Liona Cassandra

Liona Cassandra
bab 28



Sesua janjinya, Revan menemani Liona untuk menjenguk kakek Rafi dirumah sakit. Dan kini keduanya tengah berada diperjalanan menuju rumah sakit. " Revan, tolong berhenti di toko buah yang didekat rumah sakit." Pinta Liona melirik Revan yang sedang mengemudikan mobil.


" Ngapain?"


"Mau beli buah untuk kakek, sebagai buah tangan. Dan buah juga bagus untuk kesehatan kakek."


" Baik."


Revan melirik Liona sesekali, ia kagum dengan kebesaran hati Liona. Walaupun sudah dihina dan tak dianggap oleh kakeknya, ia masih tetap perduli. Ya, Revan tau apa yang terjadi pada Liona. Dia tak dianggap keluarga oleh kakek Rafi, karena ia mengira tante karin telah berselingkuh dan melahirkan Liona. Dan itu semua karena hasutan dari Bagas dan istrinya. Revan tau semua tentang Liona tentunya dari Dio.


Mobil yang dikendarai Revan pun sampai di sebuah toko buah. Mereka melangkah masuk kedalam toko dengan berjalan beriringan.


Liona memilih beberapa buah ape dan jeruk, lalu ia menyuruh pelayan toko untuk segera membukusnya dengan rapi.


Bruk.


Tiba-tiba Revan menabrak seorang anak kecil yang sedang menikmati ice creamnya. Dan membuat ice cream anak itu jatuh kelantai." Maaf boy, uncle tak sengaja. Ayo uncle belikan yang baru." Ujar Revan hendak menyentuh tangan anak itu, namun ditepis.


" Bodoh!" Umpat anak tersebut.


Revan tecengang, " Siapa yang bodoh?"


" Tentu saja dirimu pak tua!" Ketusnya.


" Kau katakan apa tadi? Kau bilang aku bodoh dan pak tua?" Tanya Revan dengan nada tak bersahabat. Baru kali ini ada yang mengatakannya bodoh. Dan lebih parahnya lagi yang mengatakan itu adalah seorang anak kecil.


Liona melipat bibirnya, berusaha untuk tak mengeluarkan tawanya melihat perdebatan Revan dan anak laki-kali itu.


" Selain bodoh dan tua, apa kau juga tuli?" Ucap anak tersebut.


Ingin rasanya Revan pingsan mendengar kata-kata anak kecil didepannya ini. Kata yang dikeluarkannya sungguh membuat orang terkena serangan jantung.


Revan menghela nafasnya menahan kekesalan. Agar ia tak memarahi anak itu." Dengar boy, aku minta maaf."


" Apakah dengan kata maafmu ice creamku bisa kembali utuh? Tidak kan. Sebaiknya simpan saja maafmu itu pak tua." Ujar bocah tersebut dengan angkuhnya." Dan iya, kalau jalan lihatlah jalan dengan benar. Kasihan putri cantikmu ini harus merasa malu karena memiliki ayah sepertimu." Imbuh bocah tersebut dengan santainya, sambil tersenyum manis pada Liona.


" Apa katanya tadi anak?" Batin Revan. " Dengar anak tampan, wanita ini adalah kekasihku. Bukan anakku." Ujar Revan menahan kekesalan. Sembari menggenggam salah satu tangan Liona.


" Oh iya, apakah benar anda adalah kekasih pak tua ini nona cantik?" Tanya anak itu menatap Liona.


Liona menganggukkan kepalanya sebagai jawaban." Siapa namamu boy?" Tanya Liona mengusap kepala anak itu.


" Arnav." Jawabnya dengan menyentuh tangan Liona yang tadi mengusap kepalanya, lalu mencium punggung tangannya.


Revan melototkan matanya, lalu segera menarik tangan Liona dari pegangan Arnav. " Jaga sikapmu anak kecil!" Ketus Revan, ingin sekali ia memukul kepala Arnav sekarang juga.


" Namaku Arnav pak tua. A-R-N-A-V." Ujar Arnav mengeja namanya sambil terus tersenyum manis pada Liona.


" Oh, ya ampun. Anak siapa kah ini." Batin Revan geram sambil terus memperhatikan gerak gerik Arnav yang terlihat genit pada kekasihnya.


" Apakah nona bisa membantu saya untuk memilih buah?" Tanya Arnav sudah menarik tangan Liona tanpa meminta persetujuan Liona dan meninggalkan Revan masih kesal.


" Jika dia sudah dewasa, mungkin sudah aku hajar sejak tadi!" Gerutu Revan tanpa menyadari Liona dan Arnav yang sudah pergi.


" Buah apapun aku suka, semua buah bagiku rasanya manis. Apalagi jika memakannya sambil melihat senyum manismu itu nona." Ujar Arnav membuat Liona tergelak mendengarnya.


" Kau masih kecil sudah pandai menggombal, jangan-jangan kau juga sudah memiliki kekasih." Tebak Liona memicingkan matanya.


" Tidak, tidak. Daddyku bisa menghukumku kalau aku punya kekasih. Aku hanya tidak tahan saja jika melihat wanita cantik sepertimu hanya dianggurin saja seperti pak tua itu." Ucap Arnav membuat Liona tertawa terbahak. Ia sudah tak dapat lagi menahan tawanya.


" Ya ampun Arnav. Uncle itu namanya Revan bukan pak tua." Ujar Liona gar Arnav mengganti panggilannya untuk Revan. " Tapi.. Apakah menurutmu dia tua? Maksudku apa terlihat jelas perbedaan usia diantara kami?" Tanya Liona penasaran.


" Sebenarnya tidak setua itu sih. Cuma aku kesal aja, karena tadi pak-eh, maksud aku uncle Revan telah menjatuhkan ice creamku." Sahut Arnav jujur, sebenarnya tadi ia hanya ingin membuat Revan kesal.


" Jadi kau mengerjainya?"


" Iya,"


" Siapa yang dikerjai?" Tanya Revan menatap penuh selidik pada Liona dan Arnav bergantian.


" Selain bodoh, tua dan tuli. Ternyata kau juga sangat kepo sekali." Cibir Arnav.


" Hei bocah! Aku dari tadi diam saja kau mengataiku. Lalu membawa kekasihku pergi, aku masih diam saja. Tapi sekarang kau mengataiku kepo. Ingin sekali rasanya aku memukul kepalamu!" Geram Revan mengangkat tangannya keatas kepla Arnav hendak memukulnya.


Ekhem.


" Jangan coba-coba menyentuh tuan muda kami tuan. Jika anda tidak ingin terkena masalah." Tegas seorang pria bertubuh besar.


" Jika kau tidak ingin aku sampai menyentuhnya, maka jaga anak asuhmu ini agar tidak genit pada kekasihku." Revan tak mau kalah.


" Jaga bicara an-"


" Stop Mike, aku tidak ingin kau membuat keributan disini." Ucap Arnav menaikkan sebelah tangannya, mengisyaratkan agar bodyguardnya itu tak bicara lagi.


" Maaf tuan muda, tadi tuan besar menelpon saya. Dia ingin agar anda segera pulang."


" Baik, ayo kita pulang sekarang." Ucap Arnav lalu betjalan mendahului Mike. " Oh iya, nona cantik. Terima kasih untuk bantuannya, dan untuk buah yang kau beli sudah aku bayar. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasihku." Ujar Arnav menghentikan langkahnya.


Namun ia kembali berbalik menghadap Liona dan Revan. " Ingat pak tua, jaga dengan baik nona cantik. Jika kau tidak ingin aku merebutnya. Atau nona cantik menemukan pria yang lebih muda darimu." Ujarnya lagi dengan tersenyum miring pada Revan. Lalu kembali melanjutkan langkahnya.


" Dasar bocah!" Geram Revan misuh misuh. Hendak mengejar Arnav namun ditahan oleh Liona.


" Umur boleh tua, tapi kelakuan seperti anak kecil. Tidak mau mengalah." Cibir Liona, lalu ikut pergi meninggalkan Revan.


Revan yang kesal, sampai tak sadar jika ia menendang rak buah didepannya. Dan untung rak itu hanya bergoyang sedikit dan tak terjatuh dan menimpanya.


" Hei tuan. Jika anda diputusin oleh kekasih anda, jangan merusak barang-barang yang ada disini!" Ketus salah satu pelayan toko.


" Maaf!" Ujar Revan dengan suara keras. Ia merasa dongkol dengan semua orang. Semuanya membuat ia kesal terutama Arnav. Bocah kecil yang mengatainya tua.


Arrghh..


Teriak Revan frustasi, lalu ia beranjak dari tempat itu untuk menyusul sang kekasih. Yang mungkin sekarang tengah menunggunya didalam mobil.