
Arberg barusan melancarkan serangan tersebut dari langit, sudah kembali menginjak kakinya di arena lagi.
‘Apakah berhasil???’ ucap Arberg dalam hati.
Arberg melihat debu tanah yang ada karena serang dia.
‘Apakah serangan kita terlalu kuat’kah?’
‘Seharusnya tidak, tuan Arberg. Cuman dengan begini, Kamu dicurigai bukan seorang Pemeran Pembantu,’ balas Kikos.
‘Benar juga, kamu. Ya sudah, itu adalah pilihanku, dan aku ingin mengetahui bagaimana kualitas Pemeran Utama dari Locta... ternyata sudah berakhir untuknya,’ ucap Arberg.
Debu tanah mulai menghilang...
“Sepertinya Aku salah...” ucap Arberg dengan tersenyum karena dia melihat sesosok Locta di debu tersebut, yang tetap berdiri.
“Arberg, apakah pertandingan kita dianggap seri saja??? Loop-senpai, apakah boleh?” ucap Locta dengan santainya.
Loop dan Gren binggung dengan perkataan karena kedua orang tersebut masih bisa melanjutkan pertarungan dengan baik.
“Tentu saja, bisa. Hanya saja pihak lawan juga setuju juga...” balas Loop.
“Ok, Loop-senpai. Apakah kau bersedia untuk pertandingan kita dinyatakan seri??” ucap Locta.
‘Sebenarnya Aku cukup melihat kemampuan dari Locta, setidaknya Dia pantas disebut orang yang nanggung gelar, “Pemeran Utama”. Kucoba untuk memancingnya, apakah keputusannya...’ ucap Arberg dalam hati.
Arberg pun membalas ucapan Locta...
“Menurutku, kita masih sama-sama kuat. Kenapa harus menyatakan seri,kura-“ ucapan Arberg yang terputus.
Tiba-tiba...
‘Ini... jurus “DEATHSILENCE!!!”, kemampuan yang dimiliki makhluk Anonous. Apa yang terjadi, Kikos!?’ seru Arberg dalam batin.
‘Tuan, kita ikuti perkataan Locta saja,’ balas Kikos.
‘Kenapa begitu?? Apa hubungan kemampuan makhluk Anonous dengan Locta??’ ucap Arberg.
‘Karena Locta mempunyai kuasa untuk jurus itu. Bisa dibilang...’ ucap Kikos.
‘Seperti kita!?’ seru Arberg dalam batin.
Arberg yang lama terdiam, akhirnya berbicara kembali.
“Baiklah. Aku setuju saran dari Locta, untuk pertandingan kita dianggap seri saja,”
Loop pun sedikit terkejut.
“Baiklah. Pertandingan antara Locta G. Wishom melawan Arberg Leistein, dinyatakan seri!!!”
Locta berjalan menuju ke Arberg.
“Nanti kita berbicara...” ucap Locta hanya bisa didengar Arberg.
Locta pun melewati Arberg, menuju ke Gren dan Loop.
“Bagaimana kau bisa menghindari serangan dari Arberg, Locta??” tanya Gren.
“Hahaha... adalah caranya. Ayo kita melihat kondisi, Leona. Aku sedikit khawatir,” ucap Locta.
Loop pun melihat Arberg sedikit curiga.
“Loop-senpai, apa kau tidak ikut melihat Leona??” ucap Locta.
“Ok... Ok... Aku ikut juga, Locta,” balas Loop.
Mereka pun meninggalkan Arberg sendiri di arena.
‘Sepertinya Tuan, si Locta itu menyelamatkan kita secara tidak langsung,’ ucap Kikos.
‘Aku setuju denganmu, Kikos. Aku malah penasaran siapa sebenarnya si Locta itu... Sebenarnya kemampuan seperti apa...’ ucap Arberg.
Locta dan gerombolannya pun sampai di ruangan kesehatan perguruan untuk menjenguk Leona dan Claudia yang cukup terluka karena pertarungan mereka. Berbincang-bincang sebentar. Loop pergi karena ada urusan Dewan Mahasiswa dan Gren juga pergi karena ada urusan kelasnya.
“Claudia, apakah kamu bisa panggil Arberg kesini tidak??” ucap Locta.
“Kurasa tidak perlu, Locta...” ucap Arberg yang muncul dari pintu.
“Syukurlah kau sudah disini, Arberg,” ucap Locta.
Leona pun binggung karena situasi yang ada.
“Ada apa ini?? kenapa tiba-tiba serius seperti ini...”
“Tenang saja, Leona. Ini bukan sesuatu yang berbahaya, Cuma kita-kita saja yang perlu tahu...” ucap Locta.
“Oh... apakah aku tidak masalah ada disini??” ucap Claudia.
“Tentu saja tidak apa-apa. Kurasa kamu tahu kenapa aku ingin menemui Arberg...” ucap Locta.
“Hahaha... baiklah. Marilah kita mengobrol, Locta. Apa yang kau ingin tanyakan tentang kami??” ucap Arberg.
“Apakah kalian sebenarnya adalah Pemeran Utama dari Generasi lain??” tanya Locta.
“Iya,” ucap Arberg yang menyakinkan.
“Kenapa kau bicara seperti itu, Arberg!!! Mempersulit keadaan kita saja!!!” ucap Claudia yang marah pada Arberg.
“Tenang saja, Claudia. Aku merasa harus berbicara apa adanya pada Locta,” ucap Arberg.
Claudia melihat muka Arberg.
“Terserah kamu saja, Arberg. Kalo ada apa-apa, aku tidak ikut campur,” ucap Claudia yang sedikit judes.
“Baiklah, Arberg. Kalo begitu, kenapa Pemeran Utama dari Generasi Awal, Perguruan kami???” ucap Locta dengan polosnya.
Locta yang berkata demikian, Arberg langsung mendekati Locta dan menatapnya dengan rasa mengintimidasi.
Leona yang benar-benar binggung kondisi sekarang.
“Tenanglah, Arberg. Dan maaf karena tiba-tiba bicara demikian padamu. Karena kalian benar-benar ahli sekali menggunakan job kalian saat pertandingan kemarin dan sekarang...” ucap Locta.
Arberg pun mulai berpikir dan disadari...
“Locta, kau. Sangat berwawasan sekali ya...” ucap Arberg dengan santai.
Arberg yang tertawa...
“Sepertinya tidak ada yang bisa kusembunyikan darimu, Locta...”
Locta pun berbicara kembali...
“Kurasa aku tidak perlu menanyakan sesuatu yang bukan ranahku...” sambil menatap Claudia.
Claudia sedikit tegang.
“Baik. Terimakasih atas perhatiannya... alangkah baiknya kita membahas yang memang kau cari tahu dari kami saja...” ucap Arberg.
“Ok. Langsung saja ke topik...” ucap Locta.
“Sebelum itu, “VOID : LOCKAREA!!!”,”
Ruangan mereka dipasang pelindung yang berfungsi untuk mentiadakan diri mereka di ruangan tersebut atau lebih tepatnya, mereka tidak terikat oleh ruangan tersebut untuk sementara. Yang bisa menggunakan jurus ini hanya seorang Pemeran Utama saja.
“Seperti aku tahu apa yang kau ingin bahas dengan kami... lebih tepatnya, kepadaku’kan, Locta???” ucap Arberg.
“Syukurlah kalo kamu tahu arah pembicaraanku mau kemana...” balas Locta.
“Aku ingin membahas bagaimana kamu hubunganmu dengan makhluk Anonous itu, Arberg???” tanya Locta.
Setelah mendengarkan pertanyaan Locta, Claudia kaget.
“Kenapa kau bisa bicara sepert itu pada Arberg??? Maksudmu dia ada kerjasama dengan makhluk Anonous???” ucapnya dengan marah.
“Tenang, Claudia. Dia tahu kondisiku seperti apa cukup jelas karena Dia sepertiku juga...” ucap Locta.
“Maksudmu Locta... Dia... juga Binder??” ucap Claudia.
“Oh... sebutannya Binder ya... aku baru tahu...” ucap Locta dengan santainya.
“Kau tenang sekali ya bicara seperti itu, terlebih lagi kamu membocorkan dirimu seorang binder di nona Taficia dan pada Claudia,” ucap Arberg.
Locta pun membalas...
“Ehm... aku tidak ambil pusing karena nona Spellspeare adalah rekanmu, tentunya dia tahu kondisimu dengan baik. Dan untuk Leona sendiri, Dia sama seperti kita...” ucap Locta.
“Nona Taficia adalah seorang Binder!!!” seru Arberg yang kaget.
“Jangan kamu bercanda seperti itulah, Locta. Demi obrolan seperti ini, walaupun nona Taficia adalah seorang Pemeran Utama, tidak perlu kamu berbohong untuk informasi terse-“ ucap Arberg yang terputus.
“Anak muda satu ini, membuatku moodku rusakan saja!!!” Seru medusa yang terdengar oleh semua.
“Ini... Suara siapa???” ucap Arberg.
“Tuan, itu suara Medusa, Makhluk Anonous yang memiliki racun yang mengerikan,” ucap Kikos.
“Hohoho... Kikos sudah lama, kita tidak bertemu. Mungkin pertemuan terakhir kita saat Perang Mito 1 ya?” ucap Grim Reaper dengan baik.
“Bagaimana nona Taficia memiliki Medusa??” ucap Arberg.
“Kuceritakan akan sangat panjang, Arberg,” balas Locta.
“Kondisimu sepertinya sudah membaik ya, Leona??” tanya Medusa.
“Aku baik-baik saja kok, Medusa,” ucap Leona dengan tegasnya.
Balas Grim Reaper...
“Medu, jangan membuat nona cantik ini ketakutan dong...” sindir Grim Reaper.
“Kau memang menjengkelkan, Grim. anak muda, ajari Grim Reaper itu tata krama!!!” balas Medusa dengan kesalnya.
“Baik...” balas Locta.
“Tuan Locta, jangan pedulikan si Medusa...” ucap Grim Reaper.
Locta pun bisa komunikasi yang baik dengan makhluk Anonous, Claudia pun berbicara dalam hati.
‘Bagaimana bisa dia bisa komunikasi seperti itu pada makhluk Anonous, yang mana mereka disegel karena keterpaksaan... hebat sekali Locta,’ ucapnya.
Medusa pun melihat Claudia...
“Ehm... nona kecil ini ternyata hebat juga ya...”
Claudia merasa Medusa bisa merasakan kekuatan yang dimiliki dan didalamnya.
“Medusa-sama, tolong hentikan untuk melihat Claudia...” ucap Arberg untuk tidak memperdalam melihat Claudia lebih jauh lagi.
‘Berani sekali kamu, anak muda...” ucap Medusa dengan menatap Arberg tajam.
“Medusa, tolong dengarkan ucapan tuanku, ya...” ucap Kikos.
“Tidak kusangka kau bisa dikendalikan seorang manusia, Kikos. Tenang saja, aku hanya melihat saja dan kurasa selainku, tahu apa yang ada di nona kecil itu...” ucap Medusa.
Tengah-tengah percakapan tersebut, Locta pun memutus...
“Kurasa tidak perlu membahas hal itu terlalu dalam karena tujuanku disini untuk mengetahui satu sama lain. Dan ternyata kita sama seorang Binder. Disini kita sudah mengetahui satu sama lain, tentunya kita adalah rekan. Apa kamu setuju, Arberg??” ucap Locta yang sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan.
Arberg pun terdiam... dan akhir...
“Tentu. Aku setuju, mempunyai rekan sepertimu, Locta...”