
Brak..
Liona menggebrak meja yang ada dihadapannya, kali ini ia sangat murka. Ia baru tahu jika ada yang menyerang markasnya. Dan lebih parahnya lagi Liona mengetauhuinya sendiri, bukan karena diberitahu oleh anak buahnya. Bahkan orang itu mengancam akan menghancurkan bisnis Liona, jika ia tak mau datang menemuinya.
" Apa kalian fikir jika tidak memberitahu saya kalian akan bisa mengatasinya sendiri!?" Bentak Liona penuh amarah.
Dio dan Galang tak ada yang berani menjawab bahkan menatap Liona. Mereka tahu, kalau mereka berdua salah. Karena mereka berfikir akan bisa mengatasinya sendiri tanpa memberitahu Liona. Tapi belum juga mereka berhasil mengatasinya, orang itu sudah terlebih dulu menghubungi Liona.
" Entah punya masalah apa dia pada saya sampai ingin menghancurkan saya." Ucap Liona berusaha meredakan amarahnya.
" Tentu dia punya masalah dengan anda nona, tidak ada seorang anak yang rela orang tuanya ditahan dan disiksa. Walaupun mengetahui orang tuanya salah sekalipun." Ujar Dio dalam hati.
Dio sangat yakin jika orang itu adalah anak dari Robert. Karena tidak mungkin ada orang yang tak berkuasa berani mengancam seorang Liona. Tapi darimana orang itu bisa tahu markas tempat ayahnya disekap? Dan kenapa dia tak langsung saja menyelamatkan Robert waktu itu? Apa yang sebenarnya ia rencanakan? Disisi lain Dio bingung dengan apa yang direncanakan orang itu. Kenapa ingin sekali bertemu dengan Liona.
Ting..
Ponsel Liona berbunyi menandakan pesan masuk. ia membacanya. setelah itu Liona langsung kembali memasukkan ponselnya kesaku tanpa mau membalas pesan. " Dia telah menyiapkan tempat dan waktunya." Ucap Liona
" Apakah nona yakin akan menemuinya?" Tanya Dio hati-hati.
" Saya bukan seorang pengecut Dio! Dan saya juga bukan orang yang akan lari dari masalah!"
" Biarkan saya yang menemani nona." Ujar Dio menawarkan diri.
Liona menatap Dio," Tidak perlu." Tolak Liona. " Kamu dan Galang cukup berjaga dirumah sakit saja. Dan pastikan keadaan disana aman sampai saya kembali." Imbuhnya.
" Lalu siapa yang akan berjaga disini nona?" Tanya Galang setelah diam sejak tadi.
Liona menatap Galang menelisik, " Apakah kamu tidak yakin dengan kemampuan anak buahmu untuk berjaga disini? " Liona balik bertanya.
" Saya sangat yakin dengan kemampuan anak buah saya nona." Sahut Galang tanpa ragu.
"Jika kamu yakin, biarkan anak buah kamu saja yang berjaga disini. Kamu dan Dio tetap awasi keadaan disekitar mama saya. Dan jika terjadi penyerangan lagi dimarkas, dan semua anak buah kamu kalah. Saya akan marah, sangat marah. Tapi saya akan lebih marah lagi, jika sampai terjadi sesuatu pada mama saya. Dan jika itu terjadi, kalian berdua akan saya kurung dalam ruangan yang sama dengan Tiger!" Sahut Liona panjang lebar penuh penekanan.
Galang menelan salivanya kasar," Ba-baik nona."
Dio dan Galang menatap punggung Liona yang menghilang dibalik pintu. Lalu mereka berdua saling pandang, dan menggelengkan kepala bersamaan. Mereka sama- sama membayangkan jika akan dikurung dalan satu ruanga bersama Tiger. Dan mereka berdua akan jadi santapan hewan buas tersebut.
" Ayo cepat kita lakukan perintah nona, jangan sampai kita berdua jadi santapan Tiger." Ucap Dio bergidik ngeri.
Tiger merupakan hewan peliharaan almarhum Leon. Leon mengadopsi Tiger dari kebun binatang saat Tiger masih kecil. Dan karena Leon sudah tidak ada, jadi Liona yang mengambil alih memelihara Tiger. Ia mengurung Tiger dikandang yang ada dibelakang markas. Dan jangan lupakan, Tiger hanya akan menurut pada Leon atau Liona saja. Apapun yang diucapkan oleh Leon atau Liona, hewan buas itu akan langsung menurutinya.
*
*
Liona melangkah masuk kedalam sebuah hotel, tempat yang sudah dipilih orang itu. Dan langsung menuju kamar yang orang itu sebutkan. Ia telah mempersiapkan semuanya jika terjadi sesuatu nanti. Liona adalah seorang gadis dewasa, ia sangat paham. Jika laki-laki dan perempuan bertemu disebuah hotel, apalagi sebuah kamar. Bisa saja terjadi kesalahan diantara keduanya. Dan Liona tak mau jika hal itu terjadi padanya.
Ting..Tong..
Liona meekan bel, dan setelah itu tampak seorang pria membuka pintu dan tersenyum padanya.
Liona menggubrisnya sama sekali, bahkan tersenyum pun tidak. Ia tetap menampilkan sikap datar dan dinginnya. Liona duduk disebuah sofa, dan pria itu pergi mengambil minum untuknya.
" Apa tujuan anda?" Tanya Liona saat pria itu datang dan membawa segelas jus orange.
Pria itu tak langsung menjawab, ia menatap Liona sambil tersenyum smirk. Dan mengambil tempat untuk duduk disebelah Liona.
" Relax Liona," Ucap Pria itu hendak menyentuh tangan Liona. Tapi segera ditepis oleh Liona
" Perkenalkan aku Mario, anak dari orang yang kamu sekap."Imbuhnya.
" Katakan saja, apa tujuan anda!" Ucap Liona geram, karena Mario terlalu bertele-tele.
" Baiklah, baiklah. Tujuanku adalah..." Mario mendekat kearah Liona dan sontak Liona bergeser.
Bruk..
Mario terjatuh kelantai, setelah dodorong kasar oleh Liona. " Jangan berbuat macam- macam! Atau saya patahkan tulang- tulang anda!" Ujar Liona memperingati.
Mario meringis, mengusap bokongnya yang menyentuh lantai. " Kasar sekali kamu!" Bentak Mario.
" Jika kau ingin membebaskan Robert, kenapa tidak langsung membawanya pergi waktu itu. Dan kenapa malah mengajak saya bertemu." Sengit Liona.
Mario tertawa mengejek, " Aku tidak ada urusan dengan pembunuh itu. Lagi pula dia juga bukan papa kandungku."
Liona semakin geram, karena merasa Mario hanya hendak bermain-main dengannya. " Saya rasa pertemuannya sudah selesai, saya permisi dan selamat malam." Ucap Liona lalu melangkah menuju pintu. Ia terus mencoba membuka pintunya, namun na'as pintunya terkunci.
" Kau mau kemana sayang..." Ucap Mario tiba-tiba berdiri dibelakan Liona dan menyentuh kedua bahunya.
Liona memberontak berusaha melepas tangan Mario yang kini sudah memeluknya dari belakang. " Lepas!" Bentak Liona
" Tidak akan sayang.. Hanya aku saja yang boleh menyentuh tubuh ini.." Ucap Mario mempererat pelukannya dan menciumi leher Liona.
Liona terus memberontak, dan sampai akhirnya ia berhasil lepas dari pelukan Mario dengan menendang pangkal pahanya. Dan tepat mengenai benda pusaka Mario.
Aarrgghh..
Mario mengerang kesakitan menyentuh pangkal pahanya. " Wanita sia*lan!" Umpat Mario menahan sakit.
Liona mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang meminta bantuan. Namun saat panggilannya tersambung, tiba- tiba Mario mengambil ponsel Liona dan melemparnya hingga hancur. Mario mengangkat tubuh Liona dan menghempaskannya diranjang. Ia mengungkung tubuh Liona dan mengunci pergerakkannya. Mario tersenyum smirk " Kali ini tidak akan ada yang merebutnya." Ucap Mario menyeringai.
Ia menarik kasar kemeja yang dikenakan Liona. Hingga semua kancingnya terputus, dan memperlihatkan kulit putih mulus Liona. Mario mencium paksa Liona.
Sedangkan Liona terus berusaha memberontak, walaupun ia merasa tubuhnya sudah lemas karena sejak tadi melawan Mario. " Jang-, emph." Ucapan Liona terpotong sebab kembali dicium oleh Mario. Ingin rasanya Liona menangis, " Tuhan tolong kirim seseorang untuk menolongku." Batin Liona merapalkan doa.
Brakk..
Seseorang membuka pintu dengan kasar, " Breng*sek!" Umpatnya.