium pipi gembul putrinya.
" Hm, lima menit lagi Pih." Ucap Vivi enggang membuka mata.
" Kalau gitu Onty baik nggak jadi deh jadi Mamihnya Vivi." Ucap Revan menjauhkan diri dari Vivi.
Vivi yang mendengar ucapan Papihnya langsung membuka mata dan berlari kekamar mandi. " Pokoknya Onty baik harus jadi Mamihnya Vivi!" Teriak Vivi dari dalam kamar mandi.
Revan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya. Ia sudah mengajarkan Vivi untuk bisa mandi sendiri. " Doakan saja Vi, semoga Onty baik mau jadi Mamihnya Vivi." Gumam Revan sambil menyiapkan pakaian untuk putri kecilnya.
Revan tidak mengizinkan pelayan yang menyiapkan kebutuhan putrinya selain urusan perut dan mencuci pakaian. Ia melakukan itu agar tidak membuat hubungannya dengan sang putri renggang karena kesibukannya dikantor.
Vivi keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe. Dan ia akan dibantu sang Papih memakai pakaian sekolahnya. " Sayang Papih." Ucap Vivi mencium pipi Revan.
" Papih juga sayang banget sama Vivi."
Setelah selesai Revan dan Vivi bergegas kemwja makan untuk sarapan. " Sayang, Papih nggak bisa antar kamu hari ini. Kamu nggak pa-pa kan kalu diantar pak Dono?" Tanya Revan disela sarapannya.
" Iya Pih, nggak pa-pa."
Setelah memastikan mobil yang ditumpangi putrinya melaju, Revan segera melajukan mobilnya menuju tempat janjiannya kemarin. Hanya menempuh waktu empat puluh lima menit akhirnya mobil yang dikwndarai Revan sampai.
Dan ia langsung melangkah masuk menuju tempat dimana seseorang yang akan ia temui sudah menunggunya. Revan duduk di depan orang itu yang hanya di halangi meja.
" Ada apa kamu mengajakku bertemu?" Tanya Dio to the point.
Ya, orang yang ditemui Revan adalah Dio sahabat lamanya.
" Tentang nona Liona Cassandra."
" Sepertinya aku harus memperkenalkan diriku dulu." Ucap Revan menjeda kalimatnya. " Aku adalah Papihnya Vivi, anak yang kalian tolong waktu itu ditaman dan kalian antar pulang." Jelas Revan.
" Lalu?"
" Dia sudah menemui putriku dua kali, bahkan semalam dia datang kerumahku. Dan saat satpam dirumahku bertanya dia hanya bilang kebetulan lewat saja. Putriku juga menyukainya, bahkan ia ingin jika nona Liona yang menjadi Mamih sambungnya." Sahut Revan tanpa ragu.
" Jangan menjadikan putrimu sebagai alasan agar kamu bisa mendekati nona Liona. Walaupun kita ini bersahabat, tapi jika berurusan dengan nona Liona aku tidak akan segan- segan." Tegas Dio berdiri dari tempatnya.
" Bukan begitu maksud aku , dengarkan dulu. Aku hanya ingin mengenal nona Liona lebih jauh. Beri aku kesempatan Dio, aku tidak akan mungkin menyakiti Liona . Apalagi Liona adalah adik dari sahabatku sendiri. Dan aku bisa lihat kalau dia sebenarnya kesepian dan dia juga butuh tempat untuk bersandar. Jadi beri aku kesempatan untuk bisa mengenalnya, jika aku sampai menyakitinya kamu boleh melakukan apapun padaku. " Ucap Revan meyakinkan Dio.
Dio berfikir sejenak lalu dia membuka suara." Aku akan memberi kamu kesempatan tapi dengat satu syarat." Ucap Dio
" Apa Syaratnya?"
" Aku beri kamu waktu selama satu tahun untuk bisa mencuri atensi nona Liona tapi jika dalam waktu satu tahun kamu masih belum berhasil. Maka jauhi nona Liona dan jangan pernah muncul lagi dihadapannya. Ingat, jangan besar kepala dulu. Aku melakukan ini hanya untuk kebaikan nona Liona. Dan kamu juga tau tidak mudah untuk merebut atensi nona Liona. Jadi, selamat berjuang." Ucap Dio lalu pergi meninggalkan Revan yang masih duduk.
Bukan tanpa alasan Dio mengizinkan Revan untuk mendekati Liona. Dia sangat mengenal siapa itu Revan dan ia juga ingin Nonanya keluar dari belenggu dendam yang mengurungnya. Dan kembali menjadi Liona Cassandra yang dulu.
Dan jika Liona tau apa yang sudah Dio lakukan dibelakangnya, bisa-bisa Dio akan dihukum habis-habisan oleh Nonanya itu. Maka Dari itu , jika Revan gagal dalam misinya, Dio menyuruhnya untuk tidak lagi menemui Liona. Karena jika mereka sering bertemu, Liona akan terus mengungkit dan menyalahkan Dio.
" Semoga keputusanku memberi Revan kesempatan untuk mendekati Nona adalah keputusan yang baik." Gumam Dio sembari menghidupkan mesin mobilnya.
" Aku akan menyayangi dan mencintai Liona, Leon. Aku akan memberikannya cinta dan kasih sayang yang melimpah. Doakan aku dari sana Leon, agar hati Liona bisa aku luluhkan. Dan aku berjanji untuk membawa Liona keluar dari dunia dendamnya." Gumam Revan dalam hati.
Setelah pertemuannya dengan Dio, Revan berniat untuk mengunjungi Liona di kantornya. Selama perjalanan Revan terus tersenyum, ia membayangkan wajah cantik Liona saat sedang tersenyum padanya.
Revan memakirkan mobilnya, lalu melangkah masuk kearea kantor. Ia tak menghiraukan karyawan yang terpesona melihat senyum diwajah tampannya di sepanjang perjalannya.
Saat keluar dari lift , dan saat otu juga Revan melihat Liona berjalan dan iikuti oleh Dio.
" Nona Liona." Panggil Revan.
Liona yang merasa dipanggil, membalikkan badannya melihat siapa yang memanggilnya. Liona menyeritkan dahinya, mencoba mengingat-ingat jika dia tidak ada pertemuan dengan Revan.
" Ada apa Tuan Revan?" Tanya Liona saat Revan sampai tepat dihadapannya.
" Apa kita ada pertemuan dan saya melupakannya ?" sambung Liona.
" Tidak Nona, saya hanya ingin berkunjung kesini. Dan ingin meminta waktu anda nanti siang untuk saya ajak makan siang bareng." Ucap Revan to the point.
Liona tersentak mendengar penuturan rekan bisnisnya itu. Baru pertama kali ada yang berani mengajaknya lunch bersama. " Maaf Tuan Revan tapi saya banyak pekerjaan hari ini." Tegas Liona lalu pergi meninggalkan Revan begitu saja.
Dio yang sejak tadi menyaksikan keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala. " Gerak cepat sekali dia." Batin Dio menatap Revan dengan senyum mengejek dan melangkah mengikuti Liona.
Revan menatap lesu punggu Liona yang menghilang di balih dinding. " Mungkin kali ini aku gagal, tapi lain kali aku akan berhasil mengajak kamu makan siang bareng." Ucap Revan pantang menyerah.