Limit'S

Limit'S
Murid Baru, Pemeran Pembantu yang Kuat : Bagian 1



    Setelah Pertemuan 3 Perguruan itu, yang terjadi seminggu lalu, Perguruan masing-masing menyiapkan diri untuk bertanding di Pertandingan 3 Perguruan yang diadakan 3 bulan lagi. Dalam Pertandingan ini, mempertandingkan 5 jenis, yaitu : Pertandingan Grup Murid tingkat 1, Pertandingan Trio Murid tingkat 2, Pertandingan Ketua Dewan Mahasiswa, Pertandingan Tunggal Dewan Mahasiswa, dan Pertandingan Group Dewan Mahasiswa.


    Dan grup mahasiswa tingkat 1 di Perguruan Harapan Manusia, hanya 2 orang Murid Pemeran Utama, 3 orang tersebut di cari melalui seleksi di semua kelas pemeran pembantu. Dan hari ini, hari seleksi murid pemeran pembantu untuk pertandingan 3 perguruan.


    Locta dan Leon berjalan menuju tempat seleksi untuk melihat calon rekan mereka nanti di pertandingan 3 perguruan.


“Menurutmu yang lolos siapa, Locta?” tanya Leona.


“Kurasa yang menang dalam pertandingan ini adalah Gren Lesbuy karena Dia memiliki potensi yang baik dan Aku sering latihan tanding dengannya. Aku tahu benar bagaimana kemampuan yang dimilikinya,” penjelasan.


“Oh, Aku setuju denganmu, Locta. Kemudian 2 orang lainnya?” tanya Leona.


“Kurasa Marie Rosetta dari kelas Pemeran Pembantu kelas 2, kemampuan sihir tumbuhannya benar-benar sangat berguna untuk menyerang ataupun bertahan. Menguntungkan dalam strategi. Dan Hugo Claus dari kelas Pemeran Pembantu kelas 3, memilki job Assassin terbaik di tingkat kita. Untuk serang mendadak dan cepat, Dia sangat efektif untuk itu. Menurutku kedua orang tersebut,” penjelasan panjang Locta.


“Begitu ya pertimbanganmu, Locta. Dengan penjelasanmu, Aku setuju. Untuk teamwork, bagaimana?” ucap Leona.


“Ehm... Untuk Gren, aku bisa karena sering komunikasi dengannya dan tahu benar kemampuannya, bisalah aku dan dia melakukan kombinasi serangan. Untuk Rosetta, wanita yang cukup sulit diajak kerjasama karena dia, wanita cukup glamor dan bersosial dengan teman-teman elit terdekatnya. Kalo kombinasi pun, Ia harus bekerjasama denganmu, Leona.”


“Kau benar juga... sepertinya cukup sulit,” ucap Leona menghela nafasnya.


“Kenapa kamu begitu? Ada hubungan apa dengan dia, Leona?” tanya Locta.


“Ya, itu, si Rosetta ini kadang-kadang menemuiku dan itu cukup mengangguku. Aku kehilangan waktu privasiku...” ucap Leona dengan sedikit kesal.


“Oh...” balas Locta.


‘Sepertinya Rosetta, pengemar berat Leona,’ ucap Locta dalam hati.


“Kalo Hugo Claus, Bagaimana?” tanya Leona.


“Hugo Claus ini memiliki kemampuan yang baik tapi komunikasi kurang baik. Dia selalu suka bergerak sendiri. Sangat sulit untuk teamwork dengan dia,” penjelasan Locta.


“Begitu ya... cukup sulit, ya,” balas Leona.


    Mereka pun sampai ke tempat seleksi tersebut dan melihat di area.


“Pertandingan Arena 1, dimenangkan oleh GREN LESBUY!!!!” ucap juri pertandingan.


    Semua penonton di lapangan arena 1, berteriak dengan kencangnya.


“Seperti yang kubilang, Gren Lesbuy pasti akan menang,” ucap Locta dengan menyakinkan.


“Iya, Locta. Sesuai perkiraanmu,” ucap Leona.


    Gren melihat Locta dari kejauhan.


“Locta!!!! Aku berhasil!!!” ucap keras Gren dengan mengepalkan tangannya.


    Locta pun membalas Gren dengan kepalan tangannya.


“Pertandingan Arena 2, dimenangkan dengan mudahnya. Dimenangkan oleh CLAUDIA SPELLSPEARE!!!!”


“Sial!!! Kenapa aku bisa kalah dengan wanita sepertimu!!!!” ucap Rosetta yang marah.


“Maaf. Disini Aku juga berusaha untuk menang. Dan Kamu, lawan yang cukup menyulitkanku,” ucap Claudia.


“Sial... Sial... Sial... tidak bisa lebih dekat dengan Taficia-sama!!!” ucap Rosetta dengan memukul tangannya di tanah.


“Pertandingan Arena 3, dimenangkan dengan mudahnya. Dimenangkan oleh ARBERG LEISTEIN!!!!”


    Semua orang yang menonton terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.


“Bagaimana aku bisa kalah!!!” ucap Hugo dengan penyesalan.


“Apakah ini benar-benar pertandingan?” ucap salah satu penonton.


“Kuakui kamu memiliki kemampuan yang mempunih, cuma aku kebetulan bisa menanganinnya. Mungkin melawan dengan yang lainya kamu bisa menang dengan mudah,” ucap Arberg dengan santai dan meninggalkan arena tersebut.


“Dengan ini, 3 anggota yang mengisi grup untuk pertandingan 3 perguruan untuk divisi grup mahasiswa tingkat 1 adalah Gren Lesbuy, Claudia Spellspeare dan Arberg Leistein!!!” ucap juri pertandingan seleksi.


“Claudia Spellspeare??? Arberg Leistein??? Siapa mereka itu?” Locta pun bertanya-tanya.


“Mereka itu mahasiswa baru di kelas pemeran pembantu, Locta...” ucap Jean yang tiba-tiba muncul diantara Locta dan Leona.


Locta dan Leona pun kaget.


“Kau, membuatku kaget, Jean-senpai!!!” ucap Locta.


“Maaf’kan Aku, Locta, Leona. Bicara tiba-tiba kepada kalian...” ucap Jean.


“Kenapa Circlemoon-senpai, ada disini?” tanya Leona.


“Disini Aku bertugas mengawasi pertandingan seleksi ini,” penjelasan Jean.


“Menurut Jean-senpai, Bagaiamana mereka, murid baru itu, bisa mengalahkan murid pemeran pembantu yang bisa dikatakan cukup kuat di tingkatnya sekarang ini??” tanya Locta.


“Ya, Aku melihat pertandingan mereka sedikit tapi mereka memiliki gerakan benar-benar


sedikit berbeda dengan kita, murid-murid perguruan kita.”


“Maksudnya berbeda itu seperti apa, Jean-senpai?” tanya Locta.


“Pergerakan mereka, benar-benar mendalami job yang mereka miliki. Tidak ada pergerakan yang sia-sia sama sekali. Benar-benar efesien,” penjelasan Jean.


“Ehm... menarik sekali, murid baru ini,” ungkap Locta.


    Disatu sisi..


“Pertandingan kita terlalu cepat, Arberg,” ucap Claudia.


“Ya bagaimana lagi, kita melakukan seperti biasa yang kita lakukan. Cukup tahu bagaimana kualitas “Pemeran Pembantu” disini. Kurasa “Pemeran Utama”nya tidak terlalu berbeda dengan “Pemeran Pembantu,” ucap pedas Arberg yang melihat Locta dan Leona dari kejauhan.