
Pandangan keduanya saling bertemu, ada perasaan aneh yang Liona rasakan. Tapi apa itu, ia tidak tahu. Liona sangat tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Ia bisa menuruti perkataan Revan, yang merupakan orang asing yang tak sengaja masuk kedalam hidupnya. Tapi setiap ia mengikuti setiap saran dan ucapan Revan, Liona merasa hidupnya terasa menemukan sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang akan membawanya merasa lebih bahagia.
" Kamu nyaman banget kayaknya duduk disini." Ujar Revan tanpa mengalihkan tatapannya dari Liona.
Liona langsung tersadar dengan posisinya sekarang." Eh, maaf." Liona hendak berdiri namun pinggangnya ditahan oleh Revan. " Lepas!" Titah Liona.
" Kalau aku nggak mau lepas gimana?" Tanya Revan, semakin mengeratkan pegangannya dipinggang Liona.
" Aku akan mematahkan tulang tangan kamu!" Ancam Liona menyentuh tangan Revan yang ada dipinggangnya.
" Kalau gitu bagus." Ujar Revan santai, membuat Liona keheranan. Orang yang mau disakiti biasanya akan minta ampun, tapi dia malah mengatakan bagus.
" Kenapa bagus?"
" Karena jika tangan aku kamu patahkan, otomatis kamu akan bertanggung jawab penuh padaku. Dan kamu akan setiap hari melayani aku, mulai dari makan membantu pekerjaan aku dan yang paling aku suka nanti adalah... Saat dimana kamu memandikanku." Sahut Revan sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Liona melototkan matanya mendengar penuturan Revan. Ia tak habis fikir dengan pemikiran Revan." Dasar mesum!" Ketus Liona mendorong tubuh Revan. Dan Revan dengan spontan melepas pegangannya dipinggang Liona.
Liona pergi meninggalkan Revan ditaman. Ia berjalan cepat masuk kedalam rumah. Namun tiba-tiba ditengah jalan, ia teringat dengan ucapan Revan tentang memandikannya. Ia jadi membayangkan tubuh Revan yang tanpa menggunakan sehelai benangpun. Wajah Liona jadi terasa panas karena membayangkannya. " Ada apa denganku?" Gumamnya bertanya-tanya sembari mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajah.
" Mamih!" Panggil Vivi saat melihat kedatangan Liona. " Kok wajah Mamih merah gitu?" Sambungnya bertanya.
" Tadi diluar panas terik, makanya wajah Mamih jadi agak merah." Bukan Liona yang menjawab Tapi Revan. Ia duduk disebelah Liona, dengan terus tersenyum jahil padanya.
Liona berusaha untuk tak memperdulikan apa yang Revan lakukan. Ia sampai harus duduk membelakangi Revan, agar ia tak melihat wajah dan senyum jahilnya.
Sementara itu, didalam hati Revan ia sangat senang. Senang karena bisa mengerjai Liona, ia yakin jika wajah Liona memerah pasti karena sedang membayangkan tubuhnya yang tanpa menggunakan pakaian. tak apa ia dikatakan mesum oleh Liona, asalkan ia bisa mengalihkan pembicaraan dan fikiran Liona. Agar dia tak kembali memupuk rasa dendam dihatinya.
*
*
Sudah tiga kali Liona membasuh wajahnya, berharap fikirannya berhenti membayangkan bentuk tubuh Revan yang tanpa menggunakan penutup. " Kenapa aku terus membayangkannya? Padahal dia cuma mengatakan kata memandikan, bukan menjelaskan secara detail bentuk tubuhnya!" Geram Liona sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ia akan menyibukkan diri agar fikirannya teralihkan. Dan agar rasa kantuk cepat datang. Liona membuka laptopnya, dan memulai membaca beberapa file yang belum sempat ia buka. Seiring berjalannya waktu, Liona pun berhasil mengalihkan fikirannya. Namun ia teringat dengan kejadian tadi siang di markas. " Apakah aku harus menangkapnya lagi?" Gumam Liona bertanya-tanya. " Tapi jika dengan aku menghilangkan semua dendamku Mama akan tetap sembuh, maka aku akan melakukannya. Aku nggak mau hidup sendiri lagi." Sambungnya sembari membuang nafas kasar.
Ini adalah kali pertama Liona akan memulai hari dengan kehadiran anggota keluarganya. Walaupun hanya ada sang Mama saja. Tapi ia sudah merasa bahagia, bahkan sangat bahagia. Biasanya hanya ada ketegangan saja setiap memulai harinya, namun mulai hari ini semuanya akan berbeda. Hari-hari Liona akan dimulai dengan omelan dan kecerewetan Mama Karin.
Seperti saat ini, Mama Karin tengah mengobrak- abrik lemari pakaian Liona. " Ya ampun, ini kenapa warnanya sama semua. Hanya ada hitam dan putih." Cerewet Mama Karin saat melihat pakaian sang putri hanya berwarna hitam dan putih.
" Ma udah dong Ma, Ona bisa telat kekantornya." Ucap Liona memelas. Karena sudah satu jam lamanya sang Mama memilih pakaian untuknya. Namun tidak ada yang cocok dengan selera Mama Karin.
Liona menatap jengah sang Mama, pasal pakaian yang dia pilih sekarang adalah pakaian yang terus ia bolak-balikkan sejak tadi. Liona langsung mengambil pakaian yang dipilih Mama Karin dan segera memakainya.
" Kayaknya semenjak nggak ada Mama, selera kamu jadi monoton banget ya. Masak, pakaian wanita warnanya cuma hitam dan putih saja. Sudah seperti pesulap," Cerewet Mama Karin sambil terus berjalan didepan Liona.
" Return of Mama Karin." Batin Liona sambil terus mengikuti langkah sang Mama.
Disepanjang jalan Mama Karin terus mengoceh, ada saja yang ia jadikan topik pembahasan. Sampai keduanya sampai dimeja makan.
" Kok dari kemarin sore rasanya Mama Nggak lihat Dio. Kamu bilang kalau Dio tinggal disini, kenapa sampai sekarang dia tidak terlihat?" Tanya Mama Karin sembari duduk dikursi.
Uhuk.. Uhuk..
Liona tersedak air yang ia minum," Itu.. Dio lagi pulang kerumahnya. Katanya ada acara keluarga." Sahut Liona berbohong. Mana mungkin ia mengatakan kalau Dio ia larang pulang kerumah sebelum memar diwajahnya sembuh.
Mama Karin mengangguk faham, " Ona. Lupakan mereka, biarkan saja orang-orang itu. Kamu tidak perlu membalaskan dendam yang nggak akan membuat kamu untung. Biarkan saja mereka Ona, siapapun orang itu. Lupakanlah," Pinta Mama Karin.
" Seandainya Mama tau siapa orangnya, apa Mama akan bisa bicara seperti sekarang? Tapi akan aku ikuti saran Mama, dan jika nanti Mama akan menyuruh untuk membalas orang itu, pasti akan Ona lakukan." Gumam Liona dalam hati.
Mama Karin memang tidak tahu siapa pelakunya, yang hanya dia tau adalah Liona akan membalaskan dendamnya. Dan tak akan mengampuni orang itu.
" Kapan kamu punya waktu senggang Ona?" Tanya Mama Karin lagi.
" Memangnya ada apa?"
" Mama mau jenguk kakek Rafi, udah lama banget Mama nggak jenguk dia." Jawab Mama Karin.
Uhuk.. Uhuk..
Jawaban Mama Karin membuat Liona tersedak untuk yang kedua kalinya.
" Ya ampun Ona! Kamu kayak anak kecil aja, dikit-dikit tersedak. Mama yakin, selama Mama nggak ada pasti kamu nggak ngurus diri kamu dengan baik." Omel Mama Karin sembari mengusap punggung sang putri.
" Kapan Mama mau kesana?"
" Saat kamu sudah ada waktu."
" Kalau gitu lusa aja ya Ma. Hari ini sama besok jadwal aku dikantor padat banget." Liona berbohong. Sebenarnya jadwalnya santai, hanya saja Liona perlu menyiapkan strategi agar nanti sang Mama tak drop lagi. Dengan apa yang akan dikatakan dan terjadi disana.