Limit'S

Limit'S
Leona, Wanita Cantik Generasi 15 : Bagian 4



    Penonton pun bersorak-sorai untuk kemenangan Leona.


‘Bagaimana bisa Leona mempunyai kekuatan seperti itu?’ tanya Locta dalam hatinya.


    Serangan Leona tidak selesai, masih ada kumpulan air dan naga air tersebut.


“Loop, bisa kau panggil Jean Circlemoon?” dengan nada serius dan tegas.


“Baiklah, Aku segera memanggil Jean!!!” ucapnya dengan segera dan mengerti kondisi sekarang.


“HAAAA!!!!”  teriak Leona yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya, naga airnya pun menyerang Penonton.


“Untuk semua komite Pegawas dan Perkumpulan “Winter Flower”, jaga para murid dari serangan dan evakuasi secepat mungkin” ucap Merlin dengan tegasnya.


“”Baik, Nona!!!”” ucap anggota Merlin.


    Semua anggota Merlin bergerak dengan cepat untuk mengamankan para murid dan mengevakuasi. Naga air tersebut menyerang Kater yang mengapung dengan keadaan lemah.


“Maafkan Aku, Nona Merlin. Tidak bisa menjadi pelindungmu lagi,” ucap Kater dengan lemah dan pasrah.


    Serang itu menghampirinya dan...


“Bicara apa kamu, Kater. Seperti tidak ada harapan hidup lagi,” ucap Merlin yang menahan serang itu.


“NONA!!!” ucap Kater dengan nada tinggi yang semampunya.


“Sudah, kamu diam disana.”


Merlin membekukan air dibawahnya dan Kater.


“Freeze!!!”


    Semua air tersebut membeku seketika. Termasuk naga air dan tubuh Leon setengah badan juga membeku. Locta pun turun ke arena yang sudah membeku tersebut.


“Hei, Murid kelas 1. Apakah temanmu pernah menggunakan ini sebelumnya?” tanya Merlin yang melihat ke arah Locta.


“Tidak, Icerain-senpai. Aku tidak pernah melihat ini, Malah Aku tidak tahu kalo Dia memiliki kekuatan seperti ini,” ungkap Locta ke Merlin.


“Kalo begitu, Ini Fenomena Overvoid,” ungkap Merlin.


“Overvoid??” tanya Locta.


“Overvoid adalah keadaan yang memaksakan batas kekuatan void dimiliki oleh seseorang. Keadaan ini bisa dilakukan oleh secara sadar dan tidak sadar. Secara sadar itu sering dilakukan oleh Pemeran Pembantu untuk menaikkan batas mereka, tetapi terlalu berbahaya sampai merenggut nyawa pengguna. Tidak sadar ini lingkungan yang memiliki void yang besar atau adanya pihak ketiga,” penjelas Merlin.


“Berarti Icerain-senpai bilang Overvoid ini terjadi karena tidak sengaja?”


“Sepertinya begitu...”


“HAAAAAHH!!!” amukan Leona.


    Es yang membekukan badan Leona mulai retak dan es yang membekukan air juga ikut retak. Keluarlah Naga Air tersebut dan menyerang Merlin.


“Ice Barrier!!!”


“Apa kau tahu cara mengatasinya, Locta?” tanya Merlin.


“Tunggu sebentar, Icerain-senpai. Aku berpikir dahulu.”


“Berpikirmu jangan terlalu lama, karena pertahananku tidak bisa terlalu lama dan aku membatasi kekuatanku.”


“Baik, Icerain-senpai.”


    Locta pun mulai berpikir selama latihan bersama Leona apa yang terjadi. Locta pun terus berpikir dan berpikir. Dan melihat karakteristik Leona dan keadaan sekarang, Locta pun menyimpulkan adanya orang ke tiga yang ikut campur dengan keadaan ini.


‘Grim, apa kau mendengarku?’ Locta yang berkomunikasi dalam hati pada GrimGrim.


‘Ada apa, tuan Locta?’ jawab GrimGrim.


‘Apa kau bisa merasakan kesadaran yang lain di sekitar Leona?’ tanya Locta.


‘tunggu sebentar tuan, Aku coba mendeteksinya.’


“Hypersensitity!!!”


‘Tuan Locta, Aku merasakan ada kesadaran lain yang ada didalam tubuh nona Leona,’ ungkap GrimGrim.


‘Apakah itu bisa menghilang atau bagaimana, Grim?’


‘Sepertinya tidak bisa tuan Locta.’


‘Kenapa tidak bisa, GrimGrim?’ tanya Locta dengan khawatir.


‘Karena kesadaran ini sepert Saya, tuan Locta.’


    Locta pun kaget dengan ucapan GrimGrim.


‘Berarti harus mendekati tubuh Leona.’


‘Benar tuan Locta,’ ucap GrimGrim.


    Pertahanan yang dimiliki oleh Merlin mulai retak.


“Bagaimana Locta, Apakah Kau tahu cara mengatasi ini!!!” ucap Merlin dengan tegas ke Locta.


“Icerain-senpai, Aku tahu caranya. Buat aku bisa mendekati tubuh Leona,” ucap Locta.


“Mendekati ke Leona, terus apa yang kamu lakukan?” tanya Merlin dengan menatap Locta.


“Percayakan padaku, Icerain-senpai,” jawab Locta dengan senyuman sedikit yang percaya diri.


“Baiklah, Aku ikuti rencanamu. Jangan salahkan aku bila itu gagal.”


“Percayakan padaku, Icerain-senpai.”


    Pertahanan Merlin hancur, Locta pun langsung berlari menuju Leona. Locta pun dihadap oleh naga-naga air tersebut yang mau menyerangnya.


“Freeze!!!”


    Naga air tersebut membeku dan hancur. Locta pun menoleh ke Merlin.


“Fokus saja kedepan, Locta!!!” ucap Merlin dengan tegas.


    Locta tetap maju dan menghindari serang-serang yang menyerangnya karena sudah mendekati posisi Leona.


“HAAAAAA”


“TSUNAMI!!!!”


    Jurus Leona yang membuat air memiliki ukuran yang tinggi dan besar, siap untuk menghancurkan arena tersebut.


“ICE STROM!!!”


    Jurus itu membuat ombak besar itu membeku dan sekitarnya juga membeku.


“Saatnya, Locta!!!” ucap Merlin dengan tegasnya.


    Locta pun sudah mendekat ke Leona.


    Seketika bercahaya sekitar Locta dan Leona sampai tidak dapat melihat tubuh mereka. Locta pun memasuki alam bawah sadar dari Leona.


“Sangat gelap sekali ya disini,” ucapnya dengan santai.


    Locta pun terus berjalan lurus dengan santai. Tiba-tiba terdengar suara.


“Anak muda sepertimu, bagaimana bisa masuk kesini?” tanyanya.


“tidak perlu tahu bagaimana cara aku masuk, cepatlah keluar dari tubuh wanita ini.”


“Ehm... kurasa Aku tidak bisa, karena aku sejak awal sudah di dalam diri wanita ini,” ucapnya dengan menunjukkan sosoknya disebelah kiri Locta.


    Locta pun kaget, dan menjauhi sosok itu. Kemudian tempat itu mulai mengeluarkan cahaya-cahaya kecil. Dan membuat sosok tersebut, terlihat jelas. Locta pun kaget karena sosok tersebut ada wanita berambut ular dan bertubuh setengah ular, bisa disebut Medusa.


“Bagaimana bisa makhluk sepertimu bisa ada di tubuh temanku, Leona?” tanya Locta pada Medusa tersebut.


“Karena aku sudah ada sejak lama sebelum wanita ini ada di dunia ini, turun-temurun aku ada di keluarganya,” balas Medusa.


“Apa maksudmu?” balas Locta yang binggung.


“Maksudnya itu makhluk sakral dari keluarga Leona, tuan Locta,” ucap GrimGrim.


“Siapa itu yang berbicara?” tanya Medusa.


GrimGrim memunculkan wujudnya.


“Kau...!!!” ucap Medusa dengan kagetnya.


“Hai, Medusa...” ucap GrimGrim dengan santainya.


“Kau mengenalnya, Grim?” tanya Locta.


“Tentunya, tuan Locta. Karena Dia seperti Aku, Makhluk Anonous setingkat denganku.”


“Kau benar-benar Grim Reaper’kan?” tanya Medusa yang tidak yakin.


“Tuan Locta, bolehkah Aku menjadi wujud asliku?”


“Tentunya, Grim.“


GrimGrim pun berubah menjadi wujudnya sebenarnya adalah Grim Reaper.


“Kau benar-benar Grim. Bagaimana bisa kau menjadi penurut seperti ini. Terlebih lagi dengan makhluk kecil ini,” ucap Medusa yang judes.


“Hahahaha. Ucapanmu menarik sekali, Medusa. Tapi orang in yang membuatku seperti ini sekarang,” ucap Grim.


“Ok.. Ok... berarti Kamu sudah melemah, tidak sepert dulu...” ucap Medusa yang


menyindir Grim.


“Kau yakin dengan ucapamu, Medusa?” balas Grim dengan mengeluarkan Aura yang mengerikan.


Keduanya mengeluarkan aura yang kuat.


“Apakah kalian bisa berhenti!!!” ucap Locta dengan tegas.


“Apa kuasamu disini, Makhluk kecil!!!” ucap Medusa yang merendahkan Locta.


“Jaga ucapanmu...” balas Locta dengan aura yang cukup memperngaruhi Medusa.


‘Bagaimana bisa makhluk kecil ini bisa mengeluarkan aura sekuat ini. Pantas saja, Grim patuh terhadapnya,’ ucap Medusa dalam hati.


“Oklah. Aku mengikuti ucapanmu, makhluk kecil,” ucap Medusa.


“Dimana Leona sekarang?” tanya Locta.


“Dia ada disana..” ucap Medusa dengan menujukan tempat Leona.


    Keadaan Leona yang benar-benar tidak ada kesadaran. Keadaan Down.


“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Locta.


“Aku hanya berkata tentang dia yang menjadi beban keluarganya,” ucap Medusa dengan mudahnya.


“Kenapa kau berkata demikian?” ucap Locta yang sedikit marah dan mengeluarkan aura yang berbahaya.


“Karena aku sudah melihat perjalanan hidupnya. Yang benar-benar dimanja oleh keluarganya dan dia menjadi tumbal keluarganya karena aku ada didalam dirinya. Benar-benar menyedihkan sekali anak ini,” ungkap Medusa.


“Pasti Kau, Perang pertama, sudah disegel oleh para manusia ya?” tanya Grim sedikit menyindir.


“Diam Kau, GRIM!!!” balas Medusa dengan sewotnya.


“Dan aku menawakan bantuan untuk menunjukkan potensi dia sebenarnya seperti apa, dia menolak dan langsung down karena aku mengatakan tidak membanggakan untuk keluarganya. Akhirnya menerima bantuanku dan melepaskan kendalinya dengan kehilangan kesadaran seperti ini,” penjelasan lanjutan oleh Medusa.


“Oh.. begitu... baiklah. Ternyata kau, Medusa, tidak sejahat yang kupikir,” ucap Locta dengan rasa menghormati Medusa.


“Apa maksudmu, Makhluk kecil!!!” balas Medusa dengan sedikit marah.


“Sudah... lanjutkan percakapan kalian, antara makhluk anonous yang tersegel,” ucap Locta dengan entengnya.


    Kemudian Locta menuju tubuh Leona yang down dan tidak sadarkan diri. Locta pun memeluk Leona.


“Leona, tolonglah sadarlah dari kondisimu sekarang. Aku tak tahu apa yang kau alami di hidupmu. Kalau kamu merasa lemah dan tidak berguna, ubah pemikiranmu, Leona. Memang menjadi kuat akan berguna untuk orang banyak, cuman pada masa ini, masalemah dan tida berguna ini, menjadikanmu kuat dan berguna di masa depan. Tidak usah terburu-buru, ikuti caramu dan langkahmu sendiri. Dan ingat, Kamu tidak sendiri,” ucap Locta dengan bijak.


    Saat Locta berbicara seperti itu, Leona mengingat masa lalunya, kemudian Ia sadar bahwa ada suatu hal dilakukan dimasa akan datang. Secara bertahap kesadaran Leona mulai muncul.


“Lo-cta,” ucap Leona yang sedikit terbata-bata.


“Leona, syukurlah. Kamu sudah sadar,” ucap Locta sambil memeluk erat Leona.


“Sesak, Locta..”


“Maaf, Leona,” Locta pun melepaskan pelukannya.


“Hebat juga, kamu, makhluk kecil. Bisa menyadarkan Dia. Kurasa Aku harus pergi, Dan kuingatkan padamu, Leona. Jangan mudah menerima bantuan dari Makhluk seperti Aku. Ini di dunia alam bawah sadar. Kembali ke dunia, Kamu mendapatkan efek samping dari keadaanmu sekarang. Ingat itu!!!” ucap Medusa dengan tegas.


    Medusa pun menghilang dari pandangan mereka.


“Medusa....” ucap Grim sedikit tersenyum..


    Grim pun ikut menghilang.


“Mereka siapa, Locta??” tanya Leona dengan khawatirnya.


‘’Tenang  saja. Mereka ada dipihak kita kok,” ucap Locta yang menenangkan Leona.


“Aku khawatir dengan ucapan wanita rambut ular itu. Konsekuensi tersebut. apa Aku tidak apa-apa.” Dengan khawatirnya.


“Percaya saja dengan ucapannya,” ucap Locta yang menyakinkan Leona.


“Jangan khawatir, Kamu tidak apa-apa kok. Yang penting kita harus keluar dari kondisi sekarang.”


“Baiklah. Aku percaya denganmu, Locta.”


    Tubuh mereka pun bersinar terang sampai tidak terlihat tubuhnya, itu menandakan mereka keluar dari dunia alam bawah sadar....