Limit'S

Limit'S
Pemeran Utama : Bagian 2



Beberapa saat dari latihan tanding Anton dan Ceron....


“DASAR PAYAH!!!! BAGAIMANA KAU BISA MASUK PERGURUAN INI!!!!” kata Ceron


“HAHAHAHA” tawa teman Ceron.


                Benar-benar Anton merasa hina sekali karena perilaku Ceron dan teman-temannya. Di kelas pun,


Anton tidak memiliki teman karen Ceron memiliki pengaruh yang besar di kelas


dan Dia adalah anak dari Pemiliki Perusahaan Energi di sebuah kota Generasi 15.


Jadinya teman sekelasnya mau atau tidak  acuh


tak acuh dengan keadaan yang diterima Anton.


                Anton pun makan sendiri di tempat sepi yang mana jarang ada orang lewat. Dia makan dengan


perasaan tidak terima keadaan yang dialaminya, secara tanpa sadar Ia menangis.


“Kenapa aku bernasib seperti ini!!!!” marahnya sambil makannya.


“Mungkin kamu kurang beruntung saja...”sautan seseorang dengan santai...


                Anton pun kaget dan menoleh ke belakang, ternyata adalah Locta.


“Kondisimu cukup parah ya” ucap


Locta


“Diam kau. Kau tidak tahu apa


yang kualami. Diam saja” sewot Anton.


“Ehm... melihat keadaanmu, Kamu


mengalami pembullyan dari beberapa orang, ya?” tanya Locta dengan santai.


                Anton pun kaget karena permasalah tersebut hanya lingkup kelasnya saja yang tahu,


kelas lain tidak ada yang tahu.


“Bagaimana mana kau tahu!!!! Bagaimana mana kau tahu!!! Kau pasti memiliki teman di kelasku ya!!!” dengan emosional.


Balas Locta dengan tenang.


“Aku tidak perlu informasi itu dari orang lain. Melihat keadaanmu saja, Aku tahu apa yang dialami olehmu dan


lagi aku tidak memiliki kenalan dekat di sekolah ini.”


                Anton mendengarkan ucapan Locta, langsung membuatnya lemas. Karena pikiran dan


perasaannya kacau berantakan dengan ucapan Locta. Kemudian Anton bercerita ke


Locta tentang kejadian yang dialaminya dengan sedih.


“Ehm... itu yang terjadi toh. Dengan status begitu, kenapa kau tetap melawannya?” tanya Locta dengan sedikit


binggung.


“Pada saat itu, aku percaya bahwa status hanyalah status.” jawab Anton.


“Ehm... pemikiranmu cukup menarik, Sayangnya hasil status yang dilakukan perguruan ini akurat. Terlebih lagi


untuk kelas C, tidak ada kesalahan yang terjadi ” penjelasan Locta.


“Seperti itu ya. Mungkin aku terlalu percaya diri pada diriku” jawab Anton.


“EHM... Itu tidak salah samasekali, Anton. Kepercayaan diri memang harus ada dalam diri kita” balas Locta


“Terimakasih, Locta. Sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Dan aku sadar bahwa aku bukan pemeran utama” Anton dengan pasrah.


“KENAPA KAU BICARA SEPERTI ITU!!!” Locta dengan marahnya


                Anton pun kaget atas perubahan emosi yang terjadi Locta.


“Orang itu yang membuatmu seperti ini ya. Aku akan mencarinya” ucap Locta


                Locta pun meninggalkan Anton...


                Kemudian Locta ke kelas Anton, melihat orang yang bernama Ceron dan teman-temannya asik


bermain. Locta pun pergi ke Ceron.


“Kamu ya, yang membully Anton seperti itu” tanya Locta dengan tenang.


Balas Ceron dengan  Intimidasinya.


“IYA, KENAPA. Si payah itu berbicara ke kamu juga? HAHAHAHA”


                Locta melihat sekitar dalam kelas tersebut. terlihat suasana yang tidak nyaman.


“Hebat juga kamu ya, bisa membuat suasana kelasmu seperti ini” ucap Locta.


“Tentunya. Aku yang mengendalikan kelas ini. Aku berpengaruh. Tentunya aku seorang Pemeran Utama. tidak seperti teman payahmu itu” ucap Ceron dengan angkuhnya.


“Ehm... Pemeran Utama.... menarik juga ucapanmu” jawab Locta dengan sedikit tersenyum.


“APA MAKSUDMU!!!” Ceron dengan emosi.


“Aku pikir ini terjadi bukan membuat kamu menjadi pemeran utama, hanya karena orang tuamu orang berpengaruh


saja. Tidak kurang dan tidak lebih” ucap Locta.


                Lingkungan kelasnya pun setuju dengan penjelasan Locta. Ceron pun emosi...


“KAU!!! MEMBUATKU MARAH!!! AYO KITA LATIHAN TANDING!!!!” ucap Ceron.


“Biaklah, kalo itu kemauanmu. Aku mengikutin peraturanmu saja.” balas Locta dengan tenang.


“Baiklah. Besok, Kita lakukan di Aula Utama” balas Ceron dengan sedikit senyum.


                Setelah kesepatan itu, Anton baru sampai kelas, Locta pun meninggalkan kelas C dan


berkata...


“Lihat aku besok...” ucap Locta dengan percaya diri.


                Keesokan harinya, di Aula Utama, latihan tanding Ceron dan Locta. Locta sudah datang di


Aula Utama dan melihat sekitar banyak siswa dari kelas lain melihatnya. Kemudian


Ceron datang dengan teman-teman ke arena. Locta pun bertanya...


“Ceron, Kau mengajak teman-temanmu untuk melawanku?”


“Ya.... Gimana ya.... KAN AKU YANG MEMBUAT PERATURAN” balas Ceron dengan liciknya.


“Kupikir aku dari kelas diatas’kan? Aku hanya menyeimbangkan saja dengan statusmu itu” balas Ceron dengan licik.


                Ceron membuat alasan demikian seperti itu agar puas menghajar Locta, agar membuktikan betapa levelnya berbeda dengan Locta. Status Ceron terhitung cukup tinggi dan hampir sama tinggi status kelas B.


“Baiklah. Terimakasih atas perhatiannya” jawab Locta


                Locta tahu akan kondisinya akan seperti ini.


                AI wasit pun masuk dan....


“PERTANDINGAN DIMULAI!!!!”


                Ceron dan teman-temannya langsung menyerbu Locta dari segala arah. Locta pun terdiam


“HAHAHAHAHAHA DIA OMONG KOSONG SAJA!!!! HANYA BISA OMONG SAJA!!!!” Teriak Ceron.


“DISINI AKU MEMBUKTIKAN AKU ADALAH ORANG BERPENGARUH, PEMERAN UTAMA!!!!!”


                Anton melihat Locta dihajar habis-habisan, membuatnya tidak kuat melihat dan Ia


berteriak....


“APA YANG INGIN KAU TUNJUKKAN KEPADAKU, LOCTA!!!!!”


                Locta pun diam dan dipukulin oleh Ceron dan teman-temannya. Yang melihat pertandingan ini seperti eksekusi terbuka, membuat terdiam. Pertandingan sudah berjalan cukup lama, Ceron dan teman-temannya sudah lelah menghajar Locta.


“Apa segini saja kekuatan seorang "PEMERAN UTAMA”, Ceron?” kata Locta sedikit kesulitan berbicara.


“DIAM KAU!!!” balas Ceron dengan kesal dan menendang Locta.


                Ada suara tepuk tangan dari tengah penonton pertandingan.


“Locta... Locta... Locta....” ucap keras dari seseorang


                Semua orang melihat orang tersebut. ternyata orang tersebut adalah Arsteal Loopin, Murid tingkat 2 kelas A. Semua orang kaget, seorang Arsteal Loopin melihat pertandingan latihan antar kelas rendah seperti ini. Ceron sedikit khawatir, Arsteal bisa mengenal Locta.


“Locta... kenapa kau mau diam saja dipukul seperti itu, haduh...” ucap Arsteal dengan santai.


“Oh... aku tahu apa tujuanmu...” ucap Arsteal lagi.


                Locta pun berdiri dan berteriak....


“ANTON!!!! Apakah kau mendengarkanku??? LIHAT AKU DAN KUTUNJUKKAN PADAMU. KAMU BISA MENJADI PEMERAN UTAMA UNTUK DIRIMU SENDIRI.”


“HAHAHAHA dia masih bisa bercanda” ucap Ceron.


                Locta pun berjalan menuju AI wasit. Salah satu teman mencoba memukul Locta dari belakang, dan dengan mudahnya Locta menghindarinya. Semua penonton tercengang.


“wasit, tolong berikan bola kristal kepada kami berdua” ucap Locta.


“baiklah” ucap AI wasit.


                Bola kristal sudah di tangan Locta dan Ceron.


“mari kita lihat masing-masing status kita” kata Locta


“baiklah, aku lebih tinggi darimu. HAHAHAHA” balas Ceron dengan meremehkan Locta.


                Ceron pun mengeluarkan kekuatannya ke bola kristal....


“Ceron Soiler, Tingkat 1 kelas C


STR : A


AGI : A


VIT : B


INT : C


DEX : B


LUK : C


ANT : - “ * tampilan seperti status game.


“Lihat statusku itu. HAHAHA” dengan bangganya si Ceron.


“Ok. Mari aku coba” ucap Locta dengan santai


                Locta pun ngeluarkan kekuatannya ke bola kristal....


“Locta G. Wishom, Tingkat 1 kelas S, “PEMERAN UTAMA”


STR : ???


AGI : ???


VIT : ???


INT : ???


DEX : ???


LUK : ???


ANT : ???“ * tampilan seperti status game.


                Semua orang pun kaget atas status yang dimiliki oleh Locta. Ceron pun kaget. AI wasit


pun berbicara...


“Latihan tanding ini terjadi perlanggaran. Pelanggaran ini diberikan pada murid yang bernama Ceron Soiler


dan juga teman-temannya. TUNGGU HUKUMAN dari pihak sekolah”


“Bagaimana bisa aku mendapatkan pelanggaran ini, seharusnya Locta lah, kan dia kelas diatasku!!!!” balas Ceron


dengan emosi.


                Locta membalas ucapan Ceron dengan santai...


“Yang memulai latihan tanding siapa ya? Dan aku pun saat pertandingan tidak melakukan kontak fisik pada


kalian.”


“INI TIDAK ADILLLLL!!!!!!!!” ucap Ceron.


                Anton pun menemui Locta...


“Locta, kenapa kau melakukan hal bodoh seperti ini? apakah ini demi aku?” ucap anton yang sedikit emosional.


“Ehm... Aku melakukan ini tidak demi kamu” balas Locta.


“Terus apa, yang membuatmu melakukan hal bodoh seperti ini!!!!” ucap Anton.


“Karena kamu sudah tidak percaya


pada dirimu adalah PEMERAN UTAMA untuk dirimu sendiri karena hal seperti ini.


Semua orang berhak menjadi PEMERAN UTAMA untuk dirinya masing-masing. Ceron pun


berhak menjadi PEMERAN UTAMA, kamu juga berhak. Hanya saja untuk diri kalian


masing-masing. Dan untuk PEMERAN UTAMA untuk semua orang, kuserahkan pada


kalian masing-masing”


"Kamu bisa berkembang lagi lebih dari ini, Anton"


ucap Locta dengan serius dan terlihat beban yang ada dirinya.


                Anton diam seketika, Locta meninggalkan Anton. Locta bertemu dengan Arsteal.


“Loop-senpai, kau menggunakan “fake status”, benar-benar narsis sekali kau” ucap Locta.


“hahahaha, bisa saja kau, Locta. Sepertinya kau lupa sesuatu deh....” balas Loop-senpai.


“Oh iya...VOID : AREA : AMNESIA!!!!”


                Seluruh area aula utama sekolah dipenuhi cahaya yang terang.....