Liona Cassandra

Liona Cassandra
bab 24



Revan terus menatap wajah cantik Liona. " Ayo bayar ganti ruginya." Ucap Revan saat melihat Liona hanya bergeming.


" Gi-gimana mau bayar, ponselku kamu lempar tadi." Ujar Liona gugup. Bagaimana tidak gugup, jika sejak tadi ia diperhatikan dan Revan hanya mengelus wajahnya.


" Bukan dengan uang. Tapi dengan yang lain."


" Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti?" Tanya Liona sembari memejamkan matanya. Karena Revan menempelkan pipinya dengan pipi Liona dan ia juga menempelkan bibirnya tepat ditelinga Liona.


" Kiss Mamih Ona." Bisik Revan.


Sontak Liona membelalakkan matanya mendengar ucapan Revan. " Kamu gi- mph"


Sstt.


" Aku bilang jangan keras-keras," Ujar Revan sambil membekap bibir Liona dengan tangannya.


" Aku nggak akan ngelakuin itu!" Bisik Liona dengan tegas. Ia mendorong tubuh Revan dengan kasar. Lalu ia beranjak dan mencoba membuka pintu. " Sini kuncinya!" Liona menengadahkan tangannya pada Revan.


" Nggak akan sebelum kamu bayar ganti ruginya dulu." Tolak Revan. Ia mengambil kunci dari saku celananya dan menaruhnya ditempat yang lebih tinggi.


Liona yang memang lebih pendek dari Revan, ia kesulitan dalam meraih kunci itu. Ia sampai melompat-lompat agar bisa meraihnya. Namun saat lompatan terakhir, tubuh Liona oleng dan hendak terjatuh. Revan dengan sigap menangkap tubuh Liona agar tak membentur lantai.


" Menurut saja Ona, kamu sampai membahayakan diri kamu sendiri karena egomu itu."


" Bukan aku yang membahayakan diriku sendiri, tapi kamu yang menaruh kunci itu ditempat yang tinggi!" Sengit Liona tak terima.


" Benarkah karena aku? Bukan karena dirimu sendiri? Padahal tadi aku melihat jelas kalau kamu sedang menguping pembicaraanku dengan Yuni. Dan terlihat jelas kecemburuan diwajahmu." Ya, sebenarnya Revan sudah melihat Liona sejak dia mendekat kearahnya dengan Yuni. Ia kira Liona akan langsung menghampirinya, namun ia salah. Liona lebih memilih bersembunyi dan menguping pembicaraannya.


" Siapa yang menguping? Untuk apa juga aku cemburu?" Tanya Liona mengelak.


" Kalau tidak menguping, lalu apa yang kamu lakukan di balih pohon hias itu dan menjatuhkan vas bunganya?" Revan merasa gemas dengan Liona, padahal sudah ketahuan tapi ia tetap tidak mau mengakui.


" Tadi aku- lihat kucing. Ya, kucing. Aku mau menolongnya dan tak sengaja menyenggol vas itu." Liona masih mengelak. Tapi ia tak bisa menyembunyikan kegugupannya saat bicara.


" Benarkah kucing?" Tanya Revan memastikan. Dan ucapannya diangguki oleh Liona. " Iya aku juga melihatnya tadi... kucing perempuan yang bersembunyi dibalik pohon hias." Revan membenarkan ucapan Liona.


" Tuh kan, kamu juga lihat kan tadi. Sekarang ayo, ambilkan aku kuncinya. Kasihan Mama pasti sudah menungguku." Liona membawa-bawa sang Mama agar Revan mau membebaskannya.


" Iya, aku bahkan melihatnya dengan sangat jelas. Kucing liar yang sekarang berada tepat dihadapanku." Ujar Revan sambil melangkah maju kedepan Liona. Dan membuat Liona melangkah mundur hingga tubuhnya mentok kedinding.


" Kapan Ona?"


" Apa?"


" Kamu membalas cintaku?"


" A-aku nggak tau."


Revan menghela nafas panjang, " Apa disini masih belum tertulis namaku?" Tanyanya lagi sembari menunjuk dada Liona.


Liona menggeleng dan menundukkan kepalanya. Ia masih belum tau apa dia sudah mencintai Revan apa belum. Tapi ia merasa marah jika Revan dekat dengan perempuan lain seperti saat tadi. Liona juga merasa kasihan pada Revan, sudah kesekian kalinya Revan bertanya apakah dia sudah mencintainya. Namun jawabannya masih tetap sama, Liona belum bisa mencintainya. " Maaf." Cicit Liona.


" Iya nggak pa-pa. Aku akan menunggu kamu. Tapi kamu juga harus tau, ada batasnya kesabaranku untuk menunggu." Revan mengingatkan, lalu ia mengambil kunci yang ia taruh diatas tadi dan membuka pintunya.


" Tunggu!" Ujar Liona menghentikan langkah Revan.


" Ada apa?"


Ia memang masih belum mencintai Revan, tapi Liona juga tak mau jika Revan sampai berhenti mencintainya. Ya, katakan saja jika Liona itu orangnya serakah. Ia tak mau kehilangan tapi dia juga tak bisa membuatnya tetap berada disisinya.


" Akan aku tunggu, tapi jangan lama-lama."


Cup.


Liona mengecup singkat pipi Revan." Untuk ganti ruginya." Ujar Liona malu-malu. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Revan yang masih mematung ditempatnya.


Revan memegangi pipinya yang dikecup Liona tadi. Ia tak percaya Liona akan dengan beraninya menciumnya. Walaupun hanya sebatas kecupan dipipi, tapi Revan sudah sangat senang.


Yes!


Revan berjingkrak seperti anak kecil yang baru diberi hadiah. Hingga ia membuat para karyawannya keheranan. " Meta. Kamu bagikan bonus pada semua karyawan!" Titah Revan pada manager toko.


Tentu saja dengan ucapan Revan tersebut, membuat para karyawan bersorak senang. Bahkan mereka mengucapkan selamat padanya. Mereka semua berfikir kalau bosnya itu merasa senang karena cintanya telah diterima.


*


*


Disisi lain, Liona terus menerutuki kebodohannya. Bisa-bisanya ia mempermalukan dirinya sendiri didepan Revan. " Bodoh,bodoh! Apa yang sudah aku lakukan!" Gerutu Liona memukul-mukul kepalanya.


" Ona, kamu kenapa sayang? Kok kamu pukul kepala kamu kayak gitu? Dan kenapa juga wajah kamu kok merah gini? Kamu sakit?" Tanya Mama Karin bertubi.


" Aku nggak pa-pa kok Ma. Mama udah selesai belanjanya? Kalau udah selesai kita pulang yuk!" Ajak Liona mengalihkan pembicaraan.


" Iya, Mama sudah selesai kok."


Mama Karin dan Liona berjalan beriringan keluar dari Mall. Sementara barang belanjaannya di bawa oleh karyawan butik.


Mama Karin terus melirik-lirik kearah anaknya. Ia merasa ada yang aneh dengan Liona. Mama Karin bisa menebak jika saat ini Liona tengah merasa malu. Ia sangat hafal dengan tingkah laku anaknya itu. Tapi merasa malu karena apa, itu yang ia tidak tahu.


Hingga sampai dirumah, masih terlihat dengan jelas semburat merah diwajahnya. " Ma, Ona kekamar dulu ya. Mau bersih-bersih." Ujar Liona diangguki Mama Karin.


Ia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Saat sampai didepan pintu, ia membuka handle pintu dan... Liona tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kamarnya kini telah berubah, bahkan semua barang-barangnya juga sudah diganti.


" Ya ampun, semuanya diganti sama Mama." Gerutu Liona memperhatikan setiap sudut kamarnya. " Ya sudah lah." Sambungnya dengan pasrah. Ia lebih memilih untuk segera membersihkan dirinya.


Tak memerlukan waktu lama, Liona telah menyelesaikan acara mandinya. Saat ia tengah menggosok rambutnya toba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat siapa yang menelpon, dan ternyata pria yang membuatnya merasa malu.


Panggilan pertama, kedua, dan ketiga Liona tak menghiraukannya. Ia masih merasa malu walaupun hanya sekedar melakukan panggilan telpon. Namun ponselnya kembali berdering, menunjukkan panggilan keempat dari Revan. Liona mengatur nafas dulu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat panggilan Revan.


" Halo." Ucap Liona. Namun setelah itu ia terjengkat karena panggilan suara kini telah teralihkan jadi panggilan video.


" Hai Mamih!" Seru vivi tersenyum memenuhi layar ponsel Liona.


Liona bernafas lega, " Iya. Halo juga sayang! Kamu apa kabar?" Tanya Liona.


" Aku baik Mih. Tapi aku kangen sama Mamih. Hari libur besok, Vivi nginap ya dirumah Mamih."


" Iya, Mamih juga kangen sama kamu."


Sudah satu jam lamanya Liona melakukan panggilan bersama Vivi. Sampai ia memutuskan untuk bertanya dimana Revan. Karena ia tak melihat Revan sama sekali selama panggilan berlangsung. Dan untungnya Revan masih sibuk melakukan pekerjaannya. Dan tak menghiraukan Vivi dan Liona yang tengah berbincang.