Limit'S

Limit'S
Perguruan Harapan Manusia untuk Pengguna Void : Bagian 2



Bel sekolah pun berbunyi, semua murid memasuki kelasnya masing-masing.


“Locta, aku masuk ke kelasku dulu,” ucap Loop.


“Baik Loop-senpai, terimakasih sudah mengantarkanku.”


Arsteel Loop pun meninggalkan Locta. Ia pun terdiam di ruangan kelas dengan kesendiriannya.


‘Apa yang harus kulakukan diruangan kelas ini’ tanyalah dia didalam hati.


Kemudian di meja guru keluar sebuah AI.


“Untuk Murid Pemeran Utama, tingkat 1, yang saat ini ada ruangan. Untuk sekarang tidak ada guru pengajar, akan segera dicarikan. Pelajaran diperuntukkan Murid Pemeran Utama adalah latihan praktek. Latihan praktek dilakukan bersama murid Pemeran Pembantu kelas A. Sekian informasi dari pihak sekolah. Terimakasih.”


Dan keluar jadwal pelajaran kelas pemeran utama.


“Oh... sekarang ada Latihan Praktek, baiklah aku menuju kesana.”


Locta menuju ke lapangan latihan. Dan sesampainya disana, murid dari pemeran pembantu pada melihat Locta karena Ia adalah Murid Pemeran Utama, satu-satu untuk tingkat 1. Tentunya diantara mereka, ada orang sinis pada Locta. Guru pun datang.


“Baiklah mari kita melatih kemampuan job kalian seperti apa, siapa yang memulai?”


Tiba-tiba salah satu murid berbicara.


“Saya saran, Locta G. Wishom untuk maju pertama pak. Karena Saya ingin melihat kemampuan murid dengan status PEMERAN UTAMA,” dengan satirnya.


Banyak siswa setuju dengan ucapan murid itu.


“Oklah kalo gitu, Bagaiman Locta, maukah kamu maju pertama?” tanya Guru itu.


Locta pun merasa atmosfer yang menyuruhnya untuk maju.


“Baik Pak, Saya bersedia.”


“Ok. Siapa yang mau melawan Locta?”


Murid yang tadi pun berbicara kembali.


“Saya saran Gren saja pak...” ucapnya dengan semangat.


Gren Lesbuy adalah salah murid Pemeran Pembantu yang terkuat di tingkat 1.


“”Ya, Gren saja!!!”” ucap mereka bersamaan.


“Baiklah. Aku maju,” Ucap Gren.


Locta dan Gren pun mengambil posisi untuk bertarung.


“Apakah kalian sudah di posisi kalian?”


“”sudah”” ucap mereka berdua.


“Ok. Untuk latihan ini hanya boleh menggunakan Job kalian, tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan Void.”


“Maaf Pak. Belum mahir menggunakan job saya sebagai Archer karena Saya periksa kemarin. Sama sekali tidak tahu menahu tentang job saya,” ucap Locta.


“Wah... banyak alasan sekali kamu, Locta. Kamu memandang rendah, Pemeran Pembantu’kah, sampai segala membuat alasan tidak tahu jobmu sendiri,” ucap salah satu murid yang provokasi.


“Pemeran Utama, pasti sudah mahirlah karena mereka berbeda dari kita-kita,” ucap salah satu murid yang provokasi lagi.


“tenang semua!!!” ucap guru dengan tegas.


“Bagaimana Gren, sebagai lawan tanding apa setuju dengan penjelasan dari Locta?”


“Kurasa tidak ada alasan pertandingan ini dibatalkan karena Locta juga Pemeran Utama adalah Harapan sebuah Generasi,” ucap Gren dengan tegas.


“Baiklah Gren. Maaf Locta, Pertandingan ini tetap berjalan,” ucap Guru.


“Baiklah Pak,” jawab Locta dengan menghela nafas.


“Aku akan serius melawanmu, Locta,” ucap Gren dengan tegas.


“Untuk memudahkanmu, Jobku adalah Saber.”


Dalam sebuah pertandingan, sebenarnya menyebutkan job di musuh tanding kalian adalah kesalah besar, karena musuh bisa mengantisipasi seranganmu dan tahu kelemahan dari jobmu. Dalam kondisi ini, Gren sudah mulai memandang Locta cukup rendah.


“Baiklah siapkan senjata kalian... dan pertandingan dimulai!!!!” ucap Guru.


Locta menganalisa Job yang dimiliki Gren adalah Saber.


‘Seharusnya aku Archer, bisa menyerangnya dari luar medan serang gren yang jarak dekat’ dalam pikiran locta.


Locta pun mejaga jarak, tetapi Gren pun dengan cepat di posisi Locta dan menyerang Locta.


“Aku tahu pola pikir yang dimiliki job Archer sepert ini. strategimu mudah ditebak,” ucap Gren.


Locta pun tidak bisa menjauh dari Gren dan Ia pun mendapatkan serang dari Gren terus menerus dan....


“Pertandingan dihentikan!!! Pemenangnya adalah Gren Lesbuy.”


Murid-murid Pemeran Sampingan merasa bahagia atas kemenangan Gren. Locta pun cukup babak belur.


“tidak kusangka, kekuatan orang dengan status “Pemeran Utama” hanya memiliki kemampuan seperti ini,” ucapan


dingin dari Gren dan meninggalkan Locta.


Di lapangan latihan, hanya Locta seorang saja.


‘Tuan, apakah kau tidak apa?’ ucap GrimGrim telepati dengan Locta.


‘Tenang saja, Aku tidak papa, Grim.’


‘Tidak kusangka, ada manusia seperti itu tuan.’


‘Sudahlah memang job ini masih baru dan aku belum terbiasa.’


‘Tuan, juga tidak menggunakan kekuatan Void. Terlebih lagi, Gren tadi menggunakan kekuatan void pasif.’


‘hahaha kau merasakannya ya, aku juga sudah tahu. Tapi sepertinya Pak Guru juga tahu dan tetap membiarkannya.’


‘Tuan Locta, terlalu baik untuk orang yang seperti itu.’


‘Tenang Grim, aku bisa kok menghadapi orang itu tanpa harus menggunakan kekuatan void.’


‘hahahaha tuan Locta hahahaha, tentu aku percaya itu’ dengan canda Grim.


Berita kekalahan Locta melawan Gren sudah menyebar di seluruh perguruan. Murid-murid Pemeran Samping pun menganggap remeh Locta. Locta cukup dibully oleh mereka. Tentunya dalam bentuk ucap-ucapan kurang menyenangkan.


Locta makan di kantin, murid-murid pemeran sampingan melihat Locta benar-benar tidak ada apa-apanya. Datanglah Loop.


“Yo Locta, kenapa kau membuat kondisi seperti ini?” tanya Loop dengan nada bercanda.


“Kau tahu sendiri, Loop-Senpai. Aku tidak pernah tahu Jobku apa. Tuan John hanya melatihku ilmu-ilmu dasar kekuatan Void.”


“hahaha aku mengerti itu, tapi tidak perlu sampai segininya dong...”


“Bagaimana lagi, memang aku tidak tahu. Tapi aku sudah melatih diriku sih walaupun belum mahir.”


Tiba-tiba ada murid wanita yang mendekati meja Locta dan Loop.


“Loop-senpai, kenapa kau masih mau bersama orang Pemeran Utama yang pecundang ini. hahaha,” ucapnya yang melihat Locta benar-benar remeh.


Loop berdiri dan menatap murid wanita itu dengan muka sinis.


“Apa yang membuat kalian mudah mengeluarkan kata-kata tidak menyenangkan itu,” dengan menahan amarahnya.


Murid wanita itupun pergi dari hadapan Locta dan Loop.


“Kurasa aku tidak bisa tinggal diam dengan kondisi ini. Aku akan menemui lawan mu itu.”


“Loop-senpai!!” ucap Locta.


Loop pergi dari meja Locta dan menuju ruang kelas Gren. Loop pun sampai ke kelas Gren.


“Mana namanya Gren!!!” ucap Loop dengan keras.


Gren pun berdiri dan...


“Saya, ada apa, Arsteel-Senpai?” ucap Gren.


“Oh. Kau bernama Gren. Apa maksudmu dengan mempermalukan Locta seperti ini,” ucap Loop sedikit emosional.


“Oh, Locta mengadu kepada anda. Benar-benar Pemeran Utama yang tidak ada harapannya....” balas Gren yang


menilai Locta rendah.


Arsteel Loop pun mengeluarkan aura membunuh dan terasa di seluruh kelas itu. Seluruh kelas itupun ketakutan. Locta pun menghentikan Loop.


“Loop-senpai. Hentikan,” ucap Locta.


Loop pun menghentikan aura pembunuhnya.


“Kurasa tidak baik membilang masalah ini ke orang lain, Locta,” ucap Gren.


“Memang ucapanmu ada benarnya. Kurasa aku harus melakukan tindakan. Lawan tanding dengan ku lagi, Gren,” ucap Locta.


“Oh... Apa keuntungan yang kudapatkan dari melawanmu, Locta?” tanya Gren.


“Ehm... aku pikir bila aku kalah, aku keluar dari perguruan ini dan kau bisa menerima gelar “Pemeran Utama”


mungkin?”  kata Locta dengan mudahnya.


“Kau berkata sesungguhnya?” tanya Gren yang tertarik.


“Tentu saja, menjadi Pemeran Utama cukup menyita waktu sih,” balas Locta.


“OK!!! Setuju dengan penawaranmu.”


“Baik. Kita lakukannya 7 hari dari sekarang. Karena aku belum mahir menggunakan jobku. Hahaha,” ucap Locta dengan mudah.


“Ok. Tidak masalah. Dan lebih baik kita buat terbuka. Hitung-hitung, sebagai salam perpisahanmu untuk perguruan ini,” ucap Gren.


“Baiklah.”


Berita itupun menyebar ke seluruh penguruan dan semua tingkat. Dewan Mahasiswa pun tahu.


“Loop, itu adik seperguruanmu, Locta. Tidak apa-apa melakukan itu?” tanya salah satu anggota Dewan Mahasiswa.


“Tentu saja tidak apa-apa karena Locta adalah Pemeran Utama,” balas Loop dengan tenang.