Limit'S

Limit'S
Persiapan : Bagian 2



    Kemudian mereka latihan individu di arena latihan tersendiri...


    Arena 1 untuk kelompok Richard, Arena 2 untuk kelompok Merlin, Arena 3 untuk kelompok Teo. Melihat kelompok Richard...


“Sebelum kita melakukan latihan kita, aku ingin melihat kemampuan kalian...” ucap Richard.


    Richard pun mengambil sebuah pedang tumpul yang terbuat dari logam.


“Aku ingin kalian menggunakan energi void kalian, alirkan ke dalam pedang ini.,” jelas Richard.


“Baik, Lone-senpai!!!” seru Gren.


“Baik. Gren, ambil senjata ini!!!” ucap Richard yang memberikan pedang tersebut pada Gren.


    Gren pun mengambil pedang itu dari Richard.


“Wah berat sekali, pedang ini...” ucap Gren.


    Arberg pun penasaran dengan pedang tersebut.


“Gren, coba aku pegang pedang itu.


“Baiklah. Jangan salahkan aku kalo pedang ini berat ya...” ucap Gren.


    Gren yang menangkat pedang dengan tenaga yang dimilikinya dan memberika pada Arberg. Arberg pun menerima pedang tersebut...


“Ehm... menarik....” ucap Arberg sambil mengayunkan pedang tersebut.


“Bagaimana bisa!?” ucap Gren yang binggung sendiri.


Arberg pun melihat pedang ini...


‘Pedang ini...’ ucap Arberg.


    Arberg pun memberikan pedangnya kembali pada Gren.


“Baiklah. Gren coba, kamu alirkan voidmu ke pedang ini...” Ucap Richard.


“Baik, Lone-senpai...” balas Gren.


    Gren pun mengalirkan energinya ke pedang tersebut...


Wusshh...


    Pedang tersebut dilapisi sebuah energi yang tidak beraturan.


“Apa yang terjadi pada pedang ini!?” ucap Gren yang kaget.


“Tenang, Gren. Coba kamu tebas batang kayu itu...” ucap Richard sambil menuju batang pohon.


    Gren pun menebas pedang tersebut.


“Hiiyaaa!!!”


    Batang kayu hanya tergores saja.


“Baiklah, Gren. Sudah cukup. Sekarang giliranmu, Arberg,” ucap Richard.


“Baik, Lone-senpai!!!” seru Arberg.


Gren pun memberikan pedang pada Arberg.


“Bagaimana bisa hanya membuat goresan saja, padahal aku mengayunnya dengan sekuat tenagaku...” ucap Gren yang binggung dan memberikan pedang tersebut pada Gren.


Arberg pun memberikan energi voidnya pada pedang tersebut.


Sringg!!!


Pedang tersebut mengeluarkan energi yang stabil. Arberg pun menebas kayu yang bekas tebasan Gren.


Sring!!!


    Batang kayu tersebut terbelah menjadi 2 dan sangat rapi...


‘Sepertinya aku kelewatan...” ucap Arberg.


    Melihat Arberg memotong kayu tersebut dengan rapi, Gren pun kagum...


“Bagaimana caranya kau bisa memotong kayu tersebut dengan pedang itu!?”


“Aku ikuti instruksi Lone-senpai saja, itu hanya kebetulan semata...”


    Setelah melihat itu...


‘Apakah benar, Arberg ini Pemeran Pembantu??’ ucap Richard dalam hati.


    Kemudian melihat perkembangan dari kelompok Merlin.


    Leona dan Claudia mengeluarkan sihir mereka dan menyerang Merlin...


“Kendalikan voidmu lebih baik lagi!!! Leona!!!” seru Merlin dengan tegas.


“Baik, Icerain-senpai!!!” balas Leona.


“Untuk Leona cukup. Kurasa kamu kembangkan kapasitas void dalam dirimu agar bisa mengeluarkan kemampuan invokermu lebih baik lagi...” ucap Merlin.


“Baik, Icerain-senpai!!!” balas Leona.


    Leona pun berhenti dan pergi meditasi diri untuk meluaskan voidnya dimilikinya.


‘Ehm... tinggal Claudia saja... bagaimana bisa selincah itu...’ ucap Merlin dalam hati.


“Apakah kita bisa lanjut?” ucap Merlin.


    Mereka pun mengeluarkan kemampuan Force Missile Mage. Merlin pun bertanya-tanya.


‘Bagaimana bisa seorang murid Pemeran Pembantu bisa memiliki kemampuan seperti ini dan mengendalikan voidnya dengan baik???’


    Setelah itu, di kelompok Teo...


“QUICKSHOT!!!  MULTISHOT!!!”


    Jurus yang di keluarkan oleh Leon, Hanya saja...


“SPEAR BLOW!!!”


    Serangannya pun dipatahkan dengan mudah oleh Teo.


“Ayolah, Leon. Jangan membuang waktu seperti ini...” ucap Teo dengan mudahnya.


“Lihat saja... aku akan benar-benar melawanmu!!!” seru Leon dengan emosi.


    Teo pun melihat Locta dari kejauhan, Dia pun melihat Locta mengamati mereka dengan seksama dan mendalam, membuatnya merinding.


‘Seolah-olah dia ikut dalam latihan ini...’ ucapnya dalam hati.


“Kenapa kau berhenti, Teo. Kau siap, tidak??” ucap Leon


    Leon dan melihat Locta...


“Hei, anak tingkat 1, kapan kau ikut dalam pertarungan ini?? kurasa hanya melihat saja itu cukup, lihat terus saja sampai akhir latihan ini dan bagus untukku karena kamu tidak mengganggu latihanku...” ucap Leon dengan menyindir Locta...


    Teo dan Leon pun melanjutkan pertarungan mereka dengan sengit. Sangat intens sekali, Locta tetap mengamati dari kejauhan dan tiba-tiba.


“Oh... seperti itu ya...” ucap Locta yang mengetahui sesuatu.


“SHARPSHOOT!!!”


    jurus dari Leon yang menuju ke Teo.


“SPEAR ARROW!!!”


    jurus dari Tep yang mengarah ke Leon.


“SHARPBARRAGE!!! OVERLOAD!!!”


    Teo dan Leon melihat serang itu dah mereka berusaha menangkis serang tersebut...


“Hei, murid tingkat 1, kenapa kau melakukan hal seperti ini??? Benar-benar tidak menyenangkan tahu!!!” ucap Leon dengan kesalnya.


    Locta pun membalas ucapan Leon.


“Karena aku menyerang kalian saat lengah. Dan aku memanfaatkan itu...”


“Kenapa kau berkata demikian!!!” ucap Leon.


“Selama aku di arena ini, aku ikut dalam pertarungan ini...” balas Locta.


“Dasar murid tingkat 1!!! Tidak sadari diri!!!” ucap Leon dengan kesal.


    Teo pun menengahi perdebatan itu...


“Sepertinya kami tidak sopan padamu ya, Locta. Dan kamu yang ikut serta dalam pertarungan ini, jangan salahkan kami kalo kamu tidak mau berlatih lagi...” ucap Teo.


    Locta pun menjawab...


“Kurasa... itu hanya sebuah mimpi!!!” seru Locta.


    Locta pun maju dalam pertarungan Teo dan Leon.


    Mereka berlatih dengan keras untuk kemampuan individu mereka, dan disatu sisi...


    Di Perguruan Asal Mula Kehidupan...


“Apa kalian bisa mengalahkan murid 2 perguruan tersebut??” tanya Seri, Ketua Komite Mahasiswa AMK.


“Tentu kami bisa, Aster-senpai. Kujamin 2 perguruan hancur dengan kami, benar’kan” ucap siswa yang berpostur sedang dan berisi.


“Tentunya, terlebih mengalahkan wakil dari Masa Depan yang Dijanjikan, sangat mudah!!!” seru siswa yang tinggi.


“Kupercaya kemenangan pertandingan grup murid tingkat 1, ke kalian, Hary, Azuto!!!” ucap Seri.


“”Baik!!!””


    Di Perguruan Masa Depan yang Dijanjikan...


    Disebuah taman...


“Hei, Dazui. Kamu dicari Marsha-senpai buat latihan untuk pertandingan 3 Perguruan!!!” seru wanita tersebut.


“Jangan ganggu, Aku ingin menikmati cuaca hari ini, yang benar-benar enak untukku tidur siang...” ucapnya tidur di atas pohon.


“Yasudah... Aku tidak peduli lagi... Vete-senpai menghampirimu... aku tidak ikut campur!!!” seru wanita itu.


    Setelah mendengar itu, Dazui langsung turun...


“Vete-senpai hari ini ikut mengajari kita??” tanyanya.


“Iya. Mendadak orang itu kesini karena ingin melihat perkembangan kita...” ucap wanita tersebut.


“Baiklah, aku ikut. Aku tidak mau mencari garah-garah sama orang itu...” ucap Dazui.


    Disatu sisi yang lain...


    Curse Wings merencanakan serangan di pertandingan 3 Perguruan nanti...