Liona Cassandra

Liona Cassandra
eps 17



Pagi harinya Liona membantu Vivi bersiap untuk kesekolah. Seperti yang dilakuakan seorang ibu pada umumnya. Dan tentu hal itu membuat sicantik Vivi merasa sangat senang. Ia yang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari kecil, kini ia bisa mendapatkannya dari Liona. " Kapan Onty resmi jadi Mamihnya Vivi." Tanya Vivi sontak membuat Liona menghentikan kegiatannya yang sedang mengikat rambut Vivi.


" Kenapa sih kamu pengen banget Aunty jadi Mamih kamu?" Liona balik bertanya sambil berjongkok didepan Vivi, untuk mensejajarkan tingginya.


" Karena Onty baik, dan Vivi sayang banget sama Onty." sahut Vivi sembari memeluk Liona. " Vivi pengen setiap hari dibangunin sama Onty, dibantu bersiap sama Onty, dibantu kerjain pr sama Onty, dan yang paling Vivi pengen banget, dipeluk waktu bobok sama Onty yang kayak tadi malam." imbuh Vivi.


Hati Liona tersentuh mendengar penuturan gadis kecil yang baru berusia lima tahun itu. " Kalau Vivi mau Aunty jadi Mamihnya Vivi, Vivi harus jadi anak yang baik dan penurut ya. Dan nggak boleh ngelawan kalau lagi dikasih tau." Ucap Liona lalu kembali melanjutkan mengikat rambut Vivi.


" Onty, Vivi mau disuapin." Ucap Vivi manja.


" Nggak boleh Vi, Aunty Ona juga harus sarapan. Kamu nggak boleh manja oke." Tegas Revan namun penuh kelembutan.


Vivi menuruti kata Revan, namun ekspresinya tidak bisa ia sembunyikan kalau sedang bersedih. Liona tak tega melihat gadis kecilnya bersedih. " Ak sayang." Ucap Liona sembari mengodorkan sendok berisi nasi dan lauknya pada Vivi. Seketika wajah Vivi sumringah, dan ia segera membuka mulutnya.


Revan mengangkat sudut bibirnya, ia sangat bahagia melihat Liona yang begitu menyayangi Vivi. Pilihannya tidak salah, untuk menjadikan Liona sebagai istrinya nanti. Dan putrinya juga sangat menyayangi Liona. Hal yang perlu Revan lakukan sekarang adalah bagaimana cara meluluhkan hati Liona.


Setelah menyelesaikan acara sarapan, kini ketiganya tengah berada didalam mobil menuju sekolah Vivi. Sesuatu hal yang sangat diinginkan si kecil Vivi, ingin diantar sekolah oleh Mamihnya. Walaupun masih belum jadi Mamih sih, tapi Vivi sudah mengklaim Liona sebagai Mamihnya.


" Vivi sekolah dulu ya Pih, Mih." Ucap Vivi memelankan kata Mih, sambil menyalami tangan Revan Dan Liona.


Liona sangat jelas mendengar kalau Vivi memanggilnya Mih, ia berjongkok di depan Vivi dan menangkup kedua pipi Vivi. " Vivi bilang apa tadi?"Tanya Liona pura-pura.


" Ma-maaf Onty," Sahut Vivi takut. Tanpa berani menatap Liona.


Liona tersenyum melihat Vivi, lalu ia mengecup keningnya." Belajar yang rajin ya anak Mamih." Ucap Liona menekankan kata Mamih.


Vivi sontak menatap Liona, tadi ia kira Liona akan marah padanya. Tapi justru Liona terlihat senang. Vivi memeluk Liona erat," Iya Mamih, Vivi akan buat bangga Mamih sama Papih." Ujar Vivi senang.


Setelah memastikan Vivi masuk kedalam kelasnya, Revan dan Liona akan pergi kekediaman Liona. Namun saat keduanya hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba ada yang memanggil Revan.


" Pak Revan!" Teriak seorang perempuan.


" Iya,ada apa ya bu."


" Ih, masak pak Revan panggil saya bu sih. Panggil Nia saja." Ucap bu Nia genit.


" Iya, ada apa Nia."


" Saya cuma mau bilang kalau hati saya sakit, lihat pak Revan sama perempuan lain. Kenapa pak Revan lebih milih dia sih, padahal kita berdua cocok banget. Duda sama Janda," Ujar bu Nia menatap tak suka pada Liona.


" Maaf ya Nia, saya masih banyak urusan . Jadi saya permisi," Ujar Revan langsung masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Liona.


" Ona, " Panggil Revan sesekali melirik Liona disampingnya.


Liona menatap Revan, " Kenapa?"


Revan menepikan mobilnya, lalu ia menatap Liona. " Kamu udah bisa nerima aku?" Tanya Revan menatap manik Liona dalam.


Revan tersenyum dan menggenggam tangan Liona. Akhirnya perjuangannya selama ini tak sia-sia. " Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa mencintai aku?" Tanya Revan sambil terus menggenggam tangan Liona.


" Aku ngga-"


Drett..drett..


Ponsel Revan berdering, revan segera mengangkat telponnya. " Baik aku dan Liona kesana sekarang!" Ucap Revan pada orang disebrang telpon, lalu segera memutus sambungan telponnya.


" Ada apa Van?"


" Tante karin tak sadarkan diri." Sahut Revan dan seketika membuat Liona panik.


" Ayo cepat kerumah sakit!" Ajak Liona tergesa.


Revan langsung melajukan mobilnya kerumah sakit tempat Mama Karin berada. Disepanjang perjalanan, Revan tak melepas genggaman tangannya. Ia mengusap punggu tangan Liona agar memberi ketenangan.


Saat sudah sampai, Liona langsung keluar dari mobil dan berlari meninggalkan Revan. Revan segera keluar dari mobil dan menyusul Liona. " Apa yang sebenarnya terjadi Dio?" Tanya Revan saat sampai di hadapan Dio.


Ya, yang menelpon Revan tadi adalah Dio. Sebab Dio tak bisa menghubungi Liona karena ponselnya rusak. Dan Revan juga sudah menceritakan apa yang terjadi pada Liona kemarin.


" Aku nggak tau pasti Van, tapi masih diperiksa oleh dokter." Sahut Dio. " Lalu bagaimana dengan orang itu Van?" Imbuh Dio bertanya saat teringat kejadian yang menimpa Liona kemarin.


" Itu jadi urusanku."


Dio tak lagi bertanya tentang Mario, ia yakin jika Revan bisa mengatasinya sendiri. Dan Dio juga ingin melihat, sampai mana Revan akan memberi pelajaran pada orang yang telah mengganggu Liona.


Revan masuk kedalam ruangan Mama Karin, dilihatnya wanita paruh baya yang sedang berbaring diatas ranjang. Dan wanita yang ia cintai duduk dipinggir ranjang sambil terus menggenggam tangan sang Mama.


" Na," Panggil Revan menyentuh bahu Liona.


Dan Liona sontak menoleh. " Kenapa kamu masih disini? Kamu nggak kekantor?" Tanya Liona.


" Enggak, aku mau nemenin kamu disini."


Revan duduk disebelah Liona, ditatapnya wajah Liona. Walaupun Liona berusaha tak memperlihatkan kesedihannya, tapi Revan bisa melihat kalau Liona sangat rapuh saat ini. Anak mana yang tak sedih jika orang tuanya sakit, terlebih lagi Mama Karin adalah orang tua Liona satu-satunya. Bahkan Revan tau bagaimana rasanya ditinggalkan orang tua. Orang tua Revan dulu meninggal secara bersamaan, karena sebuah kecelakaan.


Tangan Revan terulur menyentuh kepala Liona, dan mengandarkannya dibahunya." Kalau kamu butuh sandaran, bahu aku masih kuat kok . Dan kalau kamu mau cerita, cerita aja. Aku siap dengerin." Ucap Revan


Liona hanya menurut, dan menyandarkan kepalanya dibahu Revan. " Kapan Mama akan sadar? Mama belum bisa sembuh dari depresinya, tapi dia sudah diberikan penyakit yang lain. Kenapa Van, kenapa? Papa sama kak Leon udah pergi. Sekarang mama sakit, apa masih belum cukup semuanya? Saya capek Van, saya capek. Saya nggak kuat... Hiks hiks hiks." Akhirnya Liona menyeluarkan semua unek-uneknya. Ia sudah tak dapat menahan sendiri semuanya.


Revan memeluk Liona, dan mengusap punggung Liona yang bergetar karena menangis. " Menangislah Na, jika itu bisa memberikan kamu ketenangan. Mulai saat ini aku akan selalu ada untuk kamu, aku akan jadi sandaran kamu. Dan aku akan membantu kamu melewati ini, akan aku coba untuk mengembalikan Ona yang dulu lagi." Batin Revan.


Dio menyaksikan semuanya dari ambang pintu, akhirnya Liona menemukan tempat untuk dia berbagi. Dan Dio yakin, jika sudah seperti ini. Liona pasti akan kembali ke dirinya sendiri. Seorang wanita yang penuh kasih sayang dan kehangatan.