Limit'S

Limit'S
Murid Baru, Pemeran Pembantu yang Kuat : Bagian 2



    Keesokan harinya...


“Baik... terimakasih, sudah datang. Selamat pada kalian, yang sudah menjadi wakil pertandingan divisi murid kelas 1. Disini Saya, Arsteel Loop, sebagai mentor kalian pada hari ini. Salam kenal,” ucap Loop pada Locta, Leona, Gren, Arberg, dan Claudia.


    Keadaan mereka benar-benar canggung, situasinya bisa dibilang jauh dari kata “teamwork”. Loop pun merasakan situasi itu, dan tetap melanjutkan perkataannya.


“Baiklah kalo begitu, mari kita mulai lati-,“ ucap Loop yang terpotong.


“Maaf sebelum memulai latihan, kurasa aku tidak bisa menerimanya,” ucap Arberg yang serius.


    Loop pun bertanya-tanya, dan menanyakan pada Arberg.


“Apa yang tidak bisa kamu terima, Leistein?”


“Yang tidak bisa kuterima adalah kemampuan rekan tim saya...” balas Arberg.


    Loop sedikit tahu arah bicara Arberg.


“Oh...” ucap Loop.


    Mendengarkan perkataan Arberg, Gren pun secara langsung marah seketika.


“APA MAKSUDMU ITU!!! MAKSUDMU!!! Aku tidak layak untuk pertandingan murid baru ini???” ucapnya.


    Arberg langsung membalas ucapan Gren.


“Oh... Maaf... Sepertinya terjadi kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud menyinggung kamu, Lesbuy. Malah kamu pantas menjadi peserta untuk pertandingan tersebut karena kamu memangkan kompetisi seleksi dari pemeran pembantu. Malah Aku menghargai kamu, Gren Lesbuy, dan membuatku percaya, kamu adalah rekanku.”


    Dengan penjelasan Arberg, Gren pun tidak marah lagi. Dan Gren pun memikirkan perkataan Arberg tadi, dia tahu siapa yang disinggung oleh Arberg.


    Locta dan Leona pun bisa merasakan siapa yang disinggung oleh Arberg. Locta pun berbicara.


“Sepertinya Aku tahu maksudmu, Arberg Leistein,” ucapnya dengan sedikit tersenyum.


    Leona pun binggung apa yang terjadi disana.


    Arberg pun melanjutkan ucapan Locta.


“Syukurlah kamu mengerti apa yang kukatakan. Kamu tidak seperti orang tidak tahu diri, seperti dalam pikiranku, Wishom,” ucapnya dengan menyinggung Locta.


“tidak perlu, berkata demikian’kan, Leistein,” ucap Gren dengan emosi.


“Sudah, sudah, Gren. Tenanglah,” ucap Locta.


“Baiklah. Kalo begitu, apa yang kau inginkan dari Aku dan Leona?” tanya Locta.


‘Kenapa tiba-tiba Locta membawa-bawa Aku diucapannya??’ tanya Leona dalam hati.


    Leona tidak paham dengan situasi sekarang. Situasi yang Arberg yang meragukan kemampuan Locta dan Leona.


    Arberg membalas ucapan Locta.


“Ya... kamu harus melakukan persis yang kami lakukan kemarin, bertanding dengan murid-murid lainnya...” ucap Arberg.


    Locta langsung membalas ucapan Arberg.


“Baiklah... kalo begitu... aku pergi dulu....”


    Locta pun berjalan meninggalkan mereka. Leona pun binggung dengan keadaan yang terjadi.


“Locta, kamu mau pergi kemana??” tanyanya sambil mengejar Locta.


“Hei, Kau mau pergi kemana?” tanyanya.


    Mendengar ucapan Arberg, Locta pun berhenti dan menoleh ke arah Arberg.


“Kan Aku tidak layak untuk mengikuti pertandingan 3 perguruan itu karena aku tidak mengikuti seleksi seperti yang kamu lakukan’kan, Leistein,” jelasnya dengan santai.


    Melihat respon Locta, Arberg pun menyindir Locta.


“Oh, baiklah. Dapat kumengerti dan cukup tahu bahwa kemampuan murid kelas 1 Pemeran Utama dari Perguruan Harapan Manusia, bisa dikatakan tidak lebih kuat dari murid Pemeran Pembantu.”


    Locta langsung kembali dan mendekat ke Arberg.


“Aku rasa merasa buang-buang waktu untuk melawan teman-teman pemeran pembantu seperti yang kamu lakukan Leistein, nona Spellspeare, dan Gren kemarin lakukan di pertandingan seleksi. Menyita waktu. Dan jangan menyangkut pautkan orang lain, di kelas Pemeran Utama, walaupun hanya ada kami berdua, Aku dan Leona,” penjelasan Locta yang tegas.


    Kedua orang tersebut saling berselisih tegang.


“Hahahaha... kenapa kalian beradu argumen begitu...” ucap Loop.


“Jangan begitulah, kasihan nona Taficia binggung apa yang terjadi sekarang yang membuat kalian berselisih tegang,” ucapnya yanng melihat muka binggung Leona.


“Disini terjadi kesalahpahaman. Yang mana Leistein dan nona Spellspeare adalah murid baru, pasti tidak tahu bagaimana, kemampuan yang dimiliki Locta dan nona Taficia. Dan ingin mengetahui kemampuan yang dimiliki murid Pemeran Utama. Kalo caranya menggunakan pertandingan seleksi seperti kemarin, kupikir cukup menyita waktu. Argumen kalian tidak ada yang salah. Cuman terjadi kesalahpahaman saja. Dan aku mendapatkan solusi untuk kalian,” ucap Loop.


“”Apa itu?”” ucap mereka berdua yang melihat Loop.


    Loop pun memberikan solusinya.


“Lakukan latihan tanding dengan pemenang pertandingan seleksi saja.”


    Arberg secara spontan berkata.


“JENIUS!!!”


    Locta pun merespon solusi yang diberikan Loop.


“Haduh... kenapa kau bisa memikirkan itu...” ucapnya dengan sedikit sedih.


“Aku tahu, Locta, sebenarnya kamu sudah memikirkan solusi yang kukatakan. Cuma kau memilih pergi saja karena tidak ingin repot. Sangat egosi sekaliii,” ucap Loop yang sedikit senyum.


“Ah... sial....” umpat Locta.


“Sebenarnya apa yang terjadi....” ucap Leona yang masih binggung.


“lebih baik tidak perlu dipikir berlebihan. Pada akhirnya perkataan mereka merumit situasi saja,” ucap Claudia yang juga binggung tapi tidak terlihat dengan ketenangan yang dimilikinya.


    Loop lanjutkan perkataannya.


“Baiklah. Kurasa latihan tanding ini, dilakukan oleh nona Taficia melawan nona Spellspeare, kemudian Locta melawan Leistein. Bagaimana?”


    Gren pun berbicara.


“Saya, bagaimana, Arsteel-senpai?” tanyanya.


“Kamu tidak perlu, Lesbuy. Karena ini untuk para murid pindahan ini mengerti bagaimana kemampuan yang dimiliki murid Pemeran Utama. Sedangkan kamu, Lesbuy, sudah mengetahui kemampuan yang dimiliki Locta dan nona Taficia’kan,” balas Loop.


“Baiklah, Arsteel-senpai. Saya mengerti.”


“Kamu cukup melihat pertandingan mereka saja. Kamu akan mendapatkan sesuatu dari mereka,” ucap Loop seolah-olah mengetahui apa yang terjadi nanti.