Limit'S

Limit'S
Persiapan : Bagian 1



    Setelah itu mereka saling percaya satu sama lain, tentu belum sampai untuk membahas privasi masing-masing...


    Kemudian keesokan hari, mereka pun berlatih taktik pertempuran yang ditemani Loop. Kemudian setelah mereka latihan Taktik...


“Baik, sesi latihan kelompok kali selesai...” ucap Loop.


“Baiklah, Loop-senpai,” ucap Locta.


“Setelah melihat dan menemani latihan kelompok kalian, Kurasa ketua dari tim ini adalah Locta... walaupun Arberg memiliki potensi untuk memimpin ini...” ucap Loop.


“Arsteel-senpai, bisa saja memujiku. Aku hanya seorang Pemeran Pembantu...” ucap Arberg.


“Arberg, jangan merendah seperti itu. Kuakui, memang layak kamu... hahaha,” ucap Gren.


“Tentulah, kamu layak. Hanya saja kamu, Pemeran Pembantu membuatmu tidak bisa menjadi Ketua... betul seperti itukan, Loop-senpai...” ucap frontal Locta.


“Locta... kamu cukup frontal sekali ya...” ucap Loop.


“hahaha temanku, Locta. Selalu bisa membuatku tertawa dengan perkataan frontalnya... hahaha,” balas Arberg yang menyikut-yikut Locta.


    Loop melanjutkan pembicaraan...


“Baiklah, disini Aku merasa kalian secara taktik kelompok sudah cukup. Mungkin sekarang, kalian kembangkan kemampuan individu kalian dengan berlatih dengan anggota komite mahasiswa...”


“KOMITE MAHASISWA!!!” seru Gren dengan senang...


“Ehm... Menarik...” ucap Arberg dengan tersenyum.


    Dan muncullah beberapa orang dari kejauhan yang menghampiri Locta dan teman-teman...


“Baik untuk melatih Leona dan Claudia adalah Merlin Icerain” ucap Loop.


“Bersiap-siap ya kalian dengan latihan kerasku...” ucap Merlin.


“Baik, Icerain-senpai!!” jawab Leona dengan tegas...


    Claudia pun kaget karena tidak biasanya Leona bicara seperti itu.


“Ada apa dengan senpai ini??” tanya Claudia paad Leona dengan berbisik.


“Orang ini benar-benar tegas mengajari seseorang,” balas Leona.


“Kenapa kalian berbisik-bisik!!” seru Merlin.


    Merlin mencuri pandang ke arah Locta, Locta pun sadar, Merlin membuang muka kembali. Locta bertanya dalam hati dan Arberg melihat itu.


‘Ehmmm... Menarik...’ ucap Arberg dengan tersenyum-senyum.


    Loop menlanjutkan omongannya...


“Yang melatih Gren dan Arberg adalah... Richard Lone-senpai...”


“Salam kenal, Aku Richard Lone, yang akan membimbing kalian...”


    Gren pun kaget dan...


“Mohon kerjasamanya, Lone-senpai!!!” serunya dengan semangat.


    Arberg melihat Richard dengan seksama.


“Lone-senpai, mungkin ini tidak sopan. Boleh kutahu Job apa yang kau punya??” tanyanya dengan polos.


    Gren pun kaget...


“Arberg, kau benar-benar tidak tahu, Lone-senpai siapa??”


“Tentunya tidak tahu karena aku baru pindah sekolah’kan...” balas Arberg dengan tenang.


    Richard pun membalas...


“hahaha, Anak baru ini benar-benar polos, Job yang kumiliki adalah shielder, Arberg...”


“Shielder ya... kenapa seorang Shielder mengajari orang yang memiliki job Saber???” ucap Arberg dengan polosnya...


“Arberg, kenapa kau bicara seperti itu!!! Kau tidak sopan pada, Lone-senpai!!!” seru Gren.


“hahaha, benar-benar tidak sopan ya anak baru ini... tentu tidak masalah kalo kamu bicara seperti itu...”


“Benar-benar anak baru tidak berhati-hati berbicara pada Richard-senpai...” ucap Merlin.


    Richard melihat ranting pohon, dan pergi mengambilnya.


“Ada apa dengan, Lone-senpai, Icerain-senpai??” tanya Leona.


“Iya, kalian semua terhitung murid baru dan murid pindahan... Richard-senpai adalah...” ucap Merlin.


“Arberg, apakah kamu bisa berdiri didepan pohon itu...” ucap Richard.


“Baik, Lone-senpai...” balas Arberg.


    Arberg pun menuju tempat yang dibilang Richard.


‘Apa yang ingin dilakukan, senpai ini...’ ucap Arberg dalam hati.


“adalah apa, Icerain-senpai??” ucap Claudia yang juga penasaran...


    Richard pun mengayunkan batang kayu...


Wusshh...


‘tidak terjadi apa-apa...’ ucap Arberg dalam hati...


Krekkk!!!


    Arberg pun melihat ke belakang, pohon tersebut terpotong dengan sempurna...


“jangan-jangan ini...” ucap Arberg sambil melihat Richard...


    Arberg melihat batang kayu tersebut, samar-samar seperti pedang...


“Ini “INVISIBLE SWORD!!!”, Teknik Saber tingkat S!!!” ucap Arberg...


“Orang terkuat no.3 di Perguruan Harapan Manusia dan Rival dari Lorance Lotus....” ucap Merlin.


“Apakah aku bisa membantu kalian??” ucap Richard dengan tersenyum.


“Tentu saja,  Lone-senpai!!! Maaf meragukan, Lone-senpai. Dan mohon kerjasamanya!!!” seru Arberg dengan sedikit membungkuk.


“tidak masalah, ini murni kamu tidak tahu yang mengajari siapa... “ ucap Richard dengan sedikit tersenyum...


‘Benar-benar menarik perguruan ini, penuh dengan orang-orang yang melebihi ekspektasiku... pengalamanmu memang kurang banyak...’ ucap Arberg dalam hati...


    Locta melihat kemampuan dari Richard...


    Loop pun melanjutkan pembicaraannya...


“untuk melatih Locta adalah...” ucapnya.


    Datanglah dua orang, yang satu orang menarik orang satunya...


‘AKU TIDAK MAU MENGAJARI ANAK KELAS SATU!!! AKU INGIN MELAWANMU SAJA!!!” ucap orang yang ditarik tersebut.


“JANGAN REWEL, KAU!!! KAU TIDAK MALU DENGAN ORANG LAIN DENGAN SIKAPMU INI!!!” ucap orang yang menarik.


    Locta dan teman-temanya pun juga binggung dengan keadaan yang terjadi didepan mata mereka...


“Kenapa harus begini sih... membuat image komite mahasiswa di murid tingkat 1 dan murid baru jelek karena kalian, Teo, Leon!!!” ucap Loop.


‘Oh ini yang bernama Teo Dashoot dan Leon Flamegun...’ ucap Locta dalam hati...


“Maaf ya, merusak pemandangan kalian... Aku, Teo Dashoot. Disini aku cuma mengantarkan orang satu iniii!!!” ucap Teo dengan kesal pada Leon.


    Leon yang melihat Locta.


“Aku tidak mau melatih anak lemah ini... Aku ingin lebih kuat lagi... dengan melawanmu, Teo!!!” ucap Leon.


“Selalu saja Leon membuat ribut saja pada Teo...” ucap Merlin.


“Memangnya, Dashoot-senpai dan Flamegun-senpai ada hubungan apa, Icerain-senpai??” ucap Leona.


“Bukan sebuah hubungan, rival?? Bukan juga sih. Karena mereka itu adalah murid terbaik dalam serangan cepat. Tetapi yang terkuat dari mereka adalah Teo...” ucap Merlin.


“Kenapa selalu membuat ribut keadaa seperti ini?” ucap Richard dengan tegas.


    Teo dan Leon melihat Richard.


“Mohon maaf, Richard-senpai. Aku tidak bermaksud merusak suasana latihan ini. Cuman Leon ini tidak ingin melakukan tugasnya untuk melatih Locta...” ucap Teo.


“Oh... apakah itu benar, Leon??” ucap Richard dengan intimidasi ke Leon.


“Maaf, Richard-senpai. Aku benar-benar tidak tertarik melatih anak ini karena aku juga sibuk melatih diriku untuk Pertandingan 3 Perguruan itu!!!” seru Leon.


“Aku tahu kamu ikut serta juga dalam pertandingan itu. Tapi Merlin bisa meluangkan waktunya untuk melatih adik kelasnya...” ucap Richard.


    Leona pun kagum dengan Merlin.


“Terimakasih, Icerain-senpai. Mau meluangkan waktu sibuknya, untuk melatih kami!!” ucap Leona.


“Hentikan, Leona. Kau membuatku malu saja...” balas Merlin.


“Memang, Merlin-senpai, kakak kelas terbaik!!!” ucap Locta.


“Kenapa kau bicara seperti itu, Locta!!!” ucap Merlin sedikit kesal dan memoleh menghindari tatapan Locta.


“Aku ingin melawan Teo untuk mengembangkan kemampuanku yang masih kurang ini!!!” ucap Leon yang keras kepala.


“Bagaimana ini seperti... siapa yang melatih, Locta, terlebih dia belum terbiasa dengan jobnya...” ucap Loop.


    Teo pun bicara pada Locta.


“Kalo begini, kamu tidak ada kesempatan untuk belajar jobmu dengan baik karena senpai yang egois ini. Apakah keputusanmu??”


    Locta pun membalas...


“Kurasa tidak Flamegun-senpai berlatih dengan Dashoot-senpai...”


“Pengertian sekali, Adik kelas ini...” ucap Leon dengan senang...


“Ayo kita pergi, Teo..” ucap Leon.


“Tapi...” ucap Locta.


“Tapi?? Tapi apa, Wishom??” ucap Teo dengan baik.


“Aku ikut Dashoot-senpai yang latihan tandingan dengan Flamegun-senpai!!!” ucap Locta.


    Mendengar itu, Leon pun sedikit emosi...


“Apa kau bercanda, Wishom!!! Kau kira ikut dengan latihan tandingan kami, kamu mendapatkan sesuatu... kurasa kamu tidak dapat apa-apa... hanya buang-buang waktu...”


“Bil seperti itu, terus siapa yang mengajariku job archer ini??” tanya Locta.


“Anak ini benar-benar tidak tahu tingkatannya...” ucap Leon.


“Hentikan, kau berkata pada adik kelasku seperti itu, Leon...” ucap Loop dengan serius.


“Oh... ternyata  Wishom ini, adik kelasmu...” ucap Leon.


“Teo, tolong ikuti permintaan Locta ini, karena dia adalah adik kelas kesayanganku dan dia adalah rivalku juga...” ucap Loop.


    Semua anggota komite mahasiswa pun kaget, termasuk Teo dan Leon.


“tidak kusangka, yang Ia bicara oleh Loop dulu dengan bercanda tenyata benar...” ucap Merlin.


‘Locta... anak seperti apa...’ ucap Richard dalam hati.


“Kalo Loop berbicara serius itu, tidak ada pilihan lain, untuk mengajak Locta untuk latihan tanding dengan kita. Iya’kan, Leon...” ucap Teo.


“Baiklah... kalo begitu, aku akan benar-benar menghancurkan adik kesayanganmu ini, Loop!!!” seru Leon.


“Terimakasih, Dashoot-senpai, Flamegun-senpai!!!” seru Locta.


“Kenapa para senpai-senpai sekali bersikap demikian karena ucapan Arsteel-senpai??” tanya Claudia.


    Gren pun menjawab...


“Dashoot-senpai dan Flamegun-senpai adalah yang terkuat dalam serangan cepat di tingkatnya. Icerain-senpai adalah yang terkuat dalam serangan meluas di tingkatnya. Tapi Arsteel-senpai berbeda karena Ia adalah yang terkuat dari yang terkuat di tingkatnya,” ucap Gren.


“Tidak kusangka, Arsteel-senpai adalah yang terkuat di tingkatnya. Walaupun memiliki sifat yang unik...” ucap Leona.


‘Sifat Unik??’ ucap Claudia.


“Bagaimana Locta, Kakak kelasmu ini hebat’kan... hahaha” ucap Loop.


“Hentikan, Loop-senpai. Jangan membuatku lebih malu daripada ini...” balas Locta dengan dingin...


‘Oh... sikap sepert ini...’ ucap Claudia dalam hati.


    Loop pun berbicara kembali...


“Ehm... baiklah, Semua siswa tingkat 1 telah mendapatkan pembimbing untuk latihan individu, dengan tujuan meningkatkan kemampuan individu di tingkat yang pantas menjadi perwakilan perguruan untuk pertandingan 3 perguruan!!!”


“Semangat kalian untuk latihan individu kalian...”