
Sudah sebulan berlalu, dari kejadian Leona yang Overvoid pada saat Eksekusi Massal yang melawan anggota kepercayaan Merlin Icerain, Kater Feeling karena Leona menggunakan fasilitas tanpa seizin Merlin Icerain. Kejadian itu, Leona tak sadarkan diri selama seminggu. Walaupun Leona menang, Dia tetap mengaku salah dan Ia meminta diri pribadi untuk dibawah naungan Merlin Icerain agar Ia bisa lebih kuatan lagi dan bisa mengendalikan potensinya. Leona pun tetap berlatih dengan Locta tentang komunikasi dengan makhluk sakral yang didalam tubuhnya yaitu Medusa. Walaupun tidak terlalu sering karena Leona udah kehabisan tenaga saat mengikuti latihan dari Merlin.
Hari baru pun tiba...
“Locta, menurutmu seranganku yang tadi, bagaimana?” tanya Gren.
“Menurutku serangan sudah bagus, cuman pergerakanmu terbatas bisa merugikan dirimu sendiri. Saran dariku, kelincahanmu ditingkatkan dan bisa membuat seranganmu lebih efektif,” ucap Locta.
“ Baik, Locta.”
Percakapan mereka setelah pelajaran praktek.
“Bagaimana kabar Leona, Locta?” tanya Gren sambil menganti bajunya.
“Ya seperti biasa, dia tetap berlatih dengan Icerain-senpai. Karena dia belum sepenuhnya mengeluarkan potensinya dan Icerain-senpai yang bisa membantunya. Kalo aku lepas tangan, aku tidak tahu-menahu tentang Kekuatan Job-job ini, Aku baru mengerti tentang jobku, Archer, ya sekarang ini. hahahaha.”
“Benar juga, kamu, Locta. Hahahaha,” ucap Gren yang tertawa juga.
Keluarlah mereka dari ruang ganti dan ingin ke kantin untuk makan. Tiba-tiba...
“Locta!!!” suara yang memanggil Locta dari belakang mereka.
Locta pun menoleh, dan melihat yang memanggilnya adalah Kater Feeling.
“Ada perlu apa, Feeling-senpai, memanggilku?” tanya Locta.
“Aku memanggilmu karena nona Merlin mencarimu,” balas Kater.
“Icerain-senpai mencariku??” tanya Locta dengan binggungnya.
“Sudah ikut saja,” ucap Kater.
“Baiklah, Feeling-senpai.”
“Gren, pergilah makan dulu. Sepertinya aku lama disana,” ucap Locta pada Gren.
“Baiklah. Siapkan mentalmu. Hahaha,” ucap Gren dengan candanya.
“Baik. Hahaha,” balas Locta dengan candanya.
Locta dan Kater berjalan ke ruang komite pengawas dan perkumpulan wanita, “Winter Flower”.
“Nona Merlin, Saya sudah membawa Locta kesini,” ucap Kater dengan tegas.
“Baiklah. Terimakasih, Kater, sudah membawanya kesini. Tolong bantu latihan Leona,” balas Merlin.
“Baik, nona Merlin.”
Kater pun keluar ruangan, didalam ruangan tersebut hanya ada Locta dan Merlin. Keadaan cukup tegang. Locta pun mencoba memulai percakapan.
“Icerain-senpai, ada perlu apa denganku?” tanya Locta dengan tegangnya.
Keadaan diam sebentar dan...
“Ya, Kau ingatkan, saat Aku menjagamu dari serangan Leona yang Overvoid itu?” tanya Merlin.
“Tentu, ingat. Kenapa tentang itu, Icerain-senpai?” balas Locta sedikit terburu-buru karena suasana yang tegang.
“Baiklah. Aku ingin meminta imbalan dari kamu, Locta,” ucap Merlin.
“Oh... OK... Imbalan apa yang diinginkan, Icerain-senpai?” tanya Locta yang binggung.
“2 hal yang kuminta darimu, Locta,” ucap Merlin.
“Ehm... baiklah, Icerain-senpai. Yang pertama apa?” tanya Locta.
“Pertama, berhenti memanggil nama keluargaku. Panggil saja Merlin,” ucap Merlin.
“Ehm... Ok, Icer-Merlin-senpai. Kedua, apa?”
“Yang kedua....”
“Bantu Aku menyelesaikan dokumen-dokumen ini, Locta...” ucap Merlin dengan senyum cantiknya.
“Baiklah....” balas Locta sedikit lemas karena Locta tidak suka hal administrasi.
Locta pun mengerjakan Dokumen-dokumen tersebut yang tertumpuk tinggi. Locta pun mengerjakan sediki demi sedikit. Locta sudah mendapatkan Setengah dari dokumen-dokumen tersebut. Locta melemaskan tubuhnya karena tubuhnya tegang mengerjakan dokumen-dokumen itu.
“Minumlah, teh herbal ini, Locta,” ucap Merlin yang membuatkan tea hangat.
Locta pun mencium aromanya, membuat menenangkan pikiran. Dan Locta pun mencobanya...
“Emm... Enak sekali teh herbal ini!!” ucap Locta dengan senangnya.
“Tentu, itu resep turun-menurun dari keluargaku. Istirahatlah dahulu, Locta.”
“Baiklah, Merlin-senpai,” balas Locta.
Locta pun memanfaatkan waktu istirahat, untuk bertanya-tanya pada Merlin.
“Merlin-senpai,
Bolehku bertanya?”
“Silahkan. Aku akan menjawab selama itu aku bisa menjawabnya.”
“Baiklah. Pada saat, Leona Overvoid, kenapa Merlin-senpai, menahan kekuatan senpai?”
Raut muka Merlin sedikit kaget.
“Kenapa kamu bisa berpikir demikian, Locta?” tanya Merlin yang penasaran dengan jawaban Locta.
“Ya... Aku merasa, Merlin-senpai, bisa menghadapi Leona yang Overvoid sendirian. Dan menurutku juga, menghabis Leona pun, Merlin-senpai bisa,” ucap Locta dengan analisanya.
“Menarik sekali pemikiranmu, Locta. Kamu benar, Locta, Aku bisa menghadapi dan menghabisi Leona pada saat itu juga.”
“Kenapa, Merlin-senpai, tidak melakukannya?” tanya Locta.
“Karena Leona sebagai murid Pemeran Utama di Perguruan ini adalah sangat penting. Terlebih lagi tidak ada alasan yang kuat membuat dia untuk di habisi pada saat itu. Aku juga menggunakan tidak menggunakan kekuatan sebenernya pada saat itu.”
“Oh... seperti itu ya, Merlin-senpai. Dan menurutku, Merlin-senpai, menahan kekuatan untuk tidak menghancurkan fasilitas dan menjaga keamanan anggota komite pengawas dan Perkumpulan Wanita yang ada disana. Memang Merlin-senpai, contoh pemimpin yang baik,” ucap Locta yang memuji tindakan Merlin saat itu.
“Sudah-sudah. Lanjutkan pekerjaanmu!!!” balas Merlin yang tersipu malu.
“Baiklah, Merlin-senpai...” balas Locta dengan tidak semangat.
“Bolehku bertanya, Merlin-senpai?” tanya Locta.
“Mau tanya apalagi kamu, Locta?” balas Merlin sedikit kesal karena Dia masih tersipu malu.
“Dokumen sebanyak ini, memangnya dokumen apa?”
“Baru tanya sekarang... Haduh... Ini dokumen untuk Pertemuan 3 Perguruan terbaik di 25 Generasi,” ucap Merlin.
“Pertemuan 3 Perguruan terbaik!!! Di 25 Generasi!!!” ucap Locta dengan kagetnya.
“Iya, Locta. Perguruan kita, Perguruan Harapan Manusia, menjadi tuan rumah untuk pertemuan ini dan perwakilan Generasi Pertengahan. Saat kalian menggunakan fasilitasku tanpa ijin dan aku tidak eksekusi langsung karena aku pergi sebagai perwakilan untuk menyampaikan undangan pertemuan kepada 2 perguruan yang sebagai pewakilan generasi awal dan akhir,” penjelas Merlin.
“Oh... seperti itu, memangnya Pertemuan itu, Kapan Merlin-senpai?” tanya Locta yang penasaran.
“2 hari lagi.”
“WOW... 2 Perguruan itu siapa, Merlin-senpai?”
“Sudah... sudah... kamu banyak tanya. Sudah kerjakan dokumen-dokumen ini segera mungkin. Kamu tahu sendiri, saat hari pertemuan berlangsung,” ucap Merlin-senpai yang mulai kesal menjawab pertanyaan-pertanyaan Locta.
‘Merlin-senpaiii!!!” ucap Locta yang kecewa.
Locta melanjutkan mengerjakan dokumen-dokumen dengan rasa penasaranya yang akan terjawab
saat hari pertemuan 3 Perguruan berlangsung 2 hari lagi.