
Liona melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ketika mendapatkan telpon dari Dio kalau mamanya sakit dan tidak mau makan sama sekali. Ia sangat menyayangi sang mama, karena hanya mama satu-satunya keluarga yang ia punya.
Liona memakirkan mobilnya asal, ia berlari menuju tempat sang mama. Liona tak memperdulikan orang-orang yang mengumpatnya, karena tak sengaja ia tabrak sebab terburu-buru. Ia terus melangkah cepat, sampai ia berdiri tepat di depan ruangan sang mama.
Hatinya berdenyut melihat wanita hebat dalam hidupnya berbaring lemah diatas ranjang. Liona mendekat kearah mama Karin, ia duduk di pinggir ranjang mama Karin. Digenggamnya tangan sang mama dan diciumnya. Lalu ditatapnya tangan mama Karin yang satunya, yang terdapat infus disana.
Liona menghampiri suster yang sejak tadi berdiri dipojokan. Sambil menundukkan kepalanya tanpa berani menatapnya.
" Kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Liona dingin menatap tajam sang suster.
" Maafkan saya nona, karena kemarin malam saya tidak langsung mengabari nona tentang kondisi nyonya Karin." Ucap suster masih tetap menunduk. Ia tahu kesalahannya, karena tak langsung mengabari Liona tentang kondisi mamanya. " Sejak kemarin nyonya Karin tidak mau makan, beliau hanya mau makan jika disuapi oleh tuan Arya." Jelas suster jujur.
Liona menghela nafasnya panjang," Keluar kamu dari sini, tinggalkan saya dan mama saya berdua."
Suster itupun pergi meninggalkan Liona dan mama Karin berdua.
Liona kembali duduk disebelah sang mama, " Ma, sampai kapan mama akan terus seperti ini.?"
Seharian ini Liona menemani sang mama, ia merawat mamanya sendiri. Liona bertekad untuk merawat sang mama sampai sembuh. Dan ia akan menitipkan perusahaannya pada Dio.
" Sekarang mama minum obatnya ya," Ujar Liona menyuapi mamanya obat. " Ma, mama kok diam aja sih. Mama nggak senang ya Ona temenin mama disini?" Tanya Liona, karena sejak mamanya terbangun tadi siang, sang mama tak mengucapkan sepatah katapun.
Liona hanya bisa menghela nafasnya panjang, sebab lagi-lagi ia tak mendapatkan respon dari mama Karin. " Ma, Ona keluar sebentar ya. Mau anggak telpon." Ucap Liona lalu melangkah keluar ruangan.
" Halo Galang," Ujar Liona.
" Halo nona, tuan Bagas berusaha untuk menghakhiri hidupnya."
" Cegah! Dia tidak boleh mati dengan mudah." Ucap Liona lalu menghakhiri panggilan.
*
*
" Jangan beri tahu nona Liona dulu, kita selidiki dulu siapa pelakunya. " Jawab Dio menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
" Saya takut jika orang itu adalah orang yang berbahaya. Markas ini sudah ada hampir enam tahun , tapi baru kali ini ada orang lain yang mengetahuinya bahkan memberikan ancaman." Tutur Galang
Ya, kemarin malam ada penyerangan dimarkas. Mereka datang berjumblah sepuluh orang, tapi mereka semua dapat dikalahkan oleh anak buah Galang. Dan sebelum pergi, salah satu dari mereka melemparkan sebuah surat pada Galang. Galang membuka surat itu dan terdapat tulisan" Katakan pada Liona saya ingin bertemu. Jika dalam waktu satu minggu dia tidak datang menemui saya, akan saya hancurkan semua bisnisnya dan markasnya akan saya bakar. Waktu dan tempat saya yang tentukan! Dan ingat dia harus datang sendiri." Isi surat itu.
" Apakah orang itu adalah anak dari Robert?" Batin Dio bertanya-tanya.
" Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya tuan?" Tanya Galang menatap Dio yang memejamkan matanya.
" Pokoknya jangan beri tahu nona Liona dulu, saat ini dia sedang mengurus nyonya Karin yang sedang sakit." Sahut Dio sembari membuka mata dan membenarkan posisi duduknya.
" Baik tuan,"
" Bagaimana dengan taun Bagas?" Tanya Dio
" Kemarin dia berusaha untuk mengakhiri hidupnya, tapi anak buah saya berhasil mencegahnya. Dan tadi pagi dia mengamuk minta dibunuh saja, dan saat ini dia masih dalam pengaruh obat bius." Sahut Galang menjelaskan.
" Awasi saja terus, nyonya Sarah sepertinya sudah mulai curiga jika suaminya jadi tahanan nona Liona. Perketat lagi penjagaan disekitar markas!" Titah Dio lalu beranjak dari sana.
Beberapa hari belakangan ini, Sarah terus menghubungi Dio menanyakan keadaan Bagas. Bahkan Sarah mengirim anak gadisnya untuk menemui Dio. Ia mempergunakan anaknya itu untuk menggoda Dio dan agar dapat mengorek informasi tentang suaminya yang tiba-tiba menghilang. Tapi Sarah salah besar, Dio bukanlah seorang pria yang mudah digoda.
" Jika sampai nona Liona menemui orang itu, saya tidak bisa membiarkan menemuinya sendiri. Aku harus melakukan sesuatu." Gumam Dio sembari melajukan mobilnya meninggalkan markas.